
"Selamat pagi, mom!" Catherine menyapa ibu mertua saat, tiba di ruangan makan. Ia melirik suaminya yang hanya menampilkan wajah seperti biasa, dingin dan datar.
"Selamat pagi, nak," balas nyonya Margaretha, sambil melirik putranya.
"Duduklah, di dekat suami kamu," suruh nyonya Margaretha, yang dipatuhi Catherine. Duduk di kursi sebelah suaminya yang berwajah enggan berdekatan dengannya.
Nyonya Margaretha, mengedipkan matanya kepada sang menantu, agar mengisi makan kedalam piring suaminya.
Meskipun ragu, Catherine mengiyakan dengan mengangguk lirih dan menarik senyum kaku.
Nyonya Margaretha sudah memberikan informasi tentang kebiasaan putranya itu dalam kesehariannya. Salah satunya apabila di meja makan, putranya itu sangat tergantung oleh seseorang untuk melayaninya di meja makan.
Segera Catherine berdiri untuk mengisi piring suaminya yang masih kosong, bersamaan kepala pelayan pun ingin melayani tuan mudanya seperti biasa.
"Tidak perlu, biar saya saja," sela Catherine, yang menghentikan pergerakan kepala pelayan itu dengan wajah tidak bersahabat.
"Cukup!" Seru Jeffin dingin tanpa menatap istrinya.
Hati Catherine pun merasa bahagia, karena Jeffin tidak menolaknya. Ia kembali ke tempatnya, setelah menawarkan ibu mertua untuk melayani. Tapi wanita setengah baya itu menolak dengan sangat lembut.
Baru saja Catherine ingin menyantap sarapan paginya, ia dikejutkan dengan benda alat makan yang diletakkan kasar.
"Makanan, apa ini. Kenapa begitu aneh dan menjijikkan," sentak Jeffin dengan ekspresi wajah jijik.
Seutas senyum licik terpatri di wajah tegas kepala pelayan itu, ia merasa ini kesempatan untuk memberikan perhitungan kepada nyonya muda barunya.
Bibi Beatrice pun bersiap ingin mengeluarkan suaranya, namun didahului oleh Catherine.
"Aku, yang memasaknya khusus untuk kita dan ini, makanan khas di desaku," terang Catherine dengan wajah bangga.
Membuat bibi Beatrice merasa puas dan menertawakan kepercayaan diri Catherine dalam hati.
__ADS_1
Wajah Jeffin pun kian mencekam dan terus melayang tatapan mematikan kepada Catherine di sampingnya, pria bersetelan formal itu bangkit dan berteriak lantang.
"Dimana, chef biasa memasak untukku," teriak Jeffin menggelegar, membuat Catherine kebingungan dan nyonya Margaretha hanya bisa menghela nafas. Sedangkan, bibi Beatrice semakin bersorak kegirangan.
"Maaf, tuan. Nyonya muda Catherine melarang mereka untuk memasak," timpal bibi Beatrice yang menjawab pertanyaan Jeffin.
Segera mata tajam Jeffin kini menghunus kepada Catherine yang masih terdiam dengan wajah kebingungan.
"Kamu, semakin lancang," gertak Jeffin dengan nada tertahan.
"Apa, yang salah dengan ini semua, nak?" Sela nyonya Margaretha.
"Dia, adalah istri kamu, yang lebih berhak mengatur segala keperluan di Mansion ini, dan … mommy rasa itu hak dia mulai sekarang," sambung nyonya Margaretha lagi.
"Kamu, lupa? Hak dan status Catherine di kediaman ini? Kamu, saja hanya berstatus numpang di Mansion Abraham," lanjut nyonya Margaretha dengan wajah tegas dan anggunnya.
"Mom!" Gertak Jeffin tertahan yang hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan wajah merah mencekam.
Karena terlalu kesal dengan semua yang ia alami sejak tadi malam hingga sekarang, Jeffin pun menepis tangan Catherine yang menyodorkan secangkir kopi panas kepadanya.
Catherine hanya bisa mendesis kepanasan akibat terkena cipratan kopi panas tersebut.
"Jeffin!" Bentak nyonya Margaretha yang mendekati menantunya sambil memeriksa telapak tangan Catherine.
Pria itu hanya melirik istrinya sinis dan melenggang ke arah pintu mansion. Tanpa memperdulikan bentakan sang mommy.
Sedangkan bibi Beatrice hanya mencebikkan sinis dalam diam dan memasang wajah tegasnya saat mendapatkan perintah dari nyonya Margaretha.
"Tidak perlu, mom. Ini hanya luka kecil," ujar Catherine sambil meniup punggung telapak tangannya yang tampak merah.
"Anak itu, semakin keterlaluan," gumam nyonya Margaretha dengan mendengus kasar.
__ADS_1
"Tidak mengapa, mom. Aku akan bersabar," Catherine berkata lirih dalam keadaan mata sudah berkaca-kaca.
"Mommy, yakin, suatu saat dia akan menyesali perbuatannya," hibur nyonya Margaretha sambil merangkul pundak ramping menantunya itu.
"Aku percaya dan yakin, mom," balas Catherine pelan.
……………
"Bibi Beatrice," tegur Catherine, saat wanita berwajah tegas itu di hadapannya.
"Iya, nyonya muda," jawabnya dengan wajah tidak tulus.
"Apa, perintah yang ku berikan sudah bibi kerjakan?" Tanya Catherine sambil memandangi lawan bicaranya.
"Perintah, apa nyonya muda?" Tanya wanita bertubuh gempal itu.
Catherine mengkerut kening tidak percaya, seorang pelayan tidak melaksanakan perintah majikannya.
"Bibi, serius melupakan perintah ku? Untuk mengumpulkan para pelayan?" Sahut Catherine. Bibi Beatrice membolakan matanya dan raut wajah wanita itu berubah gugup.
"Maaf ak …."
"Sepertinya, bibi Beatrice sudah lelah mom," potong Catherine dan memandangi mertuanya, seakan meminta dukungan. "Haruskah, bibi Beatrice beristirahat saja?" Lanjut Catherine.
Yang diiyakan nyonya Margaretha dan memberi semua keputusan itu kepada menantunya. "Semua, mommy serahkan kepada, sayang," jawabnya lembut dan mengusap lembut rambut Catherine.
"Aku, juga ingin mengganti semua pelayan disinilah dengan yang lebih profesional, bagaimana? Apa, mommy setuju?" Ucap Catherine dengan wajah semangat.
Nyonya Margaretha pun hanya mengiyakan kembali keputusan menantunya itu.
"Semua keputusan mu adalah mutlak nak, karena semua ini adalah hak milik mu sekarang," sahut nyonya Margaretha.
__ADS_1
Membuat bibi Beatrice begitu tercengang, atas apa yang diucapkan nyonya besarnya.