Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 37


__ADS_3

"Selamat siang, nyonya muda!" Sapa kepala pelayan baru di kediaman Abraham.


Catherine yang disambut hangat oleh seorang pria berusia setengah abad itu, tersenyum dan membalas sapaan sang kepala pelayan. "Selamat siang juga, paman," sahut Catherine.


Pria setengah baya itu membungkukkan badannya, saat sang nyonya muda melewatinya untuk masuk ke dalam Mansion. Dengan wajah yang terlihat lelah dan langka yang tertatih.


"Apa anda baik-baik, saja?" Tanya kepala pelayan itu.


Dengan memperhatikan raut wajah nyonya mudanya.


Catherine membalikkan badan dan memberikan senyum ramah kepada pria setengah abad di hadapan. "Aku, baik-baik saja paman," tukasnya lembut.


"Biar saya membantu anda, berjalan," tawar sang kepala pelayan.


Catherine pun kembali tersenyum dan mengucapkan penolakan halus juga ucapan terimakasih. "Tidak perlu paman, aku bisa sendiri. Terimakasih, atas perhatian paman," ucap Catherine lembut.


Kepala pelayan itu pun hanya menunduk kepalanya dan membalas senyuman lembut majikannya itu.


"Kemana, mommy?" Tanya Catherine tiba-tiba.


"Nyonya besar sedang ke desa, nyonya. Beliau akan kembali sebulan lagi," terang kepala pelayan.


Gadis dengan style casual itu terkejut, dia pun menatap pria di depannya dengan tatapan penasaran.


"Nyonya, memiliki masalah di sana," jelas pria itu.


Catherine pun semakin lesu, itu terlihat dari pundaknya yang dampak ke bawah, tidak setegak tadi.


"Sudahlah," ucapnya dengan menghela nafas lemas.


Kepala pelayan itu hanya bisa terdiam dengan tatapan penuh kasih sayang kepada majikan kecilnya. Ia sudah diberikan amanah untuk menjaga nyonya kecilnya ini, sebelum nyonya Margaretha pergi.


"Anda, ingin di buatkan sesuatu untuk siang ini, nyonya," tawar kepala pelayan itu sekali lagi.


Catherine yang kembali menghentikan langkahnya yang sudah sampai di depan lift, ia menatap pria di depannya dan menggeleng halus. "Tidak perlu," balasnya lembut.


Setelah mengatakan itu, Catherine pun memasuki lift yang akan mengantarnya ke kamarnya. Catherine tampak terlihat begitu lelah, ia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lemas, sisa percintaan dengan suami buasnya.


Dengan kepala tertunduk lesu, Catherine keluar dari lift, ia tidak mengetahui keberadaan sosok yang ia hindari dalam waktu ini. Sosok yang kini menghunus tatapan tajam ke arahnya dengan wajah begitu terlihat suram.


"Bugh!" Catherine tersentak kaget, saat merasakan tubuh dan keningnya menabrak sesuatu di hadapan. Matanya yang terus menatap ke bawah, kini bisa melihat sepasang sepatu mengilat, ia pun mencoba menyusuri pandangannya, dari bawah hingga — kini ia bisa melihat wajah pria buas itu.


Catherine mengatupkan kedua mulutnya. Dengan pandangan terus menatap sang suami. "Dia, disini?" Batinnya.


Sementara Jeffin, masih melayakan tatapan permusuhan kepada istri kecilnya itu, ia merasa memendam amarah yang begitu menggebu.

__ADS_1


"Ikut, aku!" Sentaknya kasar.


Sambil meraih lengan mungil Catherine dan menariknya kasar ke arah kamar perawatan istrinya.


"Akh!" Pekik Catherine.


Jeffin dengan kasar menghempaskan tubuh letih istri kecilnya di bawah kaki sang istri pertama.


"LIHAT! bentak Jeffin.


Ia menarik paksa kembali lengan mungil istrinya, dan memaksanya berdiri di sisi istri pertama.


"Lihatlah, apa yang kau lakukan kepada kulit berharga istriku," pekik Jeffin dengan geraman emosi.


Sekali lagi pria itu memperlakukan istri kecilnya dengan kasar, tangan kekar itu yang tadinya di lengan, sekarang berpindah di belakang kepala sang istri, menggenggam rambut kecoklatan istri kecilnya dan mendorongnya kasar, memaksanya untuk melihat keadaan istrinya yang pertama.


Catherine yang tidak mengerti pun, hanya bisa menahan rasa sakit di belakang kepalanya dan lengannya yang di genggaman kuat tadi begitu nyeri. Bagaimana tidak, kuku-kuku pria buas itu sengaja di benamkan kuat.


Gadis bertubuh mungil itu, mengikuti perintah kasar suaminya, memindai keadaan istri pertama, yang tidak terlihat keganjilan apapun.


"Sttt, sakit," cicitnya lirih dengan mencoba menahan rasa sakit di belakang kepalanya.


"Apa, yang terjadi dan apa salahku?" Tanya Catherine dengan wajah merah menahan rasa sakit dan kebingungan.


Ia mencoba menahan tangan suaminya agar, tidak terlalu menyakiti belakang kepalanya, yang begitu terasa sakit. Seakan seluruh akar rambutnya dicabut.


Pria ganas itu, mendekatkan wajahnya di telinga sang istri dengan masih menarik rambut belakang kepala istrinya.


"Aku, benar-benar tidak tahu," bela Catherine.


"Akh!" Catherine kembali meringis.


"Lihatlah, seluruh kulit berharga istriku," gertak Jeffin kasar.


Ia kembali mendorong telapak tangannya yang berada di belakang kepala istrinya itu dan menyentakkannya paksa dan kasar.


Di tengah mata yang berembun, Catherine mencoba menelisik seluruh tubuh istri pertama suaminya dan ia pun terkejut saat melihat, begitu banyak bekas ruam dan cakaran di dada dan lengan istri pertama.


"Apa, kau sudah melihatnya? Akh!" Bentak Jeffin di akhir kalimat.


Ia segera mendorong kuat tubuh mungil itu ke samping, membuat istri kecilnya terhempas jauh.


Catherine hanya bisa meringis dan mendesis, saat kembali keningnya terbentur lantai marmer.


"Aku, tidak mengetahuinya dan aku tidak melakukan apapun," tuturnya dengan mencoba membela dirinya sendiri.

__ADS_1


Sambil mendongakkan kepalanya keatas agar bisa melihat wajah suram yang begitu mengerikan di hadapannya.


Jeffin mendekati istri kecilnya itu dan kembali meraih rambut Catherine, menariknya kuat. "Sakit, aku mohon ini sakit sekali," pinta dengan rintihan sakit. Catherine mencoba melepaskan genggaman tangan besar Jeffin di rambutnya.


"Aku, bersumpah. Tidak melakukan apapun," ucapnya dengan wajah yang begitu kesakitan.


"Percayalah, aku tidak melakukannya," lanjutnya lagi yang kini diiringi oleh isakan pilu dan lirih.


Jeffin masih terus menarik rambut istri kecilnya dan menatapnya penuh kebencian. Ia tidak akan mentolerir kesalahan sedikitpun yang menyangkut tentang istri kesayangannya. Apalagi, ia mendapatkan kabar dari seorang dokter yang khusus memeriksa keadaan istrinya itu, kalau istrinya terlihat aneh dan begitu banyak bekas kesakitan di tubuh istrinya.


Jeffin pun segera pulang dan tanpa menghiraukan istri kecilnya yang ia gagahi sepanjang malam, sendiri di tempat asing. Dan — sekarang dengan teganya memperlakukan kasar istrinya itu.


"Apa, kau pikir sudah merasa beruntung, setelah aku merasakan tubuh murahan mu ini? Jadi… kau begitu liciknya ingin menyingkirkan istriku, akh!" Bentak Jeffin dengan wajah begitu merah dan sangat dekat dengan wajah kesakitan istri kecilnya.


Catherine hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kedua tangannya berusaha menahan beban sakit yang diakibatkan tarikan sang suami.


"Aku, tidak melakukan apapun," ungkapnya dengan nada tergugup.


Jeffin semakin menyakiti istrinya itu, dia bahkan menghempaskan tubuh mungil itu ke belakang. Membuat seluruh tubuh gadis menyedihkan itu seakan rapuh.


"Omong kosong. Dasar, gadis licik sialan. Jangan pikir setelah aku menyentuhmu beberapa kali, aku akan menerimamu, cih, itu tidak akan pernah terjadi. Aku, hanya menganggap dirimu sebagai pelampiasan dan menampung benih ku saja," ucap pria itu sarkas.


Ia kini menatap penuh hina dan sinis ke arah istri kecilnya yang tergeletak di lantai dengan tubuh bergetar dengan suara isakan pilu terdengar menyakitkan.


Catherine begitu hancur, saat mendengar ungkapan sarkas sang suami. Hatinya begitu hancur bagaikan dihimpit oleh bongkahan batu besar. Sesak dan nyeri di dalam rongga dadanya. Mengungkapkan dengan kata-kata pun — Catherine tidak sanggup menggambar perasaannya sekarang ini.


Begitu menyakitkan. Sakitnya itu terletak di dadanya hingga naik ketenggorokan yang terasa terhimpit.


Posisi gadis itu masih seperti semula, terkulai lemas tidak jauh dari suaminya yang kini, berdiri dengan arogan dan tatapan mata kelam menghunus benci ke arahnya.


"Aku, tidak melakukannya," gumamnya di tengah tangisan pilu itu.


"Aku, tidak melakukan apapun," sambungnya lirih.


Ia ingin menyadarkan sang suami, yang menghabiskan malam panas dengannya di sebuah kamar asing baginya, jadi, mana mungkin ia bisa melakukan itu semua.


"Bawa dia!" Perintah Jeffin.


Ia melirik tajam ke arah seorang pria lain yang ada di kamar perawatan sang istri pertama.


"Jangan, biarkan dia memasuki kamar ini," lanjutnya dingin.


Pria buas itu tanpa merasa belas kasih sedikitpun kepada istri kecilnya, yang kini dituntun untuk keluar dari kamar tersebut.


Jeffin hanya memandangi wajah cantik sang istri dan memindai seluruh tubuh bagian atas istrinya yang terdapat bekas luka kesakitan. Tubuh yang terlihat ringkih tak berdaya.

__ADS_1


"Maaf, yang sudah lalai menjagamu."



__ADS_2