Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 78


__ADS_3

"Bagaimana! Apa, kalian sudah menemukan anakku?" Seorang pria setengah baya kini terlihat begitu gelisah, saat tidak menemukan keberadaan putrinya yang tidak ada kabar selama dua hari.


"Belum, tuan," sahut anak buah tuan Brown.


"Prang, tuan Brown menghempaskan sebuah vas bunga diatas meja kerjanya ke arah sang anak buah.


"Dasar, kalian tidak becus!" Hardiknya dengan wajah sangar.


"Mencari keberadaan putriku saja kalian semua payah, tidak berguna!" Teriak tuan Brown dengan nada tinggi menggema.


Pria dengan wajah kacau itu juga memukul wajah anak buahnya menggila. pria dengan postur tubuh gagah itu begitu terpukul atas kehilangan putri kesayangannya.


Sang putri tidak akan pernah bisa pergi jauh sendiri tanpa seorang pendamping. Karena Samantha memiliki trauma tersendiri tentang masa lalunya yang terdahulu.


"Aku tidak mau tahu, kau harus menemukan putri malam ini, juga," titahnya yang tidak terbantahkan.


"B-baik tuan," sahut sang anak buah dengan nada terbata.


"Keluarlah!" Perintah tuan Brown dengan wajah kebingungan.


Memikirkan keberadaan sang putri yang sudah menghilang tanpa satu kabarpun. Tuan Brown, juga sudah menghubungi pihak berwajib atas menghilangnya secara Tiba-tiba — putrinya.


Tuan Brown kini hanya bisa terlihat lesu dengan pikiran yang — berkecamuk.


Ia merasa khawatir sang putri melakukan hal buruk, karena kelakuan putrinya, yang selalu berbuat senekat mungkin.


Dari luar kamar, tampak terlihat dua orang wanita sedang mencuri dengar percakapan di dalam sana.


Clara dan sang mommy, tampak tersenyum puas atas mendengar nada lesu


tuan Brown yang kehilangan buah hatinya.


Mereka saling kompak, dengan wajah berseri-seri bahagia. Clara bahkan memeluk tubuh mommy dengan erat, saking bahagianya bisa melenyapkan wanita yang sangat ia benci itu.


"Yes! Akhirnya kita bisa menghapus jejak wanita itu!" Seru Clara pelan yang sebuah senyum licik terlukis di kedua sudut bibirnya itu.


"Kamu, benar nak!" Jawab nyonya Soraya.


"Carilah, putrimu itu daddy. Karena kau tidak akan pernah menemukannya hingga ke ujung dunia sekalipun. Selain, kau mencarinya di neraka." Clara dan nyonya Soraya tertawa puas setelah mengatakan ejekannya.


"Sekarang kita bisa menguasai seluruh harta, Brown. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi kita untuk menikmati semua ini," sela nyonya Soraya.


"Aku, bisa mengejar dan mendapatkan Jeffin kembali," sahut Clara dengan senyum licik.


Mendengar itu perkataan putrinya, nyonya Soraya hanya bisa memutar kedua bola matanya jengah. Entah nyonya Soraya harus berkata apa untuk memberikan pengertian kepada putrinya yang keras kepala ini.


Nyonya Soraya tidak ingin sang putri — terluka atau nyawanya terancam akibat terlalu terobsesi dengan Jeffin.


"Berhentilah, mengejarnya nak," sentak nyonya.

__ADS_1


"Masih banyak pria kaya yang, menginginkanmu," lanjutnya dengan wajah jengah.


Clara hanya mencebikkan bibirnya dan segera berlalu dari dekat sang mommy, tujuannya sekarang adalah — bisa mendapatkan Jeffin seutuhnya.


"Jeffin William Abraham, hanya milikku," seloroh Clara dengan ucapan lirih.


Wanita bertubuh ideal itu berjalan menuju pintu utama Mansion tuan Brown, tujuan untuk menemui pria pujaannya.


…………


Kediaman mewah Abraham.


Suara keceriaan terdengar di salah satu kamar mewah di Mansion itu. Tampak terlihat seorang gadis kecil dengan wajahnya yang begitu menggemaskan, berceloteh riah dengan sang daddy yang terus mendampinginya.


Sedangkan pria kecil itu hanya di sisi ranjang satunya. Kini, Jeffin sedang menemani kedua anaknya untuk tidur.


"Waktunya tidur, anak-anak!" Seru Catherine yang baru memasuki kamar.


"No mommy, aku masih ingin bercerita dengan daddy," jawab si cantik Andrea.


"Ini sudah larut malam, sayang," timpal Catherine dengan menghela nafas.


Catherine kini melirik suaminya dan memberikan perintah untuk menyuruh kedua anaknya itu segera tidur.


Jeffin pun mengangguk halus dan tersenyum tipis. Pria itu begitu bahagia mengalami momen seperti ini. Dimana kedua anaknya terlihat bahagia menceritakan segala momen di sekolah dan kesehariannya.


Jeffin bersumpah, akan menyingkirkan semua pengganggu yang akan menghancurkan kembali pernikahan dan kebahagiaannya.


"Daddy!" Terdengar rengekkan putri kecilnya.


"Hm!" Segera Jeffin menoleh dan menerbitkan senyum dan bergumam.


"Bolehkah, kami tidur dengan daddy dan mommy? Kita tidak bersama. Aku ingin merasakan tidur dengan, daddy juga mommy, seperti yang teman-teman aku lakukan setiap malam tidur dengan kedua orang tua, mereka." Ungkapan si cantik Andrea membuat kedua orang tuanya terkejut dan saling menatap.


Kembali terlihat kecanggungan diantara keduanya, apalagi Catherine yang wajahnya sudah terlihat merona.


"Kakak, setuju!" Seru kepada sang kakak.


Andrew hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya dengan wajah tersipu malu.


Melihat antusias kedua anaknya, Jeffin pun setuju dan segera bergabung dengan kedua anak kembarnya itu berbaring di atas ranjang. Sekarang Jeffin membaringkan tubuhnya disebelah sang putra.


"Aku, ingin di dekat daddy," protes si cantik Andrea saat melihat posisi baring sang daddy.


"Andrea," tegur Catherine yang kini sudah berada disebelah sang putri.


"No, mom. Aku mau di dekat daddy," tukas sang putri.


"Daddy!" Serunya dengan rengekkan dan kedua kakinya ia gerak-gerakkan di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Tenanglah sayang, baik, daddy akan tidur di dekat kamu," sela Jeffin.


"Kau, tidak masalah kan son?" Tanya Jeffin kepada putranya.


"Tidak, daddy," sahut Andrew dengan wajah tampannya.


Jeffin mengecup kening Andrew dan berpindah di sisi putri manjanya, begitu juga dengan Catherine, yang segera berpindah posisi. Namun seruan putri cantik itu membuat niatnya terhenti.


"Mommy juga tidur di sini," selanya sambil menepuk posisi tengah.


Wajah Catherine terlihat syok, mulutnya pun menganga sempurna mendengar perkataan sang putri.


Wanita itu melirik suaminya yang terlihat tersenyum tipis. Bagaimana tidak, ia akan tidur sangat dekat dengan istrinya tercinta.


"Cepatlah, kemarin mommy," pinta Andrea dengan wajah antusias.


"Kemarilah!" Sela Jeffin dengan senyum tipis.


Catherine hanya mencebikkan bibirnya dengan wajah kesal segera menuruti permintaan putri manjanya.


…..


Kini mereka sudah terbaring, dengan posisi Andrea dan Catherine berada di tengah-tengah. Sedangkan Jeffin juga putranya berada di pinggiran ranjang king size itu.


Catherine memunggungi putri dan suaminya, memeluk tubuh sang putra dari arah belakang. Jeffin dengan posisi memeluk putrinya yang menempel sempurna di dadanya.


Dengan berani Jeffin memanjangkan pelukan hingga ke tubuh sang istri. Ia juga menggeser sedikit tubuhnya agar lebih dekat dengan istrinya.


"Apa yang kau, lakukan," sentak Catherine dengan nada suara tercekat.


"Memelukmu," jawab Jeffin enteng.


"Lepas, aku kegerahan," suruhnya dengan ketus.


Bukannya melepaskan, Jeffin semakin mengeratkan pelukannya di tubuh istrinya itu.


"Lepas, putrimu akan terganggu," peringat Catherine.


Tanpa sepengetahuan Catherine, Jeffin bergerak halus, memindahkan tubuh putrinya ke pinggir dan ia berpindah pas di belakang — Catherine.


"Apa yang kau …."


Pekikan Catherine terhenti, saat Jeffin membungkam bibir istrinya itu dengan kecupan.


"Stt, jangan berisik nanti mereka terbangun," bisiknya di depan wajah merona Catherine.


mampir yuk teman" di Karya teman aku ☺️


__ADS_1


__ADS_2