Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 49


__ADS_3

Langkah Catherine terhenti, saat melihat dua wanita di hadapannya berdiri menantang. Catherine menarik nafas berat dan berniat melanjutkan langkahnya, namun, kedua wanita beda generasi itu menghalanginya.


"Apa,mau kalian. Menyingkirlah!" Seru Catherine.


"Wow, lihatlah wajah gadis menyedihkan ini, mom. Seram sekali, aku jadi takut," timpal — Clara dengan wajah mengejek.


Nyonya Soraya pun memperlihatkan senyum remehnya kepada — Catherine. Ibu dan anak itu, menyaksikan sendiri saat Catherine berada di ambang pintu kamar istri pertama Jeffin. Mereka bersembunyi di balik tembok dan menyaksikan sendiri, Catherine tampak bersedih, yang membuat mereka tersenyum bahagia.


"Apa, kau sudah paham, posisimu di sini?" Bisik nyonya Soraya tepat, di telinga — Catherine.


"Sebagai, pelampiasan dan melahirkan keturunan," desisnya sinis.


"Bukankah, kau sama saja seperti seorang wanita malam?" Sela — Clara dengan senyum licik.


Kedua wanita itu pun terkekeh jahat dan memandang Catherine hina. Layaknya seorang wanita penghangat ranjang.


"Lihatlah, mom. Wajah wanita penghibur zaman sekarang. Terlihat polos tapi… meragukan," sela Clara dengan wajah mengejek puas.


"Kamu, benar sayang. Dia hanya seorang wanita murahan bertopeng wajah lugu," potong nyonya Soraya dengan sinis.


Catherine masih diam dengan wajah dingin, menatap kedua wanita di depannya dengan lekat.


"Mungkin, ibunya pun begitu, menyerat pria ka …."


"Plak, plak," belum selesai ucapan hina — Clara, sebuah tamparan keras mendarat sempurna di kedua pipi wanita yang tubuhnya lebih tinggi dari pada — Catherine.


"Apa, yang kau lakukan kepada anakku, sia …."


"Plak, plak," kini giliran nyonya Soraya yang merasakan sebuah tamparan keras di kedua pipinya.


"Aku, tidak akan menerima kata hina yang tertuju kepada kedua orang tuaku, terutama ibuku, karena dia adalah wanita baik dan terhormat, memiliki rasa segan dan tidak menjadi beban kepada orang lain," tutur — Catherine dengan tatapan dingin mencekam.

__ADS_1


Kedua wanita itu hanya bisa mengerang kesal sambil memegang pipi mereka yang begitu panas.


"Kau!" Hardik nyonya Soraya sembari menunjuk wajah Catherine.


"Aku, pemilik semua ini, tidak peduli status aku di sini apa, yang jelas semuanya adalah milikku sekarang dan aku berhak melempar kalian berdua," tegas Catherine dengan wajah datar.


"Ingat lah' posisimu hanya wanita kedua yang menjadi pelampiasan dan … aku sangat yakin, nyonya Margaretha melakukan ini semua demi keturunan, anggap saja dia membeli segalanya dari mu," balas nyonya Soraya, mencoba mengintimidasi — Catherine kembali.


Mendengar semua itu, Catherine hanya diam dengan mata tajam, ia berusaha menahan segala gejolak di dadanya.


"Apapun yang anda katakan, aku tidak peduli, sekarang tinggalkan tempat ini sebelum aku melemparkan, kalian," sahut Catherine dengan wajah datar.


"Dasar, wanita murahan!" Bentak nyonya Soraya yang ingin melayangkan sebuah tamparan di wajah — Catherine. Tapi, wanita itu dengan lincah menghindari.


Clara yang sejak tadi menahan emosi, membantu sang mommy menyerang — Catherine dengan mencoba menarik rambut, Catherine.


Beruntung Catherine dapat membaca gerakannya dan mendorong tubuh Clara ke belakang.


"Akh!" Pekik nyonya Soraya yang sengaja mengeluarkan suara nyaring agar — Jeffin mendengarnya.


Catherine hanya menaikkan alisnya bingung melihat tingkah aneh wanita setengah baya di depannya.


"ADA APA INI!" Bentak Jeffin dari arah pintu kamar.


Catherine hanya menoleh sejenak dan kembali menatap kedua wanita itu yang sekarang memasang wajah dramatis mereka.


"Cih! Licik dan munafik. Perpaduan sikap yang sangat sempurna," batin Catherine yang hanya cuek melihat raut wajah — tidak menyenangkan sang suami.


"Kenapa, kalian begitu berisik, hah," sentak Jeffin kasar.


"Kalian tahu, istriku bisa terganggu," lanjutnya dengan nada tegas.

__ADS_1


Catherine menarik sudut bibirnya menyerupai senyum sinis, yang mengawali perasaannya sekarang.


"Semua ini karena dia, nak!" Seru nyonya Soraya yang menunjuk ke arah — Catherine. Yang mendapatkan tuduhan hanya menampilkan wajah datar.


Jeffin menatap istri mungilnya dengan tatapan hambar dan tidak peduli, ia juga menampilkan wajah dinginnya, seakan-akan tidak mengenal istrinya itu.


"Dia, menampar kami. Dan mengusir kami dari, sini," adu Clara.


Jeffin pun kembali menatap istri keduanya dengan tatapan tidak terbaca.


"Kau melakukannya?" Tanya Jeffin dingin.


"Aku, akan melakukannya apabila dalam kesabaran terbatas," jawab Catherine dengan wajah dingin dan perkataan yang terkesan — the poin.


Jeffin mengerutkan dahinya dan tatapan tajam itu terus ia tujukan kepada istri kecilnya.


"Aku, tidak ingin seseorang ikut campur atas keputusan saya, termasuk anda. Sekarang ini adalah milikku dan anda hanya menumpang, disini," imbuh — Catherine, berhasil membuat Jeffin dan kedua wanita itu terkejut.


"Jadi, bersikap baiklah kepadaku," sambung Catherine.


Jeffin pun hanya bisa menahan rasa kesal di dada, ia juga merasakan aneh dengan sikap dan raut wajah istri kecilnya.


Ia merasa terhina dan tersinggung dengan perkataan sang istri, yang menganggapnya tidak penting.


"Sekarang, tinggal tempat ini, aku rasa kalian sangat tahu di mana letak pintu keluar," Seloroh — Catherine dengan tersenyum sinis.


Catherine pun meninggalkan tempat itu dengan perasaan kacau, tanpa ingin berlama-lama melihat sang suami, Catherine memilih pergi.


Langkahnya kembali terhenti, saat ... berada di depan pintu lift dan detik berikutnya, pintu lift terbuka dan seketika mata indah Catherine membola sempurna."


__ADS_1


__ADS_2