Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 59


__ADS_3

Kedua kelopak mata indah itu, terlihat menerawang jauh, sambil memeluk tubuh mungil yang sangat rapuh sekarang ini. Tetesan demi tetesan air mata sedari tadi membanjiri kedua pipi wajah cantik — wanita itu.


Satu Minggu sudah Catherine berada di rumah sakit. Dan dua hari yang lalu barulah ia bisa keluar dari masa kritisnya dengan kedua calon buahnya, yang dalam keadaan baik-baik saja. Yang terpenting kondisi sang ibu mendukungnya untuk bisa bertahan.


Menjauhkan dari sifat stres dan tertekan batin. Catherine selalu di tuntun oleh mommy Margaretha agar bisa melewati, kejadian buruk yang menimpanya dan salah satu janinnya.


Meskipun terus mencoba menerima kenyataan memilukan dan menyakitkan itu, nyatanya ia masih belum menerima, salah satu janinnya harus menjadi korban, kekejaman suaminya sendiri.


Beruntung, Catherine bisa beristirahat dengan tenang, karena pria kejam itu, tak sekalipun menampakkan wajah. Ada rasa kecewa di dalam lubuk hati — Catherine. Saat suaminya itu lebih mementingkan keadaan istri pertama daripada bersujud dan memohon maaf kepadanya, atas apa yang ia lakukan.


Sudah dua hari, Catherine hanya bisa merenungi, nasib dan musibah kejam yang ia terima. Ia bersyukur kedua bayinya dalam keadaan sehat.


Sekarang, Catherine sudah mengambil keputusan, untuk menjalani hidupnya sendiri dengan damai dan tenang bersama —- kedua calon buah hatinya.


Kini tubuh rapuh itu, masih terguncang hebat dengan isakan yang berusaha ia tahan. Bagaimanapun dia hanya seorang calon — ibu, yang akan merasa terpukul kehilangan salah satu calon anaknya.


"Maafkan, mommy, tidak bisa melindungi kalian. Maafkan, mommy," racaunya di tengah isakan di balik kedua kaki yang di peluk.


Lama, Catherine menangis, ia segera turun dari ranjang pasien, ia tidak boleh dalam kondisi menyedihkan seperti ini terus, masih ada dua — nyawa yang harus ia lindungi. Dan ini adalah kesempatannya untuk pergi dari sini.


"Kau, mau kemana sayang," sapa suara lembut yang berasal dari arah pintu.


"Mom!" Cicit Catherine dengan wajah tegang.


"Apa, yang kau lakukan. Kembalilah ke atas ranjang dan istirahatlah," sela mommy Margaretha menuntun menantu kesayangannya itu.


Catherine terlihat salah tingkah, ia harus berterus-terang kepada ibu mertuanya ini. Semoga saja beliau dapat mengerti dan mengizinkannya untuk pergi.


"Katakan! Apa yang ingin kau sampaikan, hm!" Seru mommy Margaretha lembut, menuntun kembali — Catherine menaiki ranjang.


Catherine terlihat menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang saling meremas, dan sudah lembab oleh keringat dingin.


"Katakan, sayang. Ingat, kau harus tetap tenang dan tidak boleh tertekan," sahut mommy Margaretha, yang menyisir rambut panjang, menantunya.


Lama Catherine terdiam, hingga akhirnya memberanikan diri untuk menyatakan keinginannya.


"Aku, ingin berpisah dengannya," sahut Catherine dengan cepat dan wajah memucat.


Nyonya Margaretha menghentikan gerakan tangannya di rambut — Catherine. Dan ia pun tersentak kaget.

__ADS_1


"Aku, menyerah, mom. A-aku … tidak sanggup bersamanya lagi," tutur Catherine dengan nada getir dan kembali menitikkan air mata.


"Izinkan, aku menyerah dan pergi jauh dari hidupnya," lanjut Catherine kembali dengan tatapan memohon.


"Please, mom. Demi mereka," ucapnya sambil mengusap perutnya yang masih terasa sakit.


"Aku, takut. Mereka akan mengambilnya dariku," cercanya dengan tangisan yang mulai tak terkendalikan.


Mommy Margaretha pun segera membawa tubuh rapuh itu, ke dalam pelukannya yang penuh kasih sayang. Ia pun ikut merasakan atas kepedihan menantunya yang begitu ia sayangi ini.


"Baiklah! Kalau itu pilihan terbaik untukmu, mommy akan selalu mendukungmu, sayang," bisik mommy Margaretha, mencoba menenangkan — Catherine.


Catherine memisahkan jarak mereka dan segera menghapus air matanya, ia terlihat menampilkan senyum — leganya.


"Terimakasih!" Ucap Catherine tulus dan mereka kembali saling berpelukan.


…..


"Sekarang, bersiaplah. Kita akan segera meninggalkan kota ini!" Seru mommy Margaretha.


"Kita, akan pergi sekarang?" Tanya Catherine yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah segar.


"Terimakasih, mommy," timpal Catherine dengan wajah bahagia, akhirnya ia akan terlepas dari jerat kekejaman suaminya.


"Hm!" Mommy Margaretha hanya bergumam dan mencium kening — Catherine dengan penuh kasih sayang.


"Ayo!" Ajak sang mommy, yang mendudukkan tubuh Catherine di atas kursi roda.


Kini mereka sudah keluar dari kamar rawat dan berjalan menuju lift untuk membawa mereka ke rooftop rumah sakit.


Mommy akan menggunakan mini heli untuk menuju desa terpencil yang hanya ia yang tahu dan juga orang kepercayaannya.


Mereka pun sudah berada di dalam lift, Catherine tidak hentinya tersenyum lega. Akhirnya ia bisa terbebas dari pria kejam itu.


……..


Secara kebetulan, mobil mewah kini berhenti di depan lobi rumah sakit. Sosok pria pemilik kaki panjang itu, keluar dengan gaya arogannya.


Jeffin baru sempat menemui istri keduanya itu, setelah menghadapi sikap manja istri pertamanya yang selalu menghalanginya untuk, melihat kondisi — Catherine dan mengetahui kondisi kedua calon bayinya.

__ADS_1


Jeffin terus melangkah menuju lift untuk membawanya ke lantai paling atas di mana kamar sang istri kecilnya berada. Diikuti oleh sang asisten yang selalu setia mengikuti.


"Apa, kau mendengar suara helikopter?" Tanya Jeffin dengan dahi mengerut, saat berada di depan kamar rawat — Catherine.


"Mungkin, milik seorang pejabat, tuan," sahut asisten Alan.


"Apa, kau yakin?" Tanya Jeffin kembali. Entah mengapa, tiba-tiba perasaannya tidak nyaman.


"Iya, tuan," sahut asisten Alan.


Dengan sigap, asisten Alan membuka pintu untuk tuan mudanya itu. Dan mereka membeku di tempatnya, saat mendapatkan kamar itu kosong.


Segera saja Jeffin, memeriksa semua sela yang ada di kamar itu dengan wajah panik. "Kemana, dia!" Racaunya dengan wajah pias.


"Mereka, baru saja ke atas …." Asisten Alan menghentikan ucapannya, saat, tuan mudanya itu langsung berlari keluar dari kamar.


Jeffin kini berlari di koridor rumah sakit sepi itu, seperti orang kesetanan.


Ia mendorong siapa saja yang menghalanginya, untuk segera menuju lantai atas. Pria itu bahkan, mengumpat kasar pintu besi kokoh di depannya.


"Cepatlah, brengsek!" Teriak Jeffin frustasi. Ia bahkan melemparkan begitu saja jas dan juga dasinya. Penampilan pria itu kini begitu kacau dan berantakan.


"CEPAT TEKAN!" bentaknya kepada asisten itu.


Jeffin pun tidak hentinya mengerang kesal dengan menjambak rambutnya sendiri dan menendang dinding — besi itu.


"Akh! Aku tidak akan membiarkanmu membawa, anak-anakku!" Teriak Jeffin menggelegar di dalam sana.


Sedangkan Catherine dan mommy,kini sudah mulai, menaiki helikopter tersebut, harus penuh perjuangan untuk membantu — Catherine untuk menaiki helikopter, itu karena perutnya begitu sakit.


Setelah yakin, menantunya sudah terbaring dengan nyaman, mommy Margaretha pun ikut duduk di samping menantunya itu.


Co-pilot pun menutup pintu helikopter tersebut dan setelah itu ikut duduk di dekat sang pilot.


Helikopter itu pun mulai bergerak keatas dan semakin tinggi. Bertepatan, Jeffin membuka pintu menuju rooftop kasar dan segera berlari untuk menghentikan helikopter tersebut yang kini sudah terbang jauh.


"BERHENTI! JANGAN BAWA ANAK-ANAKKU. KEMBALIKAN MEREKA, AKH!" teriak Jeffin dengan wajah murka di sana.


"SIALAN, JANGAN BAWA ANAK-ANAKKU! APA, KAU MENDENGARNYA. JANGAN BAWA MEREKA! Teriak Jeffin bagaikan seorang pria frustasi.

__ADS_1


"Akhh!" Teriaknya. Dan kini berlutut di sana dengan kepala menunduk.


__ADS_2