
Suasana taman hiburan yang tadinya begitu ramai, kini mendadak sunyi senyap. Semua para pengunjung bubarkan paksa oleh seorang penguasa di kota itu.
Kini yang taman hiburan tersebut hanya terlihat puluhan manusia yang kebanyakan dari anak buah — Jeffin.
Yang sedang mencoba menyelamatkan istri kedua tuan muda arogan itu, yang kini menatap khawatir ke atas wahana tersebut yang masih tertahan.
"Cepat! Turunkan istriku!" Bentak Jeffin yang kesekian kali.
Pria itu bahkan mencaci maki para anak buahnya dan melayangkan kekerasan. Karena terlalu terbawa suasana emosi dan amarah.
"Sedikit lagi, tuan," sahut asistennya yang tidak jauh dari sang tuan muda.
Ia tidak berani mendekat saat ini, karena tuan muda arogan itu dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Ia hanya melirik sang adik yang bersembunyi di balik punggungnya, gadis yang sejak tadi bersama — Catherine.
Asisten tampan itu, menghela nafas panjang dan membalikkan badannya mencoba menenangkan sang adik yang terlihat ketakutan.
"Sudah!" Serunya dengan lembut. "Sebaiknya, kamu pulang," perintah sambil menghapus air mata sang adik.
"Maaf! Ini semua salahku. Aku, gagal menjaga nyonya, muda," pungkasnya dengan wajah penyesalan.
"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Sekarang, kamu pulang, biar kakak yang mengurus semuanya," terang asisten pribadi Jeffin lembut.
Lusi pun menurut dan mengikuti bawahan sang kakak, untuk kembali pulang. Sesekali ia melihat keatas, di mana sang nyonya masih terkurung dan sedang berusaha diselamatkan.
"Semoga, anda baik-baik saja nyonya," batin Lusi dengan tatapan sedih penuh sesal.
………..
Butuh waktu 2 jam untuk bisa menyelamatkan istri dari sang penguasa itu.
Yang kini kondisinya dalam keadaan tidak sadarkan diri, ia terlalu syok dan tertekan berada di ketinggian terlalu lama.
"Minggir!" Sentak Jeffin.
Ia meraih tubuh sang istri yang berada di gendongan anak buahnya dan mendorong pria itu dan mencaci makinya.
"Berani-beraninya, kau menyentuhnya sialan," amuknya dengan wajah mengerikan.
Anak buah yang menyelamatkan sang nyonya muda, hanya bisa menundukkan kepala. Ia tidak bisa berkata apapun. Meskipun mereka selalu dalam keadaan serba salah.
"Ingat! Jangan lancang menyentuh milikku, apalagi menatapnya," ujar Jeffin dengan peringatan.
Ia seakan melampiaskan rasa kekesalannya yang tertahan kepada anak buahnya, juga seakan mengatakan kepada semua pria yang ada di kota itu, kalau gadis yang sekarang berada di gendongannya adalah — istrinya.
Jeffin segera membawa istri kecilnya memasuki mobil dan membawanya menjauh dari area taman hiburan tersebut.
Ia membawa sang istri dengan wajah suram bak predator kelaparan, ia bahkan memerintahkan anak buahnya untuk menghancurkan tempat itu sekarang.
"Hancurkan, tanpa sisa malam ini dan berikan tawaran kepada mereka untuk tempat ini," pinta Jeffin dingin.
"Siap, tuan," sahut sang asisten.
Jeffin pun melanjutkan langkahnya, ia memasuki mobil mewah hitam di hadapan. "Kembali, ke penthouse!" Perintahnya kepada sang sopir.
Setelah mendapatkan perintah dari sang tuan muda, sang supir pun mulai menjalankan mobil tersebut, ke arah jalur lain menuju Mansion.
__ADS_1
………….
Jeffin terus memeluk tubuh mungil di dekapannya itu, sambil menatap wajah lelah dan sembab sang istri. Ia membungkus tubuh mungil itu dengan jas miliknya.
Tak sedikitpun tatapan kelam itu berpaling dari wajah cantik sang istri, yah masih terlihat sisa tangisan ketakutan.
Pandangan pria itu kini berada di luka memar istri kecilnya di kening dan wajah. Ia hanya bisa memejamkan mata dan menarik nafas. Ternyata perbuatannya tadi sangatlah keterlaluan.
Ia pun memeriksa sekujur tubuh dingin istrinya itu dan … bisa melihat beberapa tanda memar di sana.
Kembali Jeffin memejamkan matanya erat dan mengepalkan kedua tangan, menyerang dalam hati. Ada perasaan sesal dalam lubuk hati memilih bekas perbuatannya sendiri.
Ia bahkan menghina dirinya sendiri yang menganggap dirinya seorang pengecut yang menganiaya seorang gadis mungil dan miris adalah istrinya sendiri.
"Hubungi, dokter Julian," perintahnya dengan wajah dingin.
Sang supir pun hanya menundukkan kepala saat membuka pintu mobil untuk tuan mudanya.
Kini mereka sudah berada di basement khusus sebuah penthouse mewah, dan milik Jeffin berada di lantai paling atas. Sebagai pemilik properti tersebut, membuat Jeffin memiliki ruangan privasi di sana.
Jeffin meletakkan tubuh mungil sang istri di atas ranjang king size dengan hati-hati. Ia juga meletakkan posisi sang istri dengan nyaman. Membersihkan tubuh mungil itu dengan cara menyekanya, mengganti pakaian sang istri dengan sebuah kaos polos yang kini membungkus separuh tubuh mungil istri kecilnya itu.
Sekuat tenaga pria arogan itu menahan hasratnya saat melihat tubuh polos bagian atas sang istri. Ia pun dengan susah payah mempertahankan kewarasannya, ia tidak boleh melakukan itu, di saat sang istri dalam kondisi tidak baik.
Tidak lupa pria itu membungkus tubuh mungil itu dengan selimut hingga di atas dada. Menatap lekat wajah imut di hadapannya dan berakhir dengan kecupan lembut di kening juga bibir ranum istrinya.
Jeffin memalingkan wajah, saat mendengar pintu kamar mewahnya diketuk dari luar.
Seseorang masuk dengan penampilan rapi, setelah Jeffin memberikan perintah.
"Selamat malam, tuan!" Sapa pria berusia di atas Jeffin dengan badan setengah membungkuk.
Pria berkacamata itu pun mendekat ke arah ranjang, ia menatap lekat wajah gadis yang terbaring di sana. Ia pun mengagumi wajah cantik gadis itu tanpa ia sadari, sang pemilik kini melayangkan tatapan tajam ke arahnya.
"Aku, menyuruhmu memeriksanya, bukan melihat wajahnya," sentak pria itu predator itu dengan nada mencekam.
Dokter yang terlihat berusia di atas 50 tahun itu pun terkejut dan wajahnya terlihat pias dan tergugup.
"M-maaf, aku akan memeriksanya," sahut sang dokter.
Pria dengan kepala tanpa rambut di bagian depan itu, mulai mengeluarkan alat medis untuk memeriksa kondisi istri sang pria arogan itu.
"Apa, yang sedang kau lakukan?" Tanya pria yang kini berdiri di sisi lain istrinya.
Sang dokter yang bersiap memeriksa dan mengarahkan alat medis tersebut di dada dan lengan istri sang diktator, harus terhenti saat mendengar sela pria itu. Sang dokter setengah baya itu pun menatap dengan wajah heran.
"Memeriksanya, tuan muda," jawabnya dengan wajah kebingungan. Tangannya pun masih masih melayang di hadapan tubuh mungil — Catherine.
"Dengan, menyentuhnya?" Tanya sang pemilik gadis dengan tatapan nyalang.
"Iya!" Sahut sang dokter dengan kening mengkerut tajam.
"Lancang!" Sentak Jeffin dengan intonasi lantang.
Refleks sang dokter menjatuhkan alat media, karena terkejut oleh teriakan Jeffin.
"Saya, akan memeriksa," sela sang dokter tanpa terpengaruh oleh tatapan buas — Jeffin.
__ADS_1
"Siapa, yang mengizinkan menyentuhnya," timpal Jeffin dingin.
Sang dokter pun hanya bisa terpengarah oleh ucapan tuan muda arogan itu, "bagaimana, aku bisa memeriksanya tanpa menyentuhnya?" Batin dokter tersebut, menatap bergantian pasangan suami-istri itu.
"Apa, dia pikir aku cenayang? Yang mengetahui penyakit seseorang lewat tatapan mata?" Lanjutnya dengan mengerut kesal.
"Kau, mengumpat ku?" Timpal Jeffin dengan mata kelam itu terus menajam.
"T-tidak tuan muda Abraham," sela sang dokter gugup.
"Dasar, balok es," makinya dalam hati.
"Apa yang kau pikirkan, cepat, periksa dia," seloroh Jeffin kembali
"Bagaimana, saya bisa memeriksanya tuan?" Tanya sang dokter dengan menahan rasa kesal.
"Kenapa, kau bertanya kepadaku? Walaupun aku tahu, aku tidak akan membutuhkan dokter payah sepertimu," sahut Jeffin dengan wajah dingin dan datar.
"Oh Tuhan … oh Tuhan, selamat jantungku." Sang dokter pun menyembunyikan wajah kesal dan emosinya dengan menundukkan kepala.
"Apa, yang kau lakukan!" Bentak Jeffin sekali lagi.
"Bukankah, anda yang memberikan perintah?" Jawab sang dokter mencoba untuk sabar.
"Tanpa, menyentuhnya," sambungnya pria diktator tersebut.
"Bagaimana, caranya tuan," balas sang dokter dengan nafas berat, seakan menahan kekesalan.
Jeffin diam dan mengabaikan dokter setengah baya itu, ia bahkan kini sibuk dengan ponselnya. Sedangkan sang dokter kini berpikir, bagaimana memeriksa isteri pria dingin ini, tanpa menyentuhnya?
Ia pun memiliki ide dan menatap sang tuan muda tersebut. "Tuan!" Serunya ragu.
Jeffin merespon dengan memandangnya. "Bagaimana, kalau tuan yang menyentuh gadis ini dan saya yang akan melihat kondisinya," terangnya dengan wajah semangat.
"Berani-beraninya, kau memberiku perintah!" Hardik Jeffin, dengan suara pelan namun menakutkan.
"Tapi, kita harus memeriksanya segera tuan," balas dokter tersebut yang mulai jengah.
"Tanpa, menyentuhnya," timpal Jeffin dengan wajah dingin.
"Astaga, bisakah kau hilangkan saja aku Tuhan," batin sang dokter dengan wajah mulai frustasi.
"Saya, akan menghubungi partner saya tuan," izin sang dokter.
Jeffin pun tidak menyahuti, ia masih setia mendampingi sang istri dengan sebelah tangannya yang terus menggenggam erat telapak tangan istrinya.
"Apa, yang kau tunggu cepat periksa istriku. Lihatlah, sekujur tubuhnya panas.
"Sabar tuan, dia sebentar lagi akan tiba," sahut sang dokter.
"Aku, tidak mau tahu, cepat datangkan dua sekarang," perintah Jeffin dengan nada arogan. Seakan kehilangan kewarasannya sendiri.
"OMG, seharusnya, sebelum kesini aku berubah profesi ku dulu menjadi seorang penyihir," batin sang dokter dengan mencebikkan bibirnya ke arah Jeffin tanpa sepengetahuan pria itu.
"Sabar tuan," ujarnya sekali lagi, mencoba menenangkan sang tuan muda arogan.
"Dia, berada tidak jauh dari lokasi ini," lanjutnya dengan mencoba bersabar.
__ADS_1
"Aku, tidak bertanya dan tidak mau tahu. Yang harus kau lakukan sekarang, memeriksanya," sentak Jeffin emosi.
Telapak tangan kekar itu, tak berpindah dari kening dan wajah cantik Istrinya. Ia merasa khawatir saat merasakan suhu tubuh sang istri begitu panas.