Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 30


__ADS_3

Pria dengan wajah penuh ketegasan itu, masih betah berlama-lama di area kedua aset pribadi istri kecilnya, yang usianya terpaut jauh darinya, antara, 37 tahun banding 19 tahun. Bisa dibayangkan berapa jarak perbedaan usia pasangan itu.


Seorang pria dewasa menikahi seorang gadis remaja yang terlihat seperti seorang anak baginya.


Sosok gadis yang masih, tabu akan hubungan keintiman dengan sikap polos dan lugunya. Dan … harus menerima sikap agresif sang suami yang memiliki pengalaman akan hubungan privasi. Memiliki sisi buas yang terpendam lama. Dan pria itu melampiaskan segalanya kepada dirinya yang masih nol soal itu.


Meskipun, gadis seusianya sudah memiliki pengalaman tentang keintiman, maka Catherine tidak! Karena di saat remaja seusianya sibuk mengejar mimpi dan bersenang-senang. Maka dirinya berjuang untuk bertahan hidup.


……………….


Jeffin masih asyik berada disana, membelai, menghisap, bahkan menggigit gemas area pribadi paling ia sukai mulai sekarang.


Area pribadi sang istri yang pas di genggaman, terlihat mengemaskan yang bagaikan buah setengah matang.


Pria itu kini menjauh dari area tersebut, dan memandangi wajah merah merona istrinya yang kedua kelopak mata indah itu terpejam erat.


Mata kelam mempesona pria itu, beralih ke bibir ranum istrinya yang tertutup rapat dan Catherine pun menggigit bibir bawahnya yang membuat Jeffin begitu menginginkan bibir ranum itu.


"Apa, kau berusaha menggoda pria lain disana? Hm." Bisiknya dengan ibu jari memainkan bibir bawah istrinya dengan sensual.


"T-tidak!" Sentak Catherine dengan wajah semakin gugup.


"Kenapa, kau begitu berani memakai pakaian seperti tadi? Katakan, alasanmu memakainya." Jeffin menuntut jawab dengan wajah semakin tak terkendali, saat ibu jarinya terus membelai bibir ranum sang istri.


"Katakan," desaknya, sambil mendekatkan lebih wajahnya ke wajah sang istri kecil.


"I-itu …." Ungkapan Catherine gugup, dengan mata masih terpejam.


"Itu apa, hm?" Tanya Jeffin lembut dengan suara berat nan seksi, yang mana bibirnya sudah sangat dekat dengan bibir ranum istrinya yang terkatup rapat.


"Buka!" Pinta pria itu dengan nada berat, memerintahkan istri kecilnya untuk membuka bibirnya.


Catherine pun refleks membuka mulutnya dan ia semakin gugup, saat merasakan bibir suaminya sudah menempel di bibirnya. Hanya, menempel karena pria itu sengaja berlama-lama untuk merasai betapa lembut, manis dan lengitnya bibir istrinya itu.


"Katakan!" Seru pria dewasa itu dengan mata tertutup sambil menikmati sentuhan bibirnya di atas bibir sang istri.

__ADS_1


"A-apa?! Sahut Catherine yang entah, ekspresi wajah seperti apa sekarang ini. Begitu sulit untuk dijelaskan. Antara, ikut terhanyut, gugup, ketakutan dan geli, saat rambut-rambut halus yang ada di atas bibir sang suami menggelitik bibirnya.


Jeffin semakin memejamkan mata saat merasakan nafas hangat dan segar istrinya itu. Ia pun tak tahan dan segera ******* lembut bibir bawah sang istri kecil. Menyesap penuh penghayatan dan ******* bibir itu secara bergantian bagian atas dan bawah.


Jeffin menjadi tak terkendali, saat lihatnya kini menyapa isi di dalam mulut istri kecilnya yang begitu hangat. Jeffin bahkan mengabsen satu persatu gigi putih — Catherine.


Kedua tangan pria itu, kini berada di punggung istrinya dan yang lainnya berada di pipi sang istri.


Jeffin tidak memperdulikan istrinya yang berusaha mengatur nafasnya, yang begitu kewalahan menerima serangannya.


"Bernafas lah," bisik yang melepaskan tautan bibirnya sambil menghapus jejak saliva di pinggiran bibir sang istri.


"Apa, ini yang pertama untukmu?" Tanya Jeffin masih terus mengecup singkat bibir ranum di depannya.


Catherine hanya bisa mengangguk, nyatanya ia baru merasakan yang namanya ciuman. Ia pun tidak tahu harus berbuat apa, Catherine hanya bisa menahan nafasnya dan berusaha melepaskan serangan sang suami.


Jeffin terlihat tersenyum tipis, dan menatap lekat wajah merona istrinya itu yang masih setia memejamkan matanya, ia membelai wajah imut dan cantik itu, dari alis hingga menjalar sampai bibir ranum menggoda.


Jeffin mendekati kembali wajah istrinya itu dan sengaja menempelkan pipinya di pipi kenyal sang istri. Menggodanya dengan mengusap wajah bercambangnya di sana.


Sesekali bibir tipis seksi pria itu mengecup leher putih istri yang tak terhalang oleh sehelai rambut pun.


Kini bibir itu kembali lagi ke bawah sana, setelah puas, maka Jeffin akan kembali menyesap bibir mungil istrinya itu.


Catherine hanya bisa memegang erat leher suaminya, dengan sekujur tubuh sudah dibanjiri keringat dingin. Padahal suhu ruangan begitu sejuknya.


Ia tidak tahu harus melakukan apa, ingin terlepas, ia tidak akan berani. Takut suami predatornya itu akan kembali buas. Jadi … Catherine tidak akan memancing kebuasan suaminya. Lebih baik ia diam dan menerima cumbuan sang suami dengan perasaan campur aduk.


"Buka, matamu!" Perintah Jeffin yang kini menatap lekat istri kecilnya dengan jari kekar itu naik turun di pipi sang gadis.


Dengan patuh, Catherine membuka matanya secara perlahan. Tatapan sepasang suami-istri itu saling memandang dalam diam.


Catherine dapat dengan jelas, mata kelam penuh pesona suaminya, wajah tegas berkarisma itu begitu, menggugah hatinya yang mulai berdebar.


Catherine dibawa terhanyut oleh perasaan kagumnya kepada wajah rupawan sang suami, pun sedang memindai wajahnya.

__ADS_1


Kedua tangan gadis itu hanya bisa bertengger di ceruk leher suaminya sejak tadi, ingin menyentuh wajah itu, tapi … ia tidak ada keberanian sedikitpun. Terpaksa Catherine hanya bisa mengepalkan tangannya.


Sedangkan Jeffin tidak jauh beda dengan perasaan istrinya sekarang. Mengagumi wajah natural sang istri, terhanyut oleh manik hijau di hadapannya.


Jeffin mendorong punggung istrinya, agar tubuh mereka saling semakin tak berjarak. Catherine pun dibuat terkejut dan ia dapat merasakan hangatnya tubuh sang dan merasakan detak jantungnya.


Jeffin pun tidak bisa menahan segala hasrat sekarang ini, saat kedua benda itu menempel di dadanya.


Segera saja, Jeffin meruap kembali bibir ranum — Catherine, sambil bangkit dan berjalan ke arah ranjang.


Jeffin merebahkan penuh hati-hati sang istri di atas ranjang dengan masih menyesap bibir istrinya.


Pria itu bahkan tidak melepaskannya yang kini menindih tubuh mungil istri kecilnya, yang mana kedua kaki — Catherine setia melingkar di pinggang kekarnya.


Pria dengan sejuta pesona itu, melepaskan tautan bibirnya dan turun menyusuri leher panjang sang istri.


Kembali, pria itu kini berada di tengah-tengah kedua benda kesayangannya, ingin mengulang kembali menikmati secara bergantian.


Tapi … tiba-tiba ketukan pintu mengganggu konsentrasi dan membuat Catherine bergerak gelisah.


"A-aku, akan membukanya," sela Catherine, saat Jeffin melayangkan tatapan tajam.


Pria itu tidak menghiraukan, ia tetap kembali menikmati kedua benda kesayangannya, tanpa memperdulikan ketukan di luar pintu, yang lama-kelamaan berubah kedoran.


Disusul teriakan seorang wanita, yang tentu pria itu mengetahui siapa di balik pintu tersebut.


Dengan wajah penuh frustasi, Jeffin menjauh dari tubuh setengah polos istrinya, dan berjalan dengan mulutnya mengerut kesal, saat hasratnya yang sudah di ujung jalan kembali terganggu.


"Akhh!" Teriaknya, saat berada di dalam kamar mandi.


Catherine pun hanya bisa tercengang, sambil memperbaiki penampilannya. Setelah itu berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Mommy?!


__ADS_1



__ADS_2