
Hari-hari Catherine ia lalui dengan terpenjara di dalam kediaman mewah itu, menjadi pelayan pribadi sang istri pertama.
Dua Minggu sudah ia menjadi pelayan pribadi istri pertama Jeffin, dan sikap wanita berubah setiap harinya. Ia akan mempersulit keadaan — Catherine. Menyusutkan nya saat suami mereka berada di sana, hingga Catherine akan menjadi, amukan amarah — Jeffin.
Yah! Sikap istri pertama sang suami kini berubah, yang biasanya akan bersikap lemah lembut dan begitu bersahaja, namun entah mengapa, wanita berusia 35 tahun itu berubah sikap. Padahal Catherine selalu menjaga statusnya sebagai istri kedua di kediaman Abraham, dan sekarang dirinya harus menghadapi sikap arogan sang istri pertama.
Seperti yang terlihat sekarang di dalam kamar wanita itu, ia kini duduk di atas kursi roda dan memandang sinis ke arah — Catherine yang sedang membersihkan lantai, akibat ulahnya.
"Cepatlah! Kau lambat sekali. Ingat, kau hanya seorang pelayan disini, jadi bersikaplah layaknya seorang, pelayan," ujar Samantha, istri pertama Jeffin. Wanita itu terus menatap — Catherine penuh kebencian.
Samantha sudah mengetahui status Catherine di kediaman Abraham dari, ibu tirinya dan juga Clara, sang kakak tiri. Samantha tidak percaya akan itu semua, namun ia bisa membuktikannya, saat tidak sengaja ia melihat sang suami keluar dari kamar di sebelahnya bersama Catherine. Dan ia juga akan diam-diam, membuka kamar di sebelahnya dengan bantuan salah satu pelayan, ia bisa melihat sang suami tidur dengan lelap dengan memeluk mesra wanita lain.
Sebagai seorang wanita, Samantha begitu terluka dan tidak percaya atas apa yang ia lihat, suami yang begitu dicintainya, kini sudah memiliki wanita lain dan membawanya ke tempat dimana dirinya berada.
Hati wanita itu begitu terluka, atas apa yang sang suami lakukan, Samantha sempat memaklumi keputusan suaminya yang menikah lagi, karena kondisinya yang dalam keadaan koma. Sebagai pria normal, suaminya butuh kehangatan dan sosok pendamping juga keturunan.
Samantha menangis sepanjang malam, saat memikirkan sang suami yang memiliki wanita lain dan rasa kecewa pun tidak ada artinya, semuanya sudah terjadi dan ia hanya bisa pasrah. Namun, ia kecewa kepada — Jeffin dan Catherine yang tidak jujur kepadanya dan lebih menyembunyikannya, bertemu di belakangnya begitu sang membuat perasaannya terluka.
Ia bahkan pernah memergoki suaminya mencumbu istri keduanya, dan itu sungguh sangat perih dan melukai perasaannya sebagai seorang wanita dan istri pertama.
Bagaimanapun ia hanya seorang wanita lemah dan tidak akan rela berbagi cinta suami dengan wanita lain.
Hingga isi pikiran Samantha dikotori oleh bujukan dan perkataan, ibu dan kakak tirinya. Mereka membuat Samantha untuk membenci Catherine dan melemparkannya dari kediaman Abraham.
Apalagi separuh harta Abraham jatuh di tangan — Catherine, yang membuat rasa benci itu terus menggebu.
Ia tidak terima dengan ketidakadilan ini, seharusnya ia mendapatkan itu semua, bukan seorang wanita yang baru memasuki kediaman Abraham.
Apalagi sang ibu tiri membuat perasaan Samantha semakin was-was perihal — keturunan.
Yang membuat tekat Samantha untuk menyingkirkan istri kedua suaminya itu semakin yakin ia lakukan.
Segala kelicikan pun wanita itu lakukan, agar istri kedua mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya, Jeffin.
Wanita itu bahkan, mempunyai rencana licik agar, Catherine segera pergi dari kehidupannya bersama sang suami dan ia akan menjadi satu-satunya wanita nomor satu di keluarga Abraham.
"Cepat, lakukan!" Pekik Samantha.
Ia memberi perintah kepada — Catherine untuk membersihkan jari-jari kakinya.
"Dasar, pelayan tidak becus," maki Samantha dengan wajah sinis.
Catherine pun hanya bisa melakukan apa yang istri pertama itu, perintahkan dengan terus menahan rasa jenuhnya dan selalu bersabar meskipun selalu mendapatkan tekanan batin.
"Lakukan, yang benar," hardik Samantha.
Wanita itu bahkan sengaja menginjak salah satu telapak tangan, Catherine yang berada di dalam wadah.
__ADS_1
Catherine hanya bisa menahan rasa sakit dengan mendesis lirih. Membuat wajah Samantha tersenyum puas.
"Jangan, pikir wajahmu bisa mengambil perhatian suamiku. Ingat, kau hanya wanita rendahan yang diambil dari tempat kumuh," bisik wanita itu dengan senyum licik.
Istri kedua Jeffin hanya bisa menahan rasa pilu dan sakit hatinya, ia sudah merasa kebal atas hina yang terlontar dari mulut wanita yang posisinya berada di atas itu. Apalagi perilaku suaminya yang tidak adil, Catherine sudah merasa kebal dan bersikap cuek.
Namun perkataan wanita ini, begitu menghina harga dirinya sebagai seorang wanita dan juga latar belakang keluarganya.
"Aku, menyuruhmu membersihkan kuku kaki ku, bukan menyuruhmu menangisi nasib buruk mu," sentak Samantha.
Bertepatan kamar terbuka dan muncul sosok pria yang merupakan suami mereka.
"Berhentilah, dasar tidak becus," bentak Samantha dan mendorong tubuh Catherine menggunakan sebelah kakinya.
"Cih! Lemah," hinanya dengan wajah mengejek.
Jeffin hanya bisa terdiam di tempatnya dengan tatapan yang sulit diartikan, ia merasa tidak berdaya berada di posisi sekarang.
Pria itu berjalan lebih mendekat ke arah kedua istrinya. Dengan tatapan yang ditujukan untuk istrinya kecil yang terduduk di atas lantai.
"Kembalilah, ke kamarmu!" Perintah Jeffin tiba-tiba.
Membuat Samantha dan Catherine menoleh ke arahnya secara bersamaan.
"Kau, sudah pulang?" Tanya Samantha dengan wajah riang.
Catherine hanya bisa tersenyum pilu, saat pria itu hanya melewatinya begitu saja, tanpa ada niat membantunya untuk berdiri. Dan … lebih mementingkan sang istri pertama.
"Keluarlah!" Perintah Jeffin sekali lagi dengan nada dingin.
Dengan wajah penuh kesedihan dan lagi-lagi harus mendapatkan luka, Catherine bangkit dengan tertatih dan berjalan ke arah pintu. Keluar dari kamar itu dengan lelehan air mata.
"Kenapa,kau menyuruhnya pergi? Aku, masih membutuhkannya untuk menyiapkan diriku, agar menyambut kedatanganmu," cerca Samantha dengan wajah kesal.
"Biar, aku yang membantumu," bisik Jeffin setelah melepas jas dan tas kerjanya. Ia mendorong kursi roda istrinya itu ke arah ranjang.
"Aku, belum ingin tidur," rengek Samantha.
"Kau, harus banyak istirahat, honey. Ingat, kau baru saja sembuh," bujuk Jeffin yang kini sudah memindahkan tubuh istrinya di atas ranjang.
"Kau, pasti ingin menemuinya," batin Samantha dengan wajah penuh kebencian.
"Tidur!" Ucap Jeffin memberikan kecupan singkat di kening istrinya dan ikut berbaring di samping istrinya itu.
Samantha memunggungi Jeffin dengan sorotan mata penuh perasaan terluka dan dendam. Jeffin kini memeluk istrinya itu dengan erat, berharap wanita itu segera tertidur.
"Bolehkah, aku menghirup udara segar di luar mansion?" Tanya Samantha tiba-tiba, sengaja untuk membuang waktu sang suami.
__ADS_1
Jeffin mengerutkan keningnya di balik punggung istrinya itu dan kini merubah posisinya menjadi telentang. Samantha pun ikut merubah posisinya dengan gerakan perlahan.
"Kau, mau kemana?" Sahut Jeffin tanpa menatap istrinya.
"Berbelanja! Sudah lama aku tidak melakukan hobiku itu, aku juga butuh menghibur hatiku yang bosan," ungkap Samantha memberi alasan kepada suaminya.
"Tapi, kau masih belum terlalu membaik, sayang," balas Jeffin dengan wajah frustasi.
"Jadi, kau tidak memberikan aku waktu untuk mencari kesenangan? Kau, ingin aku terus merasa tertekan disini?" Sahut Samantha dengan nada membentak.
Jeffin menarik nafas panjang, nyatanya sikap dan sifat istrinya itu belum bisa berubah. Keras kepala dan tidak bisa menuruti keinginannya.
"Tapi …."
"Aku, akan tetap pergi," potong Samantha, lalu kembali memunggungi suaminya.
Jeffin hanya diam, ia tidak punya pilihan lain. Ia akan merasa lemah apabila menghadapi istri pertamanya ini. Entahlah, mungkin karena rasa cintanya yang membuatnya begitu tidak berdaya.
Pria itu bangkit, setelah meyakinkan istri pertamanya tertidur. Ia berjalan dengan hati-hati ke arah pintu dan membukanya dengan perlahan yang tidak menimbulkan suara nyaring.
Jeffin kini membuka pintu kamar yang terletak di sebelah kamar istri pertama. Ia melihat sosok wanita mungil di atas ranjang dengan tubuh tertelungkup tanpa selimut.
Ia mendekati ranjang, mengubah posisi wanita cantik itu dan menyelimutinya, yang juga ia ikut berada di balik selimut tersebut.
Menghadapkan wajah sembab istri kecilnya itu ke arah wajahnya, menghapus jejak air mata di ekor mata indah sang istri kecil. Mengecup kedua kelopak mata itu dan memeluk tubuh rapuh istrinya dengan erat.
…
NEXT EPISODE.☺️😁
Darah kini menetes deras dari pangkal paha wanita itu, membuat Jeffin membeku dengan wajah syok. Bertepatan sang mommy pulang dan menyaksikan sendiri kelakuan anaknya kepada menantu kesayangannya itu.
"Plak, plak,"
"MOMMY SANGAT KECEWA KEPADAMU, JEFFIN WILLIAM ABRAHAM!"
"MOMMY SANGAT KECEWA DAN MOMMY MENYESAL MELAHIRKANMU!"
"MOMMY!
"APA? HAH. APA!"
"PUAS KAMU, APA KAMU SUDAH PUAS, HAH!"
"INI SALAHNYA KARENA TIDAK MENGATAKAN KEPADAKU!"
"PLAK, PLAK. SALAHKAN DIRIMU YANG TIDAK BERGUNA DAN PECUNDANG."
__ADS_1