
Terlihat mobil sport mewah dengan warna merah menyala melaju kencang di pusat jalanan kota Swiss.
Tatapan mata merah wanita di dalam mobil itu terlihat nyalang, penuh dendam dan kebencian. Setetes air mata mengalir membasahi salah satu pipinya hingga dagu.
Genggaman tangan yang berada di stir mobil terlihat begitu erat, hingga terlihat buku-buku jarinya memutih.
Raut wajahnya terlihat mencekam, saat menyaksikan pemandangan yang membuat aliran darahnya mendidih. Setiap mengingat itu semua, Samantha lebih menekan kuat padel gas mobilnya.
Melaju tidak karuan di pusat jalanan kota, beberapa kendaraan lain memberikan peringatan kepada wanita itu. Namun Samantha tidak memperdulikannya.
Ia hanya ingin melampiaskan segala rasa kesal dan amarahnya, atas apa yang ia saksikan tadi di perusahaan mantan suaminya.
"Citttt" Samantha menghentikan laju mobilnya saat ia ingin menerobos pembatas jalan. Membuat mobil itu berhenti di pinggir tebing.
"Brak" Samantha keluar dari mobilnya dan menutup kasar.
"Akhh!" Teriak wanita itu dengan penuh emosi.
"Aku membencimu wanita, sialan!" Teriaknya sekuat mungkin.
"AKU MEMBENCIMU! Lanjut wanita itu menggila.
"Aku, bersumpah akan melenyapkan kau dari muka bumi ini dan kedua anak sialanmu itu," ujarnya dengan wajah semakin merah.
"Aku, tidak akan membiarkan kalian bahagia di atas nasibku yang sudah kau hancurkan," teriak wanita itu mengeluarkan segala amarahnya.
"Akhh! Wanita murahan!" Lanjutnya dan kali ini sambil memecahkan kaca mobilnya sendiri.
"Prang, prang." Samantha begitu menggila hingga mobil mewahnya menjadi sasaran amarahnya.
Dari arah jauh, terlihat mobil sedan hitam mendekat ke arahnya. Mobil itu berhenti pas di samping mobil Samantha yang kaca dan body mobil hancur oleh amukan wanita itu.
Tampak seorang wanita setengah baya keluar terlebih dahulu dan disusul oleh seorang wanita bertubuh sintal seksi.
"Astaga, Samantha! Apa yang kau lakukan!" Pekiknya dengan kedua mata membola saat melihat kondisi mobil mewah wanita itu.
"Cih! Dia berulah lagi," cibir Clara halus.
"Katakan! Apa yang kau lakukan dengan mobil ini," hardik nyonya Soraya.
Samantha hanya menatap nyalang ke arah ibu tirinya, ia merasa terganggu oleh kehadiran kedua wanita ini.
"Bukan urusanmu," jawabannya dengan nada dingin.
"Apa katamu!" Pekik nyonya Soraya dengan wajah menantang.
"Kau baru saja membeli mobil ini kemarin, menghabiskan setengah harta daddy mu dan sekarang dengan mudahnya kau menghancurkannya!" Bentaknya dengan wajah merah dan nada emosi.
Samantha membuang pandangannya ke arah tebing, mengindahkan ucapan ibu tirinya yang semakin membuat aliran darahnya memanas.
"Kau tahu! Karenamu, daddy tidak memberikan aku jatah bulanan kali ini," celetuk Clara.
Samantha segera berpaling ke arah kakak tirinya dan menampilkan senyum sinis.
__ADS_1
"Memangnya, siapa dirimu, hah!" Sentak Samantha dengan nada mengejek.
"Kau, hanya anak bawaan wanita ini, anak yang tidak jelas asal-usulnya," hina Samantha dengan wajah mencibir.
"Jangan, ikut campur dengan urusanku. Lebih baik kalian sadar dengan posisi kalian yang hanya benalu murahan," ujar Samantha dengan kata-kata sarkas dan pandangan mencemooh.
Clara dan ibunya hanya bisa mengepalkan kedua tangan mereka mendengar kata-kata hinaan — Samantha.
Tidak tahan dengan sikap arogan dan sombong adik tirinya, Clara mendekati Samantha yang masih menampilkan senyum remeh.
"Plak, plak," Clara memberikan tamparan keras dan kuat di wajah Samantha.
Samantha memegangi pipinya yang terasa panas dengan tatapan nyalang ia berikan kepada kakak tirinya itu.
"KAU!" bentak Samantha sambil mengarahkan jari telunjuknya tepat di depan wajah wanita itu.
"Kenapa, hah!" Tantang Clara yang tidak kalah bengisnya.
"Berani-beraninya, kau wanita sialan," Samantha yang mulai tersulut emosi segera mengangkat tangannya untuk membalas perlakuan Clara.
Tapi tiba-tiba pergerakannya terhenti, saat nyonya Soraya mencegal tangannya.
"Jangan, berani menyentuh anakku," ucap nyonya Soraya dingin dengan wajah marah.
"Cih! Samantha berdecih kasar, lalu menghentakkan tangan nyonya Soraya.
"Ternyata, kalian hanya lah' manusia licik dan menjijikkan," ucapnya dengan cibiran sinis.
Kedua wajah wanita itu semakin merah setiap mendengar ucapan hinaan dari mulut Samantha.
Samantha dengan gesit menghindar, dengan senyum miring. Kini ia berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Pandangan penuh hina dan remeh ia berikan kedua wanita di hadapannya.
"Why! Kalian hanya wanita kumuh, sampah yang diambil, daddy dari lingkungan kotor," bisik sarkas Samantha dengan seringainya.
"Seharusnya, kalian sadar diri dengan posisi kalian apa. Yang tidak jauh dari seorang pelayan rendah," sambungnya dengan tawa ejekan.
Kedua wajah wanita itu semakin merah hingga ke ujung kedua telinga mereka, diam-diam Clara mendekati Samantha yang terlihat menatap sinis ibu tirinya.
"Akh!" Pekik Samantha kesakitan.
"Lepaskan, sialan!" Hardik Samantha sambil memukul-mukul tangan Clara yang kini menarik kuat rambutnya.
Clara dengan segera menarik rambut di bagian belakang wanita sombong itu dan sekuat mungkin menariknya hingga — kepala Samantha mendongak keatas.
Nyonya Soraya segera mendekati kedua wanita muda itu, wanita dengan dandanan elegan itu mengeluarkan sesuatu dari tas jinjing mahalnya.
"Seharusnya, kita menghabisi nyawanya waktu itu," bisik nyonya Soraya dan meletakkan benda tajam yang ada di salah satu tangannya di leher jenjang Samantha.
Nyonya Soraya menekan kuat, hingga Samantha meringis nyeri, ia merasa perih di bagian lehernya dan keluar sesuatu cairan dari leher panjangnya.
"Lepaskan!" Perintahnya dengan wajah merah menantang.
"Tidak, semudah itu nak," bisik nyonya Soraya tepat di telinga anak tirinya.
__ADS_1
"Aku, akan melepaskanmu dari muka bumi ini, bagaimana?" Bisiknya lagi semakin menekan benda tajam itu.
"Dasar, kalian licik!" Geram Samantha. Ia tidak sanggup bergerak, saat kedua tangannya di kunci oleh Clara.
"Ini yang seharusnya kami lakukan sejak lama kepadamu," potong Clara berbisik di belakang kepala — Samantha.
"Jahat! Kalian semua penjahat," pekik Samantha dengan wajah marah.
"Lepaskan!" Titah Samantha yang berusaha mendominasi keadaan.
Tapi kedua wanita itu hanya tertawa lepas dan mengejek kepada Samantha.
"Bagaimana, mom. Kita harus melakukannya sekarang?" Tanya Clara dengan wajah penuh rencana.
"Sepertinya, kita tidak punya pilihan lain," sahut nyonya Soraya.
"Apa yang ingin kalian, lakukan," sentak Samantha dengan berusaha memberontak.
"DIAM! Bentak kasar nyonya Soraya, sambil memberikan sebuah tamparan kuat di wajah Samantha.
"Akh! Dasar murahan!" Gertak Samantha yang tidak terima atas perlakuan kedua wanita ini.
"PLAK! Kau yang murahan," teriak nyonya Soraya tepat di wajah cantik Samantha.
"Cepatlah, mom. Aku sudah muak melihatnya," timpal Clara dengan wajah jengah.
"Oke!" Nyonya Soraya membalas ucapan putrinya.
Wanita dengan usia lima puluh tahun keatas itu, memeriksa keadaan di sana yang tampak terlihat sunyi. Hanya deburan ombak dari dasar tebing yang terdengar.
"Aman!" Ucap nyonya Soraya tanpa suara.
Nyonya Soraya pun kembali mendekati Samantha dengan wajah mengerikan, dengan benda tajam itu ia mainkan di depan wajah anak tirinya.
"Lepaskan! Apa yang ingin kalian lakukan," ucap Samantha mulai ketakutan.
"Melenyapkan mu, nak," bisik nyonya Soraya.
Clara terkekeh licik di belakang Samantha saat mendengar dan merasakan ketakutan pada adik tirinya.
"Selamat jalan, sayang. Semoga engkau bertemu ibu di neraka," ucap nyonya Soraya dengan nada mencekam.
Wanita setengah baya itu lantas, mendekatkan benda tajam itu tepat di atas permukaan kulit dada Samantha yang terdapat alat vital yang sangat penting di dalamnya.
Nyonya Soraya bahkan menekan kuat hingga cairan merah mengalir deras membasahi tangan dan pakaian depannya.
Kedua kelopak mata Samantha membola dengan mulut terbuka, tidak lama kemudian, wanita itu jatuh tidak sadar diri.
Segera nyonya Soraya menuju mobil mewah Samantha, menyalakan dan menekan gigi. Sedangkan Clara berusaha sekuat tenaga memindahkan tubuh Samantha ke dalam mobil yang kini siap untuk melaju.
Clara dan sang mommy saling memberikan isyarat untuk segera menjalankan aksi jahat mereka.
Nyonya Soraya pun melepaskan tekan gigi pada mobil mewah itu dan menekan gas sekuat mungkin, setelah itu ia pun segera melompat saat mobil tersebut mulai bergerak perlahan.
__ADS_1
Sejurus kemudian, mobil itu pun terus bergerak menuju pembatas tebing, menghancurkan pembatas itu, hingga mobil Samantha terus bergerak hingga jatuh ke dasar tebing.
Terdengar hantaman kuat di dasar tebing itu yang terdapat lautan lepas. Kedua wanita itu tersenyum puas, saat berhasil melenyapkan — nyawa wanita yang selama ini mereka benci.