
"Brak"
"Astaga, maaf!" Ucap Catherine.
Ia tanpa sengaja menabrak seseorang yang kini berdiri menjulang di hadapan, ia pun terkejut, saat minum yang berada di tangan tumpah dan mengotori pakaian seseorang yang ia tabrak.
"Maaf, maaf. Saya, benar-benar tidak sengaja," jelasnya.
Catherine pun membuka topi yang ia kenakan dan kacamata menutupi mata sembabnya, ia terlihat mencoba mencari sesuatu di dalam tas selempangnya.
"Biar, saya membersihkannya," ucapnya gugup.
Catherine pun membersihkan jas pria di depannya dengan tangan gemetar dan terlihat merasa bersalah.
Sedangkan pria yang menjadi korbannya, kini terus menunduk wajah, menatap lekat, wajah mungil di hadapannya. Ia merasakan dadanya berdebar dan ia terlihat membeku.
Ia pun mencoba melihat lebih jelas wajah itu. Wajah yang selama ini ia nantikan dan selalu ia impikan agar bisa melihatnya lagi.
"Sekali lagi, saya minta maa …."
Ucapannya terhenti, saat pria itu meraih kedua sisi wajahnya dan memaksanya mendongak. Catherine pun tersentak kaget dan berusaha menghentikan perbuatan pria di depannya, yang lancang menyentuhnya.
"Apa yang anda, lakukan," sentak Catherine.
Ia menyingkirkan kedua telapak tangan besar nan lembut itu dari kedua sisi wajahnya.
Sementara pria memiliki wajah tampan bersahaja itu, terpaku saat melihat wajah — Catherine. Tatapannya pun terlihat berbinar bercampur berkaca-kaca. Terlihat raut tak percaya di wajah rupawan itu. Wajah yang seakan lama menanti dan baru bertemu kembali.
Tatapan teduh menghanyutkan itu, terus menatap wajah cantik — Catherine. Tak sedikitpun ia berpaling, seakan tidak ingin kehilangan sosok gadis di hadapan.
"C-cathy!? Serunya dengan gumam.
"Sekali lagi, saya minta maaf," sela Catherine, yang segera menjauh dari pria itu. Pria yang aneh, menurutnya.
"Aneh!" Catherine membeo sambil menoleh kembali ke belakang.
Dimana pria teraneh, masih menatapnya dengan tatapan menerawang jauh.
"Dia, kenapa?" Tanyanya, setelah itu mengedikkan kedua bahu mungilnya.
"Nyonya!" Panggil seorang gadis yang berlari ke arahnya.
Catherine menyambut, gadis itu dengan senyum manis, dan tawanya pun lepas saat — melihat wajah cemberut gadis di hadapannya.
Catherine terlihat bahagia malam, ia berusaha menekan rasa sedihnya dengan bersenang-senang. Meskipun senyum dan tawanya itu terlihat nyata, yang terpenting. Ia bisa melupakan rasa sakit dan terlukanya dengan mencoba, berbagai permainan di taman hiburan.
Berteriak dengan tawa yang bercampur kesedihan, di saat mencoba berbagai macam fasilitas menguji adrenalin nya di sana. Dan… itu sukses membuat perasaannya lega. Tidak seorangpun yang tahu, kalau teriak itu adalah sebuah tangisan pilu.
"Aku, sejak tadi mencarimu," ujar Lusi dengan wajah cemberut.
Gadis itu berani bersikap demikian kepada majikannya, karena perintah — Catherine sendiri. Ia tidak ingin bersikap formal kepadanya. Catherine menginginkan dirinya menjadi seorang sahabat yang selalu ada untuk menghibur dan mendukungnya.
Lusi sendiri sempat menolak dan merasa tidak pantas, karena itu masuk akal, seorang bawahan tidak bersikap sopan kepada majikannya. Tapi … paksaan dari Catherine membuatnya tidak memiliki pilihan lain.
__ADS_1
"Maaf! Aku, membeli minuman in …." Catherine menerangkan dan kemudian terhenti.
sambil memandangi tangannya yang terdapat bekas minuman ia beli sudah kosong. Ia menampilkan wajah kesal, saat mengingat kejadian barusan dengan seorang pria aneh.
"Minuman apa?" Tanya Lusi.
Ia melihat wadah bekas jajanan di tangan sang majikan dan keningnya mengkerut.
"Mana, minumannya?" Tanya gadis itu lagi terheran.
Catherine pun semakin di buat kesal, tanpa memperdulikan wajah bingung Lusi, ia meninggalkan sahabat barunya itu.
"Sudahlah, lupakan saja," ucapnya dengan wajah mengkerut kesal.
"Hey, tunggu!" Teriak Lusi.
"Kau, kenapa?" Lusi kembali bertanya dengan wajah teramat penasaran.
"Tidak ada!" Ketus Catherine.
Ia terus berjalan di tengah-tengah keramaian, para pengunjung taman hiburan tersebut.
Lusi menggandeng lengan Catherine, dan ia pun mengajak Catherine, untuk menaiki salah satu wahana permainan bianglala di sana.
Dengan wajah senang, Catherine pun mengangguk yakin dan keduanya pun segera berlari ke arah wahana tersebut, layaknya seorang remaja sekolah menengah atas.
Tanpa mereka sadari, pria yang bertabrakan dengan — Catherine, mengikuti keduanya sejak tadi. Sebelum ia kehilangan jejak Catherine, karena terlalu terbawa suasana dalam hatinya.
Pria yang terpaku saat menatap wajah — gadis yang sudah lama ia cari keberadaannya dan menanti gadis itu.
"Akhirnya, aku menemukanmu lagi, Cathy. gadis kecilku," gumamnya dengan tatapan binar berkaca-kaca terus menatap wajah bahagia Catherine yang sedang menaiki wahana.
"Kali, ini aku tidak akan pernah melepaskanmu," monolognya dengan tatapan yakin dan penuh keseriusan.
"Kau, adalah gadisku, gadis kecil kesayanganku," sambungnya dengan nada halus.
………
Sementara di Mansion Abraham.
Jeffin terlihat berdiri di depan balkon kamar perawatan istri pertamanya, yang langsung menghadap ke posisi pintu gerbang.
Ia dengan kedua tangannya di dalam saku celana kain yang ia kenakan, terus memindai jalan mobil, menuju pintu utama Mansion.
Seakan menunggu seseorang sejak tadi, wajahnya pun terlihat berpikir keras dan ada raut tidak terima. Ketika melihat istri kecilnya meninggalkan Mansion dengan penampilan begitu menggemaskan.
Berulang Kali ia menghela nafas frustasi dan mengerang kesal. Mengerubuti dirinya sendiri yang bersikap aneh.
Seharusnya ia membiarkan istrinya itu atau lebih baik ia tidak peduli,dan merasa khawatir, kalau istri kecilnya digoda oleh pria lain.
"Akhh! Sial!" Umpatnya kesal.
Jeffin pun lebih memilih memasuki kamar, memandangi sejenak sang istri pertama, dan keluar dari kamar tersebut.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa yang kau dapatkan?" Tanya Jeffin dengan suara dinginnya.
Ia kini memberikan tatapan lekat kepada asistennya itu, yang ia perintahkan untuk mengawasi sang istri kecil dan memberikannya kabar.
"Katakan!" Serunya dengan nada suara berat, yang wajahnya semakin terlihat tak bersahabat.
"Berikan!" Sentaknya, yang mengarahkan telapak tangannya ke depan sang asisten.
Pria di depannya pun terlihat ragu untuk, menyerahkan iPad di tangannya, dengan wajah terlihat kaku.
"BERIKAN!" gertak Jeffin dengan tidak sabarnya.
Jeffin pun merampas benda tersebut dari tangan sang asisten, ia segera mengecek sesuatu di benda itu, namun, niatnya terhenti saat mendengar langkah kaki memasuki Mansion.
Dengan berdecak kesal, Jeffin melayangkan tatapan predator kepada pelayan tersebut, tapi tiba-tiba ia mengerutkan kening. Saat melihat sang pelayan memegang beberapa tote bag dengan sebuah nama bermerek terkenal tertulis di luar tote bag tersebut.
"Apa yang kalian bawa?" Tanya seorang wanita yang datang tiba-tiba dari arah lain Mansion dengan sebuah koper.
"Kemarilah!" Perintah wanita satunya dengan wajah berbinar melihat barang bermerek tersebut.
Namun ketiga pelayan itu tidak menuruti permintaan, Clara dan ibunya. Ketiganya lebih memilih mendekati — Jeffin yang berada di sofa dengan tatapan mematikan.
"Seseorang, mengirimkannya khusus nyonya muda, tuan. Ia berpesan sebagai salam perkenalan," terang salah satu dari mereka.
Jeffin pun semakin terlihat menyeramkan dengan pandangan predator ke arah beberapa barang-barang mewah di tangan ketiga pelayan itu.
"Tuan!" Seru kepala pelayan dengan sebuah kotak kecil dan secarik kertas di tangannya.
"Dari siapa?" Tanya sang tuan muda dengan suara begitu menyeramkan.
Kepala pelayan itu pun mulai tergugup sambil menyembunyikan kontak dan secarik kertas tersebut di balik punggungnya.
"Berikan padaku!" Pinta Jeffin dengan aura mematikan.
Clara dan nyonya Soraya tidak menduga, ada seseorang begitu royal kepada Catherine. Hanya karena salam perkenalan.
Ada rasa iri di hati wanita bertubuh berlekuk indah itu, karena tak satupun pria memperlakukannya seperti seorang gadis yang berasal dari desa.
Sedangkan nyonya Soraya hanya, memerhatikan barang-barang mewah itu dengan tatapan minat.
"Kurang ajar!" Sentak Jeffin kasar.
Saat berhasil meraih kotak yang berisi perhiasan mewah dan membaca pesan romantis di secarik kertas tersebut. Yang berisi tentang kekagumannya kepada seorang — Catherine dan yang merasa tersinggung, karena dalam secarik kertas itu tertulis sebuah kata-kata yang membuatnya tersinggung dan tidak terima. Seakan ia tidak sanggup memberikan kemewahan kepada istrinya itu.
"Buang semuanya dan berikan dia yang lebih mewah dari ini. Atau perlu sediakan butik khusus untuknya," bentak Jeffin dengan nada tegas yang tak terbantahkan.
Ia tidak akan semudah itu diremehkan dan dijatuhkan, ia akan memperlihatkan kepada semua orang, kalau ia sanggup memberikan limpahan kemewahan kepada istri kecilnya.
"BUANG! AKU KATAKAN… BUANG!" Pekiknya.
Saat melihat wajah terkejut para bawahannya itu, dan kedua wanita di sana pun begitu terkejut dengan ucapan — Jeffin.
__ADS_1