Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 63


__ADS_3

"Prag" suara benda kaca terdengar nyaring di sebuah ruangan mewah tertutup. Pria yang berada di balik meja kebesarannya terlihat, murka. Atas laporan tentang keberadaan istri keduanya yang belum ada — kabar sedikitpun.


Padahal, sudah memasuki bulan ke tujuh pencarian istrinya itu, yang dalam hitungan Jeffin, istri keduanya dalam masa kehamilan tua atau sebentar lagi akan melahirkan kedua anak kembar mereka.


Tapi keberadaan sang istri belum juga diketahui dan Jeffin berharap, bisa menyaksikan proses kelahiran kedua anak kembarnya itu.


"Sudah tujuh bulan, apa, kalian dengar! Tujuh bulan," sentak Jeffin dengan wajah garang kepada anak buahnya yang berbaris di depan meja — kebesarannya itu.


"Tapi, kalian tidak becus mendapatkan kabar tentang mereka. Kalian semua payah," lanjut Jeffin dengan wajah — jengah.


"Maaf, tuan. Kami benar-benar tidak menemukan jejak, nona sedikitpun. Itu karena…." Anak buah Jeffin menggantung perkataannya dengan kepala menunduk.


"Karena, mommy?! Sahut Jeffin dengan sinis.


"I-iya tuan," jawab sang anak buah terbata.


Jeffin akhirnya tidak bisa melakukan apapun lagi, kalau menyangkut campur tangan sang mommy. Selamat tujuh bulan ini, Jeffin terus mengawasi sang mommy, tapi, wanita yang begitu ia sayangi dan hormati itu, selalu mengetahui pergerakannya dan kini, sang mommy lebih memilih menetap di desa asal, Catherine. Merawat perkebunan anggur miliknya disana.


Dan selama tujuh bulan itu, mommy pun tidak bepergian kemanapun. Jeffin yang berharap sang mommy akan menemui istri keduanya dan dirinya dengan mudah mengikuti jejak sang mommy.


Tapi, Jeffin mengakui kepekaan sang — mommy yang selalu bisa membaca pikirannya.


"Awasi, terus mommy. Dan kabari aku kemana ia bepergian!" Titah Jeffin yang kini terlihat semakin tidak terkontrol, dalam aktivitas dan juga emosinya.


Bahkan hubungan keharmonisan dengan istri pertama pun menjadi buruk. Setelah, Jeffin lebih fokus memikirkan keberadaan istri keduanya daripada sang istri pertama.


Jeffin bahkan mengabaikan sang istri yang membutuhkan perhatiannya dalam menjalani terapi kesembuhan, hingga akhirnya istri pertamanya itu dapat lagi berjalan, Jeffin pun tetap tidak peduli.


Pria itu setiap harinya berubah menjadi dingin. Sikap dan kepribadiannya pun semakin tidak tersentuh.


Dalam pikiran Jeffin hanya ada — istri kedua dan kedua buah hatinya, yang sebentar lagi akan terlahir. Tapi, sampai sekarang belum ditemukan jejak keberadaan istrinya itu. Padahal seluruh anak buah Jeffin adalah orang-orang yang handal dan terlatih.


Jeffin kembali menyibukkan diri dalam pekerjaan, ia tidak akan berpikir dua kali akan menghabiskan waktunya di perusahaan dan bahkan menjadikan gedung tinggi itu rumah kedua.


Ia merasa muak kembali ke Mansion istrinya, yang akan selalu memulai pertikaian dan berakhir keributan yang hebat.


Pria itu bahkan tanpa sadar menampar wajah sang istri pertama, karena kondisi emosional yang tidak baik.


Entah, sejak kapan hubungan Jeffin dan Samantha menjadi renggang. Membuat pria itu semakin muak dengan istri pertama.


……..


"Masuk!" Titah Jeffin saat mendengar pintu ruangannya di ketuk.


Tidak lama seorang pria bertubuh tinggi masuk dengan membungkukkan badannya.

__ADS_1


"Nyonya, berada di sini tuan," lapornya dengan wajah menunduk.


Jeffin tidak mengindahkan perkataan sang sekretaris, ia tetap fokus dengan benda canggih di depannya.


"Katakan, aku sibuk," sahut Jeffin dengan raut nada dan mimik wajah dingin.


"Tapi …."


"Kau, menghindariku lagi, honey?" Sela suara lembut dengan nada tegas, yang memotong pernyataan sekretaris — Jeffin.


Jeffin pun mengalihkan tatapannya dan ia memberikan perintah kepada sang sekretaris agar meninggalkan ruangannya.


Setelah itu, Jeffin kembali fokus pekerjaannya, tanpa memperdulikan istrinya Samantha yang berjalan dengan elegannya mendekat ke arahnya.


"Aku, merindukanmu," bisik Samantha, saat berada di samping suaminya itu. Ia lantas merangkul pundak kekar sang suami dan meninggalkan kecupan di pipi.


"Kembalilah!" Sahut Jeffin dingin. Tanpa menoleh ke arah istrinya, ia bahkan melepaskan rangkulan sang istri.


"Tapi aku merindukanmu, sayang," rengek Samantha, mencoba mengalihkan perhatian pria di dekatnya ini.


"Aku, sibuk!" Sentak Jeffin dengan wajah datar.


Berubah mimik wajah Samantha pun berubah mengeras, ia hanya bisa menatap tajam ke arah suaminya dengan kedua telapak tangan saling menggenggam kuat.


"Samantha!" Hardik Jeffin dengan wajah murka.


"APA!" sahut Samantha tak kalah sengit dari suaminya.


Kedua pasangan suami-istri itu kini saling menatap dengan sengit, Jeffin bahkan berusaha menahan gejolak emosinya saat ini.


"Akh!" Erang Jeffin.


"Keluarlah!" Timpal pria itu setelah mengeluarkan emosinya.


Samantha masih berdiri di hadapan suaminya dengan sikap menantang. Seperti hari-hari sebelumnya, maka akan terjadi pertengkaran di antara keduanya yang berakhir sengit.


"Kapan, kau akan berubah Jeffin," teriak Samantha.


"Kapan, kau akan berhenti memikirkan wanita sialan itu," lanjut wanita dengan penampilan berkelas itu.


"Tutup mulutmu, Samantha!" Pekik Jeffin yang kembali bangkit.


"Apa?! Ujar Samantha dengan gaya mengejek, melipat tangan di depan dada dan menampilkan wajah mencibir.


"Apa, yang kau harap dari wanita desa dan murahan itu," sela Samantha dengan dengusan sinis.

__ADS_1


"Tutup mulutmu, Samantha Brown," gertak Jeffin dengan menggebrak meja mewahnya sendiri.


"Jangan, menghinanya!" Peringatan Jeffin.


"Why? Dia memang pantas dihina, setelah apa yang ia lakukan dengan hubungan rumah tangga kita," lanjut wanita itu tidak mau mengalah sedikitpun.


"Dia, tidak mengetahui tentang itu," bela Jeffin kepada istri keduanya.


"Cih! Omong kosong," desih Samantha.


"Murahan, tetap saja, mu-ra-han," Samantha menghina istri keduanya dengan mengeja di depan wajah Jeffin.


"Plak" satu tamparan keras mendarat di wajah wanita itu dengan keras.


"Kau!" Sentak Samantha dengan wajah benci.


"Jangan, menghinanya. Jangan, menghina ibu dari anak-anakku, karena perilakunya lebih tinggi dari dirimu yang begitu licik," bisik Jeffin dengan wajah mengeras dan nada suara berat.


"Aku, akan menghilangkannya," sahut Samantha tanpa rasa takut.


"Kau, tidak akan bisa menyentuhnya. Karena sebelum kau, menyentuhnya, maka aku akan menghilangkan mu terlebih dahulu," ancam Jeffin tanpa berpikir.


Samantha lebih menatap sengit suaminya itu, dengan pandangan berkaca-kaca, ia tidak menyangka akan berubah suaminya ini.


"Aku, hanya menginginkan hak ku sebagai wanita yang suaminya direbut olehnya. Aku, hanya menginginkan kehancurannya dan kemalangan untuknya," cerca Samantha kembali.


"Itu, tidak akan terjadi," sinis Jeffin dengan senyum cemoohan.


"Aku, pastikan itu akan terjadi," sela Samantha dan berlalu dari ruangan suaminya.


"Mari akhir semua, ini!" Sela Jeffin, menghentikan langkah sang istri.


Samantha berbalik, dan menatap dengan wajah mengkerut ke arah sang suami.


"Mari bercerai!" Ungkap Jeffin tiba-tiba tanpa menatap istrinya itu.


Tubuh semampai Samantha pun tiba-tiba melemah dan wajahnya melongo tidak percaya. "Bercerai?! Batinnya mengulangi ucapan sang suami.


"Aku, sudah muak dengan segala tingkah arogan mu yang semena-mena. Dan … aku, menyesal melakukan itu semua kepadanya, karena kelicikan mu. Yang pada akhirnya aku menghilangkan salah satu calon penerus ku,"imbuh Jeffin dengan nada menyesal.


"Jadi, mari kita selesaikan dengan baik-baik hubungan yang sudah tidak sehat ini."


mampir yuk ke karya teman aku!


__ADS_1


__ADS_2