
Catherine kini sedang membenahi letak selimut istri pertama suaminya, setelah ia menggantikan wanita itu — piyama tidur yang terbuat dari sutra lembut.
Setelah menyakin' kan pekerjaannya sudah selesai, Catherine melangkah ke arah pintu kamar, meninggalkan sosok wanita cantik itu dalam tidur panjangnya.
Namun, saat tangan lembutnya ingin membuka pintu kamar, tiba-tiba benda keras itu terbuka dari luar. Memperlihatkan sosok pria berwajah kelam menatap dirinya tajam.
Penampilan berantakan dengan wajah merah kelam, mata terlihat merah dan berat itu, terus memantau dari dekat istri kecilnya.
"Apa, yang kamu lakukan di sini?" Tanyanya dengan suara berat yang pandangannya tidak berpaling sedikitpun dari istri keduanya.
Catherine mencium aroma anggur memabukkan dari mulut suaminya, ternyata pria rupawan di hadapan dalam keadaan mabuk
"Aku, sedang menjalankan tugas yang kamu berikan," jawab Catherine yang berusaha tetap tenang, meskipun ia begitu gugup mendapatkan tatapan asing dari suaminya.
Jeffin kini berdiri menjulang di depan pintu kamar, mencoba menghalangi istri kecilnya itu keluar dari kamar tersebut.
"Kapan, aku mengatakannya?" Tanyanya lagi yang terus memantau lekat seluruh tubuh istri kecilnya itu, seakan-akan ingin menelanjangi istri keduanya dengan pandangan predator.
"T-tadi pagi," Catherine mulai terlihat gugup, saat Jeffin semakin mendekat kepadanya.
"Oh, iya, aku ingat. Bukankah, kamu ingin melayaniku? Menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri?" Ucap Jeffin halus, yang menyerupai bisikan dengan sedikit mencondongkan tubuh tegak atletisnya ke arah Catherine yang tersudut di daun pintu kokoh.
"Bukankah, kamu mengatakan seperti itu, hm?" Sambung Jeffin yang kini mengurung tubuh mungil istri keduanya dan menyapu wajah Catherine dengan aroma nafasnya.
"Katakan!" Bisik Jeffin kembali dengan geraman tertahan, tepat di samping telinga istrinya.
"I-iya," jawab Catherine terbata dan raut wajah mulai ketakutan.
"Kenapa, kamu gugup? Kemana rasa percaya diri kamu tadi pagi, yang … sangat ingin melayaniku," tuturnya pelan, yang wajahnya sangat dengan dengan wajah Catherine sekarang.
"A-aku, a-akan menyiapkan mu, baju ganti," sela Catherine yang mencoba jauh dari kurungan suaminya.
Jeffin terlihat tersenyum sangat tipis, senyum yang menyerupai seringai licik. Pria itu lalu menarik pinggang ramping Catherine, agar tubuh mereka saling menempel. Jeffin dapat merasakan tubuh Catherine membeku keras dan merasakan permukaan kulit istrinya itu lembab oleh keringat dingin.
"Aku, menginginkan dirimu. Jalankan kewajiban mu sebagai istri di atas ranjang sekarang." Jeffin berbisik di ceruk leher putih Catherine yang rambutnya sudah ia singkirkan ke sisi yang lain.
__ADS_1
Catherine pun kian pias dan membeku, tubuhnya pun nyaris gemetar dengan keringat dingin sudah membasahi sebagian kulitnya.
"A-aku, b-belum siap," cicit gadis itu yang wajahnya sudah memucat.
"Kamu, ketakutan?" Tanya Jeffin dengan suara berat dan serak.
"Well! Dimana keberanianmu nona? Sikap, angkuhmu dan sikap berkuasamu. Aku, dengar, kamu memecat semua pelayan disini?" Cerca Jeffin yang terus membelai punggung feminim istri keduanya.
"Kamu, mengatakan akan melakukan apapun untukku, dan membuatku bahagia, jadi… aku menginginkan hak ku atas tubuhmu sekarang," kembali Jeffin mengucap kalimat menakutkan, buat Catherine yang raut wajah semakin pias.
"Satu, lagu. Bukankah kamu sangat mencintaiku dan menyukaiku," sambung Jeffin dengan mendecih sinis.
"Sekarang' lah, waktunya untuk menjalankan kewajibanmu, kamu yang mengatakan kalau kamu adalah istriku yang berhak atas diriku, jadi mari kita bersenang-senang malam ini, ISTRIKU." Jeffin menekan penuh maksud di akhir kalimatnya dan tanpa basa-basi ia segera, menarik kasar pergelangan tangan Catherine.
"T-tidak, aku belum bisa melakukannya," mohon Catherine yang kini dibawa paksa ke dalam kamar mereka dengan Jeffin menarik kasar pergelangan tangan istrinya.
"Akh!" Pekik Catherine saat tubuhnya terhempas kasar di atas ranjang mewah.
"Aku, tidak menerima penolakan." Timpal Jeffin sembari membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Cih! Apa, yang kamu bangga dengan tubuh murahan mu ini. Bukankah, ini yang kamu inginkan? Menikmati persetubuhan denganku?" Tukas Jeffin dengan hina.
Catherine hanya bisa melindungi dirinya yang duduk memeluk tubuh mungilnya sendiri.
Jeffin yang malam ini kehilangan separuh kendalinya, akibat minum yang diberikan oleh sahabatnya itu. Tubuhnya terasa gerah dan menginginkan sebuah pelampiasan hasrat. Apalagi saat melihat penampilan istri keduanya yang mengenakan piyama tidur yang dalam penglihatannya Catherine terlihat menggoda.
Padahal, gadis itu mengenakan piyama tidur tertutup. Entahlah, mungkin Jeffin sudah termakan oleh hasutan sahabatnya sendiri di tambah minum yang membuatnya panas dingin.
"Tidak! Jangan, lakukan itu aku mohon. Aku, akan melakukannya saat kamu bisa menerimaku," mohon Catherine dengan kembali wajahnya di basahi air mata ketakutan.
Jeffin seakan gelap mata, ia tidak menghiraukan permohonan istri kecilnya itu, pria itu dengan sekali tarikan pada sebelah kaki — Catherine, mampu membuat gadis itu kini berada di bawah kendalinya.
"Mohon, lepaskan aku!" Pinta Catherine dengan mata nanar ketakutan, gadis itu berusaha untuk mendorong tubuh suaminya, agar menjauh. Yang sudah menempel di tubuhnya. Catherine bisa merasakan hangat tubuh polos bagian atas suaminya itu. Sebuah lukisan dada bidang yang begitu menggoda dan seksi. Tapi … bagi Catherine ini sungguh menakutkan, apalagi saat tangan Jeffin mencekal keatas kedua tangannya. Kedua kakinya yang semula mencoba memberontak kini terhimpit oleh kaki besar suaminya itu.
Seluruh tubuh mungil Catherine kini terkunci oleh himpitan dan cekalan suaminya. Catherine hanya bisa menampilkan wajah memohon dengan derasnya air mata yang luruh membasahi kedua pipi, diikuti oleh keringat dingin yang mengalir dari atas kepalanya.
__ADS_1
Jeffin menulikan pekikan dan rontaan istri kecilnya itu, ia terus bergerak untuk melepaskan semua kain yang menutupi tubuh indah istrinya itu dengan paksa dan kasar.
Jeffin mulai kehabisan kesabaran, ia lantas merobek kasar piyama istri kecilnya itu, begitupun dengan kain bawahan Catherine tak luput dari kebrigasan suaminya yang begitu terlihat mengerikan malam ini, seperti seorang predator kelaparan yang siap menyerang mangsa.
Pria dengan tatapan kelam itu, memantau dari jarak dekat sekujur tubuh polos istrinya, ia tidak dapat membohongi perasaannya yang mengagumi keindahan dan keelokan tubuh mungil di bawah kuasanya ini.
Namun lagi-lagi, Jeffin terbakar oleh perasaan egonya yang ingin menghancurkan hidup istrinya itu.
Pria bertubuh tinggi kekar itu, melepaskan tangan yang mencekal kedua pergelangan tangan istrinya. Namun ia masih menduduki kedua paha — istrinya sambil berusaha melepaskan kain penutup terakhir yang ia pakai.
Jeffin tidak terpengaruh oleh pukulan tangan kecil Catherine yang terus menyerang dadanya, yang sedang membuka pengait celana.
Deru nafas pria itu semakin memburu cepat saat kedua kulit mereka saling bersentuhan, wajah Jeffin bahkan semakin kelam, antara menahan hasrat dan juga rasa dendam. Mata merah kelamnya terus menyoroti wajah sembab Catherine.
Jari-jari kini sudah bergerilya di setiap permukaan kulit mulus istrinya, membuat gadis malang itu, semakin tersiksa takut.
"Aku, mohon lepas," pinta Catherine dengan suara parau yang hampir tak terdengar, akibat terlalu banyak berteriak dan menangis.
Tubuhnya pun kian melemah dan tak berdaya, ia hanya bisa menatap wajah rupawan suaminya dengan mata berkaca-kaca dan berderai air mata.
"Aku, tidak akan melepaskanmu setelah merasakan tubuh murahan mu ini," bisik Jeffin di atas wajah istrinya, dengan suara berat yang seakan terhimpit oleh hasrat yang menggebu.
Catherine berusaha mengelak dengan menggelengkan kepalanya lemah dan mendorong dada bidang suaminya.
"Cih! Kenapa, kamu begitu jual mahal, hem? Seakan tubuhmu ini masih utuh," bisiknya lagi dengan hinaan.
Catherine pun semakin dirundung kepedihan, saat mendengar hinaan atas kehormatannya yang diragukan.
"Aku, belum pernah melakukannya. I-ini … pertama bagiku," cicit Catherine yang masih dapat didengar oleh — pria di atasnya.
"Apa, kamu pikir aku percaya," sinisnya sambil menghirup wangi tubuh sang istri.
Tanpa banyak kata lagi, Jeffin melakukan penyatuan dengan kasar dan tanpa pembukaan terlebih dahulu, dan — dengan sekali dorongan kasar tubuh keduanya pun kini menyatu.
"Akhh! Teriak kesakitan Catherine, saat merasakan sesuatu memasuki tubuhnya yang seakan membelah tubuhnya. Bersamaan suara petir dan Guntur bergemuruh hebat. Seakan ikut merasakan kesakitan gadis itu.
__ADS_1
Di kamar lain, wanita yang tertidur panjang itu terlihat menggerakkan jari telunjuknya, seakan merasakan insting kuat seorang istri, saat sang suami melakukan hal buruk.