Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 45


__ADS_3

"Apa, yang diinginkan pria es itu? Kenapa dia begitu bertingkah aneh." Catherine yang sejak tadi memperlihatkan wajah jengahnya.


Bagaimana tidak, ia kini terkurung di ruangan luas dan mewah itu. Pergerakannya seakan di awasi oleh sang pemilik mata kelam di sana. Di kursi tahtanya sebagai seorang pemimpin, sambil melakukan meeting bersama para pemegang saham.


"Mungkin, dia tidak mendapatkan saluran listrik, untuk menghidupkan sikap dinginnya yang seperti kulkas dengan beberapa pintu," sungutnya dengan bibir yang bergerak lucu. Sambil merebahkan setengah badannya di atas sofa.


Ia melirik ke samping, dimana terdapat ruangan meeting khusus di sana. Ia bisa melihat tatapan mata predator itu yang tidak lepas darinya.


Catherine menghela nafas frustasi, dan berpikir keras untuk bisa keluar dari ruangan membosankan ini. "Akh, membosankan," keluhnya dengan wajah cemberut.


Sedangkan di sebelah sana, mata kelam itu terus mengawasi, gerak-gerik sang istri kecilnya. Memantau dengan terus mendengarkan para kliennya, yang tidak satupun boleh menoleh walaupun sedetik.


Jadinya mereka melakukan sebuah rapat dengan sikap kaku dan penuh adrenalin. Bagaimana tidak, kalau tingkah sang pemimpin begitu terlihat mengerikan. Apalagi kalau mereka ketahuan menolehkan wajahnya. Sudah di pastikan mereka akan ditendang oleh sang tuan muda tersebut.


Jeffin menikmati pemandangan menggemaskan di depannya, di mana istrinya terlihat mengkerut kesal dengan bibir tak hentinya bersungut-sungut.


Jeffin hanya terlihat tersenyum misterius, ingin rasanya pria itu membawa istrinya kembali ke pelukannya, mengecupi seluruh wajah menggemaskan itu dan mendekapnya menghirup aroma wangi lembut yang begitu ia sukai.


"Bagaimana, aku bisa keluar?" Batin Catherine dengan berpikir cara untuk bisa lepas dari kurungan sang suami.


Suaminya itu mengunci pintu ruangannya dengan kode khusus, hanya pria itu yang mengetahuinya. Suaminya itu mengunci ruangan saat ia akan keluar dari sana, namun naas, pergerakannya terbaca oleh sang memilik mata tajam. Hingga ia pun terkurung. Seluruh dinding yang terbuat dari kaca tebal ditutupi oleh sang pemilik ruangan, saat melihat sang istri begitu menempel di kaca tersebut.


Membuat Jeffin merasakan kegelian, ia dapat melakukan rapat dengan tenang, saat menyakinkan keamanan istri kecilnya, yang diperlakukan layaknya seorang putri kesayangannya sendiri.


"Ayolah, kamu harus berpikir," batin Catherine sambil menggigit bibir bawahnya.


"Disini sungguh membosankan," keluhnya lesu.


Tatapan mereka beradu dan Catherine memberikan tatapan memohon kepada suaminya, yang dibalas dengan tatapan datar dengan wajah mengeras.


"Dasar, manusia kulkas lupa di colok," cibirnya dengan mendelik ke arah sang suami.


Karena terlalu kesal, Catherine pun memilih berjalan ke arah ruangan privasi sang suami.


Catherine menghempaskan tubuh mungilnya di atas ranjang mewah dengan mulut membulat mengeluarkan nafas frustasinya. Ia juga berteriak mengurangi rasa kekesalannya dan rasa bosannya.


"Tuhan, aku mohon berikan aku petunjuk," doanya dalam hati.


Catherine mengubah posisinya dengan miring, dan sejurus kemudian, mata indah itu berbinar saat melihat sebuah pintu mencolok di sudut kamar.


Wanita mungil itu pun bangkit dan segera berlari kecil ke arah pintu yang ia yakini adalah sebuah lift.


"Terimakasih, Tuhan!" Ucapnya dengan wajah berbinar bahagia.

__ADS_1


Catherine melompat-lompat kegirangan di depan pintu besi tersebut, ia begitu lega bisa mendapatkan jalan keluar dari sikap tidak biasa suaminya itu.


"Ting" suara dentingan pintu lift membuat rasa bahagia Catherine terlihat menggebu, segera saja wanita cantik itu memasuki lift dengan wajah penuh kegembiraan.


……


Sementara Jeffin merasa lega, saat istri kecilnya itu menuruti perintahnya untuk memasuki kamar pribadi. Karena, sang istri mengganggu konsentrasinya yang terlihat begitu menguji tingkat kedewasaan dalam menahan sesuatu.


Tanpa ia ketahui, istrinya sekarang sudah berada di lantai dasar dengan wajah gembira.


"Bugh!"


"Akhh! Hey, apa yang kau lakukan dengan baju mahal, hah!" Pekik seorang wanita bertubuh profesional sambil mengibas setelan rapi nya.


"Maaf!" Ucap Catherine dengan wajah penuh sesal.


Karena terlalu senang, Catherine bertingkah ceroboh dan membuat dirinya menabrak seorang wanita.


"Apa katamu, ma …." Wanita itu pun menghentikan ucapnya, saat melihat wajah Catherine, karena ia sejak tadi membersihkan setelannya.


"KAU! Pekik nyaring wanita dengan lekukan tubuh ideal itu.


Catherine pun terkejut melihat keberadaan Clara di hadapannya, wajah yang tadinya merasa bersalah, kini berubah dingin.


Pekikan Clara mengundang beberapa perhatian para karyawan, mereka kini memandang ke arah — kedua wanita itu.


Ia kini memandang penampilan Catherine dari atas hingga bawah, dan terlihat senyum sinis di bibirnya.


"Cih! Dasar wanita desa menjijikkan," lanjut Clara dengan suara lantang.


Ia berpikir untuk memberikan pelajaran kepada — Catherine dengan mempermalukannya di depan seluruh karyawan. Kapan lagi ia bisa memiliki kesempatan ini.


Catherine masih terdiam dengan terus memandangi wajah licik Clara dan melirik sekitar yang sudah menjadi pusat perhatian karyawan.


Mereka tidak mengenalnya, itu karena wajahnya disembunyikan oleh suami kulkasnya di dada kerasnya.


"Maaf! Sekali lagi, permisi," sela Catherine dingin.


Ia akan melangkah, namun tiba-tiba, Clara menarik rambutnya dari arah samping, membuat kepala Catherine tertarik ke arah samping Clara.


"Dasar, wanita murahan. Wanita perebut suami seorang wanita lain. Apa, stok pria di muka bumi ini sudah habis, sehingga kau dengan tega merebut suami adikku yang sedang dalam keadaan — koma, hah." Clara pun mulai melakukan sandiwaranya dengan menarik rambut — Catherine.


Para karyawan pun begitu syok mendengar perkataan — Clara. Mereka pun ikut menggunjing istri kedua dari tuan muda mereka.

__ADS_1


"Dasar, wanita jahat. Tega sekali dia merebut tuan muda dari nyonya, Samantha." Komentar salah satu karyawan dengan wajah sinis.


"Kamu, benar. Dia wanita murahan. Lihatlah, sepertinya dia masih muda. Tapi sudah melakukan tindakan memalukan, dasar wanita jahat," sela karyawan lainnya.


"Wajahnya terlihat lugu, tapi hatinya begitu licik," celetuk satunya lagi.


"Lebih baik kau menjadi kekasihku saja, nona," komentar karyawan pria dengan tatapan mesum dan senyum kurang ajar.


Catherine hanya bisa diam dengan wajah menahan rasa sakit pada akar rambutnya yang masih di jambak oleh — Clara.


Ia juga menandai wajah-wajah yang sudah berani lancang kepada dan berbicara kasar.


"Asal, kalian tahu. Dia hanya wanita desa miskin, sebatang kara. Rela menjadi simpanan seorang pria beristri hanya demi kemewahan," dusta Clara dengan suara lantang dengan wajah dramatisnya yang mampu memperdaya siapapun yang mendengar ucapan wanita itu.


"Dimana akal dan moralitasmu sebagai sesama wanita, yang tega merebut seorang pria beristri." Lanjut Clara dengan wajah penuh kepura-puraan.


Catherine menatap wajah penuh kepalsuan itu, yang kini menampilkan wajah liciknya.


"Bukankah, dia begitu beruntung atas kelicikannya," timpal Clara dengan pura mengusap air matanya.


"Kasihan, sekali adikku," pungkas wanita berusia 33 tahun itu.


Kembali para karyawan menggunjing Catherine, bahkan ada yang berkata kasar kepadanya dan menatapnya hina.


Namun Catherine hanya terdiam dengan wajah sulit diartikan, ia kini menatap wajah — Clara yang terlihat menyeringai.


"Lihatlah, betapa hinanya dirimu diperlakukan seperti sampah," bisik Clara di dekat telinga — Catherine. Ia juga semakin menggenggam kuat rambut Catherine dan mencoba menariknya kembali.


Namun Catherine dapat membela dirinya dengan menginjak kaki — Clara. Membuat wanita cantik itu menjerit kesakitan. "Akh! Apa yang kau lakukan, hah. Aku hanya membela adikku, mempertahankan statusnya," pekik Clara dengan wajah di buat sedih.


"Kau, beruntung bisa mendapatkan semuanya, sedangkan adik terlupakan," lanjutnya yang kini dengan isakan pura-pura.


Catherine merapikan rambutnya dan tidak peduli dengan ucapan Clara. Kini ia menatap satu persatu karyawan yang melihatnya rendah.


"Aku, memang beruntung bisa menjadi istri kedua seorang Jeffin William Abraham, dan tidak sepertimu yang selalu gagal mendapatkannya, apa begini caramu menunjukkan rasa kecewa kamu, karena selalu gagal mendapatkan suami adik kamu sendiri?" Imbuh Catherine yang kini berjalan dengan santai di tengah-tengah karyawan.


"Ingatlah, aku istri seorang pemimpin disini. Walaupun aku hanya istri kedua kalian tidak seharusnya melakukan ini kepadaku," jelasnya dengan tatapan mengintimidasi.


Para karyawan pun terkejut dengan penuturan wanita mungil di depan mereka. Namun semuanya pun kembali melayangkan tatapan tidak suka.


"Tapi, anda tetap seorang wanita hina. Merebut pria beristri," komentar salah satu wanita yang merupakan teman — Clara.


Semua karyawan pun mengiyakan dengan saling berbisik-bisik, dan berdecak di depan sang nyonya muda Abraham.

__ADS_1


"Oke, kalian semua dipecat. Aku tidak ingin perusahaan ini memiliki karyawan yang memiliki attitude buruk seperti kalian,"


Semuanya pun kembali menganga mendengar ucapan wanita di depan mereka, sambil bertanya-tanya siapa gerangan wanita ini sehingga begitu percaya diri memberikan perintah pemecatan. Apa keistimewaannya wanita ini untuk tuan muda Abraham.


__ADS_2