
Pemandangan punggung lebar dan kekar, tampak jelas terlihat dari arah belakang. Kini sosok pria yang memiliki tatapan mata tajam itu, sedang menanti istri kecilnya sejak tadi.
Pria dengan tinggi ideal itu, berdiri di jendela kamar perawatan sang istri pertama, sambil terus memantau kepulangan istri kecilnya.
Dengan gaya bak seorang model profesional ternama, kedua tangan berada di kedua saku celana depan.
Wajahnya masih terlihat dingin dan datar, tidak ada senyum terlihat di wajahnya, yang ada hanya tarikan nafas berat dan kesal.
Jeffin bahkan melupakan akan sosok istri pertamanya yang selalu ia banggakan di depan sang istri pertama.
Fakta atau tidak, seseorang akan melupakan cinta sejatinya apabila sudah dikuasai oleh nafsu dan fantasi semata. Begitulah yang sekarang yang dialami oleh seorang Jeffin yang selalu menjaga kesetiaannya kepada istri pertama, selalu, menjaga hati dan tubuhnya dari segala godaan kaum wanita di luaran sana dan dia pun berhasil melalui ujian itu dengan baik.
Namun kali ini tidak. Jeffin bahkan tidak mampu menguasai dirinya sendiri, setelah merasakan sesuatu yang selama ini ia impikan. Memiliki seorang istri yang masih suci dan ia pun sangat menginginkannya dahulu kala.
Dan sekarang ia sudah mendapatkannya, yang membuatnya menjadi kecanduan dan konsentrasi terganggu oleh semua itu.
Sosok yang berwibawa penuh tanggung jawab juga berkarisma itu, seakan lenyap seketika, hanya disebabkan oleh, nikmat dunia semata. Beruntung ia melakukannya dengan istrinya sendiri. Dan … Jeffin sudah mengklaim, Catherine adalah hak miliknya di atas ranjang dan tidak satupun yang boleh menyentuhnya.
Jeffin sendiri adalah sosok pria dingin yang memiliki jiwa posesif yang sangat — meresahkan. Itu sebabnya Jeffin dan Samantha selalu berselisih pendapat dan sangat bertolak belakang akan pembawaan mereka.
Samantha yang adalah seorang wanita sosialita modern, berjiwa bebas, yang senang bergaul dengan orang baru. Apalagi Samantha adalah seorang wanita karir sukses.
………….
Tatapan mata tajam bak predator pria itu kini, menatap tajam ke arah mobil mewah yang bergerak menuju halaman utama, Mansion Abraham.
Tatapan itu kini semakin lekat, kepada sosok gadis imut yang baru saja turun dari mobil dan memamerkan senyum ramahnya, yang membuat wajah gadis itu semakin menawan dengan, lesung pipi di sebelah kiri wajahnya.
Tiba-tiba saja wajah pria dewasa itu, mengeras dengan pandangan begitu mengerikan, ia bisa melihat dengan jelas, sang sopir terus memandangi istri kecilnya itu — dengan tatapan kagum.
Jeffin kini menelisik penampilan istri mungilnya itu dari bawah ke atas, yang tiba-tiba mampu membangkitkan gairahnya kembali.
Perasaan pria itu campur aduk, antara kesal dan bergairah. Kesal dan tidak terima, saat melihat style sang istri yang terlihat seperti remaja SMA. Istrinya itu cocok menjadi anak gadis di keluarga Abraham. Dan, Jeffin tidak terima itu, pasti banyak lelaki yang memuja istri kecilnya.
Memikirkan hal itu saja, sudah membuat Jeffin membara dan segera keluar dari kamar perawatan istri pertama dan menuju kamar yang ditempati istri kecilnya.
__ADS_1
……
Pintu kamar berwarna hitam pekat itu terbuka dari luar. Dan, Catherine muncul setelahnya dengan diikuti beberapa pelayan yang membawa barang belanjaan.
"Gelap," gumam Catherine saat pertama kali membuka pintu kamar.
"Letakkan, di sana saja," perintahnya kepada ketiga pelayan yang membawa barang belanjaan.
Catherine hanya menyalakan lampu kamar khusus yang berada di sisi ranjang. Ia terlalu malas untuk melangkah ke sisi lain untuk menyalakan lampu lainnya. Tanpa ia ketahui, seseorang telah memantaunya dengan tatapan predator buasnya.
"Apa, perlu kami menyusun kedalam lemari anda, nyonya?" Tanya salah satu pelayan.
"Hum … tidak perlu, kalian bisa keluar," tolak Catherine dan menyuruh para pelayan itu untuk keluar dengan ramah.
"Apa, perlu kami menyalakan lampu di bagian sana, nyonya?" Sela salah satu pelayan tadi.
"Tidak! Biar saya saja," balas Catherine.
Ketiga pelayan itu pun membungkukkan badan dan berlalu keluar dari kamar mewah dan luas itu.
Tubuh indah dengan kulit putih bersih menggoda itu terlihat sangat jelas di depan kedua mata tajam sang pria buas di sofa.
Ia terus menilai seluruh sisi tubuh istri kecilnya, yang begitu sempurna. Meskipun tubuhnya terbilang mungil, namun… terlihat seksi di bagian tertentu dan Jeffin sangat menyukai bagian itu.
Catherine terlihat sedang mencari sesuatu, hingga ia begitu sibuk membuka semua laci nakas dan meja rias.
"OH iya, aku meletakkannya di meja," gumam Catherine sambil mendekati sofa di sisi lain kamar.
Ia belum mengetahui suaminya sedang menantinya di sana dengan tatapan lapar dan senyum misteriusnya.
"Akh!" Catherine terpekik nyaring, saat merasakan tarikan di pergelangan tangannya.
"K-kau?! Seru Catherine terkejut, saat sudah berada di pangkuan suaminya dengan tatapan mata terkejut.
"Hum! Ini, aku," jawab Jeffin berbisik, sambil menghirup wangi lembut istrinya itu.
__ADS_1
"Sejak, kapan kamu berada di sini?" Tanya Catherine tergugup menahan geli akibat gelitikan rambu-rambu halus yang berada di wajah suaminya.
Tengkuk Catherine tiba-tiba meremang ngilu, saat merasakan kecupan basah suaminya di atas permukaan kulit lehernya.
"Pakaian apa yang kamu kenakan?" Bisik pria itu yang masih asyik menciumi leher dan bahu terbuka, istrinya.
"Dari mommy," jawab Catherine yang menahan nafas, ketika Jeffin menggigit gemes pundaknya.
"Aku, tidak mau tahu, jauhi pakaian seperti ini, aku sungguh membencinya," pungkas Jeffin dengan setengah geram dan lagi-lagi menggigit kulit leher istrinya.
"Apa, kamu mengerti?" Sambung pria itu, saat tidak mendapatkan jawaban.
"I-iya," sahut Catherine yang hanya bisa memejamkan mata dengan perasaan yang begitu resah.
Jari-jari Jeffin kini membelai punggung belakang istrinya, naik ke atas pundak dan menurunkan tali kain yang menutupi dua aset kesayangannya.
Bibirnya pun kini sibuk mengecup, menghisap dan menggigit leher istrinya itu.
Kini kedua tangan kekar pria berwajah dingin dan datar itu sudah berada di kedua aset kembar berharga — Catherine.
Membelainya, meremat dan menggelitiknya dengan jari-jari tertentu, yang semakin membuat Chaterine tidak bisa berkata-kata, ia hanya bisa memperlihatkan wajah mengerut gelisah dan was-was.
"Tenanglah, aku akan melakukannya dengan lembut," bisik pria itu dengan intonasi suara berat dan serak seksi.
Kini bibir pria itu, sudah menyusuri lebih ke bawah pundak istrinya yang akan menuju kedua bukit kembar istrinya.
Jeffin melakukannya begitu lembut dan penuh perasaan, tangan kekar tidak hentinya menggoda sang aset berharga. Membuat sang pemiliknya membisu dengan merasakan sejuta kupu-kupu menggelitik di dalam perutnya.
Kini bibir yang sangat jarang menampilkan senyum, sudah berada di atas puncak salah satu aset tinggi sang istri.
Jeffin melakukannya seperti ingin mencicipi sebuah makanan yang menggugah selera dan ia pun begitu terbuai saat merasakannya dan itu membuatnya semakin hilang akal.
__ADS_1