
Catherine melirik suaminya yang juga menatapnya dengan mata elangnya yang tajam.
Catherine meneguk air ludahnya kasar dan raut wajah berubah tegang. Ia pun segera membuang pandangannya. Namun, ia masih bergidik ngeri dengan atmosfir yang berasal dari pria dingin di depannya.
"Maaf, tuan Abraham. Bolehkah, aku mengajak istri imut anda berdansa?" Sela pria tampan itu.
Pria itu terus memandangi Catherine dengan mata kagum. Jujur, ia begitu terpesona dengan istri Jeffin William Abraham itu. Ia tidak bisa menolak rasa pesonanya.
Tatapan kagum pria itu juga tidak luput dari pantauan si pria dingin nan arogan di depannya.
"OH, tidak apa-apa anak muda. Kau, bisa mengajak menantuku berdansa. Dan … suaminya tidak akan keberatan," sahut mommy Margaretha.
Sang mommy ingin memberikan pelajaran kepada putranya itu, yang memiliki tingkat keegoisan yang menyebalkan.
Jeffin masih tetap diam, namun tatapannya terus memantau dengan ekspresi wajah dingin.
"Terima Kasih, nyonya. Jujur, aku sangat terpesona dengan menantu anda. Aku, bersedia menerimanya, apabila tuan Abraham mengembalikan ke tempat keluarganya," Seloroh pria itu dengan candaan.
Namun candaannya itu, mampu membuat Jeffin semakin meradang, giginya pun tanpa sadar bergesekan dan dapat di dengar.
Catherine semakin tegang dan gugup, entah mengapa ia merasa dalam ancaman si pria buas di depannya.
"Anda, bisa saja. Aku, tidak akan mau menyerahkan menantu kesayangan ku ini," timpal mommy dengan tersenyum paksa.
Raut wajahnya pun ikut menegang, saat mendengar penuturan spontan pria tampan di sampingnya.
"Maka, aku akan menjadi anakmu," sahut pria itu dengan tawa lepas.
Jeffin pun semakin jengah dan muak berada di sana, ingin rasanya pria dewasa itu, menarik istrinya keluar dari kerumunan pesta membosankan dan memuakkan baginya.
Catherine sendiri hanya bisa menundukkan wajahnya piasnya, dan menyeka keringat yang mengalir dari kedua sisi pelipisnya.
"Maukah, anda berdansa lagi dengan ku, nona manis?" Ajak si pria tersebut.
Catherine pun kembali tersentak mendengar ajakan lancang pria itu, ia pun melirik suaminya yang membuang pandangan namun dapat, Catherine lihat wajah suram suaminya.
Catherine hanya bisa tersenyum kikuk — kebingungan. Menerima ajakan pria ini, maka nasibnya akan dalam bahaya, sudah di pastikan ia akan menjadi bahan amukan, suami buasnya. Menolak pun ia merasa tidak enak, karena pria begitu baik kepadanya.
"Pergilah, nak," timpal sang mommy.
Gadis mungil itu pun terkejut mendengar persetujuan mommy Margaretha, Catherine hanya bisa memejamkan mata dengan wajah frustasi. Ia kembali melirik sang suami yang masih dengan posisinya.
"Tetapi… mom," gugup Catherine sambil melirik suami buasnya.
"Tidak, apa. Pergilah," timpal mommy.
Pria itu pun menampilkan senyum senangnya, saat Catherine dengan pasrah menerima ajakannya.
Ia pun lantas membungkukkan, setengah badannya dan mengarahkan sebelah tangan untuk meminta, Catherine menerima uluran tangannya.
Dengan gerakan tangan ragu, Catherine — menerima uluran tangan pria tampan itu dengan ekor mata melirik suaminya.
__ADS_1
Jeffin semakin membara dan tersulut emosi, ketika ekor mata kelamnya pemandangan, dimana istri kecilnya di sentuh oleh pria lain.
Dengan raut wajah mengerikan dan mata yang sudah berubah merah, Jeffin mengiringi sang istri kecil memasuki lantai dansa dengan wajah suram.
"Cih! Dasar, munafik," cibir sang mommy.
Mommy Margaretha begitu geram melihat tingkah, kekanakan putranya. Yang begitu keras kepala dan egonya terlalu meresahkan.
Mommy Margaretha pun meninggalkan putranya sendiri di sana dan bergabung kembali dengan para sahabatnya.
Jeffin menajamkan tatapannya ke arah tangan pria itu, yang berada di pinggang ramping sang istri dan juga di sebelah tangannya. Jeffin semakin terbakar rasa emosinya. Saat posisi Catherine dan pria itu terlihat seperti sedang berpelukan dari arah belakang. Saat tiba-tiba Catherine menginjak kaki pria yang mengajaknya berdansa dan hampir kehilangan keseimbangan.
Jeffin pun mulai tidak dapat terkendalikan, dengan wajah penuh kesuraman mengerikan, ia membalikkan badan dan meninggal tempat itu.
"Bawa dia, kepadaku!" Perintah Jeffin.
Saat melihat asistennya, dan memberikan perintah agar membawa istri kecilnya itu keluar dari kemeriahan pesta.
Sambil membungkuk setengah badannya, asisten pribadi Jeffin pun dengan patuh melaksanakan perintahnya.
Sedangkan Jeffin terus melangkah keluar dari ballroom dan menuju lift yang langsung membawanya ke parkiran khusus.
Asisten pribadi Jeffin kini memberikan kode lirikan mata, kepada salah satu pelayan di sana.
Ia memberikan perintah untuk mendekati, Catherine dan sengaja menumpahkan minuman di gaun gadis itu.
Setelah melihat kegaduhan di sana dan melihat Catherine berjalan ke arah toilet. Segera saja, pria itu mengikuti Catherine di belakang.
Pria itu memberikan penghormatan kepada — Catherine dengan tubuh setengah membungkuk.
"Anda?" Sentak Catherine heran.
"Ikut dengan saya nyonya. Tuan sedang menunggu, anda," pungkas pria tersebut.
"T-tuan?! Gugupnya. "Dia, mencari ku?" Tanya Catherine.
Catherine begitu terkejut saat di datangi oleh — asisten pribadi suaminya. Ia semakin terkejut, saat mendengar ajakan… asisten suaminya.
"Silahkan, nyonya," timpal pria itu.
Wajah Catherine tampak ragu dan was-was, namun wajah was-was lah, yang lebih nampak jelas di wajahnya.
"Silahkan, nyonya," sela pria di hadapan — Catherine.
"Tapi … saya datang kesini dengan, mommy," pungkas Catherine.
Ia mencoba menolak ajakan sopan pria di depannya, dengan menyebut nama sang — mommy.
"Tuan, akan marah dan mengamuk, nyonya," timpal asisten Jeffin.
Wajah Catherine semakin tegang dengan telapak tangannya mulai lembab dan wajahnya pun semakin tegang dan ketakutan.
__ADS_1
"Bagaimana dengan, mommy," sambung Catherine.
"Dia, akan pulang bersama sopir pribadinya," jelas asisten tersebut.
"Silahkan, nyonya. Ikuti saya!" Serunya dengan dingin.
Catherine pun dengan wajah terpaksa dan tubuh menegang, segera mengikuti langkah — asisten pribadi suaminya.
Catherine hanya bisa berdoa, semoga pria itu tidak menyiksanya dan memperlakukan dirinya semena-mena.
………
Catherine kini sudah berdiri di samping mobil mewah milik suaminya, dengan wajah penuh harap dan berdoa, semoga suaminya itu, tidak menghukum dirinya.
Gadis itu, memandangi pintu mobil yang sudah terbuka, ia bisa mencium wangi parfum suaminya yang begitu — menggairahkan.
"Masuklah!" Seru suara berat di dalam mobil.
Catherine pun mengintip, dan ia bisa melihat suami dinginnya, itu sudah duduk dengan elegannya.
"Apa, kau ingin aku menarikmu, terlebih dahulu?" Gertak Jeffin pelan.
Catherine pun segera memasuki mobil dengan wajah takut-takut, saat merasakan aura menakutkan.
Tanpa aba-aba, Jeffin menarik kasar lengan ramping istrinya dan dengan mudahnya, Jeffin memindahkan tubuh mungil gadis itu ke pangkuannya.
Mengurung tubuh istri mungilnya itu dengan kedua tangan kekarnya yang lengan kemejanya sudah disingkirkan keatas.
Catherine hanya bisa terpekik kaget, saat merasakan tubuhnya melayang, dan dapat merasakan, kedua tangan suaminya itu, memeluk pinggangnya dengan eratnya
"Jalan!" Perintah Jeffin.
Mobil tuan muda Abraham itu pun melaju, meninggalkan area hotel mewah tersebut.
Jeffin memasang dinding penghalang di tengah mobilnya dengan menekan sebuah tombol di sampingnya, sehingga sang sopir tidak dapat melihat kegiatan tuan muda itu.
"Aku, akan menghukummu, gadis nakal. Karena berani bermain-main denganku," bisik Jeffin.
si mungil kesayangan tuan dingin.
tuan dingin sang buas.
samantha
__ADS_1
Clara wanita penuh ambisius mendapatkan Jeffin.