Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 47


__ADS_3

"Plak"


Sebuah tamparan keras melayang di wajah seorang wanita cantik dengan lekukan tubuh ideal. Wanita itu begitu terkejut dengan apa yang dilakukan Jeffin kepadanya, baru kali ini Clara melihat wajah marah Jeffin hanya karena seorang wanita desa.


Clara hanya bisa syok mendapat tamparan dari Jeffin, sambil memegang sebelah pipinya yang kini terlihat merah. “Apa, kau lakukan?” tanya dengan pandang kecewa.


“Aku hanya melakukan apa yang harus aku, lakukan. Aku, tidak akan menerima seseorang menyakiti istri, kecilku,” balas Jeffin dengan tatapan mematikan.


“Jadi, kau melakukan ini hanya karena wanita asing yang baru kamu kenal? Daripada, aku yang sudah mengenalmu dan aku juga adalah kakak ipar kamu, jadi jangan hanya karena wanita desa itu, kau melupakan adikku.” Pungkas Clara dengan memasang wajah dramatisnya lagi.


Jeffin hanya memasang wajah datarnya, tatapannya pun masih tertuju kepada Clara, baginya tidak ada yang boleh menyentuh istri kecilnya, apalagi sampai menyakitinya.


“Aku, tidak peduli kau siapa, bagiku, kau sudah berani menyentuhnya. Jadi mulai hari ini kau tidak perlu datang ke perusahaan ini lagi. Bersyukurlah, aku tidak mematahkan tanganmu yang sudah berani menyentuhnya,” terang Jeffin dengan aura mencekam.


Terang saja ucapan Jeffin membuat Clara syok dan tidak percaya, akan kelebihan yang dimiliki seorang Catherin. Sehingga mampu memaling wajah Jeffin selain kepada istri pertamanya.


“Really? Kau, melakukan ini hanya karena anita sialan itu,” sentak Clara tidak terima dengan perkataan Jeffin.


“Ingat, adikku masih hidup. Dan kau sudah menerima wanita, murahan itu.”


“Jaga ucapanmu!” gertak Jeffin yang tidak terima sang istri di hina.

__ADS_1


Clara semakin terkejut dan menjadi gemetar takut saat melihat wajah mencekam — Jeffin. ia kini beringsut mundur saat Jeffin berjalan ke arahnya dengan pandangan yang begitu mengerikan.


"A-apa yang ingin kau lakukan, kepadaku?" Tanya Clara dengan wajah piasnya.


Tanpa, banyak berkata-kata, Jeffin meraih rambut pirang itu dan menariknya kasar, Jeffin bahkan memukulkan kepala Clara di tembok.


"Jangan, pernah berani menghina wanitaku, apa kau paham!" Bisiknya dengan nada suara yang mampu membuat Clara bergidik.


"Sakit, Jeffin. Ingat, adikku Samantha," pekik Clara mencoba menguasai amarah — Jeffin.


"Apa, kau melupakan istrimu yang selalu mencintaimu? Apa, kau lupa dengan Samantha, hah! Samantha, istri mu," bentak Clara yang memegang keningnya.


Jeffin membeku dengan wajah terlihat linglung, ia merasa dejavu dengan kenangan istri pertamanya. "Sayang!" Gumamnya lirih.


Jeffin kini membungkukkan badannya dengan kedua tangan menumpuk di pinggiran meja, dengan pikiran kepada sosok istrinya yang sedang terbaring di atas ranjang.


Ia seakan melupakan keberadaan istri kecilnya dan tanpa membuang waktu, Jeffin bergegas keluar untuk menemui istri pertamanya yang sejak kemarin belum ia temui. Terbiasa menemui sang istri sebelum berangkat atau pulang dari bekerja, Jeffin akan menyempatkan dirinya untuk memeluk tubuh ringkih istrinya itu.


Jeffin pun kembali ke Mansion tanpa memperdulikan istri kecilnya yang kini berada di puncak gedung perusahaan Abraham group.


"Wow, pemandangan disini begitu indah," sorak Catherine dengan wajah bahagia.

__ADS_1


"AKH! AKU MUAK DENGAN SEMUA INI! Teriak Catherine di atas rooftop perusahaan suaminya.


"Melelahkan menghadapi para manusia, munafik," keluhnya dengan bibir mengerucut.


Catherine kini duduk di pagar tembok pembatas dengan tinggi sebatas pinggang orang dewasa itu, ia dengan berani menaiki pagar pembatas itu. Dan duduk setelahnya dengan kedua kaki kini melayang di udara di atas ketinggian yang membuat seseorang akan menciut melihat.


Catherine bahkan tanpa rasa takut melihat kebawah dengan wajah sulit diartikan. Dan menarik nafas dan setelah itu kembali berteriak sekencang-kencangnya. Mengeluarkan segala sesak di dada dan perasaan gundah yang disembunyikan. Perasaan terluka teramat dalam yang ditampung di dalam dada yang sampai detik ini masih begitu perih dan menyesakkan.


Tanpa terasa, air mata Catherine luruh membasihi pipi hingga dagunya, ia memejamkan mata, membiarkan hembusan angin di pagi itu menyapa wajahnya yang terlihat baik-baik saja dari luar, namun terlihat penuh luka di dalam.


Karena tidak tahan dengan gejolak perih dan menyesakkan di rongga dadanya, dan tenggorokannya kini begitu sakit menahan sebuah tangisan histeris yang akan keluar, namun ia berusaha menahannya. Ia harus lebih tangguh menghadapi hidupnya yang hanya didominasi oleh rasa sakit dan luka.


Kedua kaki yang sebelumnya tergantung di udara, kini ia peluk dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di balik kedua kakinya itu.


Tubuh mungil itu terlihat bergetar dengan suara isakan lirih yang begitu menyentuh hati siapapun yang mendengarnya.


Seperti yang dirasakan sosok pria yang sejak tadi mengawasi — Catherine dalam diam.


Hatinya ikut teriris sakit, ketika mendengar isakan penuh luka itu, ingin rasanya ia mendekati, gadis dan memeluknya erat, memberikan kehangatan dan perasaan aman.


Namun sayang, ia hanya bisa menatap Catherine dari jarak dekat, setelah mengetahui status gadis kecilnya itu sudah, menjadi milik pria lain dan pria itu adalah — sahabatnya sendiri.

__ADS_1



__ADS_2