
Suara keras, hempasan benda terdengar nyaring di salah satu ruang tamu mewah. Jeffin, begitu murka saat mendapati sang istri akan meninggalkan Mansion dengan koper besar di tangan.
Jeffin pun tidak terima, istri kecilnya pergi meninggalkan Mansion, ia lalu merebut paksa koper di tangan sang istri, yang berjalan terus tanpa mengindahkan keberadaan dirinya.
Dengan wajah murka, Jeffin melemparkan koper milik sang istri, membuat para penghuni Mansion Abraham terkejut.
"Apa, masalah anda tuan!" Pekik Catherine di iringi tatapan tajam.
Wajah sangar dengan mata melotot mengerikan, Jeffin menarik tangan sang istri dan membawanya keluar dari — Mansion mewah Abraham.
"Apa, yang anda lakukan. Lepaskan tanganku!" Pungkas Catherine yang mencoba melepaskan genggaman sang suami.
Jeffin seakan gelap mata, ia tidak akan membiarkan istri kecilnya pergi begitu saja, setelah apa yang ia lakukan kepada dirinya dan membuat kekacauan.
"Lepaskan! Biarkan, aku pergi, please!" Mohon Catherine dengan tatapan nanar kesedihan.
"Please! Izinkan aku pergi dari sini, agar anda bisa berbahagia dengan istri pertama," pungkas Catherine yang kini berlutut di kaki sang suami.
Jeffin membuang pandangannya ke arah samping, dengan deru nafas begitu kencangnya, hingga dada bidang itu terlihat naik turun. Dengan sekali tarikan, Jeffin membawa sang istri memasuki mobil mewah, ia bahkan dengan kasar, menghempaskan tubuh mungil itu.
Catherine hanya bisa meringis ngilu di bagian sikunya yang terbentur, ia juga mencoba untuk turun dan berniat untuk pergi jauh dari sisi suaminya.
"DIAM, DIAM!" Sentak Jeffin kasar, dengan tatapan kelam itu yang begitu mengerikan.
"Tidak! Aku, ingin pergi dari sini," sela Catherine yang berusaha melawan.
Wanita bertubuh mungil itu, bahkan menaiki tubuh suaminya tanpa sadar untuk bisa keluar dari mobil tersebut.
"HENTIKAN!" Bentak Jeffin kasar. Sukses menghentikan pergerakan istri kecilnya, dan kini hanya bisa menangis lirih.
Jeffin menghela nafas panjang, dengan memejamkan matanya sejenak, untuk menetralisir amarah yang kini menggebu-gebu.
"Jalan!" Perintahnya kepada sang sopir. Setelah itu menurunkan pembatas mobil, agar ia bisa memiliki privasi dengan istri kecilnya.
"Biarkan, aku pergi," pinta wanita yang sekarang berada di pangkuannya dengan nada bergetar lirih.
Jeffin masih mencoba menguasai amarahnya saat ini, dengan menyandarkan kepalanya ke belakang, mata yang terpejam mengkerut kuat.
Sedangkan Catherine hanya bisa menangis, sekarang dirinya berada di pangkuan suaminya itu, yang mana kedua tangan sang pria menahan kedua pinggang rampingnya.
"Tidak, semudah itu kau pergi, little bear. Setelah apa yang kau lakukan kepadaku dan membuat kekacauan dengan menjadi istri kedua. Jadi, … jangan pernah bermimpi akan pergi dari sisiku," jelasnya dengan wajah mereka kini tampak jarak. Kening keduanya pun saling menempel dan Jeffin mengecup sekilas bibir ranum istrinya.
"Anda, egois," timpal Catherine dengan raut wajah menantang.
Jeffin hanya menampilkan senyum licik dengan jari-jarinya yang mengusap pipi kemerahan istri kecilnya itu.
__ADS_1
"Kita, harus memiliki sifat itu, kalau ingin mempertahankan sesuatu," selanya yang kini menciumi wajah cantik istri kecilnya itu dengan lembut.
Catherine memalingkan wajahnya, hingga menghentikan cumbuan suaminya di wajah. Tapi ia salah, karena saat ini, pria itu menciumi titik sensitifnya, membuat ia berusaha melawan sesuatu.
"Hentikan!" Pinta Catherine dengan halus.
Jeffin menjauhkan wajah dan menatap wajah kemerahan istrinya, tatapan yang tadinya kelam, kini berubah bersahaja, penuh kelembutan.
Catherine tidak ingin terbawa suasana, ia pun bersikeras mempertahankan kewarasannya, meskipun pria buas itu, kini, jari-jari kekar, lembut itu sibuk menggelitik setia inci permukaan kulitnya.
Jeffin, mendorong halus punggung mungil itu hingga tubuh mereka kini saling mendekat tanpa jarak, sang gadis pun berusaha untuk mengelak, namun, pertahanan tangan kekar di punggungnya tidak mampu — Catherine lawan.
Tatapan mata mereka kini saling mengunci penuh dalam, tatapan yang tadinya saling menantang, kini mendayu terbawa suasana yang terkesan romantis.
"Jangan, pernah bermimpi aku akan melepaskanmu begitu saja. Karena kau sudah membuatku tergila-gila oleh tubuhmu, ini," bisik sang pria buas tepat di cuping telinga sang istri, dan meninggalkan gigitan halus di sana, membuat, tubuh mungil di atas pangkuan, tersengat oleh aliran hasrat yang diberikan oleh sang — suami buasnya itu.
"Kau, harus bertanggung jawab, nona," gumamnya parau di atas tulang leher sang istri, lagi-lagi pria itu menyerang area paling sensitif seorang wanita.
"A-aku, tidak mau," tolak Catherine, cepat.
Yang berusaha menjauhkan tubuhnya dari dekapan erat sang pria buas. Jeffin menghentikan, cumbuannya di area selangka sang istri dan beralih menatap wajah yang sudah berubah merah itu.
Jeffin hanya menampilkan senyum sinisnya dan membawa sebelah telapak tangannya ke belakang tengkuk sang istri dan mendorongnya lembut, hingga ia kini meraup bibir ranum kesukaannya.
"Kau, tidak berhak menolak, nona," bisik Jeffin di sela-sela kecupan halus ia berikan di bibir ranum merekah itu.
Mobil mewah itu berhenti tepat di basement hotel mewah, Jeffin terus menuntut sang istri turun dari mobil. Ia tidak sedikitpun melepaskan genggaman tangannya. Seakan-akan istri kecilnya akan melarikan diri apabila ia melepaskan genggaman.
Jeffin, meraih kedua pundak mungil istrinya, membawa menghadap kepadanya, merapikan penampilan istrinya itu yang sedikit berantakan dan meninggalkan kecupan singkat di bibir dan kening. Sebelum mereka melanjutkan langkah ke arah lift yang terdapat di sana.
Catherine hanya menampilkan wajah jengah dengan bibir terus saja merungut kesal.
"Ingat, jaga sikap kamu, oke!" Ucap Jeffin saat mereka memasuki lift.
"Makanya, biarkan aku pergi dari sini dan pulang ke Mansion," sahut Catherine dengan bibir mencebik.
Jeffin mengabaikan sungutan istrinya itu dan lebih tertarik menatap iPad di tangan.
Hari ini, pria itu akan mengadakan rapat di salah satu aset properti keluarga Abraham.
Tentu saja disana akan banyak pasang mata yang pasti penasaran dengan istri kecilnya ini.
"Jangan menjaga jarak dengan ku!" Pinta pria itu tanpa melihat wajah Catherine yang terus mencibir.
Lift terbuka, dan Jeffin terus menuntut sang istri hingga mereka tiba di sebuah ruangan mewah. Dimana akan diadakan rapat penting.
__ADS_1
Seluruh staf dan Klein yang ada di dalam sana refleks berdiri dan memberikan hormat kepada — tuan muda Abraham. Lirikan mata mereka kini berpindah di sebelah sisi sang tuan muda. Menelisik penampilan gadis mungil dan wajah imut itu. Mereka terkagum dengan wajah wanita itu yang layaknya seperti boneka hidup.
"Jaga, pandangan kalian," sentak Jeffin dengan wajah mencekam.
Seluruh pasang mata di dalam sana pun menjadi salah tingkah dan kembali fokus ke berkas mereka masing-masing.
Namun tidak, dengan pria yang duduk di ujung sana, yang menatap Catherine dengan wajah berbinar kerinduan.
"Aku, rasa kau mendengar perkataan ku tadi," timpal Jeffin tiba-tiba, saat menyadari tatapan sahabatnya.
Pria itu bangkit dan mendekati, Jeffin dan istrinya yang ia sembunyikan di balik tubuh kekarnya.
"Ck!" Pria rupawan itu hanya berdecak dan menolehkan kepalanya ke belakang tubuh — Jeffin.
"Hey, nona," sapanya yang nada suaranya terdengar gemetar, menahan gejolak sesuatu.
Catherine masih bergeming dengan wajah terlihat begitu sangat jengah, ia malas menanggapi sapaan pria itu dan lebih memilih membuang pandangannya.
"Kenalkan, aku, Kenzie Jeffrey," lanjutnya sambil mengulurkan tangan.
Catherine menoleh dan pandangan mereka bertemu untuk beberapa detik, namun suara dingin memutus tatapan mereka.
"Dia, tidak tertarik berkenalan denganmu," sela Jeffin. Lantas membawa sang istri duduk di kursi depan. Catherine masih diam membisu dan sesekali melirik ke arah sahabat Jeffin dengan kening mengkerut.
Ia seakan pernah melihatnya, tapi di mana? Ia pun mengedikkan kedua bahunya, masa bodoh.
"Jaga, tatapan mu, honey," bisik Jeffin tiba-tiba, mengejutkan sang istri dan dengan tidak tahu malunya ia mencium sejenak seluruh wajah istrinya itu. Sengaja menunjuk kepada seluruh pasang mata di dalam sana kalau, wanita yang bersamanya adalah — miliknya.
Sedangkan sahabat Jeffin kembali ke tempatnya dengan pandangan terus ia tujukan kepada — Catherine. Tatapan rindu dan memuja terlihat jelas di kedua mata seorang — Kenzie Jeffrey.
"Kau, tumbuh semakin cantik dan menggemaskan," gumamnya pelan.
Tanpa ia sadari, sepasang mata tajam nan kelam sejak tadi menatap ke arahnya dengan wajah marah.
Sekali tarikan saja, kini tubuh mungil istrinya sudah berpindah ke pangkuannya. Membuat, Catherine dan semua orang disana terkejut. Dengan perlakuan tidak biasa sang — tuan muda Abraham.
"Apa, yang kau lakukan?" Bisik Catherine mencoba untuk turun, wajahnya pun terlihat merah karena — malu.
"Turunkan, aku," bisik Catherine dengan mengerang kesal.
"Diam dan turuti, aku," bisik Jeffin kembali dan dengan sengaja mengecup bibir ranum di depannya dan melirik ke arah sang sahabat yang membuang pandangannya dengan wajah sulit diartikan.
"Dia, milikku dan akan tetap menjadi milikku." Jeffin membatin dan tersenyum menyeringai kepada sahabatnya yang juga menatap dirinya dengan tatapan tidak biasa.
Hay, Uma mau kenali karya salah satu teman uma ☺️, jangan lupa mampir yah!! sambil nunggu Uma kembali update ☺️
__ADS_1