
"Apa,kamu menerima gadis itu? Maksud … aku, istri kedua kamu!" Seru wanita yang kini berdiri di samping Jeffin yang hanya sibuk dengan benda kesayangannya.
"Kamu, terlihat tidak keberatan dengan semua yang didapatkan dari, nyonya Margaretha," sambungnya lagi yang hanya mendapatkan ketenangan dari sosok manusia dingin di sampingnya.
"Bukankah, seharusnya semua adalah hak, Samantha?" Clara mencoba mempengaruhi Jeffin.
Usahanya berhasil, Jeffin menghentikan jari-jari di atas netbook canggih kesayangannya, dan menolehkan wajah ke samping, dimana, Clara memasang wajah yang dramatis nya.
"Bukan urusanmu," sahut Jeffin dingin yang kembali fokus ke benda bersegi di tangan.
Clara hanya bisa menahan segala kekesalannya dengan mengepalkan sebelah tangan.
Saudara tiri Samantha itu, sudah lama menaruh hati kepada seorang Jeffin William Abraham. Semenjak mereka masih menduduki bangku sekolah atas hingga sekarang.
Ia yang selalu mencoba mencari perhatian pria di sampingnya ini, namun hanya sikap datar dan dingin yang ia dapatkan. Tidak ada satu kesempatan pun Clara mendapatkan respon hangat dari Jeffin.
Namun Clara tidak ingin menyerah. Ia rela melakukan apapun untuk bisa mendapatkan pria idamannya itu.
Ia bahkan rela mencelakai saudara tirinya sendiri, hingga mengalami koma. Namun, sayang. Clara masih mendapatkan sikap arogan Jeffin. Meskipun ia rela menjadi karyawan biasa di perusahaan pria itu.
Sekarang datang seorang gadis yang menjadi istri kedua Jeffin dan ia tidak bisa menerima ini semua. Hanya ia yang berhak menjadi istri Jeffin dan satu-satunya yang selalu setia mencintai pria di sampingnya ini.
"Serahkan, jadwalku hari ini!" Seru pria itu tanpa menatap Clara sedikitpun, ia segera keluar dari lift dan berjalan menuju ruangannya.
Wajah Clara semakin merah karena kesal diabaikan oleh Jeffin. Ia hanya ingin diperhatikan oleh pria arogan itu.
………………
"Ck! Jeffin berdecak kesal, saat sudah berada di ruangannya.
Ia segera duduk di kursi kebesaran miliknya dan membuka laptop yang sudah tersedia di atas meja. Tanpa memperdulikan sosok pria rupawan di sofa mewah.
Jeffin kini larut dalam dunianya, dengan mata tajam terus fokus memindai huruf dan angka-angka yang tertera di dalam layar laptopnya.
"Cih!" Kenzie sahabat Jeffin, terdengar berdecih sinis.
"Kau, terlihat berbeda, dude. Apakah, ini efek dari aurat istri kecilmu?" Ujar dengan senyum miring menawan. Namun bagi Jeffin itu sangat mengesalkan.
Jeffin hanya melirik tajam sejenak dan kembali fokus, ia terlalu malas menanggapi ejekan sahabatnya itu. Yang akan mengundurkan konsentrasinya.
Sejak tadi ia mencoba agar menjauhkan pikiran kotornya tentang, kegiatan panas dengan istri kecilnya itu. Dan … sekarang sahabatnya datang, mencoba menghancurkan pikiran positifnya.
"Apa, dia masih suci?" Tanya Kenzie yang kini sudah duduk di kursi di depan meja — Jeffin.
Jeffin masih mengabaikan sahabatnya dengan menulikan semua celotehan penuh ejekan itu.
"Pasti, dia masih suci," tebak Kenzie dengan wajah percaya diri.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya? Apakah, begitu nikmat? Sehingga kau terlihat frustasi? Seperti menginginkan hal yang membuatmu ketagihan," celetuk Kenzie diiringi tawa membahana.
Yang sukses membuat Jeffin melayangkan tatapan tajam dengan wajah mulai terlihat jengah.
"Kelaurlah!" Usir Jeffin dingin.
Kenzie semakin terbahak melihat wajah kesal Jeffin. Itu berarti tebakannya benar.
"Lebih, baik sekarang kau pulang. Dan mengurung istri kecilmu itu. Lakukan, dengan sepuas-puasnya," seloroh Kenzie kembali dengan wajah usilnya.
Pria itu terus tertawa lepas sembari berjalan meninggalkan ruangan mewah Jeffin. Meninggalkan sosok pria rupawan itu dengan wajah geramnya.
Bayang-bayang bersetubuh ia lakukan dengan istri kecilnya dan gaya yang ada dalam fantasinya kini mulai menghancurkan sikap profesionalnya sebagai seorang pemimpin.
Jeffin tak hentinya mengerang kesal, bermaksud mengusir pikirannya yang membuat seluruh tubuhnya memanas.
"Sial!" Umpatnya kesal. Sembari bangkit dari kursi kebesarannya. Jeffin meninggalkan begitu saja ruangannya. Meninggalkan semua perkejaan yang menumpuk.
"Anda, ingin kemana tuan?" Cegah Clara tiba-tiba.
"Bukan, urusanmu," sahut Jeffin datar dan terus melangkah.
"Tapi, anda ada bertemuan penting," selanya dengan wajah bingung. Tidak biasanya Jeffin akan meninggalkan pekerjaannya, meskipun istri pertamanya dalam keadaan darurat sekali pun.
"Batalkan!" Titahnya tanpa di bantah.
"B-baik!" Jawab Clara gugup. Karena tatapan Jeffin begitu menakutkan.
"Sial! Erang Clara kesal.
…………..
"Kembali, ke Mansion!" Perintah Jeffin kepada asisten pribadinya.
"Siap, tuan," sahut pria berwajah tegas itu.
Mobil mewah dengan warna hitam pekat itu pun mulai bergerak, meninggalkan area perusahaan Abraham group dan ikut bergabung dengan pengendara lain di kota tersebut.
Jeffin dengan kaki panjangnya turun dari mobil, setelah sang asisten dengan segera membukakan pintu mobil untuknya.
Tak ingin menunggu lama, Jeffin berjalan memasuki Mansion, yang penampilannya sudah tak semenawan tadi.
Kini jas mahal pria itu sudah terlepas dari tubuhnya yang kekar, begitu juga dengan dasinya yang entah ia lemparkan ke mana. Kini hanya ada kemeja hitam pekat membungkus tubuh atletisnya dengan kancing kemeja terbuka beberapa, melihatkan dada bidangnya yang di tumbuhi bulu-bulu halus. Yang membuatnya terlihat macho dan seksi.
Jeffin terus melangkah masuk kedalam dan langsung di sambut oleh kepala pelayan baru.
"Selamat datang, tuan," sapanya dengan menundukkan setengah badan.
__ADS_1
Jeffin tidak menanggapi, pria yang terlihat kacau itu terus berjalan ke arah lift. Ia ingin segera mendatangi kamar bersama istri kecilnya.
Pria berusia 37 tahun itu, sudah terlihat begitu tersiksa dengan bayangan dan juga pikirannya.
Libadonya terus meningkat, saat mengingat adegan hangat dengan sang istri kecilnya.
"Clek! Dengan tidak sabaran, Jeffin membuka pintu kamar mewah itu, dengan tatapan buas apa predator kelaparan.
Hanya ada kesunyian yang menyapa Jeffin, saat memasuki kamar mewahnya. Tiada, tanda-tanda kalau istri kecilnya itu berada di dalam sana.
Jeffin membuka semua kancing kemejanya sambil berjalan ke arah ruangan ganti, berharap, istri kecilnya itu berada di sana. Seperti yang kejadian tadi pagi.
Tapi, ia harus menahan kekecewaan dan kekesalan, saat tidak ada sosok bertubuh mungil mempesona di sana.
"Kemana, dia?" Tanyanya kepada dirinya sendiri.
Pria yang kini terlihat polos di bagian atas, memeriksa di segala penjuru kamar. Tapi … hasilnya nihil. Tidak ia temukan istrinya di manapun yang membuatnya mengerang frustasi.
Menahan hasratnya yang semakin meningkat saat, mencium jejak aroma lembut istrinya.
"Sial, sial, sial," umpatnya dengan wajah geram.
…………..
"Kemana, mommy dan …." Jeffin menghentikan pertanyaannya dengan tatapan mengintimidasi sang kepala pelayan.
"Nyonya besar dan nyonya muda, sedang keluar, tuan," pungkasnya dengan wajah menunduk.
"Keluar?! Gumam Jeffin dengan wajah frustasi.
"Mereka, sedang mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan, tuan," jelas kepala pelayan itu lagi.
"Apa, mereka sudah lama pergi?" Tanya Jeffin ingin tahu untuk pertama kalinya.
"Baru, satu jam, mereka meninggalkan Mansion tuan," tukas sang kepala pelayan.
Wajah Jeffin semakin frustasi dan semakin terlihat kesal. Di saat ingin melampiaskan seluruh keinginannya, istri kecilnya malah pergi. Membuat Jeffin lagi-lagi mengerang tertahan dengan wajah merah menahan frustasi.
"Jam, berapa mereka akan kembali?" Tanya dengan intonasi dingin, namun dalam hatinya mengharapkan jawab tepat.
"Mereka, akan pulang sore, tuan muda," jawab kepala pelayan itu dengan wajah yang nampak kebingungan.
"Argh, sial." Teriak Jeffin frustasi.
__ADS_1