Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 71


__ADS_3

"Selamat, pagi tuan." Asisten Alan menyambut atasannya yang baru saja keluar dari mobil mewah. Segera asisten tampan itu mengambil alih tas kerja yang dibawa Jeffin dan mengikuti langkah pria itu memasuki lobby perusahaan.


"Apakah, ada pertemuan hari ini?" Tanya Jeffin yang berjalan di koridor lobby menuju lift khusus untuknya. Pria berwajah gagah itu, hanya menganggukkan kepalanya saat mendapatkan sapaan dari karyawannya.


"Ada, tuan," jawab Alan seadanya.


"Jam, berapa?" Tanya Jeffin kembali, sambil memasuki lift khusus untuknya, ia juga melirik jam tangan yang bertengger di pergelangan tangan kirinya.


"Dua jam lagi kita akan memulai pertemuannya, tuan," sahut Alan yang mempersilahkan tuanya itu keluar terlebih dahulu.


"Hm! Siapkan,  saja berkasnya dan berikan kepadaku," titah Jeffin yang kini mulai berjalan ke arah ruangannya.


"Baik, tuan," sahut asisten Alan yang masih setia mengikuti tuannya.


Jeffin dan sang asisten, menghentikan langkah mereka saat baru saja memasuki ruangan mewah dan luas itu. 


Jeffin memberikan perintah kepada asistennya agar keluar dari ruangannya dengan mengedikkan kepalanya ke arah pintu.


Jeffin menatap sosok wanita yang sedang berdiri di depan jendela kaca besar yang berada pas, di depan meja kerjanya.


Jeffin berjalan ke arah kursi kebesarannya dan meletakkan tas kerja mewahnya di atas meja. Tanpa memperdulikan sosok wanita dengan tubuh semampainya yang semakin terlihat seksi.


Wanita itu membalikkan badannya saat, mendengar suara kegaduhan dari arah meja kerja Jeffin.


Wanita itu terdengar berdecak sinis, saat tidak mendapatkan sambutan hangat dari mantan suaminya itu.


Ia merajuk langkah elegannya, guna mendekati pria yang pernah hidup bersamanya itu. Pria yang tampak tidak menghiraukan kedatangannya sedikitpun. Pria yang kini terlihat semakin tampan di usianya yang sudah matang.


Samantha mendudukkan bokong berisinya di kursi yang tersedia di depan meja kerja — Jeffin, tanpa persetujuan sang pemilik ruangan yang hanya menampilkan wajah datar saja.


"Hey, honey!" Sapa Samantha dengan senyum menggoda.


"Keluarlah, kalau kau tidak memiliki urusan penting," sahut Jeffin dengan wajah datar dan ucapan dingin.


Samantha menarik sebelah, sudut bibirnya yang menampilkan senyum miring sambil menyilangkan kaki jenjangnya, memamerkan kedua paha mulusnya di hadapan Jeffin. Kedua tangannya pun kini terlipat di depan dadanya yang semakin berisi.


Samantha terus memandangi wajah Jeffin yang semakin terlihat — rupawan. Pria di depannya terlihat seperti sugar daddy yang hot.


"Keluarlah! Aku, tidak mempunyai banyak waktu. Dan … aku tidak tertarik dengan godaan mu. Wajahku terlalu berharga di lihat seperti itu oleh mu," ujar Jeffin tanpa menatap sedikitpun ke arah mantan istrinya yang semakin ingin menggodanya.


"Keluarlah, nyonya Brown!" Sentak Jeffin yang mulai kehabisan kesabaran.


Samantha, menulikan ucapan sarkas mantan suaminya itu, ia semakin tergoda dengan wajah suaminya yang terlihat lebih tampan saat memperlihatkan ekspresi arogannya. 


Wanita itu bangkit dari duduknya dan berpindah duduk di atas meja kerja Jeffin dan pas di depan pria itu.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan, kembalilah ke tempatmu dan jagalah sikap anda, nona," gertak Jeffin dengan wajah yang mulia mengeras.


Samantha tidak memperdulikan raut suram Jeffin, ia semakin gentar untuk menggoda mantan suaminya itu.


Wanita itu bahkan sengaja memperlihatkan tubuh seksinya di hadapan Jeffin yang hanya memasang wajah tidak tertarik — sedikitpun.


"Silahkan, anda keluar dari ruangan ku!" Pinta Jeffin yang lebih memilih menghindari — mantan istrinya.


Samantha hanya menampilkan senyum seringainya dan tatapan mata tajamnya, mengikuti langkah Jeffin ke arah pintu ruangan mewah itu.


Samantha berdecih sinis, saat Jeffin membuka pintu ruangan itu dan memberikan kode untuk segera keluar dari ruangannya.


"Why, honey!" Seru Samantha yang masih berdiri di tempatnya semula dengan kembali melipat kedua tangannya di depan dada.


"Apa kau tidak melihat, berubah pada diriku," sentaknya dan memandangi dirinya sendiri.


"Aku melakukan ini semua karenamu, honey. Agar kau tertarik kepadaku dan kita kembali seperti dulu," lanjut wanita itu yang memamerkan penampilan barunya yang terlihat berisi dan seksi.


Samantha sengaja merubah penampilannya sendiri demi bisa mengambil perhatian mantan suaminya yang terlihat semakin seksi dan hot. Wanita itu bahkan, rela melakukan operasi untuk menambah kesan seksi pada bagian tubuh yang tertentu. Wanita itu bahkan, mengubah sedikit garis wajahnya agar, menyerupai — Catherine.


Ia sengaja melakukannya berharap, Jeffin terkesan dengan penampilan dan wajah barunya itu.


"Coba, tatapan aku sebentar saja, honey," pinta wanita itu dengan nada manja.


Jeffin bahkan enggan mendengar suara menjijikkan mantan istrinya itu, ia semakin melebarkan pintu ruangan dan sengaja berdiri di luar, agar para karyawannya yang kini menatap heran ke arahnya tidak berpikir macam-macam.


Jeffin menoleh dan memberikan perintah kepada pria bertubuh gemuk itu, untuk mengusir wanita yang berada di ruangannya.


"Usir dia. Dan jangan biarkan dia memasuki ruangan ku apapun alasannya!" Titah Jeffin dingin.


Sang sekretaris pun mengiyakan dan menolehkan ke dalam. Pria berkepala botak itu bisa melihat wanita itu bergaya layaknya wanita penghibur.


"Dasar, murahan," batin pria tersebut dan memandangi Samantha dengan hina.


"Baik, tuan," sahut sang sekretaris dan menundukkan sejenak kepalanya, saat Jeffin melangkah menuju ruangan meeting.


Samantha yang mendapatkan, penolakan dari Jeffin merasa terhina dan tersinggung. Ia tidak terima diperlakukan seperti ini.


Apalagi kini, ia diperlakukan semena-mena oleh bawahan mantan suaminya. Di usir layaknya sampah dan masyarakat hina.


"Awas, kau Jeffin William Abraham, aku bersumpah, akan membuatmu kembali kepadaku," geramnya dalam hati, saat di usir paksa keluar dari ruangan Jeffin.


….


Sementara Jeffin kini sedang fokus memperhatikan para kliennya yang membacakan laporan keuntungan perusahaan mereka. Sekali-kali Jeffin mengintip ponselnya yang terdapat Foto kedua anak kembarnya yang di jadikan foto profil.

__ADS_1


Di hentinya Jeffin memandangi ponselnya dengan tatapan berkaca-kaca. Ia berharap, hari ini dirinya mendapat keberuntungan untuk bisa memeluk kedua buah hatinya itu.


Baru saja Jeffin meletakkan ponsel di depannya, tiba-tiba benda pipih itu bergetar. Jeffin hanya melirik sekilas dan ia mengabaikan karena tertulis tanpa nama dan nomor asing.


Berulang Kali ponsel itu bergetar, yang mengganggu jalannya meeting di ruangan itu. 


Dengan geram, Jeffin meraih ponselnya dan menekan ikon hijau di atas benda persegi tersebut.


Dengan erangan tertahan, Jeffin menjawab panggilan itu, tapi … tiba-tiba suaranya tercekat dan raut wajahnya mendadak berubah. Mendengar seruan di balik ponselnya.


"Daddy, kau membuatku lelah menunggu mu di sini. Mereka tidak mengizinkan kami menemui, Daddy. Aku, ingin daddy memecat wanita sombong itu," cerca suara cempreng di seberang sana, yang sukses membuat Jeffin membeku dan jantungnya berdetak tidak karuan.


Matanya pun tiba-tiba memanas, saat mendengarkan celotehan suara menggemaskan itu.


Para klien dan stafnya bingung saat Jeffin mendadak memberikan tanda agar berhenti dan melarang mereka mengeluarkan suara sedikitpun.


Mereka saling menatap kebingungan, melihat ekspresi tuan muda mereka.


Dengan wajah syok dengan tubuh membeku dan bergetar, Jeffin melangkah perlahan untuk meninggalkan ruangan itu.


Saat kesadaran ia dapat kembali atas terkejut dan syok mendengar perkataan gadis mungil di balik ponselnya.


Jeffin segera membuka pintu ruangan dengan kasar dan berlari ke arah pintu lift dengan wajah yang sudah dibasahi air mata.


"Ayolah!" Ucapnya lirih, saat menunggu pintu lift di depannya terbuka. 


Ia merasa waktu begitu lambat. Dengan emosi, Jeffin melayangkan tendangannya di pintu besi itu dan beralih ke arah pintu darurat, di mana terdapat barisan tangga darurat di sana.


Dengan wajah yang sudah tidak sabar untuk bertemu kedua buah hatinya, Jeffin berlari tergesa-gesa menuruni anak tangga tersebut.


Saking senangnya, Jeffin terjatuh di saat salah satu kakinya terkilir dan ia pun terguling-guling di beberapa anak tangga. Namun semangatnya untuk bertemu dengan kedua anaknya, Jeffin segera bangkit, lantas melanjutkan langkahnya untuk segera berada di lobby perusahaan miliknya.


Penampilannya pun begitu berantakan dengan terdapat luka lecet di kedua sikunya dan keningnya.


Jeffin menahan rasa perih itu dengan di selimuti oleh rasa deg-degan juga kebahagiaan.


Asisten dan sekretarisnya mengikuti dari belakang dengan wajah panik. Mereka bahkan berteriak kencang saat melihat sang tuan muda mereka terguling-guling di bawah sana.


"Brak" Jeffin membuka kasar pintu darurat yang berada di lobby perusahaannya. karyawan yang sedang berkumpul dan memandangi kedua anak kecil yang sedang duduk di sofa, terkejut melihat keadaan tuan mereka.


"Daddy!" Teriakkan gadis kecil dan senyum bahagia membuat Jeffin terpaku di tempatnya.


Pria itu bahkan tidak sanggup menopang tubuhnya yang mendadak lemas, hingga ia kini berlutut di atas lantai dengan kedua tangannya terbuka.


mampir yuk ! di Karya teman aku.

__ADS_1



__ADS_2