
Terdengar tawa puas dari balik Mansion mewah, tawa yang terdengar begitu lantang. Terlihat dua orang wanita beda usia sedang menyesap minuman, sambil menatap sebuah ponsel yang menampilkan seorang, gadis yang mendapatkan perlakuan kasar dari pria berwajah dingin.
Mereka sedang merayakan keberhasilan keduanya dalam melakukan rencana untuk, menjebak — Catherine.
"Lihatlah, begitu mudahnya kita menyingkirkan gadis sialan itu," sinis nyonya Soraya.
Sambil menyesap minuman yang di dalam gelas genggamannya, sambil menampilkan senyum licik, pandangan masih menyaksikan dengan berbinar video yang terlihat di ponsel — Clara.
"Kapan, kita akan menyingkirkannya, mom?" Tanya Clara yang menyudahi menatap video di ponsel miliknya.
"Sabarlah honey, kita akan segera menyingkirnya setelah puas bermain-main," jawabnya diikuti oleh tawa lepas.
Clara ikut tersenyum sinis, ternyata sang mommy benar-benar ahli dalam segala kelicikan. Ia berharap semoga penghalang untuk mendapatkan Jeffin segera terlaksana.
Keduanya memerintahkan atau membayar dokter yang merawat istri Jeffin, agar membuat luka di sekujur tubuh wanita koma itu tanpa sepengetahuan siapapun, nyonya Soraya pun mudah menyabotase cctv di kamar tersebut apalagi, nyonya Margaretha tidak berada di Mansion, dan kepala pelayan sedang sibuk melakukan pekerjaannya.
Nyonya Soraya memerintahkan salah satu anak buah kekasihnya agar menampilkan tayangan cctv tersebut, seolah-olah Catherine lah' pelakunya.
Dan rencana nyonya Soraya pun sukses. Jeffin bisa melihat terakhir kali bersama sang istri adalah — Catherine yang sedang membersihkan tubuh istrinya dan melayani wanita itu layaknya seorang putri tidur.
Lamunan wanita pemilik bibir bervolume itu terhenti, ketika melihat sang mommy melangkah ke arah pintu dengan sebuah koper.
Dengan wajah bingung, ia bertanya kepada wanita berpenampilan elegan itu. "Mommy, mau kemana?" Tanyanya dengan raut kebingungan. Sembari menatap sang mommy bergantian dengan koper di tangan nyonya Soraya.
Nyonya Soraya pun hanya membalas dengan senyuman licik penuh rencana. Membuat putrinya semakin penasaran oleh raut wajah sang mommy.
"Cepatlah!" Teriaknya setelah berada di luar pintu utama Mansion.
Clara pun segera berlari kecil menyusul sang mommy. "Kita, mau kemana, mom?" Tanya jengah.
"Kita, akan menikmati kemewahan di mansion Abraham," jawabnya dengan wajah riang.
"Apa, aku tidak salah dengar? Ingat mommy, gadis itu sangat sombong, apa mommy mau dipermalukan lagi?" Cetusnya kesal.
"Dasar anak tidak berguna. Bukankah ada Jeffin yang akan membela kita, lagipula, wanita angkuh itu sedang tidak berada di sana. Jadi… kita akan puas bermain-main dengan gadis desa itu," Seloroh nyonya Soraya dengan senyum penuh rencana licik.
Clara pun tampak ikut tersenyum misterius, ia segera berlari ke arah tangga, guna mengambil barang-barang yang ia butuhkan.
…..
Sementara di Mansion Abraham.
Sosok gadis menyedihkan itu kini sedang merenungi nasibnya dengan duduk termenung di balkon kamar, ditemani oleh seorang gadis yang akan menjadi pengawal pribadinya yang diutus oleh — mommy Margaretha. Juga kepala pelayan yang sejak tadi, memegang kotak obat. Yah ingin mengobati luka memar di wajah majikannya dan juga yang terlihat di lutut, siku dan pundaknya yang memar.
"Nyonya!" Seru gadis yang berdiri di belakang Catherine.
Catherine masih terdiam dengan air mata terus mengalir, tatapannya terlihat kosong dan hampa, seakan menopang begitu banyak beban rasa sakit.
Gadis itu pun berusaha menghibur nyonya mudanya yang tidak terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
"Nyonya muda!" Serunya kembali.
"Hum!" Gumam Catherine pelan dengan suara serak.
Ia hanya menoleh sejenak dan kembali lagi pada kegiatannya semula, yaitu merenung dan melukis nasibnya.
"Pergilah! Biarkan, aku sendiri," imbuhnya dengan nada suara begitu menggetarkan hati siapapun mendengarnya.
Tanpa sadar, kepala pelayan dan gadis berpenampilan layaknya seorang bodyguard itu — menitikkan air mata. Ikut merasakan kesedihan mendalam oleh sang nona muda.
"Tidak, nona. Kami akan tetap disini," ujarnya menolak perintah sang majikan.
"Kenapa, kalian begitu hormat kepadaku? Apakah, kalian tidak tahu kalau aku hanya seorang istri tidak dianggap dan sebagai pelampiasan," ucapnya dengan tawa getir memilukan. "Aku, tidak ada bedanya dengan kalian, merawat istri pertama layaknya seorang pelayan dan melayani nafsu suami, yang hanya menginginkan rahimku semata," lanjutnya dengan air mata terus mengalir dan nada suara bergetar pilu.
"Kembalilah!" Pinta Catherine sekali lagi.
Ia kini merubah posisinya dengan memeluk erat tubuh rapuhnya seorang diri. Ia butuh sandaran saat ini, butuh pelukan lembut menenangkan. Sosok yang ia panggil dengan — daddy. Dan sosok penuh kasih sayang membelai punggung dan rambutnya, sosok yang selalu membuatnya tersenyum, sosok yang selalu mengobati sakit hati, dikala dihina di waktu sekolah. Yaitu — mommy.
"Daddy… mommy," ucapnya lirih dengan isakan getir.
Kini wajah sembab nya ia sembunyikan di balik pelukan kedua kakinya dan terus terisak sambil menyebut nama kedua orang tua yang kini telah lama tiada.
"Nyonya!" Seru gadis tersebut dengan ikut terisak.
Tak tahan melihat keadaan dan kesedihan sang nyonya, apalagi mendengar tangisan pilu, yang ikut merasakan sakit.
Sedangkan kepala pelayan itu pun ikut menangis dalam diam dan ia pun meninggalkan kamar majikannya, karena tidak tahan menyaksikan sang nyonya begitu terpuruk pilu.
……….
Masih terdengar sisa isakan yang berasal dari kedua gadis di balkon. Keduanya kini sudah saling melepaskan pelukan. Tatapan kini lurus kedepan, menerawang jauh.
Gadis yang bernama Lusiana Keller itu pun berdiri, memasuki kamar. Meninggalkan Catherine dengan kembali memperlihatkan tatapan kosongnya.
"Minumlah," timpal Lusi.
Sambil menyerahkan segelas air putih yang ia ambil di dalam kamar terletak di atas nakas.
"Terimakasih," balas Catherine setelah menyambut gelas tersebut.
Meminumnya hingga tuntas, nyatanya tenggorokannya begitu kering dan sakit. Mungkin akibat terlalu lelah menangisi hidupnya.
"Apakah, anda mulai merasa tenang?" Tanya Lusi.
Gadis itu kembali duduk di samping, majikannya, setelah menyambut gelas di tangan — Catherine.
"Hum!" Gumam serta diiringi anggukan.
Lusi pun menghela nafas lega, ia merasa bersyukur dapat menenangkan keadaan sang — nyonya muda.
__ADS_1
"Anda, tidak perlu memikirkan ini semua, nyonya. Anda harus kuat dan berani menghadapi sikap arogan pria mengerikan itu. Ingin sekali saya, menghajar wajahnya, sayang sekali… itu tidak akan pernah," Seloroh Lusi dengan wajah menggebu-gebu.
Catherine pun hanya bisa tersenyum tipis, mendengar nada bicara Lusi yang terdengar lucu dan mampu menghiburnya.
"Ingat. Anda harus melawannya. Perlihatkan kekuasaan anda di Mansion ini, sebagai pemilik sah semuanya," lanjutnya dengan wajah penuh dendam.
"Anda, harus tegas. Jangan mau terus diremehkan dan di tindas begitu saja," Selorohnya kembali dengan wajah geram.
"Apa, anda mengerti?" Terangnya dengan menatap sang majikan.
"Hu'um, aku akan mencobanya," jawab Catherine.
"Jangan mencoba, tapi lakukanlah," sela Lusi masih dengan ekspresi kesal.
Catherine pun hanya bisa tersenyum melihat raut wajah, asisten pribadinya itu, meskipun rasa sakit hatinya masih begitu terasa, namun mendengar nasehat Lusi membuatnya sadar, kalau ia harus tetap kuat dan tegas, jangan mau di sakiti dan di tindas sesuka hati.
"Bagaimana, kalau kita keluar," usul Lusi tiba-tiba.
Catherine lantas menoleh sejenak, mengkerutkan dahi dengan tatapan penasaran.
"Kita ke taman kota," ajaknya semangat.
"Taman kota?! Sahut Catherine dengan ekspresi senang.
"Apakah, anda mau?" Tanya Lusi.
"Hum!" Catherine pun mengangguk, menyetujui ajakan asisten pribadinya.
"Kalau, begitu bersiaplah, nyonya," sela Lusi.
"Aku, akan menunggu di bawah," sambungnya. Dan berjalan ke arah ruangan kamar.
Sedangkan Catherine masih betah berada di balkon. Sebenarnya ia terlalu lelah untuk menghilangkan rasa sakit hatinya, namun… ia tidak tega menerima ajakan Lusi.
Ia lantas berjalan menuju kamar mandi. Dan … bertepatan sang suami memasuki kamar mereka.
Sejenak, Catherine menghentikan langkah dengan raut wajah datar tanpa rasa takut kepada suaminya itu. Ia bahkan berani menatap Jeffin yang juga menelisik seluruh wajahnya yang terdapat luka memar di beberapa bagian.
Terlalu sesak untuk saling menatap dengan suaminya, akhirnya ia pun memutuskan tatapan keduanya dan melanjutkan langkah tanpa menghiraukan keberadaan Jeffin — suaminya.
Tapi, langkah yang sudah mencapai pintu kamar mandi , terhenti. Tanpa ingin melihat wajah Jeffin, Catherine terus membelakangi Jeffin.
"Jangan, pernah memasuki kamar nya dan melukai kulit berharga istriku, kalau sampai itu terjadi, maka ….."
"Anda, tidak perlu khawatir, itu tidak akan pernah terjadi," sahut Catherine, memotong perkataan — Jeffin.
"Aku, pikiran anda adalah seorang yang pintar, memiliki pengalaman dan bisa meneliti semua keadaan, tapi … ternyata anda begitu di buta kan rasa emosi dan amarah. Hingga … anda tidak bisa membedakan luka baru beberapa menit ataupun luka beberapa jam." Pungkas Catherine dengan nada dingin, tanpa menatap suaminya.
Ia pun segera memasuki kamar mandi, meninggalkan Jeffin terdiam di tempatnya, memikirkan pikiran tentang — ia ucapkan.
__ADS_1