Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 73


__ADS_3

"Daddy, terlihat lebih tampan daripada gambar yang kami lihat di majalah. Pantas, saja aku memiliki wajah begitu cantik, bahkan semua teman pria ku di sekolah mengatakan aku paling, cantik!" Celotehan lucu putrinya yang sekarang duduk di pangkuan, membuat perasaan Jeffin menghangat.


Putrinya itu tidak hentinya menatap wajahnya dan juga membelai wajahnya yang rambu-rambu halusnya sebagian sudah memutih. Namun itu membuat Jeffin terkesan lebih jantan dan hot.


Kedua anak kembarnya terus menatap wajah sang daddy, mereka mengagumi pria di depan mereka dengan raut wajah bangga dan senang. Mempunyai daddy yang tampan juga terkenal.


Jeffin menikmati sentuhan jari-jari mungil putrinya di wajah, ia tidak percaya dirinya akan dipertemukan dengan kedua anaknya.


Tatapan Jeffin kini, mengarah kepada sosok wanita yang sejak tadi berdiri di depan jendela kaca besar, dengan memunggunginya.


Jeffin hanya tersenyum miris, saat menyadari, kalau sang istri sejak tadi menjaga jarak darinya.


Terlihat kecanggungan di antara keduanya, Jeffin juga terlalu gugup memulai percakapan dengan wanita cantik di sana.


"Daddy juga merindukan, mommy?" Tanya Andrea tiba-tiba. Saat menyadari tatapan mata sang daddy terus tertuju kepada — mommynya.


Jeffin tidak menjawab, ia hanya menampilkan senyumnya dan mencium kening putrinya itu dan juga sang putra yang berada di depannya.


"Mommy, sering memandangi gambar daddy yang ada di majalah," celetuk Andrea dengan wajah menggemaskan nya.


"Adik!" Tegur Andrew.


Jeffin terkejut dengan pengakuan putrinya, ia sekali lagi menoleh ke arah — Catherine dengan tatapan sulit diartikan.


"Apa? Aku, hanya mengatakan apa yang sebenarnya," timpal Andrea dengan wajah cemberut.


"Tapi, ucapanmu tidak baik," jelas sang kakak dengan nada lembut.


"Jaga sikapmu, dik," tegur Andrew dengan sikap bijak.


Gadis kecil itu hanya memanyunkan bibirnya dengan wajah terlihat kesal. Jeffin yang melihat perdebatan kedua anaknya, merasa terhibur dan perasaannya terpancar kebahagiaan.


Ia tidak ingin momen ini berhenti begitu saja, Jeffin berharap suasana sekarang ini tetap terjadi hingga kedua anak-anaknya tumbuh menjadi dewasa.


Jeffin melirik sang istri yang kini menghadap ke arahnya, ia hanya bisa menampilkan senyum miris saat lagi-lagi — Catherine membuang pandangannya.


Jeffin sadar dengan perasaan istrinya sekarang ini, kesalahan yang ia lakukan dahulu kepada istrinya mungkin tidak bisa dimaafkan. Oleh sebab itu, Jeffin mengerti dengan keadaan istrinya sekarang dan ia juga tahu diri.


Ia tidak ingin memaksa kehendaknya lagi, Jeffin hanya bisa pasrah dengan keputusan — wanita yang selama ini ia rindukan.


Jeffin akan menerima, apabila Catherine meminta berpisah dengannya. Asalkan ia bisa bertemu dengan kedua anaknya, bagi Jeffin sudah cukup membuat dirinya bahagia.


……..


Sementara Catherine pun merasakan hal kecanggungan dengan suaminya itu. Jujur rasa sakit hati dan luka yang diberikan suaminya masih terasa hingga kini.


Masih ada tersirat rasa ketakutan di dalam diri Catherine, saat berdekatan dengan suaminya itu.


Perasaan sesak pun masih tersimpan di dalam rongga dadanya, apabila mengingat semua kekejaman suaminya. Namun sekuat hati — Catherine menahan demi kedua buah hatinya.

__ADS_1


Ia tidak ingin egois, kedua anaknya sangat membutuhkan peran sang daddy. Meskipun kasih sayang seorang ayah sudah mereka dapatkan dari pria lain, tapi Catherine tidak ingin membohongi kedua anaknya.


Ia juga masih memikirkan perasaan suaminya itu, yang pasti merindukan kedua anaknya.


Catherine juga begitu terkejut, melihat berubah fisik sang suami dan juga kepribadian pria itu.


Tapi entahlah … Catherine hanya bisa mengikuti semua jalan takdirnya kedepan bagaimana dan ia hanya bisa pasrah dan mencoba memaafkan pria itu apabila mereka masih di takdirkan bersama, setidaknya demi kedua anak-anaknya.


Di tengah pikiran yang bercikambu, ponsel miliknya tiba-tiba bergetar.


Catherine meraih ponselnya yang berada di saku dress-nya, ia membuka sebuah pesan singkat yang berasal dari nomor — Kenzie.


Senyum wanita itu terlihat, saat membaca pesan dari sosok pria yang sudah tulus membantunya selama ini.


Catherine kembali memasuki ponselnya dan segera berjalan mendekati kedua anak kembarnya yang sedang bercengkrama dengan sang — daddy.


"Ayo, anak-anak! Kita pergi sekarang!" Seru Catherine tiba-tiba.


Membuat kedua anaknya dan sang suami menatapnya dengan wajah mengkerut.


"Bersiaplah, sebentar lagi daddy Kenzie menjemput kita," lanjut Catherine tanpa memperdulikan tatapan nanar sang suami.


"Tapi aku masih ingat bersama, daddy," sahut Andrea dengan wajah protes.


"Tidak!" Tolak Catherine yang kini mulai mendekati kursi roda putranya.


"Mom, bisakah kami lebih lama bersama daddy," pinta Andrew dengan suara lembut dan tatapan memohon.


"Ayo! Potong Catherine yang tidak peduli dengan rengekkan kedua anaknya.


"Izinkan, mereka lebih lama disini," sela Jeffin akhirnya mengeluar suara untuk pertama kalinya kepada sang istri setelah lama berpisah.


"Aku, takut mereka akan mengganggumu," sahut Catherine tanpa menatap wajah sendu sang suami.


"Aku tidak masalah memerintahkan semua karyawan agar pulang cepat, hari ini," balas Jeffin.


"Mommy!" Rengek si cantik Andrea.


"Please!" Kali ini Andrew yang memohon.


"Izinkan aku bersama mereka," timpal Jeffin dengan nada memohon.


Baru saja, Catherine akan mengucapkan sesuatu, tiba-tiba pintu ruangan Jeffin terbuka. Dan muncul sosok pria rupawan di sana.


"Selamat siang, anak-anak!" Serunya dengan wajah berseri.


"Berangkat sekarang?" Tanyanya tanpa memperdulikan wajah terkejut sahabatnya.


"Daddy!" Sentak Andrea dengan merengek ke arah Kenzie.

__ADS_1


Jeffin semakin membeku mendengar kedua anak-anaknya memanggil sahabatnya dengan daddy.


"Bukankah, kalian sudah berjanji kepada daddy akan makan siang bersama," sahut Kenzie yang segera meraih Andrea yang masih berada di pangkuan — Jeffin.


"Tapi …."


Ucapan Andrew terhenti saat sang mommy sudah mulai mendorong kursi rodanya.


"Ayo!" Ajak Kenzie kepada Catherine sambil mengusap rambut wanita itu dan memberikan senyum hangat.


Catherine pun mengangguk dan membalas senyuman pria yang sudah ia anggap sebagai seorang kakak.


Interaksi mereka tidak luput dari pandangan sendu Jeffin, ia hanya bisa menundukkan kepalanya dengan mata yang kembali berkaca-kaca, saat sang istri begitu terbuka dengan sahabatnya sendiri dan kedua anaknya terlihat begitu akrab.


"Pergi sekarang!" Seru Kenzie yang kini mulai berjalan sambil menggendong gadis kecilnya.


Catherine hanya mengangguk dan menatap Jeffin yang wajahnya terlihat sedih dan kecewa.


"Sampai jumpa lagi, daddy," ucap kedua anaknya.


"Bye-bye, daddy," teriak si cantik Andrea.


Jeffin hanya tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Mengantar kepergian kedua anaknya.


Meskipun tersimpan rasa tidak terima atas perilaku sahabat dan istrinya yang tega membawa kedua anaknya. Tapi Jeffin hanya bisa pasrah.


Ia yakin masih ada waktu untuk bisa bertemu dengan kedua anaknya. Ia bisa menemui mereka nanti malam di kediaman sahabatnya itu.


"Padahal, aku masih ingin bersama mereka," monolognya lirih.


Ia pun kembali ke kursi kerjanya, menyalakan sambungan cctv dan mencari keberadaan mereka.


Hati pria itu tiba-tiba mencolos, saat menyaksikan interaksi mereka yang seperti keluarga yang berbahagia.


Apalagi Jeffin bisa melihat jelas tawa lepas istrinya dan kedua anak-anaknya saat bersama sahabatnya.


Jeffin menutup laptopnya dengan paksa, ia menghempaskan punggung rapuhnya ke belakang dan memejamkan mata. Terlihat tetesan air mata mengalir dari ekor mata pria itu.


"Dia lebih pantas untuk mereka."


"Sedangkan aku terlihat tidak pantas untuk, membahagiakan mereka,"


"Maafkan, atas semua kesalahan yang aku lakukan."


"Aku berjanji, akan menebus kesalahanku apabila kau kembali kepadaku."


Jeffin terus berucap dengan nada halus dengan wajah penuh penyesalan dan air mata kesedihan.


mampir yuk kakak-kakak semua ☺️

__ADS_1



__ADS_2