
Bunyi dentingan lift berbunyi, tanda pintu besi itu terbuka, terlihat sepasang suami-istri yang masih dalam mode, bercumbu, dengan sang istri masih betah bertengger di gendongan suaminya.
Pria itu pun menciumi bibir ranum istrinya begitu buasnya, sambil berjalan di ruangan remang.
Suara decapan itu terdengar di dalam, penthouse mewah, menghilangkan rasa tak perhuni penthouse tersebut.
Jeffin terus melangkah lebih kedalam, dengan terus menyesap penuh hasrat bibir sang istri, ia bagaikan kehilangan kendali dan malam ini pria itu akan melampiaskan hasratnya malam ini.
Jeffin mendekati sebuah meja sudut, menyingkirkan semua barang-barang yang tertata rapi, lantas menundukkan istrinya di sana tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Jeffin bahkan dengan bringasnya, menahan ke atas kedua pergelangan tangan istri kecilnya, menggunakan sebelah tangan dan yang mencoba membuka seluruh kancing kemeja.
Jeffin melemparkan kasar jas yang menutupi tubuh bungil sang istri ke sembarangan arah. Begitu juga dengan sepatu dan kemejanya.
Sambil terus menggoda bibir ranum di depannya, yang terlihat begitu menggebu.
Setelah keadaan mereka sama-sama tak memakai apapun. Pria predator itu, menatap sang istri yang terlihat terengah-engah dengan wajah merah dalam suasana remang-remang.
Pria itu, membelai wajah imut sang istri, hingga turun ke area tulang selangka istrinya.
Jeffin melakukan penyatuan dengan sangat lembut, membuat gadis bertubuh mungil yang terlihat pias menjadi tenang. Malam ini, Jeffin melakukannya dengan sangat tenang dan penuh perasaan, membuat sang istri pun ikut dengan suasana menyenangkan itu.
………
"Tuan muda, membawa nyonya Catherine, nyonya," sahut seorang pria yang kini menundukkan kepala di depan majikannya.
Wanita dengan tampilan anggun dan berkelas itu, menghela nafas kesal. Sambil bersungut-sungut dan mencibir kelakuan putranya.
"Dasar anak kurang ajar. Bisa-bisanya dia membawanya tanpa mengatakan sesuatu, kepadaku," sungutnya kesal.
"Pulang," perintahnya kepada sang sopir.
Mommy Margaretha pun meninggalkan area lobby hotel, dengan raut wajah kesal. Tidak henti mulut wanita berusia setengah abad itu, bergerak-gerak dengan ekspresi kesal.
"Kenapa, dia tidak mengabariku. Dan, membuatku khawatir," sungutnya di dalam mobil.
"Awas saja kalau dia berada hadapanku," lanjutnya.
"Dasar, manusia balok es." Makinya yang ditujukan kepada sang putra.
Sang supir pun hanya diam dengan terus fokus pada kemudi. Ia hanya menjadi pendengar setia nyonya, masih terus mengomel dan memaki putranya sendiri.
"Pria, munafik. Katanya tidak akan tertarik. Setelah melakukan sekali, langsung ketagihan," ucap mommy pelan dengan bibir mencebik.
__ADS_1
…………..
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, mom."
Seorang wanita dengan lekukan tubuh menggoda kini berada di sebuah ruangan tertutup. Ia ditemani oleh sang mommy yang terlihat sedang berpikir.
"Mom!? Sentak Clara.
Wanita itu mengejutkan sang mommy yang sedang berpikir, bagaimana caranya agar rencana mereka berhasil.
"Ini, semua salahmu. Seharusnya kau segera menjebak Jeffin dalam perangkap mu, tapi … kau begitu menganggap remeh semua masalah ini. Dan seharusnya wanita itu mati bukan malah koma, kau memang tidak pernah becus melakukan apapun." Cerca wanita berkelas itu.
Ia mencerca putrinya sendiri dengan menyalahkan segala yang sudah putrinya itu lakukan yang ia anggap tidak pernah tuntas dan membuahkan hasil.
Wajah Clara terlihat tidak terima dan melayang perkataan protes kepada sang mommy. "Kenapa, mommy menyalahkan ku. Salahkan, pria tua itu yang tidak beres melakukannya," protesnya dengan wajah jengah.
"Jaga, mulut kamu, Clara!" Bentak nyonya Soraya.
Ia merasa tidak terima, seseorang dalam hidupnya disalahkan, apalagi pria tua yang dikatakan — Clara adalah, ayah kandungnya sendiri.
"Ck!" Clara berdecak sinis.
"Bagaimanapun, dia adalah daddy kamu," sembur nyonya Soraya menggebu.
Wajah wanita dengan gaun tidur seksi itu, terlihat benci mendengar sang mommy, membela pria yang merupakan ayah kandungnya.
"Daddy aku hanya, tuan Jimmy brown. Dan hanya dia yang pantas menjadi daddy aku," sambungnya.
Clara melayangkan tatapan penuh kebencian kepada sang mommy, Clara sangat menolak, untuk menjadi anak untuk pria yang sangat mommy bela. Yang hanya berasal dari keluarga miskin dan pria gila. Clara sangat menyayangi tuan Jimmy brown yang merupakan ayah tirinya dan ayah kandung — Samantha.
"Cih! Ingat, dia hanya menyayangi anaknya dan menganggap mu benalu," timpal nyonya Soraya.
"Aku, tidak perduli, aku akan menyingkirkan wanita itu dan menjadi putri satu-satunya daddy Jimmy," pekik Clara.
Nyonya Soraya tersenyum misterius mendengar ungkapan putrinya yang penuh ambisius untuk bisa mendapatkan keinginannya. Ia merasa bangga sudah mendidik sang putri agar melakukan cara apapun untuk mendapatkan tujuan mereka.
"Mommy, salut atas pendirian kamu, nak. Pertahankan selalu ambisimu untuk menjadi wanita paling di segani di kota ini." Imbuh nyonya Soraya.
Wanita itu kini berdiri di samping putrinya dan mengelus rambut pirangnya penuh kasih sayang.
"Mommy, akan mengabulkan impianmu nak," bisiknya di telinga Clara.
__ADS_1
Kini mereka saling berpelukan untuk saling memberi semangat, agar terus melanjutkan tujuan dan rencana mereka.
"Bagaimana caranya, mom. Kita menyingkirkan gadis desa dan wanita sialan itu," sela Clara.
Ia melepaskan pelukannya dan menatap lekat sang mommy, meminta sebuah rencana agar bisa menyingkirkan kedua istri Jeffin.
"Kau, tenanglah. Kita pasti akan menyingkirkan mereka," sahut nyonya Soraya.
Ia pun menerawang jauh kedepan dengan sebuah senyuman licik terlihat di wajah yang masih nampak mempesona di usianya masuki setengah abad itu.
Clara memicingkan matanya penuh curiga kepada sang mommy, ia sangat hafal dengan watak licik mommynya. Cuma Clara tidak terlalu bisa digeluti bakat terpendam sang mommy. Yang mampu menyingkirkan penghalang untuk mendapatkan tujuannya.
Contohnya, menyingkirkan nyonya brown terdahulu dengan baik tanpa mengundang keributan dan ia bisa menjadi nyonya brown hingga sekarang.
"Apa yang mommy sedang rencanakan?" Tanya Clara penasaran.
Tatapan mata wanita itu begitu lekat dan tak berpaling dari sang mommy yang kini mendudukkan dirinya di sofa mewah.
"Mommy, merencanakan sebuah cara agar bisa menyingkirkan penghalang kita dengan sekali sentil," ucapnya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya bergerak seperti menyingkirkan kotoran.
"Bagaimana cara?" Tanya Clara semakin penasaran.
Nyonya Soraya tersenyum penuh maksud ke arah sang putri dan menyuruhnya agar lebih mendekat kepadanya.
"Kita akan menyingkirkan wanita sialan itu dan kita akan memanfaatkan keberadaan gadis desa itu," jelas nyonya Soraya.
Clara pun ikut tersenyum licik mendengar rencana sang mommy, tidak sia-sia ia terlahir dari rahim seorang wanita licik.
"Kapan kita akan melakukannya?" Clara kembali bertanya.
"Tenanglah, kita pasti akan melakukannya dalam waktu dekat. Lebih, baik kita bermain-main terlebih dahulu dengan gadis itu, secara dia sudah berani kurang ajar kepadaku," pungkas nyonya Soraya.
Wajahnya terlihat menahan kekesalan, saat mengingat ia dipermalukan di sebuah butik ternama. Niat hati ingin melakukan diskriminasi kepada Catherine, malah terimbas dengan di permalukan.
"Dasar, gadis desa sialan," Sentak Clara.
Ia begitu geram mendengar perkataan sang mommy yang tidak jauh dengan nasibnya di pesta.
"Awas, saja. Aku pasti akan membalasnya."
__ADS_1