Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 66


__ADS_3

Catherine kini masih setia menunggu ibu mertuanya di teras villa yang disajikan langsung oleh pemandangan indah.


Tak hentinya, Catherine menoleh ke arah pintu gerbang yang terletak sedikit jauh dari pintu utama villa.


Dirinya begitu sangat merindukan sosok wanita yang menyayanginya layaknya ibu kandungnya sendiri.


Wanita yang melindunginya hingga saat ini. Catherine ditemani oleh pelayan setianya.


"Nyonya!" Seru sang pelayan dengan wajah khawatir.


"Hm!" Gumamnya Tanpa menatap wanita setengah baya di belakangnya.


"Sebaiknya, nyonya menunggu di dalam sana. Hari semakin malam dan cuacanya semakin dingin, tidak baik, anda terlalu menghirup udara malam, nyonya," ungkap sang pelayan yang merasa khawatir sejak tadi.


Catherine merespon perkataan sang pelayan dan menuruti perkataan wanita yang sudah dianggap keluarganya sendiri.


"Baiklah, aku menunggu mommy di dalam," sahut Catherine halus.


Wajahnya pun berubah sendu sejak tadi, entah mengapa, perasaannya tidak begitu baik malam ini. Ia merasa akan terjadi sesuatu hal.


Keduanya pun melangkah masuk sambil menutup pintu utama, tidak lupa menguncinya. Baru saja mereka akan memasuki ruangan keluarga, tiba-tiba seluruh lampu di villa padam dan seluruh ruangan menjadi gelap.


Catherine dan pelayanannya tersentak kaget dan mereka terdiam sejenak.


"Bibi!" Panggil Catherine sambil meraba-raba di sebelahnya.


"Saya disini, nyonya," sahut sang pelayan meraih tangan sang majikan dan membawanya dengan hati ke arah sofa.


Wanita itu membantu Catherine duduk di salah satu sofa panjang dan menyakinkan sang majikan duduk dengan aman.


"Tetap di tempat anda, nyonya. Jangan, kemana-mana!" Ujar sang pelayan.


"Bibi, mau kemana?" Tanya Catherine kebingungan.


"Saya, mau mengecek ke belakang nyonya. Apakah, seluruh desa ini padam, atau hanya di villa ini." Sang pelayan pun menjelaskan kepada majikannya.


Catherine pun mengiyakan dan mematuhi perintah pelayannya itu, ia juga takut mencoba bergerak, yang akan berakibat fatal nantinya.


"Tunggu, sebentar nyonya. Saya akan segera kembali," ucap sang pelayan dan berlalu meninggalkan — Catherine seorang diri di sana.


Tanpa sepengetahuan mereka, beberapa orang mengenakan pakaian hitam-hitam memasuki villa itu dengan cara begitu, profesional. Mereka berhasil, masuk tanpa menimbulkan bunyi sedikit dan tanpa terlihat.


Mereka terlihat memancar mengelilingi seluruh sudut ruangan villa tersembunyi itu.


Catherine menolehkan kepalanya kebelakang, saat merasakan seseorang melintas di belakangnya.


"Bibi!" Serunya dengan nada pelan.


"Bibi!" Serunya kembali dengan raut penasaran.


"Apakah, itu bibi?" Tanya penasaran dengan kepala masih menoleh ke belakang.


Ia juga menoleh kiri dan kanan di ruangan gelap itu, yang hanya mengandalkan cahaya langit malam melalui dinding kaca — villa tersebut.


"Tidak ada siapapun," cicitnya dengan bingung dan tetap berada di tempatnya. Ia pun, tidak berani untuk bergerak di ruangan gelap itu.


Salah satu yang menembus keamanan villa canggih sang mommy, mengikuti pelayan setia — Catherine, menuju area belakang villa.

__ADS_1


Sosok berbaju hitam itu, kini berada dua langkah di belakang sang pelayan, yang sedang memeriksa kotak listrik dengan menggunakan pencahayaan lampu — ponsel miliknya.


"Tidak ada yang salah? Berarti seluruh desa mengalami mati lampu," gumamnya lirih dan segera turun dari kursi kayu yang ia pakai untuk bisa melihat kotak listrik tersebut.


Namun malang, saat membalikkan badannya, ia harus dikejutkan oleh sebuah hantaman keras di titik kelemahannya yang langsung, membuat wanita itu terkapar seketika.


"Beres," ucap sosok itu, melalui alat penghubung yang berada di salah satu telinganya.


Ia lantas membuat keadaan villa menjadi berantakan, seakan-akan terjadi sebuah tindakan kejahatan di sana.


"Prang"


Catherine terloncat kaget, saat mendengar suara keributan yang datang dari area dapur dan sekitarnya.


Ia pun semakin penasaran dan gelisah, saat sang pelayan tidak kunjung kembali menemuinya.


"Bibi!" Panggilnya dengan nada khawatir.


"Apa yang terjadi," teriaknya yang masih terduduk.


"Bibi, apa yang terjadi?" Teriaknya sekali lagi.


"Apakah, ada masalah, bibi?" Teriak Catherine kembali di kesunyian ruangan itu.


Tapi, belum ada jawaban yang ia dapatkan. Hanya suara keributan yang semakin jelas, terdengar.


"Bibi!" Kali ini, nada suara Catherine terdengar ketakutan.


"SIAPA!" Pekiknya, saat merasakan kembali sosok di belakangnya.


Yang ternyata sosok bertubuh tinggi kini, berdiri tidak jauh dari balik punggungnya. Sosok yang menatapnya penuh arti.


…….


Sementara kendaraan mewah sang mommy, masih butuh lima menit untuk bisa sampai ke villa.


Begitu juga dengan — Jeffin yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya.


Rombongan mobil Samantha masih tertinggal jauh dibelakang, akibat kehabisan bahan bakar. Tapi … ia sudah memberikan perintah kepada para anak buahnya untuk lebih dulu menemui keberadaan Catherine.



"Siapa!" Sentak Catherine gugup.


"Siapa disana?" Ucapnya yang mulai terbata.


"Tolong, katakan. Siapa!" Pekik Catherine yang kini berdiri dan menelisik ruangan gelap itu.


"Akh!" Pekiknya saat, tiba-tiba perutnya terasa mengencang dan itu membuatnya nyeri.


"Tenanglah, anak-anak mommy. Pasti kita akan keluar dari suasana menegangkan ini," ucapnya sambil mengusap perutnya yang buncit.


Setelah mencoba menenangkan anak-anaknya, Catherine berusaha berjalan dengan hati-hati sambil berpegangan di dinding, pandangannya tetap fokus ke depan, ia tidak boleh ceroboh yang akan berakibat nantinya.


Sosok pria di belakangnya pun, mengikuti kemana langkahnya, hingga kini jarak pria itu semakin dekat dengan — Catherine.


Catherine yang merasakan seseorang berada di belakangnya, mencoba membalikkan badannya, tapi… sebelum itu ia lakukan, pria di balik gelap malam itu, membungkam mulut Catherine dengan sebuah sapu tangan yang sudah di beri obat bius yang aman untuk kehamilan — tentunya.

__ADS_1


Dengan gesit, pria itu menangkap tubuh Catherine dan segera menggendongnya ke arah pintu utama villa.


"Tuan! Mereka sudah mendekati villa," lapor salah satu kawan mengusut itu.


"Ayo!" Ajak pria itu dengan nada berat dan dingin.


Semuanya pun meninggalkan villa itu dengan jalur yang berbeda, yang bertepatan, mobil mewah sang mommy sudah memasuki gerbang yang masih terkunci aman.


"Gelap?" Gumam mommy Margaretha, saat menuruni mobilnya dan melihat suasana villa yang gelap gulita.


Ia segera menyalakan senter ponsel miliknya dan diikuti oleh orang kepercayaannya.


Jeffin pun baru memasuki gerbang villa dan segera turun dari mobilnya, ia pun berjalan, bahkan setengah berlari untuk menemui istrinya itu.


"Akh! Tidak… Catherine. Cucu-cucu ku! Teriak histeris sang mommy, menghentikan langkah Jeffin yang kini berada di depan pintu utama villa itu.


"A-apa, yang terjadi?! Cicit Jeffin yang melangkah pelan dan bertepatan lampu pun menyala, ia bisa melihat keadaan villa itu berantakan.


"Cucu-cucu ku," histeris sang mommy saat tidak menemukan keberadaan Catherine.


"Mommy!" Seru Jeffin dengan wajah syok dan kebingungan.


"Apa yang terjadi dan kemana istriku?" Tanyanya dengan raut linglung, melihat suasana villa yang seperti habis kemalingan.


"Jeffin," isak sang mommy dan berdiri, memeluk putranya itu.


"Ada apa, mom?! Tanya Jeffin tidak sabaran.


"Mana, istriku?" Tanya kembali dan mengulang pertanyaan.


"Maafkan, mommy," sesal wanita yang kini mencoba menenangkan putranya itu.


"Apa, maksud mommy?" Tanya Jeffin yang merasakan hal buruk.


"Mereka, membawanya. Mereka, membawa Catherine pergi," ujar sang mommy dengan tangisan yang tak terkendali.


"Tidak! Itu, tidak mungkin. Aku, baru saja ingin menemuinya. Sekarang dia menghilang?!


"Omong kosong, macam apa ini, mom!" Hardik Jeffin frustasi.


"Mommy, tidak berbohong. Ini, bacalah!" Titah sang mommy dan menyerahkan lembaran kertas yang tertulis sebuah pesan singkat.


Jeffin pun meriahnya dengan tangan gemetar, ia pun berubah pucat, saat membaca isi pesan singkat itu. Jeffin bahkan, menjatuhkan tubuh tingginya di atas lantai marmer. Berteriak sekuat-kuatnya malam ini.


"TIDAK! CATHERINE… ANAK-ANAKKU. KEMBALIKAN MEREKA KEPADAKU!" Teriaknya sekencang mungkin.


..


"Aku, dimana?"


"Kamu, berada jauh dari mereka sekarang. Kamu, berada di negara Amerika."


"Anda, siapa? Dan mengapa membawaku pergi?"


"Aku, Kenzie Jeffrey. Dan aku hanya menjalankan perintah — mommy,"


"Mommy?!.

__ADS_1


"Hum! Agar kalian tetap aman."


__ADS_2