
Sepasang suami-istri itu kini berada di dalam lift khusus di penthouse mewah milik Jeffin abraham william. hanya terlihat kesunyian di antara mereka, dengan kedua tangan saling bertautan. Lebih tepatnya, pria diktator itulah lebih mendominasi.
Memaksakan menggenggam tangan istrinya, seakan takut kehilangan. dengan sebelah tangan sibuk mengotak-atik ponsel miliknya. sedangkan sang istri hanya bisa memasang wajah jengah, soalnya pria buas ini tak membiarkan dirinya sedikit pun bergerak. “mengesalkan!” Batin wanita mungil tersebut. Bunyi dentingan lift berbunyi, tidak lama pintu besi itu pun terbuka, Jeffin keluar terlebih dahulu tanpa melepaskan tautan tangan mereka.
kali ini Jeffin melewati lobby penthouse mewah itu dengan menggandeng sang istri. seakan sengaja memamerkan kepada semua orang kalau wanita cantik di sampingnya adalah miliknya. penampakan Jeffin membuat mata para wanita di sana terpukau, penampilan gagah berkharisma dengan jas mewah membungkus tubuh ideal pria pemilik mata tajam itu —- dihiasi kacamata bening yang menambah nilai ketampanan pria arogan itu.
Catherin terlihat imut berada di samping suaminya, ia terlihat berjalan dengan seorang, sugar daddy tampan dan hot. apalagi style ia guna terkesan seperti seorang remaja.
para wanita yang ada di sekitar lobby memandang iri kepada — Catherin. Mereka menilai penampilan Catherin dengan pandangan remeh. mereka menganggap, catherin tidak pantas menjadi pendamping seorang Jeffin yang rupawan nan hot.
Hubungan pasangan suami-istri itu, sudah terbuka untuk umum, jadi semua sudah tahu tentang hubungan keduanya. Meskipun orang-orang sempat menyayangkan keputusan tuan muda Abraham dengan pernikahan keduanya ini, apalagi kondisi istri pertama dalam keadaan koma. Mereka juga sempat menyindir dan menggunjing Catherine, yang dianggap seorang perusak hubungan pernikahan seseorang dan hanya menginginkan sebuah kemewahan.
Namun mereka bisa memahami keadaan seorang tuan muda Abraham, yang masih membutuhkan seorang wanita di sampingnya, apalagi dia seorang pria dewasa normal dan memerlukan sebuah keturunan untuk meneruskan bisnis raksasa — Abraham group.
Hanya satu yang mereka sayangkan, kenapa harus seorang wanita yang usianya terpaut jauh dan dari kalangan biasa.
Catherine hanya bisa menghela nafas, saat merasakan tatapan para kaum wanita yang ada di sana, ia pun mencoba bersikap biasa saja dan mencoba cuek. Namun ia merasakan risih.
"Bisakah, kamu melepaskannya?" Tanyanya dengan pandangan kerah tautan tangan mereka.
Jeffin melirik dan mengikuti arah pandang sang istri, ia menaikkan alis mata tajamnya. "Kenapa?" Tanyanya yang kini merangkul pinggang ramping sang istri.
Jeffin merasa tidak terima akan perkataan sang istri tadi yang ingin tautan tangan mereka terlepas. Apa maksudnya itu? Apalagi ia bisa melihat tatapan liar para pria di sana yang melayangkan tatapan kagum ke arah istri mungilnya. Mungkin mereka mengira, kalau… sang istri adalah — anaknya.
"Jangan, seperti ini," gumam Catherine.
"Kenapa?" Sahut Jeffin tidak acuh.
"Aku, merasa tidak suka melihat tatapan mereka," ketusnya dengan bibir mencebik. "Mereka, seakan ingin memangsaku!" Lanjutnya dengan melirik para kaum wanita di lobby.
Jeffin melirik sejenak, lirik nya hanya terfokus ke arah bibir ranum istrinya itu.
Ingin rasanya ia menyerang bibir yang kini bersungut-sungut kesal dengan wajah terlihat begitu menggemaskan.
Tak tahan dengan bibir yang bersungut-sungut di sampingnya, Jeffin menghentikan langkahnya, menyentakkan tubuh mungil itu, lantas, mengangkatnya dengan sekali hentakan.
__ADS_1
Kini Jeffin menggendong istri dengan posisi kedua kaki pendek sang istri melingkar di pinggang kerasnya, tak ingin berlama-lama, Jeffin mengecup dan menyesap sekilas bibir ranum legit sang istri.
"Jangan, hiraukan mereka," bisik Jeffin di telinga istrinya.
Catherine pun hanya bisa melongo dengan ekspresi terkejut dan syok. Belum lagi ia merasa malu. Wanita bertubuh mungil itu hanya bisa menyembunyikan wajahnya di ceruk leher panjang sang suami yang beraroma menggoda.
"Kenapa, kau melakukan itu," kesalnya sambil menggigit kuat kulit leher suaminya yang tidak terlindungi oleh kain mewah.
Jeffin tidak merasa apapun, ia hanya diam sambil kembali melanjutkan langkah, dengan menggendong sang istri.
………….
Jeffin dan Catherine kini sudah berada di depan perusahaan milik Abraham group. Sebuah gedung tinggi dengan gaya elegan dan mewah.
Perusahaan yang menjadi miliknya juga. Setelah mommy — Margaretha menyerahkan saham separuh dari saham perusahaan tersebut. Yang kini saham yang — Catherine miliki, menyamai saham yang dimiliki sang suami.
"Selamat pagi, tuan!" Sapa seluruh karyawan yang berjajar rapi di setiap lorong menuju lift khusus untuknya.
Sambil melirik kepada wanita yang ada di gendongan tuan muda mereka, bahkan, salah satu dari mereka mencoba memiringkan kepalanya guna melihat wajah wanita itu. Namun tiba-tiba raut wajah karyawan pria itu menciut saat melihat lirikan tajam sang tuan — muda.
Jeffin hanya menanggapi sapaan para karyawan dengan sikap dingin dan arogan. Ia juga semakin mendekap sang istri dan menyembunyikan wajah cantik istrinya itu di balik dada bidangnya. Ia tidak rela, wajah imut nan menggemaskan sang istri dipandang oleh orang lain, apalagi seorang pria.
"Bisakah, kau turunkan aku," sentak Catherine dengan ketus.
Yang berusaha memberontak untuk turun dari gendongan suaminya itu. "Please, turunkan akan. Ini benar-benar membuatku tidak, nyaman," sungutnya kesal.
"Turunkan, aku," geramnya yang memukuli dada keras itu.
Jeffin hanya diam dengan wajah datar tanpa merasakan sakit sedikitpun dengan pukulan sang istri.
Namun ia terdengar mengerang tertahan, saat sang istri menggigit kuat lehernya. "Apa yang kau, lakukan," sentak Jeffin dingin.
Catherine pun akhirnya bisa turun dari gendongan pria diktator di depannya, ia memasang wajah sinis dan membuang pandangan ke samping.
"Aku, tidak suka digendong. Membuatku ngeri dengan benda yang ada …." Catherine refleks menutup mulutnya sendiri, hampir saja ia keceplosan mengatakan sesuatu yang membuatnya malu.
__ADS_1
Jeffin memicingkan mata kelamnya ke arah wanita mungil di depannya, dan semakin mendekat kepada istri kecilnya yang kini beringsut di sudut kotak besi itu.
"Benda apa?" Tanya sang pria dengan mata menyipit.
Yang kini mengurung tubuh mungil wanitanya dengan kepala menunduk.
"Katakan, benda apa yang kau rasakan?" Kini Jeffin berbisik di samping wajah — Catherine.
"Ayo! Katakan," ujarnya dengan nada setengah memaksa.
"Hm … i-itu … itu yang —"
"Itu apa, hm?" Timpal Jeffin yang meninggal kecupan di pipi kenyal sang istri.
"Astaga, kenapa kau begitu menyebalkan," pekik Catherine yang melepaskan diri dari kurungan suaminya melalui celah di bawah tangan.
Jeffin membalikkan badannya dengan wajah yang masih terlihat datar, namun tatapannya tersirat rasa ingin menghempaskan istrinya itu di atas ranjang.
"Stop! Menggendongku. kau membuatku malu, aku bukan anak kecil, aku istrimu," cetusnya dengan bibir mencibir.
Jeffin menarik sedikit senyumannya, melihat wajah kesal istri kecilnya itu, astaga ia begitu berhasrat hanya melihat tingkah menggemaskan istrinya.
"Kemarilah!" Ujarnya dan dengan sekali tarikan kini sang istri sudah berada di pelukannya.
"Kau, istri kecilku yang menggemaskan dan nakal," sela Jeffin sembari merapikan rambut istrinya.
"Bukankah, kau mengatakan, kalau aku hanya pelampiasan saja?" Sahut Catherine dengan wajah datar dan membalas tatapan mata tajam suaminya.
"Tapi, sekarang kau milikku, little bear," jawab sang pria dingin.
"Aku, milikmu yang akan memuaskanmu dan menampung benih mu," sambung Catherine.
__ADS_1