Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 60


__ADS_3

Tampak terlihat begitu berantakan di sebuah ruangan luas dan mewah itu. Barang-barang berharga fantastis itu, tidak luput, dari amukan seorang pria rupawan yah kini sedang dalam kondisi frustasi.


Di tengah-tengah barang-barang berserakan dan sebagian tidak berbentuk lagi. Sosok pria tampan itu, kini terduduk di atas lantai dengan sebuah botol minuman di tangan. Sudah terlihat, beberapa botol minuman yang ia habiskan. Itu semua ia lakukan untuk menghilangkan rasa frustasinya.


Saat seluruh anak buahnya tidak mendapatkan kabar keberadaan, istri kecilnya yang di dalam rahimnya terdapat calon keturunan.


Sudah 3 hari tanpa jeda, anak buahnya mencari keberadaan dan jejak istri kedua Jeffin, namun, hasilnya nihil. Catherine menghilang tanpa jejak sedikitpun. Dan hanya mommy Margaretha yang sekarang — Jeffin harapkan.


"Kalian ada dimana? Kembalikan, mereka kepadaku," racaunya dengan wajah yang begitu menyedihkan.


"Kembalikan, anak-anakku. Mereka hanya milikku," gumamnya tidak jelas dan terus meneguk minuman di tangan.


"Kembalikan, mereka kepadaku. Akh! Prag," Jeffin melemparkan begitu saja botol minuman yang berada di tangannya dengan perasaan hancur dan marah.


"MEREKA MILIKKU. KEMBALIKAN ANAK-ANAKKU." Kali ini pria itu menangis atas kepergian, istri kecilnya yang membawa serta calon keturunannya.


Tanpa ia sadari, istri pertamanya mendengar semua perkataannya dan kini wajah cantik itu, berubah tegang dan pucat.


"D-dia, h-hamil?! Gumamnya lirih.


"T-tidak, i-ni tidak mungkin," ucapnya dengan nada terbata.


"Dia, tidak boleh mengandung benih suamiku," gumam wanita itu lirih.


Samantha yang akan menemui sang suami, yang sudah beberapa hari tidak bisa ia temui karena pria itu lebih memilih mengurung diri di kamar istri keduanya.


Beruntung kamar itu, tidak terkunci dan dengan mudahnya, Samantha membuka dengan bantuan seorang pelayan setia. Ia yang akan memasuki kamar, tertegun saat melihat pemandangan di dalam kamar itu yang begitu berantakan.


Yang membuat Samantha terkejut, hingga tidak mampu mengucapkan kata-kata, saat mendengar racauan suaminya, tentang kehamilan istri kedua.


"Antarkan, aku ke kamar," perintah Samantha kepada pelayan setianya.


Wajah wanita itu terlihat gelisah dan was-was, ia takut soal kehamilan Catherine. Yang otomatis, seluruh harta dan kerajaan bisnis Abraham group akan jatuh ke tangan — anak-anak Catherine.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu," monolog wanita itu semakin berwajah panik.


"Hubungi keluarga ku, suruh mereka kemari!" Perintah Samantha kembali.


Sang pelayan dengan patuh menuruti keinginan, nyonya arogan itu. Ia tidak ingin mencari masalah dengan wanita yang sedang duduk di atas kursi roda itu. Bisa-bisa dirinya akan mendapatkan perlakuan — kasar.


….


"Jadi, dia hamil?" Pertanyaan itu berasal dari nyonya Soraya. Clara dan daddy Samantha menatap wanita di atas kursi roda itu dengan penasaran.


"Iya!" Jawab Samantha dengan singkat.

__ADS_1


"Benarkah?! Pekik ketiganya dengan wajah syok.


"Kita, harus bagaimana?" Tanya Samantha frustasi.


Ketiganya sontak diam dengan raut wajah terkejut dan tidak percaya." Bukankah, ini masalah?" Sela Clara dengan wajah panik.


Nyonya Soraya dan suaminya mengangguk. "Iya, ini masalah dengan ahli waris seluruh harta keluarga Abraham," sambung daddy Samantha dan di iyakan oleh nyonya Soraya.


"Katakan, kita harus melakukan apa?" Sekali lagi Samantha bertanya dengan wajah panik.


Wanita itu tidak hentinya memutar-mutar kursi rodanya sendiri. Ia kini tidak bisa berpikir jernih, atas apa yang ia ketahui tentang kehamilan — Catherine.


"Bukankah, dia sudah pergi jauh?" Timpal Clara yah terlihat santai.


"Iya, tapi suatu saat akan menjadi bumerang buat kita," sahut tuan brown, daddy Samantha.


"Terus apa yang harus kita, lakukan," geram Samantha.


Wajah wanita itu pun kian merah dan menahan rasa gelisah, perasaannya benar-benar tidak tenang. Bisa saja, suaminya akan lebih memilih bersama Catherine yang, sudah memberikannya keturunan.


"Tenanglah, nak, tenang," sela tuan brown, mendekati putri kesayangannya dan menghentikan kegilaan wanita itu dengan memutar kursi rodanya.


Clara hanya bisa menatap tajam dengan wajah iri, melihat, ayah dan anak itu saling berpelukan. Nyonya Soraya pun menyenggol lengan putrinya dan memberikan peringatan.


"Kita harus bagaimana, dad. Aku, tidak ingin, suamiku lebih memilih wanita itu," adu Samantha kepada sang daddy.


"Tenanglah, sayang. Daddy akan menyelesaikan semuanya," sahut tuan Brown.


"Yah! Kau, harus tenang. Kita akan mencari wanita itu, dan merebut kedua anaknya. Otomatis, Jeffin akan tetap bersamamu dan seluruh harta keluarga Abraham akan menjadi milikmu, apabila kedua anak Jeffin berada dalam hak asuh kamu," imbuh nyonya Soraya.


Samantha berpikir sejenak, dan ia pun menyetujui rencana ibu tirinya itu. Ia akan mengambil hak asuh kedua anak suaminya dan wanita itu.


"Kita, harus, mencarinya kemana?" Timpal Clara.


"Jangan, khawatir. Daddy akan menempatkan seluruh anak buah daddy untuk mencari keberadaan, wanita itu," sahut, tuan Brown.


"Terimakasih, dad," ucap Samantha memeluk sang daddy.


Wanita itu kini sedikit lebih tenang, karena dukungan keluarganya dan ia tidak akan pernah terima, seandainya sang suami lebih memilih wanita itu dan seluruh harta keluarga Abraham jatuh kepada — Catherine.


……….


"Tuan!" Seru seorang pelayan pria yang memasuki kamar — Catherine.


Jeffin mendongak dengan wajah kacau dan mata memerah, ia juga menatap tajam ke arah pelayan itu.

__ADS_1


Wajah sang pelayan pun, tiba-tiba memucat dan segera saja ia menyampaikan maksud kedatangannya ke kamar tersebut.


"N-yonya, besar, menunggu anda," ucap sang pelayan dengan nada gugup.


Jeffin yang mendengar kedatangan sang mommy, segera berdiri dengan tertatih, tanpa menunggu lama ia segera menemui — nyonya Margaretha.


Nyonya Margaretha sendiri kini duduk dengan elegannya di sofa ruang tamu. Menunggu kedatangan putra bodohnya. Ia akan menyampaikan kedatangannya ke Mansion Abraham. Setelah tiga hari menghilang dengan sang menantu kesayangan.


Tatapan mata wanita cantik dan anggun itu kini menajam ke arah pria yang mendekat kepadanya dengan sempoyongan.


"Cih!" Nyonya Margaretha pun hanya berdecak sinis melihat penampilan putranya yang begitu sangat menyedihkan.


"Mom!" Sentak Jeffin segera mendekati nyonya Margaretha.


Namun baru saja ingin memeluk sang mommy, wanita itu melemparkan sebuah map coklat ke arahnya.


Jeffin menatap lekat map tersebut dan bergantian menatap sang mommy yang memasang wajah dingin. "Apa ini, mom?" Tanya Jeffin dengan wajah mengkerut.


"Baca dan tandatangani!" Perintah mommy Margaretha dengan nada datar.


Jeffin yang tidak ingin penasaran, segera meraih map tersebut dan membacanya, seketika wajahnya berubah suram dan dadanya terlihat naik turun karena emosi.


"APA-APA INI, MOM! Teriak Jeffin dengan wajah marah.


"Surat cerai!" Jawab sang mommy dengan tenang.


"Tandatangani dan biarkan dia hidup tenang. Dia terlalu baik untuk pria buruk sepertimu," ketus mommy Margaretha.


"Mom!" Sentak Jeffin tidak terima.


"Apa? Apa yang kau harapkan dari wanita baik-baik sepertinya," sahut wanita yang kini berdiri di hadapan putranya yang nampak terlihat tidak terima atas keputusan — sang mommy.


"Dia, membawa anak-anakku," jawab Jeffin dengan nada tegas.


Tiba-tiba tawa nyonya Margaretha bergema di seluruh ruangan itu, mendengar pernyataan putranya.


"Anak? Anak-anakmu?" Sekali lagi nyonya Margaretha tertawa menertawakan kebodohan putra semata wayangnya.


"Anak yang mana kau maksud, hah! Anak yang mana! Katakan, anak yang mana," cerca nyonya Margaretha dengan nada geram.


"Mom!" Gumam Jeffin sendu.


"Anak yang sudah kau, hilangkan nyawanya sebelum lahir ke dunia ini," ujar mommy Margaretha dengan nada getir.


"Kau, tidak pantas di sebut Daddy, setelah apa yang kau lakukan kepada anakmu sendiri,"

__ADS_1


"Mom!"


__ADS_2