Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 40


__ADS_3

"Prang" suara pecahan sebuah benda yang dilemparkan kasar terdengar di ruangan mewah.


Terlihat sosok berwajah suram itu, menahan gejolak amarahnya, s hingga buku-buku jarinya yang mengepal erat kini memutih.


Pria berwajah kelam mengerikan itu, baru saja melihat foto-foto sang istri kecil dengan posisi sangat intim dengan seorang pria yang tidak dapat ia kenali. Itu karena posisi pria tinggi itu memunggungi arah kamera.


Tanpa banyak berkata-kata, Jeffin melangkahkan kaki panjangnya menuju arah pintu utama Mansion. Ia ingin menghampiri sang istri yang ia ketahui sedang bersenang-senang.


"Tuan!" Seru asisten Jeffin yang mengikutinya.


Langkah sang asisten pun terhenti, saat mendapatkan lirik tajam penuh peringatan, yang menandakan sang tuan muda tidak ingin di ikuti atau di kawal.


"Tap …."


Ucapan pria berwajah tampan itu untuk menghentikan sang tuan muda terhenti, saat pria yang sekarang dalam pengaruh amarah itu, sudah melajukan mobil mewahnya.


"Sial! Apa tuan muda lupa dengan traumanya?" Gumam pria itu.


"Hanya karena gadis itu, dia sanggup menghilangkan rasa takutnya," lanjutnya lagi dengan menghela nafas frustasi.


………….


Jeffin kini sudah berada di sebuah taman hiburan, yang semakin dipadati oleh pengunjung pada waktu mulai malam hari. Sedangkan sang istri sudah berada di sana sejak 3 jam yang lalu.


Sebelum keluar dari mobil mewahnya, Jeffin meriah sebuah jaket kulit warna hitam di kursi penumpang belakang.


Ia mengenakannya dan juga memakai sebuah topi pun masker yang warnanya senada dengan pakaian yang ia kenakan.


Jeffin pun keluar dari mobil dengan penampilan serba hitam-hitam. Berjalan ke arah pintu masuk dan mengikuti prosedur untuk bisa memasuki area taman hiburan yang sangat terkenal di kotanya.


……


Kini pria dengan wajah dingin di balik masker hitam, terus berjalan berbaur dengan kerumunan. Sesuatu hal yang paling ia benci, namun demi menenangkan rasa panas yang mulai menjalar di seluruh tubuhnya, ia rela menerobos rasa trauma dan hal yang ia benci, demi sang istri kecilnya.


Mata tajam itu, terus mengintai kesana-kemari mencari keberadaan istri kecilnya, ia berada di lokasi terakhir sang istri. Berdiri di bawah sebuah wahana permainan.


Tatapannya pun memulai mendongak, mencari keberadaan sang istri di tengah-tengah orang yang menaiki wahana tersebut.


Nihil. Ia tidak menemukan istri mungilnya di sana, ia pun meneruskan langkah dengan mata kelam itu tetap mencari keberadaan — Catherine.


……


Disisi lain.


Catherine kini sedang menikmati sebuah es krim di salah satu stand di sana, ia terlihat begitu ceria dan terlihat begitu menawan dengan tawa lepas yang terus menerus ia pamerkan.


Beberapa pria muda dan dewasa memperhatikan gadis imut itu dengan tatapan penuh kekaguman dari jauh ataupun dekat.


Namun mereka harus menelan rasa kagum itu, saat sosok pria yang sejak tadi mengawasi Catherine, memberikan peringatan kepada mereka dan mengatakan kalau — Catherine adalah miliknya.


Pria rupawan dengan penampilan gagah itu, masih setia mengikuti dan memantau gadis yang mengklaim adalah miliknya. Dengan sesekali mengambil gambar gadis tersebut dan juga merekam kegiatan menggemaskan — gadisnya.


"Tuan, Jeffrey!" Seru seorang seorang pria yang mengenakan setelan layaknya seorang pengawal.


Pria pemilik mata grey teduh itu, menoleh sejenak, lalu kembali memantau sang gadis.


"Ada apa," sahutnya datar. Seakan tidak menyukai gangguan dari sang pengawal.


"Nyonya, meminta anda menemuinya, tuan," lapor pria di belakangnya dengan perawakan tinggi.


Pria dengan tubuh ideal itu pun berpaling dengan wajah penuh kekesalan, mata yang tadinya berbinar bahagia kini terlihat menajam.


"Katakan, aku akan segera kesana," ucapnya singkat.

__ADS_1


Tanpa menatap pengawalannya, ia terus memantau keberadaan Catherine dan pria itu tidak ingin kehilangan jejak gadisnya.


"Tapi, tuan. Ini tentang keadaan nyonya," sela pria bertubuh kekar itu.


Pria misterius itu pun segera memalingkan wajahnya, bertepatan Catherine menjauh dari penjual es krim tersebut dan berjalan memasuki kerumunan antrian.


"Apa yang terjadi?" Tanya dengan wajah terkejut.


"Nyonya, kembali masuk rumah sakit tuan," terang sang pengawal.


Pria tampan itu terlihat terkejut dan terdiam sesaat di tempatnya, ia memutar tubuhnya untuk melihat keberadaan — Catherine.


"Kemana dia," ucapnya kebingungan.


Matanya pun mengelilingi tempat itu, untuk mencari keberadaan Catherine, ia juga berlari mendekati tempat Catherine berada tadi.


"Kemana perginya, gadisku?" Tanyanya pada dirinya sendiri dengan wajah ketakutan.


"Cathy?! Gumamnya dengan suara yang terdengar serak. Seakan kehilangan sesuatu hal yang sangat berharga.


Ia terlihat kesana-kemari mencari keberadaan Catherine, ia bahkan menanyakan kepada orang-orang yang tidak ia kenali.


"Akh! Ini semua karenamu. Aku kehilangan jejak gadisku," bentaknya kepada sang pengawal, yang terlihat kebingungan dengan tingkah sang tuan muda.


"Tuan, kita harus segera ke rumah sakit," timpal pengawal pribadi tersebut.


Pria rupawan itu pun hanya bisa mengacak rambutnya frustasi dan menghela nafas panjang, ia mengulangi lagi untuk mengelilingi segala area di sekitarnya, namun ia tidak juga menemukan keberadaan — Catherine.


"Aku pasti, akan segera menemukanmu lagi," ujarnya dengan yakin.


Setelah itu ia pun meninggalkan area sekitar wahana permainan dan berjalan mendekati parkir di ekori oleh sang pengawal pribadi di belakang.


……..


"Kemana, gadis nakal itu?" Tanya dalam hati yang kini berdiri di sebuah biangLala berukuran besar. Ia berkacak pinggang di sana dengan menghela nafas jengah. Erangan kesal pun tak luput keluar dari mulutnya.


"Awas, kau gadis nakal," erangannya dengan pandangan mendongak tinggi keatas menatap biangLala di depannya.


Hingga mata tajam itu kini menyipit menghasilkan kerutan di sekitar kelopak matanya, ia pun semakin lekat memperhatikan objek yang sama persis dengan istri kecilnya.


Jeffin pun mengerang tertahan, saat melihat istri kecil di atas sana seorang diri, menikmati permainan tersebut dengan wajah bahagia. Pria itu juga dapat mendengar teriakkan sang istri dengan suara begitu nyaring dan disusul tawa lepas.


Ia pun kini mendekati pintu untuk memasuki area wahana tersebut, berniat menunggu sang istri dan segera menariknya keluar dari sana.


"Apa, dia tidak merasa ketakutan?" Tanyanya pada dirinya sendiri.


Ia begitu ngeri sendiri, melihat benda raksasa itu, berputar di atas sana dan ia terlihat khawatir melihat sang istrinya berada di sana.


"Hey!" Sentak Jeffin, kepada sang penjaga permainan tersebut.


"Iya, tuan," sahut penjaga itu dengan raut kebingungan.


"Hentikan, permainan sialan itu!" Perintahnya dengan pandangan ke atas.


"Tidak, bisa seperti itu tuan, baru beberapa kali putaran," sahutnya dengan wajah tidak suka akan perintah — Jeffin.


Penjaga itu, tidak mengenali sosok pria berpengaruh di kota tersebut, kalau ia tahu sudah di pastikan, pria lancang ini akan gemetar ketakutan.


"Hentikan, kataku!" Gertak Jeffin lantang.


"Hey, tuan. Memangnya anda siapa berani memerintahkan," sungut pria di depan Jeffin.


"Aku, akan menghancurkan tempat ini, kalau sampai terjadi sesuatu kepada istriku," gertak Jeffin kembali.

__ADS_1


"Cih! Dasar pria gila," umpat pria tersebut.


Jeffin yang tak mendapatkan pelayanan terbaik, merasa tersinggung. Ia pun mencoba menahan rasa marahnya. Sekarang adalah membawa pergi sang istri kecil.


Pria dengan pandangan lekat keatas, terus memantau sang istri yang begitu menikmati permainan tersebut. Ia terus mengawasi benda raksasa itu, takut akan terjadi sesuatu dan melukai sang istri.


Namun pikirannya kini menjadi kenyataan, ketika secara tiba-tiba, benda berputar itu padam dan berhenti.


Jelas saja Jeffin membolakan mata kelamnya dengan sempurna. Apalagi posisi sang istri kini berada di paling puncak.


"Apa yang terjadi?! Bentak Jeffin yang begitu tak terkontrol.


Sambil terus mengawasi isterinya yang kini mencoba meminta bantuan dengan suara yang hampir tak terdengar.


Terjadilah keributan di area tersebut, membuat orang-orang di atas wahana tersebut menjadi ketakutan dan panik, termasuk Catherine, yang baru menyadari dirinya takut dengan ketinggian.


"Tolong!" Teriaknya yang sedang berada di paling atas.


"Lusi!" Teriak Catherine dengan suara kesakitan. Karena tenggorokan begitu kering dan sakit.


"Brengsek! Lakukan sesuatu sialan," amuk Jeffin kepada para petugas area permainan.


"Aku, akan menghancurkan semua ini. Karena kalian, istriku menjadi ketakutan. Cepat, turunkan istri, brengsek." Jeffin begitu kesetanan mengamuk para petugas area permainan itu dengan mengumpat, bahkan memukuli pria tersebut.


"Hey, hentikan. Apa yang kau lakukan, dasar pria tidak tahu aturan," sentak salah satu petugas yang terlihat lebih unggul dari segi usia dan pengalaman.


"Seperti, tuan muda Abraham saja, dapat menghancurkan tempat ini," celetuk salah satu dari mereka dengan tawa remeh.


"Kurang ajar. Cepat turunkan istri, sialan," bentak Jeffin sekali lagi, ia masih mengenakan topi dan maskernya, sehingga tidak dapat dikenali.


"Minggirlah," lancang salah satu penjaga tersebut.


Tubuh Jeffin yang di dorong kuat, karena menghalangi jalan mereka untuk melakukan sesuatu, namun kelima pria itu terlihat santai.


"Aku, akan melenyapkan kalian," gumamnya dalam hati.


"Tuan!" Seru asistennya yang membawa beberapa anak buahnya.


"Hancurkan tempat ini, sekarang juga. Dan … selamat istriku dulu," perintah Jeffin tegas dan di iyakan sang asisten.


Jeffin kembali melihat ke atas, dimana istri kecilnya semakin terlihat pucat.


"Cepat! Selamatkan istriku, sialan," hardik Jeffin dengan wajah penuh khawatir.


"Baik, tuan Abraham!" Sahut para anak buahnya.


Para penjaga itu pun, terlihat terpengarah dengan ucapan asisten pribadi Jeffin.


"J-jadi, dia tuan muda Abraham?" Bisik penjaga tersebut.


"Habislah, riwayat hidup kita," sela salah satu penjaga tersebut.


"Sebaiknya, kita segera menyelamatkan istrinya," sahut ketua tim mereka.


Jeffin terus meneriaki para penjaga dan anak buahnya, untuk segera menurunkan sang istri, Jeffin bahkan menginginkan sebuah helikopter.


Pria itu seakan kehilangan kewarasannya, melihat wajah pucat sang istri dan juga tubuh yang ketakutan.


"Cepatlah, turunkan istriku bedebah," bentaknya dengan mengusap wajahnya yang terlihat frustasi.


Sedangkan, Catherine masih berusaha untuk tenang, tapi … rasa trauma itu kini menghantuinya, membuat Catherine deg-degan.


"Tenanglah! Aku, pastikan akan menyelamatkanmu."

__ADS_1



__ADS_2