
Cuaca cerah kini menghangatkan sebagian wilayah di salah satu pedesaan terindah di kota Swiss. Pemandangan begitu menakjubkan membuat hari-hari — Catherine menjadi indah dan menyenangkan.
Kini keadaan kandungan wanita itu sudah membesar. Kini, kehamilan Catherine memasuki bulan terakhir. Ia hanya menunggu hitungan hari untuk menyambut kelahiran kedua putra dan putrinya.
Yah! Catherine sudah mengetahui jenis kelamin kedua anak kembarnya, yang ternyata ia memiliki satu pasang anak kembar.
Betapa bahagianya seorang Catherine, saat melihat sendiri hasil USG yang khusus disiapkan sang ibu mertua di villa itu yang dilengkapi oleh persiapan untuknya dan persalinan kelak.
Hari ini Catherine sedang melakukan senam hamil di halaman belakang villa tersembunyi mommy Margaretha. Ia ditemani oleh pelayan dan seorang suster wanita muda yang sudah diuji kejujurannya.
Mommy Margaretha sengaja menyiapkan seorang suster dan dokter, agar dia tidak terlalu khawatir oleh kondisi menantu juga cucu-cucunya.
Oleh sebab itu ia menyiapkan semua kebutuhan Catherine dan melengkapi alat kesehatan di sana dari jauh hari sebelum memasuki — kelahiran.
"Cukup, sampai di sini nyonya muda. Kita akan melanjutkannya kembali besok," ujar sang suster muda.
Wanita muda berusia 26 tahun itu, membantu Catherine berdiri dan berjalan ke arah sofa. Kehamilan anak kembar, mempengaruhi gerakan Catherine akibat perutnya yang, semakin membesar dan juga bagian kedua telapak kakinya membengkak. Tubuhnya pun mengalami perubahan yang begitu drastis. Yang semula bertubuh mungil kini berubah 10 kali lebih besar.
Namun ia masih begitu terlihat cantik dan semakin menggemaskan dengan kedua pipinya yang mengembang.
"Terimakasih!" Ucapnya tulus. Saat sang suster menyerahkan segelas jus strawberry kepadanya.
Sang suster hanya tersenyum, ia segera berjongkok di depan kedua telapak kaki Catherine yang, membengkak. Untuk melakukan perawatan khusus.
"Tidak, perlu melakukan itu," tolak Catherine yang merasa sungkan.
"Tidak mengapa, nyonya. Ini sudah tugas saya," sahut sang suster cantik itu.
Catherine pun hanya bisa terdiam, ia mengerucut bibirnya yang terlihat semakin mungil. Sambil meneguk segelas jus strawberry yang terletak di atas meja sofa.
"Semoga, kelahiran anda berjalan lancar nyonya!" Seru sang suster, memulai pembicaraan setelah lama mereka terdiam.
Catherine yang menikmati pijatan suster itu, merasa ingin tidur, tapi mendengar seruan ramah, Catherine pun menjawab.
"Semoga," sahutnya sambil mengelus perutnya yang mendapatkan reaksi dari kedua janin kembarnya.
__ADS_1
"Mereka, akhir-akhir ini begitu aktif," sela Catherine yang begitu bahagia mendapatkan reaksi tendangan halus dari salah satu dari janinnya.
"Berarti, mereka sehat dan sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anda," balas sang suster dengan tersenyum.
"Sepertinya, begitu," sahut Catherine yang tersenyum semakin lebar.
"Mereka, juga pasti merindukan daddynya. Karena, meskipun masih di dalam kandungan, mereka akan merasa sentuhan seorang, daddy." Tanpa melihat berubah wajah — Catherine, sang suster terus menyinggung soal sosok daddy, yang berusaha Catherine lupakan hingga kini pun ia berhasil.
Tapi, ia tiba-tiba di sadarkan oleh ucapan suster muda di hadapannya, yang mengatakan soal ikatan batin antara seorang ayah dan anak.
"Daddy?! Catherine membeo, sembari mengelus perutnya. Tiba-tiba tendangan kuat ia rasakan dari kedua janinnya. Bahkan keduanya melakukannya cukup lama. Membuat Catharine mengeluh nyeri dan ngilu, akibat gerakan aktif kedua janinnya.
Segera suster itu membantu Catherine, dengan terus mengajak dua janin aktif di dalam perut — Catherine berbicara.
"Coba, anda mengajak mereka berbicara nyonya," pinta sang suster, lantas meninggalkan Catherine ke arah, kamar perawatan.
Catherine termenung sesaat. Hatinya kini mulai resah dan gelisah. Matanya yang semula berbinar bahagia, kini berubah berkaca-kaca akibat kejadian 7 bulan yang lalu kembali menghantui hati dan pikirannya.
Kejadian yang membuat perasaan dan hatinya terluka dan membeku. Ia berharap tidak akan pernah bertemu kembali dengan sosok pria kejam itu.
Meskipun ia harus berbuat kejam dengan menjauhkan anak-anaknya kelak dari sang daddy, Catherine tidak akan pernah peduli.
"Sayang!" Serunya, sambil mengelus-elus perutnya yang terlihat mengencang.
"Maafkan, mommy yang harus memisahkan kalian darinya," ucapnya pelan.
"Mommy, tidak ingin kehilangan kalian. Mommy, hanya memiliki kalian berdua untuk semangat hidup, mommy,"
"Kalian tidak akan membutuhkannya, selagi ada, mommy di dalam hidup kalian."
"Mommy, berjanji, akan menjadi seorang, mommy dan daddy untuk, kalian."
"Menjadi, pelindung dan mendampingi kalian untuk selamanya."
Catherine terus berkata lirih sambil mengelus-elus perutnya, yang mendapatkan respon halus dari kedua, janin kembarnya secara bergantian.
__ADS_1
Di tengah tangisan haru itu, sang suster, merekam kejadian di depannya dan mengirimkannya kepada seseorang di seberang sana.
Suster muda itu, tersenyum puas, saat mendapatkan sebuah pemberitahuan sebuah bukti transfer sejumlah uang di nomor rekening miliknya.
Wajah wanita tersebut menatap ke arah Catherine yang masih asyik mengelus perutnya. Wajahnya terlihat begitu bahagia dan ia tidak akan menyia-nyiakan sumber penghasilannya ini, sebagai Informa mendadak untuk seseorang.
"Ternyata, sangat mudah mendapatkan uang dari orang-orang kaya," batin suster muda itu.
……….
"Dasar, tidak berguna!" Pekik seorang wanita cantik dengan tubuh semampainya, yang menatap wajah para anak buahnya dengan — tatapan tajam dan wajah suram.
"Sabarlah nak!" Timpal tuan Brown kepada putrinya itu.
Samantha tidak mendengarkan seruan sang daddy, ia lebih memilih melimpahkan amarahnya kepada para anak buah sang daddy.
"Percuma, kalian dibayar mahal. Kalau hasilnya hanya tangan kosong," hardik Samantha.
"Aku, hanya menginginkan keberadaan wanita murahan itu!" Teriaknya kali ini, sambil melemparkan semua barang-barang milik sang — daddy.
"AKU HANYA MENGINGINKANNYA, AKH! DASAR, KALIAN PAYAH!" Amuk Samantha yang tidak terkendalikan.
Tuan Brown hanya bisa menyaksikan kelakuan arogan putrinya itu, yang sudah tidak terkendalikan. Percuma menjelaskan kepada putrinya yang sangat kesulitan, menemukan keberadaan istri kedua — Jeffin.
……….
Sementara Jeffin kini, telah berada di dalam mobil untuk menuju ke kediaman Abraham.
Sudah lama dirinya tidak berkunjung kesana, dimana banyak terdapat kenanga indah dan pahit bersama istri — keduanya.
Jeffin ingin mencari sesuatu di sana, sekaligus bernostalgia dengan kenangan istri kecilnya. Jeffin masih mengingat semua tingkah menggemaskan istrinya itu dan juga pendirian sang istri kedua yang kekeh untuk melayaninya.
Jeffin tersenyum seorang diri, mengingat kembali masa-masa itu. Seandainya peristiwa malam itu tidak terjadi, mungkin istri kecilnya masih berada di sampingnya dan kini dirinya akan menyambut kelahiran kedua buah hatinya itu. Dan … tentu saja, ia tidak akan kehilangan salah satu dari ketiga calon bayinya.
"Seandainya, waktu bisa diputar kembali, aku hanya menginginkan kejadian itu tidak akan pernah terjadi. Dan salah satu dari mereka masih berada di antara kita," batinnya penuh penyesalan.
__ADS_1
Hay! mampir lagi yuk di karya teman Uma ☺️