
"Aku, dengar kau menikahi seorang gadis desa?" Sosok pria maskulin dan gagah bertanya kepada sahabatnya yang sedang sibuk, memeriksa beberapa lembaran berkas.
"Bukan, urusanmu," ketusnya dingin.
Pria yang baru saja datang itu dan tanpa basa-basi melayangkan pertanyaan kepada sahabatnya. Ia hanya menampilkan senyum cibiran sambil mendudukkan dirinya di atas sofa mewah.
Jeffin tidak mengindahkan kedatangan sahabatnya itu, ia juga tidak heran, kalau tiba-tiba pria itu memasuki ruangan nya tanpa permisi.
Pria pemilik mata teduh dan wajah bersahaja itu, terdengar terkekeh lirih, melihat wajah frustasi sang sahabat.
"Ck! Kau senang melihatku seperti ini?" Sela Jeffin tanpa melihat ke arah sahabatnya.
Kekehan sahabatnya itu, kini berubah tawa ejekan melihat wajah kesal Jeffin. Pria yang bernama — Kenzie Jeffrey itu bangkit dan mendekat kearah kursi kebesaran sahabatnya. "Bukankah, itu hal yang bagus untukmu? Secara, kau sudah menahan segala hasrat mu selama lima tahun, aku tahu menderita mu, bro," timpal Kenzie sambil menepuk pundak lebar Jeffin.
Jeffin hanya mendelik kesal dan menyingkirkan tangan Kenzie kasar dari pundaknya.
"Kau tahu sendiri, aku begitu menjaga hati dan tubuhku demi istriku tercinta," Seloroh Jeffin dingin.
"Aku, dengar-dengar… dia seorang gadis remaja, polos dan cantik. Aku, tidak yakin kau bisa menahannya," cetus Kenzie dengan tawa usilnya.
"Cih! Itu tidak akan terjadi. Aku, tidak akan menyentuh tubuh murahannya," sahut Jeffin sengit.
"Why? Kenapa kau begitu membencinya? Dan, dari mana kau tahu kalau dia wanita murahan? Bisa saja dia seorang gadis terhormat. Apalagi masih gadis seratus persen," cerca Kenzie dengan mata yang naik turun menggoda Jeffin yang terus memperlihatkan wajah kesalnya.
"Berhentilah, menanyakan. Aku, muak," sentak Jeffin jengah.
"Darimana, kau tahu kalau dia murahan? Apa, kau sudah memeriksanya?" Tanya Kenzie usil, yang tidak mempedulikan tatapan mata tajam Jeffin.
"Kau, tidak penasaran dengan tubuhnya? Sebaiknya, kau memeriksanya terlebih dahulu kehormatannya, sebelum mengatakan istri kedua kau seorang murahan," pungkas pria berwajah menyenangkan itu. Pria yang merupakan seorang pengusaha sukses yang berusia, 35 tahun dan masih betah hidup menyendiri.
"Cih! Omong-kosong, dan itu tidak akan terjadi," sahut Jeffin yang terus melakukan pekerjaannya, tanpa memperdulikan sahabatnya lagi. Yang menertawakan dirinya.
"Jangan, terlalu kaku dan jual mahal dengan istri kecilmu, bisa saja kau akan kehilangan akal bila tak menyentuhnya sehari," celetuk usil Kenzie dengan tawa membahana.
"Ck! Menjijikkan," ketus Jeffin dengan ekspresi wajah tidak rela.
"Lebih, baik kau memberikan aku ide agar bisa menyingkirkan, gadis desa itu," timpal Jeffin, menghentikan pekerjaannya dan menatap sahabatnya itu serius.
Kenzie terkejut mendengar penuturan sahabatnya, ia kini menarik alis tebalnya keatas dengan pandangan bingung mengarah kepada Jeffin.
__ADS_1
"Really? Kau, ingin menyingkirkannya? Tidak, ingin merasakannya terlebih dahulu," cerca Kenzie dengan candaan di akhir kalimat.
Lagi-lagi Jeffin hanya bisa mendelik tajam dan berdecak kesal mendengar sahut pria gagah di depannya.
"Menyingkirkannya, lebih baik," gumam Jeffin.
"Apa, kau takut tertarik kepadanya?" Sahut Kenzie dengan mata sebelah berkedip.
"Ck! Sangat tidak mungkin," jawab Jeffin kesal.
"Itu, mungkin saja," sela Kenzie yang duduk di meja kerja Jeffin.
"Aku, jadi penasaran akan sosok istri kecilmu itu, pasti… dia sangat menggemaskan," goda Kenzie dan kembali terbahak saat melihat raut wajah Jeffin.
"Berhentilah, menggoda ku bedebah," pekik Jeffin sembari melemparkan sahabatnya itu pena yang ia genggam.
Kenzie masih terus tertawa dan menghindari serangan Jeffin dengan gerakan elegan dan gesit.
"Kenzie Jeffrey," geram Jeffin kesal.
"Sorry, sorry," ujar Kenzie yang tidak bisa menahan rasa geli nya, membayangkan wajah Jeffin saat menyentuh istri kecilnya.
"Ehem," Kenzie berdehem, guna menghilangkan rasa gelinya, meskipun tetap tawa itu membahana kembali.
"Ck! Dasar pria temperamental," cibir Kenzie.
"Bagaimana, kalau kau memaksanya," pungkas pria di hadapan Jeffin itu.
"Memaksanya?! Tanya Jeffin bingung.
"Ck! Dasar bodoh. Apa, ini efek hasrat mu tidak tersalurkan selama bertahun-tahun hingga membuatmu bodoh," decak pria berwajah teduh itu.
"Kalau, kau menyuruh aku memaksanya keluar dari Mansion, sudah kulakukan," Seloroh Jeffin cuek.
Terdengar decakan kesal dari Kenzie yang memasang wajah jengahnya. "Memaksanya melakukan hubungan …."
"Tidak!" Sela Jeffin yang mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Kenapa? Bukankah, dengan memaksanya dia akan merasa tidak nyaman dan dalam bahaya? Dan akhirnya ia memilih meninggalkan Mansion," sahut Kenzie dengan wajah tegas dan serius.
__ADS_1
Jeffin terlihat memantau sahabatnya tajam dengan pikiran yang menimang-nimang, ide gila sahabatnya itu.
Larut dalam pikirannya, Jeffin tidak menghiraukan sahabatnya yang kini berjalan ke arah pintu ruangannya.
"Lebih, baik kau ikut denganku malam ini," sahut pria itu saat kembali menyembulkan kepalanya.
"Kita, bersenang-senang di bar biasa," sambungnya, saat melihat wajah penasaran Jeffin.
"Okay, aku menunggumu," Seloroh pria itu lagi dan menutup pintu ruangan Jeffin.
Jeffin masih diam membisu, namun tidak dengan isi pikirannya yang kini masih memikirkan ide — Kenzie.
Memaksa Catherine dan menyentuhnya, apa ia bisa? Pria itu tampak meletakkan dagunya di atas punggung tangan yang bertumpuk di atas meja dan sedetik kemudian, senyum licik pun terlihat di kedua sudut bibirnya.
"Baiklah, aku akan melakukannya. Semoga dengan memaksanya, membuatnya menyerah dan pergi menjauh," batin Jeffin.
…………
"Maaf, kalian semua dipecat," ucap seorang gadis cantik yang kini berdiri di hadapan para pelayan di kediaman Abraham.
"A-apa kesalahan kami?" Tanya salah satu dari mereka dengan nada terkejut.
"Aku, merasa kalian sudah tidak pantas berada di sini lagi. Dan … aku hanya menginginkan seorang pelayan yang profesional, yang menutup mata dan telinganya, yang berhubungan dengan urusan pribadi sang majikan." Catherine mengatakan dengan wajah tegas dan tatapan dingin.
"Jadi, mulai sekarang kalian bisa meninggalkan Mansion ini," lanjut Catherine yang melirik ke arah penjaga keamanan mansion.
"Tuntun mereka keluar dari sini," perintah Catherine.
"Baik, nyonya muda," sahut beberapa orang penjaga keamanan itu dengan patuh.
"Kami, tidak terima keputusan anda, nona," protes salah satu pelayan wanita di antara kedua puluh barisan pelayan tersebut.
Catherine hanya bisa diam dengan wajah tenang dan masih bergaya seperti semula.
"Kami, sudah lama bekerja di sini, dan … tiba-tiba anda datang memecat kami? Oh, anda terlalu keterlaluan," lanjutnya kembali dengan suara lantang penuh diskriminasi. Membuat para pelayan lain mengiyakan dan gemuruh perkataan protes pun terdengar.
"Sudah, cukup dengan pembelaan kalian?" Timpal Catherine dengan aura tenang namun penuh penegasan.
"Aku, tidak peduli masa kerja kalian disini, tapi… yang aku pedulikan, sikap profesional kalian yang lebih mementingkan kehidupan pribadi majikan, daripada tanggung jawab yang diberikan kepada kalian semua. Jadi, aku ingin mengganti kalian semua dengan yang lebih serius dalam bekerja," tutur Catherine bijak dan tenang.
__ADS_1
"Bawa, mereka!" Perintah Catherine kembali.
Semua pelayan itu pun hanya bisa terdiam dengan memendam rasa marah dan tidak terima. Semuanya pun pasrah untuk meninggalkan kediaman mewah Abraham, tidak terkecuali bibi Beatrice yang sudah bekerja selama bertahun-tahun di sana. Sejak Jeffin berusia 5 tahun hingga kini.