Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 32


__ADS_3

Mobil mewah itu, kini berhenti di depan lobby hotel berbintang dan mewah.


Sosok pria dengan setelan rapi, keluar dari mobil mewah tersebut, saat seseorang pelayan hotel menyambutnya dengan membuka pintu mobil.


Pria dengan setelan jas hitam tiga lapis itu pun, merajuk langkah panjangnya memasuki lobby hotel dan terus melangkah ke arah lift khusus tamu VVIP, tanpa memperdulikan bisik-bisik kagum dari orang-orang yang ada disana.


Jeffin hanya menampilkan senyum tipis, nuraninya benar, ia akan menjadi pusat perhatian semua orang, apalagi dari kalangan kaum perempuan.


Jeffin kini sudah berada di sebuah ballroom hotel yang letaknya berada di puncak hotel tersebut.


Sebuah ballroom mewah dengan dinding kaca tebal mengelilingi ballroom tersebut, yang dapat menyajikan pemandangan menakjubkan kota Swiss dari sana.


Namun bagi Jeffin ia tidak tertarik dengan semua itu, kini tatapan kelamnya menyusuri setiap penjuru ballroom hotel, mencari keberadaan istri kecilnya yang malam ini terlihat begitu mengagumkan dan menggemaskan.


Jeffin hanya terdiam di sebuah sofa tunggal di sudut ruangan, dengan mata kelam itu terus mencari keberadaan istri mungilnya.


Jeffin menulikan segala sapaan dari pengusaha-pengusaha muda yang ingin mencari perhatiannya dan berakhir menginginkan kerjasama.


Ia hanya menyapa sang pemilik pesta dan tanpa menghiraukan gurau para pengusaha itu, Jeffin meninggalkan mereka semua dan lebih memilih menyendiri sambil memantau keberadaan istrinya.


Hingga, indera pendengarannya menangkap suara yang sangat ia kenal, di sisi lain ruangan mewah, dimana beberapa hidangan terlihat.


Jeffin menolehkan wajah ke sisi tersebut. Dan … ia dapat melihat sosok yang sejak tadi ia cari, sedang berbincang hangat bersama seorang pria muda berwajah tampan dan bersahaja.


Kedua garis wajahnya pun, tiba-tiba mengencangkan hingga terlihat kerutan dan garis urat-urat wajahnya. Matanya pun kian kelam menghunus targetnya di sana yang terlihat tersenyum indah.


Membuat gejolak panas membakar semua aliran darahnya, giginya pun saling bergesekan yang menimbulkan bunyi gertakan kuat, yang akan membuat seseorang ngilu apabila mendengarnya.


"Sial! Kemana, mommy, kenapa ia tidak menjaganya," gumamnya yang masih menatap objeknya dengan, rasa panas yang ia rasakan sekarang.


Jeffin segera meraih minuman yang berada di atas meja, di depannya, meneguknya dengan sekali teguk, mencoba membasihi tenggorokannya yang tiba-tiba kering.


Demi menjaga wibawa dan egonya, Jeffin memantau sang istri dari tempatnya, memantau dengan tatapan yang tidak berpaling sedikitpun. Ia, bahkan mengabaikan para klien yang menyapa.


"Kau, disini? Sapa seorang wanita.


Jeffin hanya melirik sekilas dan kembali kepada objeknya, ia tidak membalas sapaan, Clara yang sekarang duduk di hadapannya.


"Aku, tidak percaya kalau kau akan, datang!" Seru Clara.


Wanita itu mencoba mencari topik pembicaraan dengan — pria pujaannya. Meskipun, ia harus mendapatkan tatapan datar dan sikap tidak acuh dari pria di depannya ini.


Clara begitu senang, saat mendengar kasak-kusuk para teman-teman sosialitanya yang melihat Jeffin berada di pesta.


Tanpa menunggu lama, Clara yang sedang berada di toilet segera mencari keberadaan, Jeffin.


Ia sempat dibuat kesal oleh istri kedua pria di hadapan ini. Clara yang melihat Catherine berada di pesta bersama nyonya — Margaretha, mencoba mengintimidasi gadis itu, sambil membawa para sahabat sosialitanya.


Clara, berusaha mempermalukan, Catherine, sebagai wanita murahan yang merebut suami saudarinya. Dan, rela melemparkan tubuhnya itu di atas ranjang seorang — Jeffin William Abraham.

__ADS_1


Sayang sekali, usaha Clara tidak membuahkan hasil. Catherine yang menjadi pusat perhatian semua orang, mampu menyerang balik perilaku Clara. Catherine, mengatakan kepada semua orang. Kalau, pria mana akan betah hidup kesepian di saat dirinya masih membutuhkan kehangatan dan yang paling penting seorang keturunan.


Dan jawaban, Catherine. Membuat para tamu memaklumi kondisi pernikahan kedua, seorang Jeffin William Abraham.


Semuanya pun balik menyalahkan Clara, yang berusaha memberikan pengaruh kebencian terhadap, istri kedua dari marga Abraham.


Clara yang merasa dipermalukan, segera menjauh dari kerumunan. Dan memasuki toilet. Mengeluarkan segala kekesalannya disana.


……………..


"Kau mau minum, lagi?" Tawar Clara.


Wanita itu menatap penuh harap, semoga tawarannya di iyakan oleh Jeffin. Dan … ia akan mengambil kesempatan untuk menjebak pria dingin di depannya. Yang duduk dengan pandangan terus lurus ke depan, tanpa memperdulikannya.


.


"Tidak!" Tolak Jeffin datar.


Jeffin tidak menganggap sedikitpun keberadaan, Clara. Pandangannya tidak ingin meninggalkan pusat objeknya itu. Yang, semakin membuatnya menahan amarah, ketika melihat sang mommy, menyuruh pria muda itu, mengajari istri kecilnya berdansa.


"Apa, kau yakin?" Tanya Clara kembali.


Jeffin tidak menyahuti ucapan Clara, membuat wanita itu terlihat kesal dan raut wajahnya terlihat menahan geraman.


Clara mengikuti arah pandangan Jeffin, dan kekesalannya pun semakin menjadi. Karena, Jeffin mengabaikan dirinya hanya karena seorang gadis miskin dan sebatang kara. Clara pun tidak bisa terima. Ia harus melakukan rencana agar Jeffin, tidak terjerat oleh gadis miskin itu.


Tidak lama kemudian, sebuah senyum licik terlihat menghias di wajahnya yang cantik. Saat melihat, Catherine sedang bersama seorang pria muda tampan. Ia akan mencoba menjelekkan Catherine di hadapan Jeffin, agar pria itu mengetahui perilaku yang sebenarnya tentang — Catherine.


Sambil matanya melirik kerah Jeffin dan istri keduanya.


"Bukankah, gadis itu istrimu?" Sela Clara.


Wanita itu mengarah jari telunjuknya ke arah — Catherine. Sambil menerbitkan senyum licik.


"Lihatlah, dia berdansa dengan pria lain dan berwajah tampan. Bukankah, itu tidak pantas dilakukan oleh seorang istri dari keluarga, Abraham?" Seloroh Clara kembali.


Dengan memperlihatkan wajah dramatisnya dan terus mengompori pria dingin di depannya itu.


"Seharusnya, dia menjaga image, sebagai seorang istri. Bukan, menunjukkan sikap, terbukanya kepada seorang pria lain." Lanjut Clara.


Jeffin pun masih terdiam lebih dalam, namun gejolak amarahnya kian memanas. Genggamannya pun di bawah sana sudah sejak tadi terkepal erat.


"Kau, ingin kesana." Ajak wanita itu penuh harap.


Jeffin diam, tapi pria itu segera bangkit dan berjalan ke arah sang istri kecilnya, tanpa menghiraukan — Clara yang bersungut-sungut.


"Son, kau disini?" Sapa mommy Margaretha.


Wanita setengah baya itu, terkejut saat melihat keberadaan putranya di tengah pesta berlangsung. Mommy Margaretha, sangat mengenali tabiat putranya yang tidak pernah tertarik dengan sebuah party atau kemeriahan.

__ADS_1


Wajah, mommy Margaretha berkerut dalam sambil memindai putranya, yang kini melirik menantunya.


"Hum! Aku, mendapatkan undangan," sahut Jeffin singkat.


Mommy Margaretha hanya ber oh ria menyahuti tanggapan putranya. Ia juga melirik Clara yang berdiri di sisi — Jeffin.


"Selamat malam, nyonya," sapa Clara.


Wanita dengan pakaian seksi itu, menyapa dengan intonasi suara lantang, yang membuat sebagian tamu menoleh ke arahnya.


"Astaga, Catherine. Apa yang kau lakukan!" Serunya syok.


Ia memulai kembali dramanya untuk menjatuhkan harga diri — Catherine.


"Berdansa, apa kau tidak melihat?" Timpal mommy Margaretha.


Clara pun berdesis dalam hati, saat mendengar jawaban mommy — Margaretha.


"Iya, tapi, perlakuannya sangat tidak pantas," cibirnya kepada Catherine. "Seorang, istri tidak pantas melakukan kontak fisik dengan pria lain, apalagi dia istri dari keluarga Abraham," sambung Clara done wajah sok bijak.


Catherine, yang mengetahui keberadaan suaminya, segera menjauhkan dirinya dari pria tersebut. Ia juga bisa melihat tatapan, suram sang suami.


Catherine tidak menghiraukan racauan Clara, ia hanya merasa tersentak saat melihat suaminya yang kini berwajah mengerikan.


Catherine berpindah tempat, berdiri di samping mommy Margaretha sambil menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah suram suami buasnya itu.


"Memangnya, kenapa kalau dia berdansa dengan pria lain. Apa, itu masalah buatmu? Sedangkan, suaminya sendiri tidak keberatan? Iyakan, Jeffin?" Timpal sang mommy dan melayangkan pertanyaan kepada putranya.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, membuat Jeffin mengontrol perasaannya, ia tidak akan menjatuhkan harga dirinya demi seorang gadis mungil. Tidak! Jeffin lebih mementingkan imagenya.


"Maaf, tuan Abraham. Aku, mengajak istri kecil anda yang begitu menggemaskan ini berdansa," sela seorang pria yang berdansa dengan — Catherine.


Jeffin hanya mengangguk dengan wajah datarnya, ia pun mencoba tidak peduli dengan istrinya itu dengan melarikan pandangan kelamnya ke segala penjuru ballroom.


"Tidak masalah, nak. Dia, tidak akan keberatan," timpal sang mommy.


Wanita itu melirik putranya dengan wajah jengah, ia bisa melihat wajah cemburu putranya itu, tapi, karena ego dan gengsinya, ia mencoba menggabaikan.


"Syukurlah." Sambung pria tampan tersebut.


"Jujur, menantu anda sangat cantik, imut dan menggemaskan. Seandainya, aku yang bertemu terlebih dahulu dengannya, aku pastikan akan merasa beruntung," ungkap pria itu.


Yang sukses membuat wajah Jeffin kembali mengerikan.


Catherine yang mendengar ungkapan pria itu menjadi, salah tingkah dengan wajah yang di hiasi merona merah.


yang lagi-lagi, sukses membuat Jeffin, bergemuruh dahsyat. ingin rasanya pria itu, membanting pria lancang ini, yang sudah berkata seperti itu di hadapannya.


Sedangkan, Clara entah pergi kemana dengan membawa kekesalannya, yang sudah di permalukan oleh mommy — Margaretha.

__ADS_1




__ADS_2