
Sudah satu Minggu Catherine berada di lingkungan asing baginya dan kini ia mulai terbiasa hidup di Mansion mewah milik, Kenzie Jeffrey.
Catherine juga mendapatkan limpahan perhatian dan kasih sayang dari seorang Kenzie. Juga pelayanan yang ia dapatkan bak seorang putri raja.
Seperti yang terlihat pagi ini. Wanita itu mendapatkan pelayan yang begitu istimewa. Beberapa pelayan wanita terlihat melayani seluruh tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Terlihat juga seorang pelayan yang senantiasa menyuapinya dan memberikan minuman yang terbaik.
Kenzie sengaja memberikan perintah kepada para pelayan untuk melayani Catherine. Agar wanita itu tidak terlalu gugup menghadapi kelahiran yang kini memasuki masa kesakitan.
Terdengar desis tertahan dari mulut Catherine, saat merasakan kontraksi kembali. Ia mencoba mengikuti instruksi dari seorang dokter terbaik yang disiapkan Kenzie untuknya.
Catherine kini duduk di sebuah balon besar yang akan membantunya untuk melakukan gerakan agar persalinan normal yang dihadapi berjalan lancar.
Di luar sana, Kenzie mengawasi dengan tatapan khawatir. Ia terlihat lebih antusias menyambut kelahiran anak kembar — Catherine.
Pria itu terlihat tegang dan gugup, melihat wajah Catherine menahan kesakitan.
"Tuan!" Seru kepala pelayan di Mansionnya.
Kenzie menoleh dan menatap pria berusia 40 tahun di depannya. "Ada apa?" Tanya yang kembali mengalihkan pandangannya.
"Nyonya Abraham menghubungi, anda," lapor sang kepala pelayan itu.
Kenzie segera kembali menatap pria di hadapannya dengan tatapan penasaran.
"Beliau, ingin berbicara dengan anda," ucapnya sambil menyerahkan ponsel tuanya itu.
"Hm!" Gumam Kenzie dengan raut serius.
Ia lalu memberikan perintah kepada kepala pelayan di Mansionnya agar meninggalkannya sendiri.
"Selamat siang, nyonya Abraham!" Sapa Kenzie ramah.
Terdengar helaan nafas frustasi di seberang sana, juga suara lirih menahan kesedihan.
"Ada apa?" Tanya pria berkacamata itu dengan wajah serius.
" …"
Mendengar jawaban mommy Margaretha, wajah Kenzie berubah kacau. Ia memijat pangkal hidungnya dan menatap ke arah Catherine.
"Hm! Dia mulai merasakan sakit," ucap Kenzie.
" …"
"Anda, tidak perlu khawatir, mereka akan selamat dan sehat," ujar Kenzie mencoba menghibur mommy Margaretha yang terdengar khawatir dan panik.
__ADS_1
"Tenanglah, dia wanita kuat," jelasnya sambil melambaikan tangan kepada Catherine yang mencoba kembali mendapat kontraksi.
" …"
"Baiklah, aku pasti akan mengabari anda dan memberikan gambar mereka," ucap pria tampan itu dengan tersenyum tipis.
"...."
"Hm! Selamat siang,"
"Tut"
Kenzie menghela nafas panjang, saat sambungan telepon dari mommy Margaretha terputus. Ia memikirkan kabar kesehatan sahabatnya yang kian hari makin buruk.
Meskipun demikian ia belum siap, menyerahkan Catherine kepada pria itu. Apalagi, Jeffin belum memutuskan hubungan dengan Samantha Brown. Wanita yang sangat tergila-gila dengan kekayaan dan kemewahan. Wanita yang selalu terobsesi dengan kehidupannya yang elegan.
Di tengah khayalannya, Kenzie dikejutkan oleh pekikan salah satu pelayan yang melayani — Catherine.
"Ada apa?! Tanya dengan wajah panik.
Ia melihat kedalam ruangan khusus digunakan, Catherine untuk persalinan.
Kenzie bisa melihat wajah kesakitan Catherine dan sesuatu menetas dari pangkal pahanya.
Pria itu pun ikut panik dan berusaha menerobos masuk, namun di halangi oleh salah satu perawat.
"Maaf tuan! Anda tidak diizinkan masuk," tegur sang perawat dan menutup pintu dan menguncinya.
Pria itu terlihat tegang, dengan seluruh tubuh berkeringat dingin dan wajahnya pun terlihat pucat, apalagi mendengar teriakan kesakitan — Catherine. Semakin membuatnya deg-degan.
…….
"Sayang!" Teriak Jeffin yang baru saja siuman.
Mommy yang berada di sisinya sejak tadi terkejut dan menyentuh wajah putranya yang berkeringat dingin.
"Ada apa, nak?" Tanya mommy Margaretha sambil membantu putranya minum.
Jeffin tidak menjawab, ia kembali termenung dengan wajah menyedihkan. Tatapan matanya kosong kedepan dan itu sangat membuat mommy Margaretha sedih.
"Nak!" Tegur sang mommy, berusaha mengajak Jeffin berbicara.
Namun seperti satu Minggu ini, Jeffin hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong dan wajah menyedihkan.
Penampilannya pun sudah tidak ia rawat dan gambar fisiknya kini menurun drastis. Bagaimana tidak, Jeffin menolak sesuatu yang akan mengisi perutnya. Hingga ia dilarikan kembali ke rumah sakit akibat kekurangan cairan.
Jeffin benar-benar terpuruk, akibat kehilangan istri keduanya dan calon anak kembarnya. Jeffin mengalami depresi ringan dan tidak merespon ucapan siapapun.
__ADS_1
Bahkan ia tidak menghiraukan kehadiran Samantha yang melayangkan protes kepadanya.
Beruntung, mommy Margaretha segera datang dan menawarkan perpisahan antara Samantha dengan putranya itu. Tentu saja dengan jaminan harta yang tidak ternilai.
Samantha pun menerima tawaran mommy, dan memberikan tanda tangan perceraian hari itu juga.
Kini Samantha dan Jeffin sudah resmi berpisah, meski begitu mommy Margaretha belum siap mempertemukan Jeffin dengan istrinya — Catherine.
"Nak!" Seru mommy Margaretha sambil menyentuh lengan putranya yang terlihat rapuh.
"Lihatlah!" Pintanya sambil mengarahkan ponsel miliknya di depan wajah Jeffin yang terus menatap lurus ke depan.
"Mereka sudah lahir," bisik mommy Margaretha menahan tangisnya.
Berhasil, Jeffin merespon ucapan sang mommy dan menatap sayu kepadanya.
"Lihatlah!" Perintah sang mommy sembari menyerahkan ponselnya yang memperlihatkan dua tangan mungil dengan warna gelang berbeda.
"Selamat, akhirnya kau menjadi seorang daddy. Mereka sepasang, nak," ucap mommy dengan suara serak.
Jeffin hanya diam, sambil menatap lekat kedua gambar tangan mungil di sana. Setetes air mata jatuh dari kelopak mata lesu pria itu dan tidak lama kemudian seluruh tubuhnya bergetar hebat berbarengan dengan suara isakan lirih.
"Anak-anakku," ucap Jeffin dengan tangisan kepedihan sambil mengusap gambar di ponsel sang mommy.
"Mereka sudah lahir, anak-anakku, lahir," racaunya dengan wajahnya yang begitu sulit diartikan.
"Mereka, anak-anakku?" Tanya dengan wajah antusias.
Mommy Margaretha pun hanya bisa mengangguk dengan tangisan perih melihat kondisi putranya yang semakin terpuruk.
"Anak-anakku," tidak hentinya ia bersorak dengan bercampur air mata.
Pria tampan dan gagah itu, terlihat kehilangan kharismanya. Ia seakan kehilangan semangat untuk hidup lama di dunia ini. Hingga ia pernah berencana mengakhiri hidupnya dengan menelan begitu banyak obat penenang, akibat rasa bersalah yang pernah ia lakukan kepada istri keduanya dan menghilangkan nyawa salah satu anak kembarnya.
"Bangkitlah, nak. Demi mereka," bisik sana mommy.
"Perbaiki hidup kamu dan menyambut mereka pulang, kelak," ucap mommy Margaretha dengan air mata terus mengalir.
"Percayalah, mereka akan kembali kepadamu suatu saat nanti," lanjut mommy Margaretha dan segera meninggalkan putranya yang hanya terdiam menatap gambar di dalam ponselnya.
Jeffin hanya bisa meneteskan air matanya, melihat dengan mata kepalanya sendiri sepasang kepalan tangan mungil di sana dan itu mampu membuat perasaannya menghangat.
Tidak lama kemudian, terdengar pesan suara masuk melalui tanpa nomor. Segera saja Jeffin membuka pesan suara itu. Dan tiba-tiba tangisannya pun pecah.
Ia bahkan meraung dengan tangisan seorang pria yang begitu memilukan.
Jeffin mendengar tangisan kedua anaknya yang saling bersahut-sahutan disana. Yang membuat perasaan Jeffin sulit diartikan.
__ADS_1
mampir yuk di Karya bestie Uma, sambil nunggu update buat malam ini