
"Bagaimana?" Mommy Margaretha segera mendekati dokter yang memberikan pertama untuk menantunya itu.
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya ruangan di depannya pun terbuka. Wajah, mommy Margaretha begitu khawatir dan panik.
Ia hanya bisa berdoa semoga, menantu dan calon cucu-cucunya selamat.
Mommy Margaretha tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri, yang gagal memberikan kebahagiaan dan perlindungan kepada menantunya itu.
"K-katakan saja," pinta mommy dengan wajah khawatir.
Apalagi melihat wajah sang dokter yang terlihat pasrah dan memberikan senyum terpaksa.
"Ayo, katakan!" Pekik mommy Margaretha yang merasa deg-degan. Dan ditambah rasa penasaran.
Dokter wanita itu hanya bisa menarik nafas, sebelum menjelaskan kondisi — Catherine dan ketiga janinnya.
Mommy pun menunggu dengan raut wajah semakin terlihat pucat, tubuhnya pun kian lemas. Ia tidak akan sanggup mendengar kabar buruk tentang ketiga, calon cucunya.
"Menantu anda masih, dalam kondisi kritis dan …." Sang dokter sengaja menjeda ucapannya dan melihat reaksi — mommy Margaretha.
"A-apa?! Tanya mommy dengan raut wajah semakin memucat.
Mendengar kondisi menantunya saja sudah membuat, mommy begitu ketakutan dan panik. Ditambah kabar yang belum usai dijelaskan oleh dokter wanita di depannya
"Maaf! Kami tidak bisa menyelamatkan salah satu dari mereka," jelas sang dokter dengan nada menyesal.
Tubuh mommy pun tiba-tiba lemas, mundur kebelakang dan kembali terduduk. Ia begitu terpukul atas kabar buruk yang ia dengar. Hatinya hancur. Sebagai seorang ibu, ia begitu terluka atas perbuat putranya sendiri.
"Akibat, benturan keras mengenai perut menantu anda, membuat ketiga janinnya dalam bahaya dan salah satunya tidak dapat diselamatkan," lanjut sang dokter.
"Maaf!" Tuturnya sambil mengusap pundak mommy Margaretha.
" Semoga kondisi mental menantu anda bisa membantu mempertahankan kedua janinnya," pungkas sang dokter sebelum meninggal mommy — sendiri.
Mommy tidak mengatakan apapun, ia hanya bisa terdiam dengan air mata kesedihan membasahi kedua pipi — wanita anggun itu.
Setelah kepergian, sang dokter. Tangis mommy Margaretha pun meledak tak terhentikan. Perasaan hancur yang sekarang ia rasakan atas apa yang menimba menantunya dan ketiga calon cucunya.
Ia semakin histeris, saat mengingat calon cucunya tidak dapat diselamatkan dan sekarang keduanya pun masih dalam bahaya.
Tangis kesedihan seorang calon nenek itu pun semakin terdengar menyayat hati, siapapun yang mendengarnya.
Mommy harus mengatakan apa, kepada menantunya yang malang, ia harus menjelaskan apa dengan kondisi bayinya yang masih ada dan salah satu janinnya yang tidak dapat diselamatkan.
__ADS_1
…………
Suara langkah lesu itu kini terdengar di salah satu koridor rumah sakit yang sepi. Pria itu berjalan dengan tubuh terpuruk.
Ia berhenti dengan tubuh bersandar di dinding, tubuh tinggi tegap itu kini menunduk sambil kedua tangan berada di kedua lututnya.
Seluruh tubuhnya terlihat bergetar hebat dan terdengar suara isakan tertahan dan menyesakkan.
Tidak lama kemudian, tubuh itu berlutut di sana dengan kepala masih menunduk dan suara tangisan itu semakin menyedihkan.
Tangisan penuh sesal dan kehilangan. Ia kini meluruskan salah satu kakinya dan ia pun memukul kakinya itu dengan membabi buta, di iringi suara tangisan histeris.
Ia pun bangkit dengan dengan tertatih, menghadap dinding beton di depannya. Lagi-lagi ia sengaja menghantamkan kakinya itu dengan kuat disana.
Hingga kakinya pun terlihat mengeluarkan cairan merah. Setelah dirasa puas, ia pun kembali merosot di atas lantai, berteriak histeris atas apa yang baru saja ia dengar dari — percakapan dokter dan sang mommy.
"Maaf! Maafkan daddy." Tangisan pria itu pun, tidak dapat ditahankan. Tangisan penyesalan yang begitu mendalam.
Jeffin yang begitu mengkhawatirkan dan penasaran atas apa yang diucapkan, Catherine tentang — ketiga janinnya.
Jeffin pun dibuat terkejut dan terpukul, saat baru saja tiba dan mendengar semua laporan dokter tersebut.
Ia pun semakin dilanda penyesalan, atas kehilangan salah satu darah dagingnya, atas perbuatannya sendiri yang dengan sengaja — menendang kuat perut istrinya itu.
Jeffin pun segera meninggalkan tempat itu dan berjalan tidak tahu arah, ia hanya ingin melampiaskan segala emosinya. Rasa bersalahnya dan juga kehilangan.
"Akhh! Kenapa. Kenapa aku begitu jahat." Teriaknya dengan suara parau dan wajah penuh dengan air mata penyesalan.
"Maafkan, daddy. Maafkan, daddy yang sudah menyakiti, kalian," racaunya dengan suara isakan pilu.
"Ini semua salahnya yang tidak mengatakan kepadaku. Yah, ini salahnya," gumamnya dengan wajah linglung.
"Aku, tidak akan pernah memaafkannya. Yang sudah membuat, kalian dalam bahaya dan salah satu dari kalian pergi, meninggalkan daddy," pungkas pria itu yang, berbicara sendiri layaknya seorang yang kehilangan akal.
"Aku, tidak akan memaafkannya!"
"TIDAK AKAN!" Teriaknya tiba-tiba.
…….
Di tempat lain, suara tawa kepuasan terdengar di salah satu kamar rawat inap mewah. Kamar rawat yang setara dengan kamar hotel berbintang.
Ketiga wanita yang menjalankan rencana dengan berhasil itu, kini mereka merayakannya dengan, saling berbagi keberhasilan.
__ADS_1
Tawa dan umpatan pun tidak luput dari mulut ketiganya. Bahkan, Samantha yang mendapatkan perawatan serius, begitu gembiranya.
Ketiganya kini menikmati sebuah minimum beralkohol dengan merek terkenal dan mewah.
Beruntung, kamar rawat — Samantha dilengkapi fasilitas mewah layaknya di sebuah resort mewah.
"Aku, berharap. Dia secepatnya mati!" Seru Samantha, sambil menggoyangkan gelas indah yang berisi tidak cukup dari setengah gelas minuman. Ia menerbitkan senyum sinisnya, sembari menyesap sekaligus minumannya.
"Semoga, agar kau bisa menjadi satu-satunya, nyonya di keluarga Abraham," sela nyonya Soraya.
"Hum! Agar kita bisa menguasai seluruh harta dari keluarga, Abraham," timpal Clara dan mereka pun kembali tertawa.
"Ternyata, sangat mudah menyingkirkan, wanita sialan itu," ucap Samantha dengan menampilkan senyum remehnya.
Nyonya Soraya pun mengangguk kepalanya dan Clara hanya menatap wajah cantik — Samantha dengan licik sambil saling melirik dengan, nyonya Soraya.
"Dia, hanya wanita desa, yang minim pengetahuan, jadi… sangat mudah untuk disingkirkan," sahut Clara dengan tatapan lekat ke arah — Samantha.
"Cih! Ternyata hanya wanita kumuh," jawab Samantha menghina.
Samantha pun kembali ingin meriah botol bening yang masih berisi setengah minuman lagi. Nyonya Soraya pun mencegah, anak sambungnya, agar menghentikan perlakuan sang anak tiri.
"Biarkan, aku mencobanya sekali lagi, mom," pinta, Samantha dengan wajah memelas.
"Tidak, sayang! Ingat kau, masih masa pemulihan," cegah nyonya Soraya.
Wajah Samantha pun terlihat jengah. Ia tidak peduli, tetap meraih paksa botol tersebut dari tangan — ibu sambungnya.
"Aku, sangat merindukan teman baikku ini," racau wanita itu yang terlihat setengah mabuk.
"No! Ingatlah, kau mengalami kecelakaan karena terlalu banyak minum, sayang," bujuk nyonya Soraya.
Clara pun hanya bisa terdiam dengan wajah sinis, ia pun begitu muak melihat wajah, sok berkuasa saudara — tirinya itu.
"AKU, TIDAK PEDULI. BERIKAN PADAKU! Hardik Samantha dengan wajah arogannya.
__ADS_1