
"Selamat sore, tuan!" Seru kepala pelayan dengan posisi badan setengah membungkuk.
"Hm!" Balas Jeffin dengan gumaman.
"Apa anda miliki rencana malam ini, tuan?" Sela asisten Alan.
Pria berpostur tegap gagah itu, hanya ingin memastikan kegiatan sang tuan muda. Ia takut melakukan kesalahan meskipun hal kecil saja.
"Tidak!" Jawab Jeffin singkat.
Ia melangkahkan kaki panjangnya menuju pintu utama Mansion, namun setelah berada tiga langkah dari arah pintu, langkahnya terhenti dan pria itu membalikkan badannya, tatapan tertuju kepada sang asisten.
"Kembalilah!" Titahnya dengan nada tak terbantahkan.
Dengan patuh, asisten Alan memberikan kehormatan kepada sang tuan muda, lantas berjalan ke arah parkiran mobil pribadinya.
Jeffin melanjutkan langkah, dengan diikuti kepala pelayan yang berjalan di belakang punggung lebarnya.
Raut wajahnya terlihat begitu lesu dan tidak memiliki minat sedikit pun, ia hanya perlu menenangkan pikiran dan hatinya saat ini.
Rasa rindu pun ia alami kepada kedua anaknya, ia ingin terus bisa berlama-lama di sisi kedua si kembar.
Jeffin menyerahkan jas dan tas kerjanya kepada pelayan lain, juga seutas kain bercorak putih yang seharian terhias di kerah kemejanya.
"Daddy!" Teriakan nyaring berhasil membuat seluruh tubuh pria itu membeku.
"Daddy!" Teriakkan kembali menggema yang berasal dari arah lift.
Jeffin mengalihkan pandangannya dengan wajah terkejut, ia bisa melihat gadis cantiknya sedang berlari ke arahnya.
Wajah pria itu semakin terkejut dan tidak percaya, ia juga secara alami mengucek kedua kelopak matanya.
Jeffin serasa bermimpi, namun ternyata yang ia lihat adalah — kenyataan.
Saat sosok mengenaskan itu semakin mendekat ke arahnya dengan tersenyum indah.
"Daddy!" Seru Andrea dan segera melompat ke atas gendongan daddynya.
Dengan segera Jeffin tersadar dari rasa terkejutnya dan menangkap tubuh mungil putrinya itu.
"Aku, menunggu daddy dari tadi." Si cantik Andrea mengaduh dengan daddynya. Dengan wajah yang begitu membuat hati seorang Jeffin tiba-tiba menghangat.
"Maaf!" Jeffin hanya bisa berucap lirih dan menciumi kedua pipi dan kening putrinya itu.
"Kami, akan tinggal disini," celetuk si cantik Andrea, yang memainkan wajah tampan sang daddy.
Jeffin tersentak mendengar celetukan putrinya, ia lalu menatap tidak percaya kepada wajah imut sang putri.
"B-benarkah?! Jeffin membeo dengan nada terbata.
"Hm! Katakan, mommy kami harus selalu berada di dekat, daddy," jawab si cantik Andrea.
Jeffin semakin terkejut dan kedua kelopak matanya bahkan membola sempurna.
Ia tidak percaya ini, dirinya akan berkumpul kembali dengan — istri dan anak-anaknya.
Suara benda bergerak dan langkah sepatu hak tinggi terdengar. Daddy dan putrinya itu menoleh ke arah sumber suara. Detak jantung Jeffin berdegup kencang saat melihat senyum hangat sang istri juga putranya.
__ADS_1
Perasaan pria itu semakin tidak karuan, saat sang istri makin mendekat ke arahnya.
"Selamat sore!" Sapa Catherine dengan senyum mengembang indah ia berikan kepada suaminya itu.
"Selamat sore, daddy," sambung si tampan Andrew.
"Selamat sore, son." Jeffin membalas sapaan sang putra dan juga istrinya.
Ia menurunkan si cantik Andrea dari gendongan dan membungkuk badannya, memberikan kecupan di kening sang putra dengan penuh kasih sayang.
Si tampan Andrew begitu bahagia mendapatkan perlakuan manis dari sang daddy, ini yang selama ini diam-diam pria kecil itu harapkan.
"Hai," sapa Jeffin canggung kepada Catherine. Ia pun masih terlihat belum percaya diri untuk menatap lebih lama sang istri.
"Mau, daddy gendong?" Tawar Jeffin kepada putranya.
Pria kecil itu tersipu malu dengan kepala menunduk, saat mendengar tawaran sang daddy.
"T-tidak perlu, daddy," tolak si tampan Andrew dengan nada ragu.
"Daddy, pasti lelah," lanjutnya dengan pengertian.
Jeffin tersenyum melihat sifat lembut dan pengertian putranya itu, ia terlihat berpikiran dewasa.
"Tapi, daddy ingin menggendongmu," sela Jeffin yang kini meraih tubuh lemah putranya.
"Daddy, nanti kelelahan," cicit Andrew.
"Tidak, masalah," sahut Jeffin tersenyum hangat.
Pria itu pun mulai bergerak melangkah menuju lift, namun teguran dari gadis kecilnya, membuat langkah panjang Jeffin terhenti.
"Sayang, daddy nanti kelelahan," potong Catherine yang memberikan pengertian kepada putri manjanya itu.
"Tapi, aku ingin daddy," rengek diiringi isakan itu pun terdengar.
"Kemarilah!" Perintah Jeffin yang kini menurunkan setengah badannya, agar putri manjanya bisa menaiki punggungnya.
"Yey, aku menyayangimu dad," sorak si manja Andrea.
"Jangan terlalu memanjakannya, kau pasti kelelahan," timpal Catherine yang terlihat kesal.
"Tidak masalah, yang penting mereka bahagia," sahut Jeffin.
Yang sukses membuat raut wajah Catherine semakin kesal.
Pelayan yang melihat interaksi mereka ikut merasa bahagia, mereka terlihat seperti keluarga harmonis dan bahagia.
Apalagi melihat wajah cerah dan bahagia tuan mudanya yang selama ini selalu terlihat menyedihkan.
"Biar, aku yang membawanya," pinta Catherine kepada pelayan yang membawa jas dan tas kerja suaminya.
"Terimakasih," ucap Catherine ramah saat menerima barang milik suaminya.
Wanita itu tersenyum melihat, kebahagiaan anak-anaknya bersama sang daddy. Ia juga kini menyusul langkah mereka dengan wajah tersirat kebahagiaan dan kelegaan.
…
__ADS_1
Catherine menoleh ke arah pintu kamar mandi, saat mendengar benda itu berbunyi. Wajahnya terlihat merona, saat melihat tubuh suaminya terekspos indah di hadapannya.
Tiba-tiba ia merasa canggung dan merasa tidak nyaman. Wajah pun terlihat malu-malu.
Jeffin pun tidak menyadari keberadaan sang istri di kamar itu, hingga ia dengan pedenya sambil bersiul menuju ruangan ganti.
Tanpa ragu, pria itu ingin menarik lilitan handuknya, tapi ia begitu terkejut saat mendengar seruan gugup dari arah ranjang.
"Hem! Aku, sudah menyiapkan baju ganti buatmu!" Seru Catherine dengan nada terbata dan pandangan mengarah ke arah lain.
Sedangkan Jeffin terlihat melongo, saat melihat keberadaan sang istri di dalam kamar. Ia pun mulai sadar dengan keadaannya saat merasakan udara dingin mulai menusuk permukaan kulit tubuhnya yang terekspos.
Pria itu segera berjalan tergesa-gesa ke arah pintu ruangan ganti dengan wajah merah dan canggung.
"Brak" tanpa sadar, Jeffin menutup pintu ruangan ganti dengan kasar, karena terlalu gugup, berada satu ruangan dengan sang istri apalagi dalam suasana kecanggungan.
"Astaga!" Sentak Catherine terkejut. Ia pun mengusap dadanya.
"Suasana yang begitu mengesalkan," ucapnya lirih.
"Sial! Kenapa aku terlihat begitu pengecut," maki Jeffin kepada dirinya sendiri yang sadar dengan tingkahnya.
"Aku, merasa seperti remaja yang sedang kasmaran, malu-malu kucing saat melihat wanita yang di cinta," monolognya yang masih bersandar di daun pintu ruangan ganti.
"Sungguh, memalukan," kesalnya kepada dirinya sendiri.
Kini netra birunya melihat, sepasang pakaian ganti terletak di atas sofa malas di ruangan itu. Pria itu mendekati dan menatap penuh kagum atas pilihan istrinya.
"Ternyata dia masih mengingat yang aku, inginkan," gumamnya dengan senyum tipis.
"Dia, juga terlihat semakin cantik dan anggun," lanjutnya dengan wajah tersipu hangat.
"Terimakasih Tuhan, atas kesempatan berharga yang masih engkau berikan kepadaku." Jeffin mengutarakan doa tulus dalam hati.
……..
"Ehem!"
Catherine yang sedang berada di balkon kamarnya terdahulu terkejut, saat mendengar deheman berat dari arah belakang.
Ia menoleh dan tiba-tiba raut wajahnya berubah tegang dan canggung.
Ia menggeser sedikit tubuhnya, saat pria yang masih berstatus suaminya berdiri tepat di sampingnya.
"Kemana, anak-anak?" Tanya Jeffin yang memulai percakapan, saat lama terdiam.
Catherine melirik suaminya yang berada tiga langkah darinya itu dan menjawab pertanyaan sang suami.
"Mereka bersama, mommy," jawab Catherine yang mencoba berlaku biasa saja.
Jeffin diam-diam menarik senyum di sudut bibir, ketika merasa ketegangan sang istri.
Kembali mereka terdiam, hanya tarikan nafas yang terdengar di antara keduanya dan hembusan angin senja.
"Maaf!" Seru Jeffin tiba-tiba menghilang kesunyian di antara mereka.
Pria mengubah posisi menghadap sang istri, ia memberanikan diri lebih dekat dengan istrinya itu dan meraih telapak tangan wanita yang masih ia harapkan.
__ADS_1
Catherine pun membalas tatapan teduh penuh penyesalan suaminya, ia juga membalas senyum ketir pria di hadapannya.
"Maaf, atas kesalah yang terdahulu yang aku lakukan dan berikan kepadamu."