
Sinar matahari pagi kini menyapa sosok gadis yang masih terbaring di atas ranjang besar dan mewah. Wajahnya tersirat raut kelelahan dan bibirnya terdapat beberapa bekas luka lecet, bagian dada atas yang terskspos terlihat di penuh tanda merah kebiruan.
Wajahnya terlihat mengkerut, saat diterpa cahaya matahari pagi melalui jendela kaca transparan yang tirainya sudah terbuka dan memperlihatkan pemandangan kota dari sana.
Lenguhan halus terdengar dengan tubuh yang tertarik untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya yang begitu terasa rapuh. Ia mengerjakan sambil menyentuh bagian sisi tempat tidur.
Ia membuka mata indahnya, saat merasakan kehampaan di sisinya, dimana sosok pria buas itu, memeluk tubuh mungil itu sepanjang malam.
Catherine bangkit, terdiam sambil memandangi di sebelahnya, dingin. Itu yang ia rasakan, berarti sudah lama suaminya itu pergi.
Catherine menyadarkan punggung letihnya di sandaran ranjang, memijit pelipisnya yang terasa berat. Ia merasa seluruh otot-otot tubuhnya kaku dan terasa ngilu, seakan selesai melakukan hal yang berat.
Padahal ia menjadi korban kebengisan suami buasnya, sepanjang malam hingga pagi buta, barulah pria dingin itu menyelesaikan kegiatan panas mereka.
Catherine menggulung rambutnya ke atas, sambil memijat tengkuk yang terasa kaku. Ia juga mengerjakan kiri dan kanan.
Ia tidak habis pikir dengan suaminya itu yang begitu buas dan tidak merasa lelah.
Catherine hanya bisa melayani suaminya dalam diam, sambil menahan rasa nyeri di area privasinya. Kedua kakinya pun kini terasa lemas dan bergetar. Seharusnya, pria itu masih berada di sini? Menunggu dirinya bangun dan membantunya ke kamar mandi.
Tapi apa ini, ia meninggalkannya seorang diri di tempat asing baginya. Bukankah, ia merasa sebagai seorang wanita sewaan? Yang setelah puas, maka dengan tidak peka nya meninggalkan wanita itu.
Ada rasa sakit hati yang — Catherine rasakan. Ia merasa dirinya hanya d jadikan sebuah pelampiasan hasrat semata.
Tiba-tiba matanya mulai berkabut, tanda, kalau air di kelopak matanya akan menetes membasahi pipinya.
Sekuat tenaga, Catherine menahan segala rasa perih itu dan mencoba menetralisir perasaan melankolisnya ini.
Catherine menarik nafas panjang dan membuangnya, setelah itu ia pun berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi dengan gerakan menahan sesuatu rasa perih di bawah sana. Dan tungkai kakinya terasa tak bertulang.
"OH Tuhan, sampai kapan menderita ini berlalu," Catherine bergumam lirih.
Ia pun memasuki kamar mandi, ia ingin segera pulang dari tempat asing ini. Tempat yang terlihat begitu mewah dan menyenangkan. Namun, Catherine tidak memperdulikannya. Niatnya kini harus segera pulang.
__ADS_1
…………….
"Selamat pagi, nona." Sapa seorang gadis cantik kepada Catherine.
Catherine yang baru keluar dari kamar mandi di kejutkan oleh sapaan semangat dari seorang gadis.
Alisnya mengernyit heran dengan tatapan mengintimidasi kepada gadis di depannya.
"Kamu, siapa?" Catherine melayangkan pertanyaan dengan tatapan lekat.
Wajah gadis itu pun tertarik dan memperlihatkan senyum manisnya. Ia menunduk kepala sambil memperkenalkan dirinya.
"Perkenalkan. Nama saya, Lusiana Keller, nyonya," jelasnya dengan wajah ceria.
"Saya, adik dari asisten Alan," lanjut gadis itu yang terus memamerkan senyum ramahnya.
"Jadi, kamu adik pria dingin itu?" Sahut Catherine.
"Anda, benar nyonya," sambung Lusi.
Pandangan gadis itu, menilai seluruh tubuh Lusi yang hanya menampilkan wajah cerianya. dan penampilan gadis itu terlihat seperti seorang anak remaja laki-laki.
"Mulai, sekarang saya adalah, asisten anda nyonya." Tukasnya dengan wajah penuh keyakinan.
Catherine terlihat terkejut mendengar penuturan gadis di hadapannya.
"Asisten?! Ulang Catherine memasang wajah syok.
"Hum," gumam gadis itu. "Saya, diperintahkan kakak untuk melayani anda, nyonya," lanjutnya dengan wajah ramah.
"Benarkah?! Tanya Catherine.
Ia begitu syok mendengar ucapan gadis di hadapannya, dengan tatapan menilai penampilan — Lusi.
__ADS_1
"Kakak, memberikan anda pesan. Kalau tuan muda terlebih dahulu pulang." Tuturnya dengan wajah serius.
"Hum! Aku sudah tahu." Sela Catherine yang sedang mencari sesuatu.
wajahnya pun terlihat sendu, bisa-bisanya ia meninggalkannya seorang diri.
Lusi yang melihat nyonya mudanya sedang mencari sesuatu, segera saja ia mengambil Tote bag yang tersimpan di atas meja sofa.
"Nyonya, ini." Gadis itu menyerahkan Tote bag itu kepada Catherine.
"Apa ini?" Tanya Catherine kebingungan melihat Tote bag yang sudah berpindah di tangannya.
"Itu, dari tuan muda." Ujar Lusi ramah.
Catherine mengeluarkan semua isi teta bug tersebut dan ia menegang dan wajahnya berubah merah, melihat model pakaian yang Jeffin berikan.
"Anda, hanya boleh memakai pakaian yang sudah tuan siapkan, nyonya." Jelas Lusi.
"Kenapa dia memberikanku pakaian seperti ini?" Protes Catherine.
Catherine menatap penuh tidak percaya pada pakaian di tangannya yang terlihat begitu terbuka.
Lusi pun menatap pakaian itu dengan wajah salah tingkah, sebuah Tote bag yang terisi penuh pakai wanita yang terlihat seksi.
"Ini, terlihat kekecilan," sentak Lusi.
"Hum! Kamu, benar. Ini terlihat tidak cocok untukku," sahut Catherine.
Ia menghempaskan tubuh lelahnya di atas ranjang, ia tidak menghiraukan pakaian yang sudah tergeletak di atas lantai, ia juga menolak pemberian suaminya yang seluruhnya terlihat terbuka.
"Apa, dia pikir aku seorang wanita murahan. memakai pakaian kurang bahan itu."
Hay, mampir yuk di karya bestie aku.
__ADS_1