
"Darimana, paman tahu kalau aku menginginkan ini!" Seru Catherine dengan mata berbinar.
Mata yang tadinya meredup sedih, kini bersinar cerah saat, melihat sesuatu yang ada di tangan kepala pelayan.
"Seseorang, mengirimkan untuk anda, nyonya," ujar kepala pelayan.
Tersenyum melihat wajah nyonya berbinar, pria setengah baya itu pun menyerahkan gulali yang ada di tangannya.
"Benarkah?! Sahut Catherine yang segera meraih gulali tersebut.
"Coklat!" Pekik Catherine kegirangan.
Ketika sang kepala pelayan tidak hanya membawa beberapa gulali dengan beberapa warna, tapi… juga satu box coklat yang berbentuk lucu.
"Iya, nyonya," jawab sang kepala pelayan.
"Siapa, yang mengirimkannya untuk?" Tanya — Catherine yang hanya sibuk menata cemilan manis di tangannya.
"Saya, juga tidak tahu nyonya. Sepertinya, anda memiliki pengagum rahasia," sahut kepala pelayan sambil melirik ke arah Jeffin yang kini menghunus tatapan tajam ke arah mereka. Dan kedua ibu, anak itu hanya mencibir dengan wajah pongah.
"Pengagum, rahasia?! Tanyanya dengan hidung mengkerut.
"Iya, nyonya. Dia, memberikan semua ini untuk anda. Dan …." Pria berwajah bersahaja itu, menggantung perkataannya dan melirik kembali ke arah — Jeffin.
"Apa?" Tanya Catherine yang juga penasaran sambil menikmati, sensasi manis yang terdapat di gulali tersebut.
"Seseorang, menitipkan ini untuk anda," ujar kepala pelayan pelan.
Ia pun mengambil sesuatu di saku jasnya, selembar kertas kecil kepala pelayan itu perlihatkan kepada — Catherine.
Wanita itu pun menyipitkan matanya, begitu pun, nyonya Soraya, Clara dan Jeffin, ikut mengamati kertas yang sekarang ada di tangan istri kecilnya.
Catherine membaca tulisan yang ada di kertas tersebut, sebuah tulisan konyol menurut — Catherine, ia pun terkekeh geli saat membacanya dan menyimpan kertas itu ke dalam saku dress polos yang ia kenakan.
Tanpa, memperdulikan tatapan lekat, ketiga pasang mata yang hanya berjarak lima langkah darinya.
__ADS_1
Tatapan kedua wanita itu begitu penasaran, saat kembali — Catherine, mendapatkan sebuah hadiah dari seorang misterius.
Sebagai wanita berkelas, tentu nyonya Soraya dan Clara tahu, harga dari bingkisan coklat yang — Catherine terima, dan hanya orang mampulah yang bisa mendapatkannya.
Berbeda dengan tatapan lekat, sosok pria diktator itu, yang kini menggertakkan giginya dengan wajah sudah merah.
Entah mengapa seluruh aliran darahnya memanas hingga ke ubun-ubun, ia tidak suka pria lain mengagumi istri kecilnya, apa lagi memperlakukan spesial.
Jeffin semakin memanas, saat melihat istri kecilnya tersenyum sendiri membaca lembaran kertas kecil di tangan istrinya itu.
"Terimakasih, Paman," sela Catherine yang ingin kembali saja ke dalam kamarnya, itu karena moodnya sudah membaik.
Setelah kepala pelayan itu turun kelantai dasar, Catherine pun memajukan langkanya dengan wajah bahagia, hadiah yang ia terima hari ini membuat perasaan yang tadinya hancur, kini perlahan membaik.
Ia mengabaikan tatapan sinis kedua wanita itu, juga sang suami yang sorot matanya begitu mengerikan dengan kedua telapak tangan saling menggenggam kuat.
Tapi, Catherine masa bodoh dan mengabaikan pria diktator itu sambil menikmati gulali di tangannya.
Namun, semuanya kembali kacau ketika dengan kasar, Jeffin merampas semua hadiah yang ia terima dan membuangnya ke sembarang tempat.
Kelopak mata — Catherine pun hanya bisa terbuka lebar dengan wajah terkejut, pandangannya kini menyapu lantai, di mana hadiah coklat yang ia terima berserakan di atas ubin marmer mewah itu.
Jeffin hanya diam, sedetik kemudian, ia merampas kasar sesuatu yang ada di dalam saku dress yang istri kecilnya pakai.
"Apa, yang kau lakukan." Catherine mencoba mengelak dengan menjauhkan tangan kekar itu dari saku dress-nya.
"Hentikan!" Pekik Catherine yang mencoba mempertahankan kertas tersebut.
Jeffin masih berusaha merebut kertas yang membuat, istrinya tersenyum bahagia dan ia tidak menyukai semua itu.
"Berikan!" Pekik Catherine kembali yang mencoba mengambil kertas yang sudah ada di tangan suaminya.
"Berikan padaku, itu milikku dan kau … tidak berhak, membacanya. Ini tentang privasiku, tuan muda Abraham!" Pekik Catherine emosi, lantas meraih kembali kertas yang ada di tangan suaminya.
"Siapa dia?" Tanya Jeffin dengan raut wajah mencekam.
__ADS_1
"Aku rasa, anda tidak perlu tahu dan mengurusi urusan ku," jawab Catherine menantang sang suami.
Pria itu, semakin tersulut emosi yang tidak bisa lagi ia tahan, ia meraih kasar telapak tangan istrinya dan meremasnya kuat.
"KATAKAN PADAKU, SIAPA YANG MEMBERIKAN INI SEMUA, HAH," teriak Jeffin menggelegar.
Membuat ibu dan anak yang masih berada di sana terkejut, tapi mereka juga begitu senang, saat Jeffin terbakar — emosi.
Sedangkan Catherine hanya diam dengan membalas tatapan tajam suaminya, ia tanpa rasa takut sedikitpun menantang suaminya itu dengan kepala mendongak ke atas.
"Bukan urusan, anda," jawab Catherine dan menarik sekuat mungkin pergelangan tangan yang di genggaman kuat oleh suaminya.
"Berhentilah, mengurusi urusanku, karena, aku hanya sebagai istri pelampiasan saja juga melahirkan keturunan untukmu, bukankah, istri pertama anda yang lebih penting? Jadi… apa yang anda lakukan ini, tuan muda Abraham," pungkasnya dengan mata tajam yang kini sudah berkaca-kaca, bahkan butiran air mata itu kini sudah meluruh.
"Anda sendiri yang mengatakan, kalau aku bukanlah bagian dari urusan anda, dan aku begitu rendah di mata anda, jadi… mari kita hidup dengan urusan masing-masing," lanjutnya dengan suara tertahan.
Menahan rasa sesak di dadanya yang tiba-tiba terasa terhimpit oleh bongkahan batu besar. Catherine menghapus air matanya sambil menarik nafas.
"Biarkan, aku bahagia dengan caraku sendiri dan anda tidak ada hak untuk berada di dalamnya," ungkapnya dengan lirih.
"Mari, kita berbahagia dengan cara kita masing-masing, tanpa saling menyakiti," lanjutnya dengan nada getir.
"Please! Berhentilah, melukaiku dan menyakitiku, yang akan semakin membuat rasa benci itu bertambah dan menghilangkan rasa cinta untuk ... anda. Tatapan mata indah itu semakin berbinar oleh air mata yang juga menetes membasahi pipinya. Nada kegetiran pun terdengar menyayat hati bagi yang mendengarnya.
Namun tidak bagi ketiga orang yang ada di dekat — Catherine yang hanya diam dengan ekspresi wajah datar.
Catherine pun memilih melangkah menuju, kamarnya dengan perasaan sakit. Kenapa ia harus menerima tawaran menggiurkan ini, kalau pada akhirnya ia akan terluka.
Ia pun hanya bisa terdiam dengan pandangan kosong kedepan, membiarkan hembusan angin dingin menerpa tubuhnya yang mungil.
Ia sudah mengambil keputusan untuk kebahagiaan dan ketenangan jiwanya, ia akan meninggalkan tempat penuh siksaan ini, dan memilih hidup kekurangan di tempat asalnya, yang selalu mendapatkan kasih sayang banyak orang.
Catherine membalikkan badannya dan melangkah masuk ke dalam kamar, langkah itu terhenti, saat melihat keberadaan suaminya di sana dengan wajah masih terlihat sangar.
"Layani aku."
__ADS_1
Selagi nunggu update bab berikutnya, mampir di karya bestie Uma yuk☺️🤭