
"Kau yakin ingin melakukannya, sekarang?" Clara bertanya kepada — Samantha. mereka bertiga sekarang berada di salah satu pusat perbelanjaan di kota Swiss, tepatnya berada di salah satu restoran mewah yang memiliki ruangan privasi.
Ketiganya sedang membahas rencana untuk menyingkirkan istri kedua Jeffin. Agar seluruh harta keluarga Abraham tidak jatuh ke tangan pihak lain.
Samantha semakin yakin Ingin menyingkirkan — Catherine segera mungkin, yang membuat suaminya semakin terlena kepada wanita itu.
Sekali lagi, Samantha melihat suaminya itu mencumbui istri kedua dengan begitu mesra. Sedangkan kepadanya ia akan menolak dan beralasan karena kondisinya yang masih belum terlalu pulih. Padahal ia yakin bisa menyanggupi hasrat suaminya itu.
Mungkin karena — usia Catherine masih muda dan sangat cantik, membuat sang suami terlihat begitu menginginkan wanita itu daripada dirinya. Samantha pun semakin was-was, ia ingin agar — Catherine segera menghilang dari kehidupannya bersama sang suami.
"Hm! Kita tidak boleh membuang waktu lagi. Aku, sudah muak melihatnya berada di sana," sahut Samantha dengan tatapan penuh kebencian. Ia masih menggunakan kursi roda untuk beraktivitas sambil melakukan terapi khusus untuk bisa berjalan normal kembali.
Ibu dan kakak tirinya saling melirik dan melemparkan senyum licik, ternyata sangat mudah membuat, wanita yang ada bersama mereka dijadikan sebuah kambing hitam.
"Baiklah. Kita akan melakukannya besok," timpal Clara menyanggupi keinginan adik tirinya.
"Mengapa harus menunggu hari esok? kalau, hari ini masih ada kesempatan untuk menyingkirkannya," imbuh — Samantha dengan wajah penuh kelicikan.
Clara dan ibunya semakin terlihat puas dan saling memberi kode, atas keberhasilan mereka dalam mempengaruhi pikiran — Samantha.
"Baiklah, kita lakukan malam ini," balas nyonya Soraya. Wajahnya pun tampak terlihat serius dan matanya tajam menerawang ke arah depan.
Clara pun terlihat menyeringai, begitu juga dengan Samantha yang tidak sabar untuk menjalankan rencana licik ketiganya untuk menjebak — Catherine.
………..
"Apa, yang dia lakukan sekarang?" Jeffin yang sedang memeriksa berkas, melayangkan pertanyaan kepada — asisten pribadinya.
Asisten Alan pun mengkerutkan wajah, karena bingung. Siapa yang di maksud oleh tuan mudanya itu.
"Maaf, tuan. Siapa yang … anda maksud?" Tanya asisten Alan kembali.
Jeffin menghentikan kegiatannya dan memberikan tatapan tidak suka atas pertanyaan pria rupawan di hadapannya ini.
"N-yonya, Samantha, atau… nyonya …."
"Aku akan memotong lidahmu, kalau kau berani menyebutkan namanya," sentak Jeffin dengan tata mencekam. Memotong ucapan asisten saat ingin menyebut nama istri keduanya itu.
Asisten Alan hanya bisa menelan ludahnya kasar dan menjadi salah tingkah, ia pun hanya bisa mengusap tengkuknya sendiri, melihat sikap tidak jelas — atasannya ini.
"Apa yang dia lakukan, sekarang," Jeffin mengulangi pertanyaannya.
"Nyonya…." Asisten Alan menghentikan ucapannya kembali, saat tatapan buas itu tertuju padanya.
"Beliau, sedang sibuk di kebun Mansion tuan," jawab asisten Alan.
"Hm! Gumam Jeffin saat mengetahui kegiatan istri kecilnya dan tidak menanyakan tentang keberadaan istri pertama.
………
"Kakak, sudah membereskan semuanya?" Samantha kini berada di ruangan keluarga, tidak jauh dari arah tangga menuju lantai atas.
Kini ketiga wanita itu, sedang membereskan semua halangan yang akan menggagalkan rencana mereka. seperti, merusak kamera cctv dan memberi perintah kepada seluruh pelayan untuk kembali ke paviliun lebih awal.
Cuaca di luar pun sedang tidak baik-baik saja, untuk membuat Jeffin segera kembali ke Mansion.
Cuaca badai hujan yang mendukung rencana mereka, untuk menyingkirkan — Catherine.
"Sudah!" Sahut Clara dengan tersenyum licik.
"Dimana, wanita sialan itu?" Kali ini nyonya Soraya yang melayang pertanyaan.
Clara dan Samantha hanya diam, dan menunggu saat — Catherine turun kelantai dasar. Biasanya wanita itu akan turun pada saat waktu makan malam dan mereka pun bersiap untuk melakukan rencana.
"Kau, yakin ingin melakukannya?" Sela Clara dengan wajah serius.
Samantha yang terus menatap tajam ke arah lift, menoleh dan menganggukkan kepala.
"Apa, kau tahu konsekuensinya?" Tanyanya lagi untuk menyakinkan.
"Hm! Bukankah, kita harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan?" Sahut Samantha dengan wajah sangat yakin.
"Pasti kau, akan kembali terluka," potong nyonya Soraya.
"Tidak masalah, selamat aku masih bisa merasakan udara segar," jawab Samantha dengan enteng.
Nyonya Soraya dan Clara pun hanya bisa memutar bola mata mereka dan mencibir ke arah — Samantha diam-diam.
Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka. Catherine keluar dari lift dengan wajah lesu. Ia berjalan ke arah dapur, tanpa memperhatikan sekeliling area lantai bawah.
Catherine merasa begitu lapar, selama masa kehamilan, ia sering dilanda rasa lapar, apalagi ia memiliki tiga janin didalam rahimnya. Membuatnya harus memiliki porsi banyak untuk memenuhi kebutuhan ketiga calon bayinya.
"Sepi?! Gumam Catherine dengan alis mengkerut.
"Kemana, semua pelayan?" Gumamnya lagi sambil keluar dari area dapur untuk mencari pelayan yang sering melayaninya.
Catherine pun berjalan mengelilingi ruangan itu, hingga sampai di dinding pembatas, ruangan makan dan keluarga. Ia dikejutkan oleh panggilan seseorang.
__ADS_1
"Hey! Kemarilah!" Panggil Samantha dengan nada ketus.
Catherine pun menoleh dan ia dapat melihat ketiga wanita itu di sana dengan wajah pongah.
"Cepat!" Bentak Samantha kasar.
Catherine pun tidak mempunyai pilihan lain, selain mendekati ketiga wanita itu. Perasaannya pun mulai tidak nyaman, apalagi suasana Mansion mewah itu sepi dan suasana di luar sana hujan turun bersamaan dengan badai.
"Iya, nyonya," balas Catherine saat berada di dekat ketiga wanita itu.
"Apa, yang kau lakukan dengan lift khusus tuan rumah di sini?" Tanya Samantha berpura-pura tidak mengetahui apapun.
"Apa, kau lupa? Kalau seorang pelayan dilarang menggunakannya?" Sambungnya dengan wajah begitu muak.
"Katakan! Kenapa, kau begitu lancang hah!" Hardik wanita yang berada di kursi roda itu.
"M-maa-maaf, a-aku, dari kamar anda, nyonya. Memeriksa keadaan anda," sahut Catherine mencoba memberikan alasan yang masuk akal.
"Kau, tidak melihat tangga ini? Apa, kau buta? Dasar pelayan pemalas!" Bentak Samantha kembali dengan sifat arogannya.
"Maaf!" Ucap Catherine pelan.
Nyonya Soraya memberikan kode kepada, Samantha, untuk memberikan pelajaran kepada Catherine, sebelum mereka melancarkan aksinya.
Samantha pun menyetujui lirikan kode dari sang ibu tiri, dan senyum licik itu pun terpatri di wajahnya.
"Letakkan, semua ini ke atas!" Perintahnya, sambil memberikan semua tote bag yang berada di sampingnya.
"Kau, mau kemana?" Tanya Samantha, menghentikan langkah — Catherine, saat ingin mendekati lift.
"Ke atas, nyonya," sahut dengan wajah bingung.
"Siapa yg menyuruhmu, melewati lift?" Tanya Samantha, yang sudah berwajah merah.
"Kau, harus melewati ini," pungkas Samantha dan menatap ke arah tangga.
Catherine pun mengikuti arah pandang, sang istri pertama dan ia meneguk ludahnya, saat melihat puluhan anak tangga di sana.
"Cepat! Letakkan itu di kamarku!" Sentak Samantha.
"B-baik!" Jawab catherine gugup.
Catherine pun menaiki anak tangga dengan kedua tangannya penuh oleh barang belanjaan sang istri pertama.
"Cih! Dasar wanita payah," ejek ketiga wanita itu dan tertawa puas akan — pelajaran pemanasan mereka berikan kepada — Catherine.
Ia bahkan beberapa kali terdengar meringis, saat perutnya terasa nyeri atau sakit. Namun Catherine terus berusaha sampai ke atas lantai tiga dengan barang-barang menambah kesulitannya untuk menaiki anak tangga itu.
"Sabarlah, sayang. Kalian harus kuat, oke," gumam Catherine sambil mengusap perutnya.
Setelah mengantarkan barang-barang Samantha, ia kembali ke lantai dasar, ia akan membantu — Samantha untuk kembali kedalam kamar.
Dengan wajah tenang sambil mengusap perutnya yang terasa lapar. Catherine menuruni anak tangga. Hingga kini ia sudah berada di anak tangga menuju lantai dasar.
Catherine tertegun, saat melihat — Samantha, berdiri di barisan kesepuluh anak tangga dengan sendirinya.
Kedua wanita itu entah kemana, meninggalkan Samantha seorang diri berjuang untuk menaiki tangga.
"Nyonya!" Pekik Catherine terkejut. Segera ia bergerak cepat mendekati Samantha yang posisinya sangat mengkhawatirkan.
Catherine tidak melihat senyum licik wanita itu di balik rambut panjangnya. "Waktunya, untuk menyingkirkan mu wanita sialan," batin Samantha.
Sengaja melepaskan pegangannya di pagar pembatas tangga, ketika Catherine sudah berada di dekatnya dan ingin menyentuh tangannya.
"Akh!" Teriak Samantha yang terguling di atas anak tangga hingga ke lantai bawah.
Catherine hanya bisa membolakan kedua kelopak matanya dengan mulut terbuka karena syok. Wajahnya pun menegang.
"SAMANTHA! Teriak suara berat dari arah pintu utama Mansion.
Wajah Catherine semakin menegang, saat tatapan buas pria itu kini tertuju kepadanya yang masih bergeming di anak tangga.
"Tidak! Aku tidak melakukan apapun," ucap Catherine tanpa suara dan gerakan kepala.
"Samantha!" Pekik nyonya Soraya dan Clara.
Jeffin segera meraih tubuh istri pertamanya yang tergeletak tak berdaya di sana, begitu juga dengan kedua wanita itu. Kecuali Catherine yang masih membeku di tempatnya semula dengan wajah syok.
"Aku, tidak melakukannya," ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca.
"Bangun, nak. Bangun," histeris nyonya Soraya yang memulai dramanya.
"OH Tuhan, apa yang terjadi kepada anakku, dia baru saja pulih dan sekarang dia kembali terluka," ujarnya dengan tangisan di buat-buat.
Clara pun mengikuti drama sang mommy, dan melirik ke arah Catherine.
"Sayang, bangunlah!" Jeffin menepuk pipi istrinya, berusaha membangunkan wanita kesayangannya itu.
__ADS_1
"Cepat! Bawa dia ke rumah sakit," sentak nyonya Soraya yang berpura-pura panik.
Jeffin pun segera menggendong istrinya itu dan menatap tajam ke arah istri keduanya dengan wajah mengerikan.
Kini Catherine pun hanya bisa terduduk dengan wajah panik dan tubuh gemetar. Sebelum ia berusaha bangkit, tiba-tiba tangan kekar mencekal pergelangan tangannya dan menariknya kasar.
"Argh!" Teriak Catherine, saat dengan teganya sang suami menyeretnya dari sepuluh anak tangga.
Jeffin bahkan menyeretnya hingga menuju ruangan kosong bengap yang ada di belakang Mansion.
"Tolong, lepaskan aku," pinta Catherine yang menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. "Aku, tidak melakukan apapun, aku tidak melakukannya," ucap Catherine. Mencoba membela dirinya sendiri dan mencoba lepas dari kekejaman suaminya.
"Akhh!" Kembali Catherine berteriak kesakitan, saat Jeffin lagi-lagi dengan kejamnya menghempaskan tubuh mungil istrinya itu.
"KATAKAN! KENAPA KAU MELAKUKANNYA, HAH. KENAPA KAU MELAKUKAN ITU KEPADA ISTRI, KATAKAN,"
"AKH!"
Jeffin begitu murka hingga ia pun berteriak di depan wajah istrinya itu dan tanpa belas kasihan melayangkan kakinya di tubuh mungilnya istrinya yang sangat pas mengenai perut istrinya itu.
Membuat Catherine berteriak kesakitan wajahnya pun tiba-tiba memucat.
Tubuhnya tiba-tiba lemas. Saat cairan merah mengalir deras dari panggal pahanya.
Wajah murka Jeffin, tiba-tiba syok, saat melihat cairan merah itu, ia menegang dengan mata terbuka lebar.
"Sakit! Tolong… selamatkan anakku. Tolong… selamatkan mereka," ucap Catherine dengan suara lirih, tatapannya pun semakin menghitam.
Sedangkan Jeffin semakin syok mendengar perkataan istrinya itu, ia mendadak lemas tak bertulang, saat melihat cairan merah itu semakin banyak.
"Anak? Anak-anakku?" Ucapnya dengan wajah linglung.
Tubuhnya kini meluruhkan di lantai dengan wajahnya semakin syok. "Anakku?" Ucapnya sekali lagi.
Bertepatan suara pekikan wanita dari arah pintu membuat Jeffin tersadar dari rasa syoknya.
"Catherine!" Pekik nyonya Margaretha.
"Nak! Bangun, nak," ujar sambil menepuk pipi menantunya itu.
"OH Tuhan!" Teriaknya syok, saat melihat cairan merah keluar dari pangkal paha menantunya.
"Selamatkan, mereka," gumam Catherine di tengah kesadarannya benar hilang.
"Tidak!" Teriak nyonya Margaretha.
"Bertahanlah, sayang. Mommy, akan menyelamatkan cucu-cucu, mommy," racau mommy Margaretha.
"Bastian!" Teriak mommy Margaretha.
"Iya, nyonya," sahut sopir pribadi mommy Margaretha.
"Cepat, angkat menantuku dan cepat… bawa dia ke rumah sakit," perintah mommy Margaretha setengah membentak dengan wajah panik.
Sopir pribadi sang mommy pun siap untuk mengendong Catherine, tapi tiba-tiba, suara mencekam menghalanginya.
"Jangan, menyentuhnya!" Hardik Jeffin dengan wajah kelam.
"Cepat!" Desak mommy Margaretha yang kini menatap tajam ke arah putranya.
…….
"Plak, plak."
Dengan wajah marah dan kecewa, mommy Margaretha melayangkan tamparan keras di kedua pipi putranya itu.
"Mommy kecewa kepada mu, Jeffin William Abraham."
"Mommy, kecewa dan menyesal pernah melahirkanmu." Dengan perasaan kecewa, nyonya Margaretha mengatakan segala rasa sesaknya atas perbuatan putranya itu.
"Mommy!" Sentak Jeffin dengan tatapan nanar.
"Apa, hah! Apa," bentak nyonya Margaretha.
"Apa, kau sudah puas menyiksanya? Sudah puas, hah!" Amuk mommy Margaretha kembali.
"Ini salahnya, karena tidak mengatakan kepadaku," elak Jeffin yang tidak mau disalahkan.
"Ini salahmu menjadi suami tidak becus dan pecundang."
Mommy Margaretha pun meninggalkan putranya yang hanya terdiam dengan wajah frustasinya disana.
Ia menyusul Catherine yang kini dalam perjalanan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
mampir yuk sambil nunggu update buat malam.
__ADS_1