Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 54


__ADS_3

Jeffin dan istri pertamanya, menoleh ke sumber suara. Di mana — Catherine terlihat berdiri dengan wajah pucat dan tubuh menegang.


Ia yang tidak mampu lagi menahan bobot tubuhnya yang hampir terjatuh, beruntung ia dapat berpegang kembali di daun pintu kokoh di depannya. Namun ia juga mengeluarkan suara keributan, membuat Jeffin dan istri pertamanya terkejut.


"Siapa?" Tanya istri pertama Jeffin. Ia menatap ke arah pintu dengan kelopak mata mengkerut melihat keberadaan wanita cantik di sana.


Sedangkan Jeffin, mulai terlihat menegang dan gugup. Raut wajahnya pun terlihat was-was. Ia berharap, Catherine tidak mengatakan statusnya sebagai istri kedua. Ia pun menatap wajah Catherine dengan tajam, tatapan penuh ancaman.


Catherine hanya membuang pandangannya, dengan air mata menetes, ia secepatnya, menghapus air matanya setelah mendengar sang istri pertama memanggilnya.


Jeffin semakin waspada, saat istri kecilnya itu mendekat. Tatapannya pun kian menajam ke arah istri keduanya.


"Kamu, siapa?" Suara lemah itu, kembali bertanya dengan tatapan bingung.


"A-aku …."


"Dia pelayan. Yah, dia hanya pelayan disini, yang khusus merawatmu," sela Jeffin, memotong ucapan — Catherine.


Keduanya kini saling menatap dengan raut wajah berbeda, Jeffin dengan wajah waspada dengan tatapan mengintimidasi sang istri keduanya.


Sedangkan, Catherine hanya bisa melongo dengan perasaan hancur, mendengar penuturan suaminya. "Pelayan?" Batin Catherine teriris pilu.


"Benarkah?! Sahut istri kedua Jeffin.


"Iya, sayang," jawab pria itu lembut dan kembali memeluk tubuh istrinya, namun tatapannya tetap ke arah Catherine yang diam-diam menitikkan air mata.


" Dia, terlalu cantik, menjadi seorang pelayan. Aku takut, kau akan tergoda dengan kecantikannya."


"Tidak akan! Hanya, kau wanita yang tercantik bagiku, dan aku tidak akan tertarik dengan pelayanan rendahan."


Bagaikan, ditanamkan ribuan jarum di dalam dada, begitu menyakitkan dan menyesakkan, yang sekarang Catherine rasakan atas apa yang dikatakan, oleh suaminya itu.


Tanpa sengaja, Catherine mengusap perutnya, saat merasakan nyeri tiba-tiba, seakan ketiga janinnya merasakan apa yang ia rasakan.


"Kenapa?" Tanya sang istri pertama tiba-tiba.


Catherine menoleh dan menatap wajah bersahaja itu dengan tersenyum canggung, ia terlalu sakit hati melirik pria di samping wanita yang masih terbaring itu.


"Apa, kamu hamil?" Lanjut sang istri pertama, membuat Jeffin dan Catherine membeku dengan raut wajah terkejut.


"T-tidak, nyonya. Aku, hanya mengalami siklus haid pertamaku," sahut Catherine dengan cepat, memberikan alasan yang sangat tepat.

__ADS_1


Ia bisa bernafas lega, saat kedua orang itu percaya, ia tidak akan memberitahukan atas ketiga janinnya kepada sang suami. Dan, keputusan sangat tepat untuk itu, ia tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh calon bayinya.


Di pikiran Catherine saat ini adalah, segera meninggalkan tempat ini, apalagi istri pertama suaminya sudah terbangun dari koma, bukankah ia mempunyai alasan untuk pergi?


"Istirahatlah, kalau kau sakit. Aku, sudah membaik," sela sang istri pertama dengan senyum ramah.


"Baik nyonya, permisi," sahut Catherine dengan mengucapkan permisi.


Tapi, sosok pria di samping sang istri pertama, terus melayangkan tatapan lekat dan tajam, seakan-akan pria egois itu mengetahui niatnya.


……….


Catherine segera berjalan ke arah ruangan ganti, mengambil sebuah koper di dalam lemari, mengeluarkan pakaian yang ia bawa dari desa. Catherine tidak ingin menunda lagi untuk meninggalkan tempat ini.


Ia tidak mau, mereka mengetahui tentang ketiga janinnya, dan mereka merebut ketiga calon bayinya kelak.


"Tidak! Aku, tidak akan memberikannya, mereka adalah anak-anak ku," monolog Catherine, sambil mengusap perutnya yang masih terlihat rata.


Catherine menarik kopernya dengan gerakan tergesa-gesa, ia tidak ingin pria itu mengetahui rencana dan menghalanginya untuk meninggalkan kediaman mewah ini.


"Kau, mau kemana?" Suara berat nan dingin itu, menghentikan langka Catherine.


Wanita bertubuh mungil itu hanya bisa bergeming di tempatnya dengan koper berukuran sedang di tangan, ia hanya bisa memasang wajah pucat, saat melihat raut wajah suaminya yang begitu mengerikan.


Tatapan pria itu begitu menakutkan, wajahnya terlihat menahan gejolak amarah, Catherine pun hanya bisa memejamkan mata kuat, hingga memperlihatkan kerutan di kelopak matanya.


"SIAPA YANG MEMBERIKAN PERINTAH UNTUK MENINGKATKAN, TEMPAT INI. SIAPA, HAH!" Teriak Jeffin menggelegar.


Catherine pun terkejut, refleks melindungi perutnya. Ia hanya bisa diam dengan tubuh kembali gemetar.


"Katakan, siapa," ulang Jeffin dengan kedua tangan berada di pinggang.


"SIAPA! Teriak Jeffin kembali sambil menendang meja hias yang ada di sampingnya.


"Pragg" vas bunga mewah yang ada di atas meja hias itu pun menjadi korban amukan — Jeffin.


"Akhh!" Pekik Catherine. Ia begitu terkejut dengan amukan suaminya, kini tubuh mungil itu bergeser ke samping, saat hampir saja ia terkena pecahan vas bunga.


"Aku, sudah memberikanmu peringatan, kalau kau tidak akan pernah meninggalkan tempat ini," bisik Jeffin kembali menyepit kedua garis wajah istrinya yang sudah tampak merah.


"Apa, yang kau inginkan," timpal Catherine dengan tatapan dipenuhi air mata, ia juga membalas tatapan mengerikan sang suami.

__ADS_1


"Aku rasa, sudah waktunya aku pergi dari sini, bukankah, istri pertama mu sudah bangun?" Ucap Catherine dengan terkekeh pilu.


"Jadi … kenapa aku harus tetap bertahan di sini? Apa, anda sudah tertarik kepadaku? Kepada seorang pelayan rendahan?" Lanjut Catherine yang tertawa getir dengan iringan air mata kesedihan.


Catherine terus tertawa hambar dengan air mata terus mengalir deras, hingga tawa itu bergantian tangisan, tanpa sadar kini tubuhnya sudah merosot ke atas lantai.


"Biarkan, aku pergi," pintanya lirih dengan tatapan berkaca-kaca.


"Biarkan, aku hidup sendiri di desa. Aku tidak akan menuntut apapun, aku akan mengembalikan semuanya kepadamu," lanjutnya yang merangkak ke arah kaki suaminya. Memeluk kaki panjang pria itu dan meminta untuk bisa pergi jauh dari kehidupan pria kejam di hadapannya.


"Aku mohon. Biarkan aku pergi, agar kalian bisa hidup bahagia bersama istri pertama, bukankah dia sudah bangun? Dan, posisiku sebagai istri kedua sementara sudah usai," pungkasnya dengan wajah mendongak ke atas, menatap wajah mencekam suaminya itu.


"Itu tidak akan pernah terjadi, jangan harap kau bisa meninggalkan Mansion ini," titah Jeffin dengan menarik kasar kaki panjangnya yang masih dipeluk oleh istri kecilnya itu, membuat wanita bertubuh mungil terhuyung ke belakang.


"Mulai, sekarang kau tidak perlu meninggalkan Mansion ini dan fokuslah, merawat istriku, karena itu adalah tugasmu sebagai seorang istri kedua dan ingat, jangan mengatakan apapun tentang pernikahan bodoh ini," cerca Jeffin dengan wajah mencekam.


Setelah itu, pria arogan itu pun meninggalkan istri kecilnya dalam keadaan begitu menyedihkan. Ia bahkan tidak merasa tersentuh oleh isakan istrinya itu. Dan memilih kembali kepelukan istri pertamanya. Saling bermesraan dan melepas rindu yang begitu menyiksa selama 5 tahun lamanya.


Sedangkan sang istri kedua, masih terbaring di atas lantai dengan tangisan begitu memilukan. Tangisan yang menandakan dirinya rapuh dan tak berdaya lagi.


Ia jenuh, kecewa dan terluka, ia bingung harus melakukan apa agar bisa terlepas dari jeratan kekejaman suaminya itu. Dari ketidakadilan yang ia terima di kediaman mewah itu.


Catherine bangkit, menghapus air matanya, meraih koper yang tergeletak di di dekat ranjang, berjalan ke arah pintu kamar.


Catherine melewati kamar istri pertama dengan wajah tidak peduli. Ia tidak memperdulikan ancaman egois suaminya itu, ia hanya ingin segera pergi dari sini, mencari kedamaian dan ketenangan buat dirinya sendiri dan juga ketiga calon buah hatinya.


Baru saja ia akan mendekati pintu utama Mansion, kedua mata indahnya melihat beberapa pria bertubuh besar berdiri di pintu megah itu. Catherine tidak peduli, ia terus berjalan mencoba melewati mereka.


Namun langkahnya terhentikan oleh, beberapa pria bertubuh kekar berdiri di hadapannya. "Anda, dilarang keluar dari sini, nyonya."


"Aku, tidak peduli," jawab Catherine dengan wajah datar.


"Maaf, nyonya," sahut salah satu bodyguard Jeffin yang diperintahkan untuk menjaga seluruh pintu yang ada di Mansion.


Pria itu tiba-tiba memukul tengkuk — Catherine yang berusaha untuk keluar dari Mansion Abraham. Semua bodyguard pun tidak punya pilihan lain, setelah menerima ultimatum dari tuan muda Abraham, agar tidak menyentuh istrinya atau berlaku kasar.


"Jangan menyentuhnya!" Peringatan sebuah suara berat dan dingin.


"Aku, akan memotong tangan kalian, kalau kalian coba-coba menyentuhnya," ancamannya dan membawa kembali istri kecilnya menuju kamar dengan sang istri berada di gendongan.


Jeffin meninggalkan istri pertamanya saat wanita itu, sudah terlelap oleh pengaruh obat. Dan tanpa, sengaja ekor mata pria itu melihat bayangan melintas di depan pintu kamar sang istri yang mana pintunya tidak tertutup rapat.

__ADS_1


Jeffin mengikuti istri kecilnya dari belakang dan ia bisa melihat sang istri kecilnya itu, bersikeras untuk meninggalkan kediaman Abraham. "Dasar keras kepala," batin Jeffin tersenyum sinis.


__ADS_2