
Kedua kelopak mata teduh seorang wanita yang berstatus — mommy itu, kini menatap penuh arti kepada, putranya yang baru saja tenang.
Jeffin sejak tadi melakukan tindakan di luar nalar, karena terlalu tertekan oleh kehilangan istri keduanya dan kedua buah hatinya.
Pria itu terus saja mengamuk dan bahkan melukai dirinya sendiri, akibat tekanan batin yang ia alami.
Kehilangan sosok istri dan kedua calon bayinya yang membuatnya mengalami depresi ringan.
Kini, mommy Margaretha menatap dalam wajah lelah putranya yang sembab. Ada rasa tidak rela melihat kondisi putranya itu, tapi. Ia harus melakukan ini semua demi — keselamatan cucu-cucunya dan menantunya.
"Nyonya besar!" Seru orang kepercayaan mommy.
"Hm!" Gumam wanita cantik di usianya tidak muda itu lagi.
"Mereka, sudah meninggal negara ini?" Tanya mommy Margaretha,. Tanpa memandang wajah — bawahnya.
"Mereka baru saja tiba, nyonya," jawab bawahan sang mommy.
Mommy Margaretha mengalihkan pandangannya ke arah samping, di mana seorang pria berusia 30 tahunan keatas membungkukkan badannya.
"Apa, kamu yakin dia membawanya sangat jauh?" Tanya mommy Margaretha kembali.
"Mereka, berada di negara Amerika," jawab pria itu dengan wajah datar.
"Hm! Syukurlah, mereka sudah aman sekarang," gumam sang mommy dan kembali menatap nanar putranya.
"Maafkan, mommy," ujarnya lirih.
Mommy Margaretha juga merasa bersalah atas apa yang ia lakukan, tapi wanita itu tidak punya pilihan lain, untuk melindungi kedua — cucu-cucunya. Melihat perilaku dan sikap putranya yang bisa dimanipulasi, oleh istri pertamanya.
"Apa menurutmu, yang aku lakukan ini benar?" Mommy Margaretha bertanya kepada orang kepercayaannya yang masih setia berada di sisinya itu.
Pria berperawakan tinggi gagah itu, pun menundukkan kepalanya dan menjawab pertanyaan sang nyonya dengan penuh sikap — hormat.
"Semua demi keturunan anda, nyonya," sahut bawahan sang mommy yang bernama — Roy.
"Hm! Kamu benar, ini demi keturunan ku. Aku harus melukai perasaan putraku sendiri," ucap mommy Margaretha dengan nada sedih.
"Tuan muda akan baik-baik saja dengan berjalannya waktu, nyonya," timpal Roy dengan wajah yang masih menunduk, tidak berani mengangkat kepalanya hanya sekedar menatap sang majikan.
"Apa yang kamu katakan benar. Dia, akan baik-baik saja nantinya," sambung mommy Margaretha.
Kini mommy mendekati Jeffin yang masih dalam keadaan obat tidur dosis tinggi, yang disuntikkan oleh dokter pribadi keluarga — Abraham.
Mereka sengaja melakukannya, agar tuan muda Abraham tidak bertindak lebih. Seperti apa yang akan dilakukan pria itu kepada — urat nadinya sendiri.
Beruntung, seseorang dengan cepat mengetahuinya dan menyelamatkan sang tuan muda.
"Maafkan, mommy nak." Bisik mommy Margaretha depan wajah putranya itu dan meninggalkan kecupan di kening.
"Istirahatlah, nak. Semoga esok hari kau akan kembali melupakan semuanya dan hidup normal," gumam sang mommy yang salah satu telapak tangannya mengusap puncak kepala putranya.
__ADS_1
Mommy Margaretha pun meninggalkan putra semata wayangnya itu istirahat seorang diri. Ia harus memikirkan jalan lain untuk kehidupan putranya kedepannya akan seperti apa.
Ia tidak akan membiarkan sang putra dalam keadaan tertekan dan terus terpuruk dalam kesedihan.
Ia akan membuat kembali putranya hidup normal kembali dan bersikap seperti hari-hari sebelumnya.
………..
"Sial, sial, sial." Seorang wanita sejak tadi mengumpat kesal dan frustasi, saat mendengar kabar — hilangnya istri kedua suaminya. Itu, berarti juga mereka kehilangan kesempatan untuk mengambil alih hak asuh kedua anak kembar — Catherine.
"Tenanglah, nak. Bukankah, seharusnya kau bersyukur wanita itu telah pergi jauh," timpal nyonya Soraya, yang begitu jengah melihat Samantha terus bolak-balik di hadapannya.
"Tidak bisa, mom!" Erang Samantha dengan sikap frustasi.
"Why? Apa yang dikatakan mommy benar, bukan?" Sela Clara dengan wajah muak.
"Apakah, kalian tidak berpikir kalau sewaktu-waktu kedua anak itu muncul di hadapan kita," hardik Samantha dengan wajah sangar.
"Apa, yang dikatakan mommy mu benar nak! Tenanglah!" Pinta tuan, mencoba menenangkan sang putri.
"Tapi…dad,"
"Lebih baik, sekarang kau fokus mendapatkan perhatian suami kembali. Karena daddy sangat yakin, wanita itu tidak akan kembali kepada suami kamu," pungkas tuan Brown.
Berhasil membuat putrinya itu tenang dan Samantha menerima ide sang daddy untuk, mengambil kembali perhatian — suaminya.
"Baiklah, dad," sahut Samantha.
Sebagai seorang ayah, ia ingin sang putri mendapatkan yang terbaik dan tentu saja ia, juga tidak ingin kehilangan sebuah suntikan dana khusus dari menantunya itu.
Samantha akhirnya mulai tenang, memikirkan sesuatu cara agar, bisa mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang hangat dari suaminya itu.
Tentu saja sebuah limpahan materi yang tidak pernah ada putusnya yang diberikan oleh suaminya itu. Dan … Samantha merindukan momen itu, untuk berfoya-foya di beberapa klub dan butik terkenal di dunia.
……….
Sementara di belahan dunia lain. Seorang pria tampan dengan postur tubuh idealnya yang dibalut oleh setelan rapi itu kini, menatap penuh dalam sosok wanita yang — terbaring di atas ranjang.
Pagi sudah menyapa kediaman mewah mereka yang terletak di sebuah salah satu kawasan elit di Amerika.
Sebuah Mansion mewah dan megah terbangun di tengah kawasan yang sepi dari hiruk pikuk kendaraan dan keramaian.
Bangunan Mansion megah itu dimiliki oleh — seorang pebisnis muda dan sukses, Kenzie Jeffrey.
Pria dengan wajah rupawan dengan kacamata bening yang menghiasi di wajah tampak terlihat mengerutkan keningnya.
Saat melihat wanita di depannya belum juga sadarkan diri. Ia lebih mendekat, dan menyentuh pipi wanita itu yang terasa hangat.
"Kenapa dia belum, bangun?" Tanyanya kepada seorang perawat wanita.
Perawat yang sedang memeriksa keadaan wanita yang masih terbaring itu, menoleh dan menjawab pertanyaan tuan muda Jeffrey.
__ADS_1
"Sebentar lagi dia akan sadar, tuan," sahut sang perawat sambil undur diri. Saat pekerjaan sudah selesai.
Kenzie pun hanya menganggukkan kepalanya dan kembali menatap wajah terlelap itu dengan wajah tidak sabaran.
Benar saja, tidak lama kemudian, Catherine terdengar melenguh dan menggerakkan sedikit tubuhnya.
Kenzie segera lebih mendekat dan duduk di pinggiran ranjang. Pria itu, menampakkan senyumannya saat melihat mata Catherine mulai mengerjap.
Sejurus kemudian, kedua kelopak mata indah itu pun terbuka lebar. Kenzie dapat melihat wajah kebingungan — Catherine.
"Selamat pagi!" Seru Kenzie, mencoba mengalihkan perhatian Catherine yang kebingungan.
Ia juga bisa melihat ekspresi wajah terkejut Catherine, saat melihat dirinya.
"Minumlah!" Pinta Kenzie menyerahkan segelas air putih kepada Catherine yang masih menatapnya dengan waspada.
"Tenanglah, kau aman bersama ku," tuturnya dengan nada bersahaja.
Catherine meraih gelas yang di sodorkan di depan wajahnya, ia meneguk air itu dengan tergesa-gesa, membuat sebagian air di dalam gelas itu, mengenai pakaiannya.
"Hati-hati," ucap Kenzie halus dan membantu Catherine meletakkan gelas tersebut.
Ia juga menyerahkan sebuah tissue untuk membersihkan bekas tumpahan air di pakaiannya.
"A-anda siapa? Dan aku di mana?" Tanya Catherine yang lagi-lagi menelisik ruangan asing di sana.
"Kau, tidak mengenalku?" Kenzie melayangkan pertanyaan kembali.
Catherine menggeleng dan wajahnya terlihat khawatir dan waspada.
"A-aku, di mana?" Tanya terbata.
Kenzie menghela nafas panjang dan ia menatap wajah pucat Catherine yang ketakutan.
"Aku, Kenzie Jeffrey. Dan sekarang kita berada di Amerika," jawab pria tampan itu.
"A-amerika?! Catherine membeo dengan raut wajah syok.
"Hum! Aku di beri perintah mommy Margaretha untuk membawamu pergi jauh dari negara Swiss," ungkapnya dengan tatapan penuh dalam.
"Mommy?! Sentak Catherine tidak percaya.
"Hum!" Gumam pria berkacamata itu dengan tersenyum tipis.
Catherine membalas tatapan pria di sampingnya yang menuntut jawaban yang bisa membuatnya merasa puas.
Kenzie pun hanya bisa menarik nafas dan menganggukkan kepalanya. "Bersiaplah, kita akan turun kebawah sarapan. Setelah itu, aku akan menceritakan kepadamu."
mampir Yuki gais di novel teman uma ☺️
__ADS_1