Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 43


__ADS_3

"Makanlah," perintah pria rupawan itu dengan meletakkan, sepiring sarapan untuk istrinya.


Pria dengan tatapan tajam itu menyerahkan satu porsi sedang sarapan pagi kepada istrinya. Tidak lupa segelas susu hangat ia letakkan di depan sang istri.


Wanita bertubuh mungil itu, masih terlihat melongo dengan wajah bingung dan mulut sedikit terbuka.


Entah mengapa dirinya merasa aneh dengan perlakuan hangat suaminya ini, padahal kemarin malam dia terlihat begitu murka kepadanya.


"Cepat, habiskan sarapanmu. Setelah ini kau ikut denganku ke kantor!" Sela Jeffin.


Catherine pun memalingkan wajahnya ke depan, dimana sang suami buasnya duduk.


"Ke kantor?" Sentaknya halus dengan wajah syok.


Jeffin tidak menjawab, ia hanya menerbitkan senyum tipis, sangat tipis. Sehingga Catherine pun tidak menyadarinya.


"Dasar, manusia aneh, balok es Himalaya," gerutut Catherine dalam hati.


"Kau, mengatakan sesuatu, little bear?" Timpal Jeffin dengan suara berat seksinya.


"Tidak!" Elak Catherine cepat.


Catherine pun menyibukkan diri memakan sarapannya, guna menghindari tatapan tajam sang suami, membuatnya bergidik pelan.


Jeffin hanya mengangkat alisnya sebelah heran, melihat sikap sang istri seperti salah tingkah dan wajahnya terlihat merona.


Pasangan suami-istri beda usia itu pun menikmati sarapan dengan diam. Hanya ada seruan dari alat makan masing-masing yang meramaikan suasana canggung bagi seorang — Catherine.


Sedangkan pria diktator itu, begitu tenang dan penuh elegan menyantap sarapan. Sehingga Catherine pun dibuat tercengang dengan gaya sang suami yang begitu menjaga image -nya di manapun.


"Apakah, semua orang cara makan mereka begitu?" Batinnya bertanya.


"Bukankah, cara mereka sungguh mengurangi nikmat makanan tersebut?" Lanjutnya dengan diam-diam mengawasi gerak-gerik sang suami yang begitu elegan.


"Sungguh! Aku tidak bisa," ungkapkan dalam hati.


Mencoba mengikuti suaminya cara menyantap makanan dengan gaya seorang konglomerat.


Ia pun menjadi dirinya sendiri, menikmati makanan dengan gayanya sendiri. Ia tidak ingin terlalu terbebani oleh tata cara bersikap elegan, yang akan menguranginya menikmati makan lezat.


"Selama, dia menghargai seseorang, apa salahnya menjadi diri sendiri," monolognya, tanpa mempedulikan tatapan intens sang suami.


"Habiskan, sarapanmu. Aku akan bersiap!" Seru Jeffin sambil bangkit dari kursi, berjalan ke arah dapur, meletakkan piring kotor bekas makannya.


"Sebentar lagi Alan akan datang." Sambungnya sambil meninggalkan kecupan di puncak kepala istrinya.


"Ganti pakaianmu setelah ini," ujarnya dan segera keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


Catherine hanya bisa menganga, melihat perlakuan lembut suaminya itu, ia bahkan mengikuti langkah suaminya hingga menghilang dari hadapannya.


"Dia, kenapa? Apa, jiwa diktatornya terganti dengan jiwa malaikat pelindung?" Cicit dengan wajah syok bercampur kebingungan.


"Apa-apaan, dia ingin membawaku ke perusahaan. Apa, dia mendadak hilang ingatan? Bukankah, dia sendiri yang mengatakan, tidak akan pernah menganggap aku," gumamnya sambil mengingat perlakuan dan perkataan suaminya.


"Terserah lah' dia mau bagaimana," ucapnya dengan pelan.


Catherine pun dengan tenang menikmati menu sarapan yang dimasak sang suami. Catherine, tidak menyangka, kalau suaminya itu sungguh pandai mengolah masakan seenak yang ia santap sekarang ini.


………..


"Selamat pagi, nyonya muda!" Sapa asisten Jeffin.


Catherine yang sedang membersihkan piring terkejut dengan sapaan d belakangnya.


"Tuan Alan," sahut Catherine dengan wajah terkejut.


Pria dengan tubuh ideal itu meletakkan sebuah paper bag di atas meja sambil membungkukkan kembali badannya dan meninggalkan — Catherine.


"Aneh! Kenapa mereka sama-sama berasal dari kutub Utara?" Gumamnya lirih.


Catherine mengambil paper bag yang diletakkan asisten suaminya itu,. Membawanya ke kamar.


"Ma-maaf!" Ucap Catherine.


Cepat-cepat Catherine, menutup pintu kamar mandi, sebelum suaminya menjadi buas kembali.


Catherine menyandarkan punggungnya di daun pintu dengan mengusap dadanya yang secara mendadak berdebar.


"Astaga! Kenapa dia begitu seksi," gumamnya dan kemudian menutup mulutnya sendiri.


"Tapi, sayang balok es batu Himalaya," cetus dengan wajah mencibir.


Wanita bertubuh mungil itu melihat isi di dalam paper bag itu, dan wajahnya bersemu merah, saat melihat sepasang dalam di sana.


Ia baru menyadari, kalau dirinya tidak memakai dalam apapun, beruntung, kemeja suaminya dapat menutupi tubuhnya hingga paha. Dan … kain kemeja itu pun lumayan tebal.


"Bagaimana, dia tahu ukuran tubuhku?" Cicit sambil memindai penampilannya di cermin.


Catherine hanya mengedikkan kedua bahunya, masa bodoh. Yang terpenting, tubuhnya kini terbungkus oleh dress mewah polos.


Catherine membuka pintu kamar, setelah menyaksikan penampilannya sudah rapi.


Hal pertama disaksikan saat keluar dari kamar adalah, pria diktator itu sedang sibuk memasang dasinya.


"Ehem!" Catherine berdehem.

__ADS_1


Ia juga sambil berjalan mendekat kepada suaminya. "Biar aku membantumu," tawarnya dengan suara datar.


Jeffin membalikkan badannya, saat istri kecilnya itu berada di belakang tubuh tingginya. Ia lantas menyerahkan dasi hitam di tangan kepada sang istri.


Catherine pun meraih dan mulai lebih mendekat kepada sang suami diktatornya.


Sebisa mungkin, Catherine menahan gejolak di dada dan mencoba menekan rasa gugup. Ia tidak boleh terlihat, lemah dihadapan pria jadi-jadian ini. Yang terkadang menjadi garang, buas dan sekarang seakan menjadi jinak. "Aneh," batinnya mencibir.


Dengan memasang wajah datarnya, Catherine mulai menyampirkan dasi itu di bagian kerah kemeja sang suami. kedua kaki pendeknya mencoba menyamai tinggi tubuh pria di depannya ini. Jeffin hanya bisa menundukkan wajahnya, memandangi wajah imut istri kecilnya itu, lebih tepatnya ke bibir ranum nan legit sang istri.


Jeffin yang menyadari kesusahan istrinya segera meraih meja rias yang terletak di sampingnya menggunakan sebelah kakinya. ‘'gunakan ini!" seru Jeffin.


Catherine pun menurut, menaiki meja kecil itu, hingga tingginya dapat menyamai sang suami. Kini wajah mereka saling sejajar dan deru nafas mereka saling menyapa.


Tidak sedikitpun Jeffin memalingkan wajahnya, ia terus menatap wajah imut sang istri. Ingin rasanya ia mengecup sekilas bibir ranum itu dan menyesapnya.


Apalagi terlihat istrinya itu berulang kali mengerucutkan bibirnya yang terlihat menggemaskan.


Kini kedua tangan kekar itu, berada di pinggang ramping istrinya. Menekan kuat, hingga tubuh keduanya menempel tanpa jarak.


Jelas saja Catherine begitu terkejut akan pelukan tiba-tiba sang suami dan ia mendadak gugup saat wajah rupawan itu, semakin mendekat.


"Apa, kau lupa membersihkan mulutmu?" Bisik Jeffin di depan bibir istrinya yang hampir saja bertemu.


"S-sudah," sahut Catherine dengan gugup.


"Benarkah?! Sela sang suami.


Catherine refleks mengangguk dengan wajah yang mencoba menunduk, tapi sang suami buasnya itu mencegah dengan menahan dagunya.


"Terus, ini apa?" Bisik Jeffin semakin mendekatkan bibirnya. Tanpa sepengetahuan sang istri, Jeffin mengecup sudut bibir istrinya. Membuat Catherine memejamkan mata, merasakan hangat dan lembutnya bibir suaminya itu.


"Kau, meninggalkan sedikit saus," bisiknya di bekas kecupan tadi dan berulang kali melakukannya dengan lembut. Kini bibir pria itu sudah berada di bibir ranum istrinya.


Mengecup dan ********** lembut dengan dekapan erat ia berikan kepada sang istri.


Catherine hanya bisa terdiam dengan mata mengkerut kuat, hingga kerutan di kedua kelopak matanya terlihat. Kedua tangannya pun, hanya bisa meremas kuat jas sang suami.


"Kita, harus segera berangkat," bisiknya dan segera melangkah ke luar kamar.


"Astaga! Aku kenapa?" Resahnya dengan wajah linglung.


"Seharusnya, aku menolak."



__ADS_1


__ADS_2