Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 48


__ADS_3

“Apa, kau melihat pria kulkas itu?” Catherine bertanya kepada — asisten Alan, saat pria itu melintas di ruangan Ceo.


Dengan wajah penasaran Catherine menunggu pria itu menjawab pertanyaannya, karena sejak tadi ia mencari keberadaan suami dinginnya, bahkan sampai sekarang ia tetap setia menunggu di ruangan suaminya, hingga tak terasa hari mulai memasuki senja.


Asisten Alan tampak terkejut saat mendengar dan melihat sosok nona mudanya masih berada di perusahaan, sedangkan tuan mudanya sudah kembali sejak tadi.


Dengan wajah bingung, asisten Alan bertanya kepada — Catherine. “nyonya, masih disini?” Tanyanya balik.


“Apa, maksud anda?” sahut Catherine dengan dahi mengkerut bingung.


“Tuan, sudah pulang sejak pagi,” jawab asisten Alan.


“Pulang?! Catherine membeo dengan raut wajah kaget.


Wanita itu terlihat linglung, ia tidak menyangka suaminya tega meninggalnya sendiri di sini, tanpa memberi kabar kepadanya.


apa sebegitu tidak pentingnya kah’ dirinya? hingga pria dingin itu rela meninggalkannya sendiri.


"Iya, nyonya. Tuan segera pulang untuk menjenguk, nyonya muda pertama," jelas asisten Alan.


Kembali, hati Catherine menjolos ngilu, saat mendengar jawaban, asisten suaminya itu.


Dia tega meninggalkannya karena khawatir dengan istri lainnya, terus kenapa ia membawanya kesini dan dengan tega meninggalkannya di tempat asing baginya.


"Biar, saya mengantar anda pulang, nyonya," tegur asisten Alan, membuat Catherine terkejut dan tersadar dari lamunan pilunya.


"T-tidak, perlu, aku bisa pulang sendiri. Anda, pasti mempunyai pekerjaan penting. Lebih baik bersibuklah dengan pekerjaan, anda," menolaknya dengan menampilkan senyum penuh — luka.


"Apa, anda yakin?" Sahut asisten Alan sambil memperhatikan raut wajah kecewa sang nona muda.


"Iya, saya akan pulang dengan bus saja," sahut — Catherine, segera meraih tas kecil miliknya di ruangan suaminya itu.


"Saya, pamit!" Seru Catherine dengan wajah berusaha menampakkan wajah baik-baik saja.


Asisten Alan pun masih menimbang keputusan sang nona muda, yang ingin pulang seorang diri. Tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponselnya yang berada di genggamannya.


Sebuah pesan dari tuan muda Abraham, yang seakan tidak peduli dengan sang istri pulang sendiri menggunakan angkutan umum.


Asisten Alan pun tidak punya pilihan lain dengan berat hati membiarkan istri kedua tuannya pulang.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Catherine, Alan memberikan pesan singkat kepada tuannya, dan memberi tahu, kalau nyonya muda sedang menunggu dirinya.


Jawab sang tuan muda pun mengobrak perasaan tidak tega pria datar itu, bukan karena dia adalah — istri dari tuan mudanya, melainkan sebagai sesama manusia, apalagi nyonya adalah seorang wanita, dan ia mengingat adik perempuannya.


Alan hanya bisa menatap langkah lemah sang nyonya muda, hingga istri dari — tuannya itu menghilang dari hadapannya.


"Semoga, dia baik-baik saja." Pria tampan itu membatin.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi pria yang terus mengawasi, Catherine kini bersembunyi di balik dinding, ia dapat melihat raut kesedihan di wajah — Catherine.


Yang membuat perasaannya pun ikut terluka.


"Aku, tidak akan memaafkanmu, Jeffin William Abraham," erangnya emosi.


"Pergilah, bila kau tidak mampu lagi bertahan. Dan aku akan menyambutmu dengan kedua tangan terbuka lebar, " ucapnya lirih. Sejak tadi ia dibuat hancur oleh perasaan sakit hati yang dialami — Catherine. Tangis pilu gadisnya mampu meruntuhkan jiwa tegar seorang pria. Ia pun ikut menitikkan air mata dengan menahan sesak di dadanya.


Ingin mendekat, dan memeluknya, namun keadaannya sekarang ini memaksa dirinya hanya bisa memandang — gadis masa lalunya.


Pria itu segera menyusul Catherine, menuju lantai dasar. Ia tidak akan rela membiarkan gadis masa lalunya itu, dalam bahaya. Ia akan menyakiti dirinya sendiri apabila itu terjadi.


………


Wajah sembab itu, masih terlukis jelas di wajah cantiknya. Mata indah itu, hanya bisa menatap kosong ke depan dengan di hiasi jejak-jejak air mata.


Tidak ada jalan lain, selain tegar dan berusaha bersikap tidak acuh. Berusaha, mengubur dalam-dalam perasaan suka dan cintanya kepada suaminya.


Tidak ada yang perlu diharapkan lagi, semuanya tidak akan mungkin terjadi. "Dia, tidak akan mungkin menjadi milikku dan aku tidak akan pernah mendapatkan sedikit celah di dalam hatinya," gumamnya dengan nada pilu.


Bersamaan dengan lelah keluar dari kelopak mata indah itu hingga mengalir membasahi pipi hingga dagu.


Catherine segera menghapus air matanya, saat pintu lift akan terbuka. Ia menarik nafas panjang dan membuangnya dengan perlahan.


Ia pun keluar dari lift dengan memamerkan senyum ramahnya. Senyum yang memperlihatkan dirinya baik-baik saja, padahal dalam jiwanya begitu rapuh dan penuh luka.


………………


Catherine kini menyadarkan kepalanya di kaca jendela di dalam bus kota dengan pandangan yang mengitari keramaian kota tersebut.


Sebagai penghibur hatinya yang lagi-lagi terluka, Catherine menatap keramaian itu dengan tatapan berbinar. Ia juga menampilkan senyum takjubnya saat melihat pertunjukan di pinggir kota. Sebuah pertunjukan tari yang lakukan para seniman jalanan di kotanya.

__ADS_1


Kelopak mata indah itu, membesar saat melihat sebuah jajanan gulali. Catherine segera berdiri dan bermaksud menghentikan bus kota itu, tapi… sang sopir menolak, karena mereka harus berhenti di tempat yang tepat yaitu, halte bus.


Catherine pun, kembali duduk dengan wajah kecewa dengan bibir ranum itu mengerucut imut.


Pria yang sejak tadi mengikutinya, tersenyum indah dan begitu gemes melihat wajah menggemaskan gadis kecilnya itu.


Ia pun berinisiatif, menghubungi anak buahnya dan memberikan perintah untuk membawakan gadisnya, semua gulali yang terjual di pinggir jalan kota.


……


Sementara di Mansion, Jeffin kini sedang membersihkan tubuh ringkih istrinya. Ia melakukannya dengan penuh kelembutan dan perasaan sayang.


Ia juga menatap wajah sang istri dengan mata penuh kesalahan. Karena sudah mengabaikan istrinya itu dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan istri kecilnya.


Jeffin pun, berusaha kembali kepada sikapnya yang masa bodoh dengan istri kecilnya itu.


Ia berjanji kepada istrinya, akan lebih mengutamakan istri pertamanya itu dan mengabaikan istri kedua.


"Maaf! Kalau aku jarang bersamamu, sayang," bisiknya pelan, dengan nada penyesalan.


"Aku, berjanji, akan kembali menghabiskan waktu bersamamu," lanjutnya yang kini membersihkan wajah istri pertamanya.


Jeffin kembali memperlakukan istri pertamanya dengan kelembutan dan penuh perasaan sayang. Beda jauh dengan perilakunya kepada istri kecilnya.


"Aku, tidak akan berpaling lagi sayang, hanya karena wanita itu. Wanita yang baru saja bersamaku. Sedangkan dirimu sudah bertahun-tahun hidup dengan ku, maaf!" Ungkapnya dengan tatapan penuh bersalah.


"Dia, hanya sebagai pelampiasan saja dan sebagian mengabul keinginan, mommy," ucapnya kembali.


"Aku, tidak akan pernah menaruh hati kepada yang hanya orang asing di hubungan, kita,"


"Maaf! Aku, melakukannya kepadanya. Percayalah, aku hanya melakukannya hanya kepadanya,"


"Hanya, sebatas kehangatan dan tidak lebih antara kami. Meskipun, dia adalah istriku sekarang."


"Hanya, kau wanita yang begitu aku cintai dan sangat berarti dalam hidupku, sayang,"


Jeffin terus berbicara di depan istrinya yang terbaring kaku di atas ranjang, ia mencurahkan rasa penyesalannya dengan penuh rasa bersalah.


Tanpa ia sadari, sosok yang ia anggap — wanita asing, penghangat dan pengabul keinginan sang mommy, berdiri membeku di ambang pintu kamar istri pertama.

__ADS_1


__ADS_2