Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 51


__ADS_3

Catherine mengabaikan ucapan, suaminya. Ia lebih memilih melanjutkan langkah menuju ruangan ganti untuk mengumpulkan pakaian yang ia bawa dari desa, meninggalkan semua barang-barang yang diberikan oleh mertuanya, termasuk surat kuasa.


Jeffin yang diabaikan tidak terima, ia segera mencekal pergelangan tangan kecil istri keduanya itu dan menarik kasar menuju ranjang mewah, lantas menghempaskan tubuh mungil itu di sana dengan begitu kuat, membuat, Catherine mengeluarkan suara ringisan lirih.


Sementara, Jeffin kini membuka semua kancing kemejanya dengan tergesa dan melemparkannya begitu saja. Beringsut ke atas ranjang, dimana istri kecilnya itu mencoba menjauhkan diri.


Sebelah tangan kekar pria itu, menahan kaki istrinya yang ingin menghindari dan kembali mendorong tubuh sang istri yang kini sudah telentang.


Segera, Jeffin menindih tubuh istrinya itu dan menangkap kedua pergelangan tangan mungil istrinya yang berusaha memberontak ke atas kepala sang istri.


Catherine pun, tidak bisa bergerak oleh tekanan tubuh berat suaminya yang kini menindihnya juga mengunci pergerakannya.


"Lepas!" Pintanya dengan nada dingin dan tatapan begitu mengintimidasi.


Jeffin tidak sedikitpun terpengaruh oleh tatapan istrinya itu, ia kini lebih mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri.


Menciumi seluruh permukaan kulit wajah mulus istrinya itu, hingga kini ciuman itu, turun perlahan ke area leher juga tulang selangka sang istri yang terekspos. Pria itu mengecupnya bahkan menghisap kuat, meninggalkan bekas merah. Jeffin juga menggigit kuat kulit leher istrinya, melampiaskan segala rasa emosinya dengan membuat kulit leher indah itu terluka.


Tangan yang lain yang terdiam kini, meraba tubuh sang istri dan bahkan meremasnya kencang, yang menjadikan sosok feminim di bawah kuasanya, meringis sakit.


"Sakit!" Ringis Catherine, saat pria itu meninggal gigitan kuat dibagian dada atasnya.


Jeffin merespon, ia mengangkat kepala dan kini ia menatap istrinya itu, bagaikan seekor predator buas.


Tatapan kelam nan tajam yang diikuti kilatan hasrat juga amarah, wajah mengetat dengan diikuti gesekan gigi seperti menahan sesuatu.


Pria itu kini dalam mode buas yang begitu emosi melihat sang istri bahagia dengan hadiah dari seorang asing dan istrinya itu berani melawan juga mengabaikan dirinya.


Tentu saja sebagai pria yang memiliki ego tinggi, Jeffin merasa terhina dan tidak dihargai.


"Menyingkirlah!" Perintah Catherine yang masih dengan ekspresi dingin dan nada suara datar.


Sang pria pun hanya menampilkan senyum sinis di wajah rupawannya, kini wajah rupawan itu, menyapu kembali kulit wajah sang istri dengan hidung mancungnya.


"Layani aku!" Bisiknya tepat di cuping telinga istrinya, meninggalkan gigitan halus setelahnya. Catherine refleks menutup mata, saat sang suami menemukan salah satu titik lemah sebagai wanita dewasa.

__ADS_1


Wajah lembut itu berpaling, ketika sang suami kembali ingin mengecup bibir ranumnya, hanya kecupan basah kini Catherine rasakan di pipi.


"Sebagai istri pelampiasan, kau harus patuh dan melayaniku, istriku," bisik pria itu lagi tepat di atas permukaan wajah — istrinya. Jeffin menyepit kedua sisi wajah mungil sang istri dengan menggunakan telapak tangannya yang besar itu, hingga pergerakan — Catherine di wajah terkunci.


Catherine hanya bisa menatap sosok rupawan di atasnya dengan mata berkilau dengan genangan air mata, raut wajah yang menggambarkan rasa sakit, mendengar ucapan sarkas sang suami.


"Aku, menolak permintaan anda, tuan," jawab Catherine bersamaan dengan air mata menetes di salah satu matanya.


Mendengar penolakan istrinya, Jeffin kembali terhina, dan segera memaksa sang istri dengan merobek pakaian istri itu dengan sekali tarikan.


Tubuh bagian atas istrinya pun terpampang di depan wajah, dengan kilat hasrat yang bertambah menggebu dan emosi yang memancing jiwa buasnya bangkit, Jeffin menciumi tubuh istrinya dengan kasar.


Catherine memberontak, meskipun pergerakannya sulit, ia berusaha lepas dari jerat sang suami. Sekuat tenaga Catherine berusaha melepaskan diri.


Tapi apa daya, kekuatannya tak sebanding dengan suaminya yang kini sudah membuat kondisi tubuhnya setengah telanjang.


Catherine pun hanya bisa terpaku dengan tatapan diam, air mata pasrah dan sakit hati mengiringi tatapan kosong itu.


Ia tidak berdaya, ia hanya bisa pasrah dengan jiwa yang kini mulai rapuh dan lelah. Tubuhnya pun kini mulai layaknya boneka hidup, kaku dengan wajah datar, tatapan kosong menatap langit-langit kamar.


"Kau, tidak akan semudah itu lepas dariku, sayang," bisik sang pria buas itu.


"Seperti yang kau ketahui, aku akan menjadi wanita pelampiasan hingga aku mendapatkan keturunan darimu dan setelah itu kau boleh pergi sesuka hatimu dengan pria lainnya, bukankah, kau adalah wanita seperti itu? Mencari pria kaya untuk mendapatkan harta," tukas Jeffin, yang kembali menorehkan luka di hati istrinya.


Tanpa ia sadari, respon sang istri kini layaknya seperti robot, yang hanya pasrah menerima perlakuannya dan mendengar segala hinaan darinya.


"Sekarang, waktunya kau melayaniku," pinta Jeffin yang kini menatap lekat wajah sang istri dan mencoba menghiraukan tatapan kosong istrinya itu, dengan berusaha membangkitkan gairah sang istri dengan menyerang salah satu titik lemah istrinya.


Namun nihil, Jeffin tidak berhasil, wanita itu tetap terdiam dengan derai air mata di balik tatapan kosong itu.


Jeffin pun membuka kain terakhirnya, ingin langsung ke inti, dan saat penyatuan itu, sang istri pun tetap diam.


Jeffin mengerang frustasi, memukul udara di depannya sambil melepaskan penyatuan itu, mengenakan kembali kain yang menutupi bagian bawah tubuhnya dan segera berjalan keluar dari kamar.


Meninggalkan istri kecilnya yang kini terdengar menangis lirih, mengubah posisi miring, membelakangi pintu kamar. Tangan meremas kuat ujung bantal putih, sebelah tangannya meremas kuat dada yang begitu nyeri, ngilu hingga ke tenggorokan hingga sesak di rongga dada.

__ADS_1


Catherine meraih selimut, menutupi tubuhnya yang polos, menggigit pinggiran selimut dan menumpahkan tangisannya dengan suara tertekan.


Ia lelah dan jenuh dengan semua ini, apakah takdirnya harus mengalami ini semua, di saat usia masih terbilang muda, dimana usia seperti masih memikirkan masa depan dan bersenang-senang.


Tapi apa ini, ia harus menerima kenyataan pahit dan hidup penuh derita dan luka. Apakah? Ada sosok wanita seperti dirinya mampu bertahan dengan kehidupan baru satu bulan ia jalani ini?


Mungkin tidak ada, dan hanya dirinya yang masih bertahan dengan pernikahan penuh luka ini. Pernikahan yang memandang dirinya rendah, hanya karena menjadi istri kedua.


Haruskah dirinya yang di salah atas posisinya, dimana dia pun tidak mengetahui akan menjadi kedua dari pernikahan ini.


"Mommy, daddy," ucapnya di tengah tangisan memilukan itu.


……………….


Catherine terbangun dari tidurnya dengan kondisi yang begitu lemah.


Wajah sembab itu, terlihat memucat. Kepalanya begitu berdenyut sakit.


Catherine bangkit, mencoba menurunkan kedua kaki lemah itu di atas lantai kamar. Ia butuh ke kamar mandi guna membuang sesuatu yang sejak semalam ia tahan.


Saat ingin melangkah, sosok pria rupawan itu masuk dengan wajah biasa saja. Catherine menelisik penampilan suaminya yang sudah terlihat segar. Tidak ada guratan penyesalan di wajah pria itu, yang ada hanya wajah biasa yang seakan tidak terjadi sesuatu semalam.


Wanita bertubuh mungil itu pun, tersenyum sinis dan melanjutkan langkah tertatihnya menuju kamar mandi.


"Siapkan, keperluanku!" Perintah Jeffin dingin, tanpa melihat ke arahnya.


Catherine membalikkan badannya, menatap lekat punggung kokoh di depan sana. Ia terkesiap mendengar nada perintah suaminya.


Bukankah, ia melarang keras dirinya untuk menyentuh barang-barang pria ini? "Lalu apa yang ia katakan?"


"Cepatlah, aku ada urusan penting pagi ini," sentak Jeffin. Berhasil membuat Catherine terkejut.


"Sudah tugasmu, melayaniku mulai saat ini," sambung Jeffin.


"Aku, tidak ada urusan dengan anda mulai sekarang. Karena, aku memilih mundur."

__ADS_1


mampir yuk ke novel teman uma ☺️, siapa tahu suka.



__ADS_2