
“Hey! Nona, siapa dirimu seenaknya memecat kami.” seorang karyawan wanita memberikan sela protes kepada catharine dengan wajah sinis.
“Cih, seorang wanita merebut pria beristri bangga dan sok berkuasa,” celetuk yang lainnya.
Catharine hanya diam dengan wajah tenangnya tanpa merasa diintimidasi oleh mereka semua. ia hanya memasang wajah datar dengan kedua tangan diletakkan di depan dada.
“Dasar, wanita tidak tahu malu,” seloroh yang lain dengan tatapan penuh remeh ke arah — Catharine.
Mereka menganggap Catherine hanya sebagai wanita perusak hubungan seseorang dan tidak memiliki perasaan. sementara Clara tersenyum penuh kemenangan karena dapat mencuci pikiran semua karyawan yang ada di sana Clara memberikan senyum seringai nya, kepada — Catherine.
"Apa, kalian sudah selesai?" Tanya Catherine dengan wajah dingin.
"Kalau, sudah selesai, silahkan keluar dari sini," perintahnya enteng. Tanpa merasa terbebani.
Semua karyawan yang di sana pun dibuat melongo atas ucapan — Catherine. Apalagi, Clara yang mulai kesal karena ia tidak berhasil menindas wanita bertubuh mungil di sampingnya.
"Kau, terlalu berlebihan nona murahan," hardik seorang wanita yang diyakini adalah teman — Clara.
"Bagaimana, kalau kita serat dia keluar dari sini," sentak salah satu dari mereka.
"Iya, kamu benar, dia begitu sombong dan wanita ini akan merusak nama baik perusahaan," sela yang lainnya.
Suara gemuruh karyawan pun kian terdengar nyaring, membuat wajah, Clara semakin puas.
"Kau, akan lihat dimana posisimu, murahan," bisik Clara dengan tersenyum mengejek.
Catherine hanya bisa memasang wajah datar dan tidak acuh. Iya juga membalas senyuman Clara dengan tersenyum miring.
"Ada apa ini!" Terdengar suara seorang wanita dari arah lift. Mereka yang berada di sana menoleh kebelakang dan melihat wanita setengah baya berjalan ke arah mereka dengan wajah marah.
"Apa yang kalian lakukan disini, hah. Bukannya kerja, kalian malah asyik berkumpul," bentaknya dengan wajah garang, tanpa menyadari keberadaan — Catherine di sana.
"Ayo, kembali bekerja!" Perintahnya dengan suara menggelegar.
Para karyawan tidak mengindahkan perintah wanita berkulit hitam itu, mereka masih memandangi — Catherine dengan tatapan merendahkan.
Wanita dengan penampilan, formal itu pun kebingungan dan mengikuti arah pandang para karyawan, seketika matanya membulat besar, saat melihat seseorang yang begitu ia kenal berada di sana.
"Nyonya muda!" Serunya dengan setengah membungkuk.
Perlakuan hormat wanita itu, membuat karyawan di sana kembali terkejut dan melongo.
"Apa, yang sedang asisten Betty lakukan?" Bisik salah satu karyawan kepada temannya.
"Entahlah, tapi ini membuatku tiba-tiba berdebar," sahutnya dengan wajah mulai panik.
__ADS_1
"A-aku juga," sambung yang lain dengan nada terbata.
Catherine penatap penuh selidik wanita bertubuh tinggi kurus dengan warna kulit hitam di depannya. Ia bahkan terlihat lucu saat memperhatikan wanita berpenampilan culun tersebut.
"Anda, mengenalku nyonya?" Tanya Catherine.
Wanita itu segera mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk dan memasang wajah ramah kepada — Catherine.
"Siapa yang tidak mengenali anda, nyonya muda,"jawabnya dengan wajah ramah.
"Benarkah?! Tanya Catherine kembali dengan ragu.
"Iya, nyonya muda. Perkenalkan, saya Betty. Asisten pribadi, nyonya Margaretha," ungkapnya dengan nada menyakinkan.
Catherine hanya ber oh ria dengan wajah tersenyum ke arah wanita itu. Ia juga melirik Clara yang diam membisu, seakan takut dengan sosok wanita tinggi di hadapannya.
"Apa yang kau lakukan kepada, nyonya muda, hah," bentak wanita itu kepada Clara.
Wajahnya terlihat mengerikan dengan sorot mata yang begitu membulat keluar.
"T-tidak, a-aku hanya ingin berkenalan dengannya," jawab Clara dengan wajah pucat.
"Kembali bekerja!" Bentak asisten Betty.
Ia juga meminta maaf kepada Catherine akan sikap tidak sopannya yang bersuara lantang di depannya.
"Perkenalkan. Dia, nyonya muda Abraham baru kita, istri kedua sah, dari tuan muda Jeffin William Abraham. Beliau salah satu pemilik saham terbesar di sini selain tuan, muda," ungkap asisten Betty dengan lantang penuh ketegasan.
"Jadi, kalian harus hormat padanya dan jaga pandangan kalian. Apa kalian mengerti?" Lanjutnya dengan nada tegas.
"Apa, kalian mengerti, hah!" Ucapnya lantang dengan suara bentakan.
Seluruh karyawan pun dibuat lemas oleh ucapan asisten Betty. Termasuk Clara yang hanya bisa memasang wajah — terkejut.
"Bagaimana, kalau mereka menggunjing ku, apa yang harus aku lakukan?" Sela Catherine dengan bertanya.
"Anda bisa mengeluarkannya dari sini, nyonya?" Jawab asisten Betty.
"Termasuk dia?" Tanyanya lagi sambil melirik — Clara.
"Iya, nyonya," sahut asisten Betty dengan sigap.
"Oke, kalau begitu pecat dia dan seluruh karyawan yang hadir di sini," ucap Catherine dengan wajah tegas dan nada tenang.
"Satu lagi. Aku, tidak mau pakaian melihat pakaian karyawan wanita di sini terbuka," imbuh Catherine sambil melirik tajam pakaian para karyawan wanita.
__ADS_1
"Ini, adalah perusahaan ternama, yang membutuhkan kecerdasan dan kerja keras, bukan untuk unjuk diri, pamer kemolekan tubuh," lanjut Catherine dengan sinis.
"Jadi, nyonya Betty. Aku ingin mereka segera dipecat," ucapnya dengan senyum misterius kepada asisten — Betty.
Clara hanya bisa menahan rasa kekesalannya di permalukan di depan semua karyawan.
Dia tidak terima dirinya dipecat dari perusahaan ini. Yang menganggap dirinya juga mempunyai kewenangan di sini, karena dia adalah kakak dari istri pertama — Jeffin.
Sementara, para karyawan itu pun hanya bisa memohon maaf sambil bersujud di kaki — Catherine.
Mereka begitu ceroboh dan termakan ucapan Clara.
"Ini, semua gara-gara wanita licik ini," ungkap salah satu karyawan sambil menunjuk ke arah — Clara.
Suara protes para karyawan pun terdengar yang semuanya menyalahkan, Clara atas pemecatan ke 30 karyawan tersebut.
Clara kini mulai panik dan segera melarikan diri, mengumpat Catherine yang sudah memecat dirinya.
Catherine pun kini melangkah kembali ke arah lift, namun bukan lift menuju kamar pribadi sang suami. Melainkan lift khusus para petinggi perusahaan.
Ia pun mulai berdiri dengan tenang di dalam lift dengan senyum puas.
Dari kejauhan, sosok pria begitu senang melihat keberadaan Catherine, bergegas dirinya berlari ke arah lift tersebut.
"Cathy!" Ucapnya lirih yang hanya mampu mengerang saat pintu lift sudah tertutup.
Pria dengan setelan gagah itu masuk kedalam pintu lift lainnya, untuk mengejar — Catherine yang menekankan tombol lain paling atas.
Bertepatan juga sosok pria diktator itu keluar dengan raut wajah mencekam, saat mengetahui sang istri diperlakukan kasar di lobby.
Ia yang mencari keberadaan sang istri di kamar pribadinya, dan melihat sosok menggemaskan tidak berada di dalam kamar.
Segera saja Jeffin menuju kursi kebesarannya, membuka Informasi cctv yang ada di ruangannya.
Jeffin hanya bisa menahan kekesalan, saat melihat tingkah kekanakan istri kecilnya itu saat berhasil bebas dari kurungannya.
Jeffin pun hanya bisa memantau sang istri melalui cctv, mencari keberadaan istri kecilnya itu.
Dan tatapan kelam itu, terpusat pada satu titik, di mana sang istri diperlakukan tidak menyenangkan.
"Kurang ajar!" Berangnya dengan wajah mengeras.
Jeffin segera menuju lift di mana istri kecilnya terbebas, namun niatnya pun terhenti, saat mendapatkan panggilan dari seseorang.
Ingin mengabaikan, tapi itu tidak mungkin karena yang menghubunginya adalah seorang dokter terkenal yang khusus ia datangkan untuk istri pertamanya.
__ADS_1
"Apa, yang kalian lakukan kepada istri kecilku."