Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 69


__ADS_3

6 tahun kemudian.


Seorang pria dengan setelan khusus kurir kini terlihat mengendarai roda duanya memasuki bangunan Mansion mewah dan megah. Orang itu terlihat sudah terbiasa melalui pintu gerbang itu.


Dikarenakan tidak ada pemeriksaan khusus untuknya, ia hanya membunyikan klakson dan berteriak paket, maka dengan segera para penjaga ketat di kediaman itu mempersilahkan dirinya masuk.


"Paket!" Teriak Sang kurir dengan sebuah bingkisan kecil di tangannya.


"PAKET!" kali ini teriaknya naik tiga oktaf.


Membuat kepala pelayan yang ada di depannya memejamkan mata dan menutup telinganya.


"PAKET!" Teriaknya sekencang mungkin. Berharap sang empunya mendengar dan segera datang mengambil paket yang tidak seberapa besar, namun sangat berharga. Bisa-bisa hidup sang kurir dalam bahaya, apabila paket di tangannya lecet sedikitpun.


Semua karyawan penerimaan jasa pengiriman menamai paket itu adalah — paket emas atau paket keburukan. Apabila tidak sesuai ekspektasi sang penerima.


"Paket!" Ujar pria dengan tubuh kurus itu — lesu.


Sekarang ia kini memandangi kepala pelayan yang sejak tadi berdiri di hadapannya. Kepala pelayan yang mendapatkan tatapan aneh dari sang kurir, segera berpura-pura menyibukkan diri dan akan meninggalkan pria berpenampilan culun itu.


"Paman, tunggu!" Cegah sang kurir dengan senyum penuh maksud.


"Tidak!" Ucap kepala pelayan cepat, seakan apa yang ada di pikiran pria muda di depannya.


"Please, paman kali ini saja. Hari ini aku memiliki pengantaran barang begitu banyak," ujar sang kurir dengan wajah memelas.


Kepala pelayan itu terlihat berpikir dan sejurus kemudian ia pun menolak kembali dan segera masuk ke dalam.


"Tidak! Aku, masih menginginkan pekerjaan ini," tolaknya dan segera menuju ke dalam.


"Paman!" Sentak kurir tersebut dengan wajah frustasi.


"Bagaimana ini?" Tanya kepada dirinya sendiri.


Pria itu menatap bingkisan paket di tangannya dengan ke arah tangga. Ia begitu bingung harus melakukan apa? Ingin meletakkan bingkisan paket kecil itu begitu saja, tapi… itu tidak mungkin, bisa-bisa nyawanya melayang dan mendapatkan amukan tuan muda Abraham.


Menunggu pun ia akan merasa membuang waktu lama. Dan … ia harus memberikan paket itu dengan ekspresi wajah yang profesional. Dan sang tuan muda akan memasang wajah bahagia saat melihat paket khusus tuan muda Abraham itu.


"OH Tuhan, kenapa aku harus berurusan dengannya setiap tahunnya," batin sang kurir dengan ekspresi kesal.


"Kau, datang?" Tiba-tiba terdengar suara lembut dari arah ruangan lain.


Pria kurir itu menghela nafas lega, saat mendapatkan teguran dari wanita pelindungnya selama mengantarkan paket khusus untuk — tuan muda Abraham.


"Nyonya," sahutnya dengan senyum cerah.

__ADS_1


Mommy Margaretha menatap pria tinggi kurus di hadapannya dengan wajah mengkerut heran.


"Seperti biasa, saya mengantarkan paket dari, nona dan tuan muda Abraham," ungkap sang kurir dan segera menyerahkan bingkisan kecil di tangannya.


Mommy Margaretha pun segera mengambilnya dan menatap bingkisan itu sambil menghela nafas panjang.


"Kenapa, kau tidak meletakkannya saja di sini," sungut mommy dan memberikan tanda tangannya di sebuah surat bukti yang di pegang sang kurir.


"Apa, anda lupa? Kalau, aku harus melakukan drama terlebih dahulu," sahut sang kurir dan segera pamit untuk meninggalkan kediaman mewah itu. Sebelum sang tuan muda Abraham muncul dan ia akan menjadi bulan-bulanan pria itu.


"Nyonya yang baik hati, saya pamit," ucap sang kurir dan segera melangkah pergi.


Mommy Margaretha sekali lagi hanya bisa menghela nafas panjang, sambil menatap bingkisan di tangannya yang bertuliskan " untuk daddy" mommy segera membawa bingkisan itu, ke kamar putranya yang masih bersiap.


….


"Masuk!" Seru Jeffin yang kini sedang memasang dasinya seorang diri.


Pria itu masih menempati kamar terdahulu bersama — Catherine. Ia bahkan tidak merubah sedikitpun posisi setiap barang yang ada di sana. Cuma terdapat gambar yang cukup besar terpasang di depan ranjangnya.


Sepasang tangan mungil milik anak kembarnya ia jadikan sebagai pelepas rindu di saat ia menutup mata waktu istirahat malam tiba.


Dan sebuah potongan gambar yang layaknya seperti puzzle terdapat di tengah dinding.


Pria itu segera merekamnya dan menjadi suara kedua anak kembarnya alarm sebelum dan sesudah tidur.


Jeffin sengaja tidak mencari tahu keberadaan kedua anak kembarnya, agar ia menjadikan siksaan rindu yang begitu berat kepada kedua anak kembarnya adalah — sebuah hukuman buatnya.


Ia rela menitik air mata demi menahan rasa rindu ingin memeluk kedua buah hatinya itu, sebagai hukum dan agar ia lebih bisa menata hidupnya kembali supaya bisa menjadi seorang daddy yang baik untuk kedua putra-putrinya.


Ia hanya bisa mengumpulkan potongan foto kedua anak kembarnya setiap tahunnya dan merangkainya layaknya puzzle. Dan tahun ini, memasuki tahun keenam. Dan kali ini ia akan mendapatkan potongan gambar terakhir, hingga gambar kedua anak kembarnya menjadi sempurna.


Demi menghapus segala kesalahannya di masa lalu, Jeffin terus bersabar dan bersabar demi bisa melihat wajah kedua anak kembarnya itu.


"Nak!" Panggil mommy Margaretha.


Jeffin yang sedang fokus merapikan penampilannya yang terlihat rapi membungkus tubuhnya yang terlihat berubah drastis itu.


Tubuh kekarnya kini terlihat agak kurusan, tapi tidak meninggalkan kharismatiknya dan ketampanan pria itu.


"Iya, mom," sahut Jeffin, tanpa menatap sang mommy.


Mommy Margaretha tidak menjawab, ia lantas menyerahkan bingkisan itu kepada putranya.


"Selamat ulangtahun," ucap mommy Margaretha dengan nada bergetar dan matanya pun mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


Jeffin membalikkan badannya dan menatap bingkisan yang sang serahkan. Pria itu menatap nanar benda yang terbungkus rapi di tangan mommy Margaretha.


Tidak terasa, setetes air mata mengalir dari ekor matanya, saat mendapatkan kiriman paket dari kedua anak kembarnya.


"Kapan, aku akan mendapatkan hadiah yang sesungguhnya," gumamnya dengan tersenyum getir.


Jeffin sangat mengharapkan hadiah kehadiran kedua anak kembarnya itu. Ia ingin sekali memeluk dan menciumi anak-anaknya. Terlihat usianya semakin menua dan sudah memasuki kepala 4. Tahun ini, usia Jeffin sudah memasuki 43 tahun dan sebagai seorang pria dewasa, dirinya begitu merindukan kehangatan seorang keluarga kecil.


Tapi ia sadar, semua ini atas kesalahannya sendiri. Jadi, Jeffin tidak ingin mengikuti sifat egoisnya lagi. Ia hanya bisa berdoa, semoga kedua putra-putrinya berkeinginan datang sendiri untuk menemuinya.


"Sabarlah, nak. Mommy, yakin, suatu saat mereka akan datang menemuimu. Bagaimanapun, kau adalah daddy mereka," ungkap mommy Margaretha dengan wajah haru, melihat perjuangan putranya untuk memendam rasa kerinduan.


"Hm!" Gumam Jeffin yang matanya mulai berkaca-kaca dan diiringi anggukan kepala.


"Bukalah, bukankah ini potongan terakhir gambar wajah mereka?" Timpal sang mommy yang mengusap punggung rapuh putranya itu.


Segera saja Jeffin membuka bingkisan yang berada di tangannya dengan perlahan dan hati-hati.


Mata pria tampan itu semakin berair, saat melihat potongan terakhir gambar wajah kedua anak kembarnya.


Jeffin melangkah ke arah tempelan gambar anak-anaknya yang terpasang seperti permainan puzzle teka-teki.


Jeffin memasang potongan wajah kedua anak kembarnya yang di area hidung dan mulut.


Setelah memasang dan menatap nanar gambar utuh itu, Jeffin mendadak meluruh di lantai.


Tangisan haru dan kerinduan begitu jelas ia rasakan, tubuh rapuh pria itu berguncang hebat dan terdengar isakan lirih yang begitu menyesakkan.


Mommy Margaretha hanya bisa menutup mulutnya sambil menahan tangisnya yang melihat gambar cucu-cucunya yang begitu terlihat sangat tampan dan cantik.


"Lihatlah, mereka sangat tampan dan cantik!" Seru mommy Margaretha yang mengusap gambar cucu-cucunya itu.


Jeffin tidak bisa berkata-kata, ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang sembab di balik kedua telapak tangannya yang menutupi wajahnya.


"Andrew William Abraham, Andrea William Abraham." Cicit Jeffin menatap dalam gambar kedua anaknya yang terlihat begitu menggemaskan.


"Lihatlah, si cantik ini!" Sela mommy Margaretha. "Dia, sangat mirip denganmu," lanjutnya yang mengusap air matanya.


Jeffin tidak menjawab, ia hanya bisa tersenyum penuh keharuan. Meskipun hanya bisa melihat lewat gambar saja, Jeffin sudah merasakan kebahagiaan. Apalagi kedua putra-putrinya, tidak membenci dirinya.


"Anak-anakku." Jeffin membatin dengan air mata yang terus membasahi wajahnya yang terlihat begitu rapuh.


mampir yuk bestie! novel teman uma. siapa tahu suka ☺️


__ADS_1


__ADS_2