
"Aku, hanya berusaha melupakan semuanya. Demi, si kembar." Catherine berucap dengan raut wajah serius, wanita itu juga membalas tatapan sendu sang suami.
"Ternyata, mereka sangat menyayangimu dan membutuhkan kamu. Aku, hanya ingin mereka bahagia. Dan terlihat mereka sangat bahagia berada di dekatmu," lanjutnya yang kini menatap kearah alam bebas di sekitar Mansion Abraham.
"Lupakanlah! Mari kita memulainya lagi dari awal. Dan bantu aku melupakan semuanya dan menyembuhkannya." Catherine kali ini berkata dengan mata berkaca-kaca sambil meletakkan telapak tangan di atas dada yang begitu terasa sesak.
Jeffin yang begitu terlihat bersalah dan menyesal, menarik tubuh sang istri, memeluknya penuh kasih sayang.
Tangis Catherine pecah, begitu juga dengan Jeffin yang terlihat punggung lebarnya bergetar. Ia juga ikut menangis atas kesalahan berat yang ia lakukan terdahulu.
"Maaf, maaf, maafkan, aku," bisik Jeffin di atas puncak kepala istrinya.
Catherine semakin terisak. Kedua tangannya bahkan meremas kuat kemeja — Jeffin. Ia juga bahkan memukul-mukul dada keras suaminya, menuangkan segala emosi yang sejak lama tertahan.
"Lakukan lah' aku bahkan bersedia menyiapkan nyawaku, bila kau menginginkannya," bisiknya kembali.
"Kau, pikir aku sejahat itu!" Seloroh Catherine yang semakin memukuli dada sang suami.
"Aku tahu, kau wanita lembut dan baik hati," sahut Jeffin dengan pelukan semakin erat.
"Aku, tidak akan tergoda dengan kata-katamu," balasnya dengan sinis.
Jeffin hanya terkekeh mendengar celetukan istrinya yang berada di pelukannya. Jeffin terus mendaratkan kecupan-kecupan halus di puncak kepala istrinya itu.
"Terimakasih," ujar Jeffin lirih.
"Kau, tidak perlu mengatakan itu, ingat, aku melakukan ini untuk si kembar," sungut Catherine dengan raut wajah cemberut.
Menjauhkan tubuhnya dari Jeffin, menghapus air matanya dan menatap pria tinggi di hadapannya dengan kesal.
"Aku tahu," sahut Jeffin yang membantu sang istri menghilangkan jejak air mata di pipi lembut itu.
Jeffin juga meninggalkan kecupan di kedua pipi istrinya. Pria itu bersyukur dan beruntung, memiliki seorang wanita hebat dan pengertian seperti istrinya sekarang ini.
Catherine mendongak, ia membalas tatapan penuh puja sang suami yang ditujukan untuknya.
"Kau, terlihat kurusan? Apa kau tidak merawat dirimu?" Cerca Catherine yang mengamati perubahan postur tubuh suaminya.
"Aku, hanya merindukan kalian," balas Jeffin sekenanya.
__ADS_1
"Ck! Catherine berdecak kesal.
Wanita itu segera menarik pergelangan tangan Jeffin dan menariknya masuk kedalam kamar.
"Kemarilah, biar aku mencukur mereka," titah Catherine sambil menunjuk rambu-rambu halus di sekitar wajah tampan suaminya.
Jeffin hanya bisa pasrah, saat wanita bertubuh mungil di depannya menariknya dengan bersungut-sungut kesal.
Catherine membawa sang suami masuk kembali ke kamar mandi, ia meraih alat cukur dan mendekati suaminya yang sejak tadi memperhatikan setiap langkah.
Wanita itu mendongakkan kepala dengan kedua telapak kaki berjinjit. Jeffin yang mengetahuinya, lantas mengangkat tubuh sang istri dan mendudukkannya di atas wastafel mewah.
"Agar kau lebih mudah melakukannya," bisik Jeffin di depan wajah istrinya yang kini terlihat menghangat.
"Menjauhlah, aku akan segera melakukannya sebelum kedua anakmu mencari dan membuat kegaduhan," cerca Catherine dengan bibir yang terus berceloteh.
Jeffin hanya bisa menikmati setiap gerakan bibir istrinya dan raut wajah garang sang istri. Pria itu kini meletakkan kedua tangannya di pinggiran wastafel, dengan badan yang setengah membungkuk, agar sang istri lebih mudah melayaninya.
"Kenapa, kau tidak merawat kulitmu?" Tanya Catherine yang kini mulai membersihkan wajah suaminya.
"Kau terlihat semakin tua," lanjutnya.
Jeffin hanya tetap diam, menikmati ekspresi wajah istri yang terus mengoceh. Pria itu begitu bahagia bisa mendapatkan kesempatan kedua dari istrinya.
"Selesai!" Seru Catherine dengan wajah puas.
"Lihatlah, kau terlihat sudah fres," lanjut dengan senyum puas.
"Terimakasih, kau memang yang terbaik," sahut Jeffin.
"Ck! Kau baru menyadarinya," cibirnya dengan bibir mencebik.
Pria itu terkekeh melihat ekspresi wajah istrinya yang terlihat lucu.
"Sebaiknya, kita mendatangi mereka," ajak Catherine, lantas setengah melompat dari atas dudukkan westafel. Wanita itu juga berjalan mendahului suaminya.
Sedangkan Jeffin, memperhatikan terus langkah istrinya, pria itu menghela nafas panjang sebelum menyusul ibu dari — anak-anaknya.
Bagaimanapun sebagai orang tua yang menginginkan kebahagiaan kedua anaknya, Catherine berusaha untuk melawan ego di dalam dirinya sendiri.
__ADS_1
Ia akan berusaha dan berjuang lagi untuk membina rumah tangga sempurna bersama sang suami demi — kedua anaknya.
Catherine sangat yakin, ia pasti bisa melewati semuanya dan sedikit demi sedikit memendam perasaan luka dalam yang sudah di diberikan oleh pria yang merupakan — daddy kedua anak kembarnya.
Catherine menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyuman indah. Mulai hari ini ia akan memulai kehidupan baru bersama — kedua buah hatinya juga sang suami.
"Mulai saat ini, aku akan selalu membahagiakanmu, sebagai penebus semua perbuatanku di masa lalu. Aku, mohon berikan aku teguran apabila perbuatan dan ucapanku menyakiti perasaanmu mulai sekarang. Aku, tidak ingin kembali menyakitimu. Karena tujuan aku sekarang, hanya ingin membahagiakan kalian." Ungkapan perasaan Jeffin membuat hati — Catherine meluluh.
Sekarang keduanya berada di dalam lift menuju lantai dasar untuk mendatangi kedua anak kembarnya di kamar — mommy Margaretha.
"Hm! Mari kita memulainya kembali dan jagalah dengan baik kesempatan kedua yang aku berikan kepadamu," balas Catherine dengan senyum tulus.
"Aku bersumpah dan berjanji, akan selalu menjaga kesempatan kedua ini," timpal Jeffin.
Suasana mengharukan itu pun terjadi di dalam ruangan sempit itu, tatapan berkaca-kaca itu, membuat keduanya kini menitikkan air mata kebahagiaan.
…….
Pintu lift di kediaman mewah Abraham terbuka, Jeffin dan Catherine keluar dengan wajah berseri-seri dengan salah satu tangan mereka saling bertautan.
Keduanya kini berjalan menuju kamar mommy — Margaretha. Pelayan yang menyaksikan keharmonisan kedua majikan mereka, turut merasakan kebahagiaan.
"Boleh, kami masuk?" Catherine meminta izin kepada pemilik kamar, saat wanita setengah baya yang sedang bercengkrama dengan kedua cucunya, tidak mendengar pasangan suami-istri itu mengetuk pintu.
"Mommy, daddy!" Pekik si cantik Andrea.
Gadis kecil itu segera berlari ke arah kedua orang tuanya dengan senyum lebarnya, ia juga langsung melompat di gendongan sang — daddy.
"Kau melupakan, daddy?" Ucap Jeffin menggoda putrinya.
"Granny, memberikan kami banyak mainan, dad," sahut Andrea dengan antusias.
Jeffin dan Catherine, mengarahkan tatapan mereka ke arah mommy — Margaretha. Kedua kelopak mata Catherine melebar, saat baru tersadar dengan mainan yang begitu banyak di sana.
"Mommy, serius?! Tanya Jeffin tidak percaya.
Mommy Margaretha hanya mengedikkan kedua bahunya tidak acuh dan mengatakan hal yang membuat Jeffin dan Catherine menghela nafas.
"Mommy, hanya ingin membahagiakan mereka," tuturnya dengan nada ketus.
__ADS_1
"Lagipula, harta kita tidak akan habis hanya memberikan mainan yang cucuku inginkan," seloroh mommy Margaretha.