Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 26


__ADS_3

"Apa, yang anda lakukan ini salah nyonya Abraham." Ungkapan protes terdengar di ruangan keluarga. yang luas dan mewah itu. Seorang wanita berusia setengah abad dengan tampilan anggun dan berkelas, kini menatap keberatan kepada nyonya Margaretha. Ia didampingi oleh putrinya yang berpenampilan modis dan terkesan glamor.


"Apa, yang salah?" Tanya nyonya Margaretha dengan wajah biasa saja.


"Jeffin. Anda menikahkan lagi putra anda. Di saat putriku masih bernafas," sentaknya dengan raut wajah marah. Yang tak terima akan keputusan nyonya Margaretha, menikahkan Jeffin.


"Putraku, butuh pendamping yang menemaninya," jawab nyonya Margaretha yang masih menampilkan wajah — biasa saja. 


"Keputusan, anda sangat tidak adil bagi putriku, Samantha," protes wanita itu lagi dengan wajah garang.


"Jadi… menurut anda putraku bagaimana? Apa, menurut anda adil seorang pria dewasa harus hidup bagaikan seorang pria lajang. Dan … lebih mencengangkan, dia harus merawat istrinya yang sedang koma. Apa  menurut anda semua itu adil baginya?" Cerca nyonya Margaretha yang — kini menampilkan wajah tidak bersahaja.


"Putraku, butuh kehangatan dan juga butuh seorang wanita disisinya. Dan … satu lagi, dia butuh keturunan," sambung nyonya Margaretha dengan perkataan sarkas.


Membuat kedua wanita beda usia itu, tercengang dan tidak percaya dengan yang diucapkan, nyonya besar Abraham.


"Tapi, putriku masih hidup dan anda menerima menantu lain." Sela wanita itu lagi. Yang merupakan ibu tiri dan kakak tiri dari istri pertama Jeffin.


"Terus, anda ingin putra saya menjadi seorang pria menyedihkan?" Sahut nyonya Margaretha sinis.


"Apa maksud anda. Putriku masih hidup dan belum mati," pekik wanita berwajah angkuh itu.


"Tapi, sekarang putri anda hidup dalam keduanya. Jadi, bagaimana dengan nasib putraku? Haruskah, ia juga hidup seperti putri anda? Suami rasa lajang," tukas nyonya Margaretha tidak acuh.


Ibu dan kakak tiri istri pertama Jeffin, semakin geram dan terbawa emosi. Mereka tidak akan pernah terima, kalau keluarga Abraham mempunyai menantu lagi.


"Kami merasa terhina nyonya. Dan … kami keberatan atas semua keputusan, anda!" Seru sang kakak tiri dengan wajah menahan rasa emosi.


"Aku, tidak meminta pendapat kalian dan memerlukan keputusan kalian. Kalau keberatan, kalian bisa membawanya pergi dari sini," jawab nyonya Margaretha cuek dan terlihat tak bersahabat.


"Nyonya!" Sentak, ibu tiri Samantha.


Ketegangan nyaris memenuhi ruangan luas dan mewah itu, tatapan mereka saling melempar tajam. Namun — ketiga wanita itu masih mempertahankan sikap terhormat mereka, meskipun terlihat jelas dari raut wajah ketiganya, yang saling perang dingin.


Sejak dahulu nyonya Margaretha tidak begitu dekat dengan keluarga istri pertama Jeffin. Ia memilih menghindar apabila bersitatap secara kebetulan. Entah mengapa, nyonya Margaretha merasa keluarga istri pertama Jeffin sangat tidak nyaman, terlalu banyak sesuatu rahasia yang tersimpan.


Apalagi kedua wanita beda usia di hadapannya ini, yang bergaya di sofa mewahnya layaknya seorang tuan rumah. Nyonya Margaretha pun memaklumi tingkah kedua wanita beda usia itu. Yang terlihat tidak mempunyai kepuasan batin. Ingin selalu mendapatkan yang lebih. 

__ADS_1


Nyonya Margaretha pernah berseteru dengan putranya sendiri, hanya karena mereka berdua yang  ingin tinggal di dalam Mansionnya. Sebagai seorang wanita yang memiliki tingkat kepekaan yang sangat kuat, tentu saja nyonya Margaretha menolak dengan sangat. Ia tidak peduli akan putranya yang merajuk. Yang penting ia merasa tenang hidup di kediaman Abraham tanpa benalu memalukan. Yang merasa sok berkuasa.


Samantha brown, istri pertama Jeffin pun tidak begitu dekat dan hangat dengan nyonya Margaretha, karena wanita itu selalu menutup diri untuk saling bercengkrama dengan menantunya.


Entah mengapa, dari sudut pandang nyonya Margaretha, istri pertama Jeffin tidak lah' sebaik dengan pikiran putranya.


"Kenapa, harus wanita lain dan wanita dari desa?" Timpal Clara, kakak tiri Samantha.


Nyonya Margaretha menukik alis matanya, bingung dengan pertanyaan wanita dengan dandanan dramatis di depannya.


"Why?! Tanya nyonya Margaretha kembali.


"Apa, anda tidak memilih wanita yang baik-baik?" Sela ibu tiri Samantha.


"Seperti putri mu ini?" Sahut mommy Margaretha sambil menunjuk kepada Clara yang duduk dengan elegan.


"Menurut anda, apa ada lagi wanita yang pantas  menjadi  istri kedua Jeffin?" Jawab sang ibu tiri, nyonya Soraya.


"Ada! Menantu saya. Catherine Zeta Jones," jawab mommy Margaretha dengan tersenyum manis.


Ibu tiri Samantha pun bangkit sambil melayangkan wajah tidak terima dan berlagak pinggang di depan — nyonya Margaretha. Wanita bergaya sosialita itu sudah kehabisan kesabaran untuk mempertahankan images nya sebagai wanita terhormat.


Mommy Margaretha hanya menanggapinya tersenyum sinis dan penuh arti.  "Apa, anda lupa atau hanya pura-pura lupa? Kalau mereka berdua hanya saudara sambung? Tidak memiliki ikatan darah sedikitpun. Bukankah, putri anda ini bukan darah daging, tuan brown? Dia, hanya hasil benih yang tidak jelas," sahut mommy Margaretha dengan raut wajah penuh ketegasan.


"Nyonya! Anda …."


"Jangan, menegurku di kediamanku sendiri. Itu sangat tidak sopan. Bukankah, kamu seorang wanita terhormat dan berpendidikan tinggi? Harusnya kamu memiliki kesopanan dan tata Krama." Potong mommy Margaretha. Yang membuat Clara terdiam dengan wajah merah, menahan rasa malu.


"Anda, menghina putriku," seloroh nyonya Soraya mencoba membela putrinya.


"Saya, hanya berbicara dengan fakta. Kalau dia hanya anak tidak…."


"Cukup! Anda, sudah keterlaluan nyonya," Sentak Clara semakin geram.


"Cih! Aku, tidak akan termakan dengan wajah memelas kalian. Dan … aku tidak akan pernah terbujuk oleh sikap palsu kalian." Cibir mommy Margaretha.


"Oh, iya. Apa kalian kesini hanya ingin melihat menantu baru ku? Atau… memastikan kalau putri sambung mu sudah tiada?" pungkas mommy Margaretha dengan tersenyum sinis.

__ADS_1


Kedua wanita di depannya tiba-tiba menegang dengan wajah terlihat terkejut. 


"A-apa maksud, anda?" Tanya nyonya Soraya terbata.


Mommy Margaretha semakin tersenyum penuh arti kepada kedua wanita sosialita itu. "Tentang, kecelakaan lima tahun lalu." Sahut mommy Margaretha.


Yang sukses membuat keduanya menjadi semakin menegang dan mendadak memucat.


"A-apa yang anda maksud, k-kami tidak mengerti," jawab nyonya Soraya kembali yang semakin gugup dan mulai terlihat ketakutan.


"Tapi …."


"Hey, Jeffin!" Seru Clara dengan cepat dan memotong perkataan mommy Margaretha.


Wanita itu kehabisan kata-kata untuk bersilat lidah dengan nyonya Margaretha, yang terkenal adalah seorang wanita tegas dan bijak.


Untung Clara melihat sosok Jeffin keluar dari lift, membuatnya menjadi lega, karena terhindar dari ucapan penuh jebakan, sang tuan rumah.


Nyonya Margaretha membalikkan badannya dan memandangi putranya yang sedang berjalan ke arahnya, begitu juga dengan nyonya Soraya yang segera menampilkan senyum lembutnya. Sedangkan, Clara segera melangkah ke arah Jeffin dengan wajah lembut bersahaja.


Namun langkahnya terhenti, saat melihat sosok gadis mungil  di balik punggung kekar Jeffin dengan wajah menunduk.


Clara terus memantau sosok bertubuh mungil itu dengan lekat dan penuh rasa dengki.


Begitu juga dengan nyonya Soraya, yang emosinya langsung terpancing. Ia segera merajuk langkahnya untuk mendekati Jeffin dan Catherine.


Ia ingin memberikan makian dan pelajaran kepada gadis yang menurutnya sangat tidak pantas menjadi, istri kedua Jeffin.


Tapi mommy Margaretha segera mencekal pergelangan tangannya dan membisikkan sesuatu; "jangan, pernah menyentuhnya atau melukainya, karena nasib kalian ada bersama ku. Kecelakaan lima tahun lalu, tuan Lerian Liu," bisik mommy Margaretha, yang sukses membuat nyonya Soraya membeku dengan wajah memucat.


Ia melirik kepada mommy Margaretha dengan wajah sulit diartikan, antar, terkejut, bingung dan tidak percaya. Darimana, rahasianya bisa di ketahui oleh orang lain. 


"Hey!" Balas Jeffin dengan nada dingin dan datar. Ia hanya memberikan senyuman tipis kepada ibu dan kakak tiri istri pertamanya.


Jeffin melirik tajam istri kecilnya yang berjalan mendahuluinya ke arah mommy Margaretha dengan langkah yang sedang menahan sesuatu di area privasinya.


Sedangkan Clara dan nyonya Soraya memandang Catherine dengan tatapan penuh permusuhan.

__ADS_1


"Sial! Kenapa, selalu saja ada halangan untuk mendapatkan seorang, Jeffin William Abraham," batin Clara frustasi.


__ADS_2