Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 53


__ADS_3

Seperti hari-hari biasa, Catherine akan menyiapkan keperluannya dan juga sang suami, setelah itu ia akan mengikuti pria egois itu, kemanapun. Yah — Catherine akan mengikuti sang suami kemanapun ia melangkah.


Pria itu bahkan membawa sang istri memasuki toilet dan akan memeluk tubuh mungil sang istri sepanjang malam, yang sudah menjadi candu pria itu, untuk menghirup wangi lembut menenangkan. dari — aroma tubuh istri kecilnya.


Hingga sudah dua bulan lamanya ia menjadi seorang istri kedua dari tuan muda Abraham. Dan … sedikit demi sedikit, sudah memahami watak sang suami yang sering berganti-ganti.


"Bolehkah, aku tidak ikut hari ini." Catherine memberanikan mengeluarkan sebuah tawaran untuk suaminya, sudah mendapatkan tatapan lekat.


Saat ini, wanita bertubuh mungil itu, memasang dasi suaminya dengan menaikkan sebuah bangku khusus untuknya saat melakukan aktivitas melayani sang suami.


"Kau, mau kemana?" Tanya sang diktator dengan tatapan tajam, jangan lupa raut wajah pria itu terlihat tidak setuju.


Catherine mengusap jas rapi suaminya hingga ujung tangan, ia meraih telapak tangan kekar itu dan berani menggenggamnya terlebih dahulu, hanya sikap ini lah' ia akan berhasil menaklukkan sikap arogan suaminya.


"Aku merasa seluruh tubuhku sakit. Aku membutuhkan spa di salon langganan — mommy," jawabnya yang menampilkan wajah menggemaskan.


Jeffin melepaskan kedua tangan istrinya di kedua pundak kekarnya, melangkah meraih tas kerja yang sudah terletak rapi diatas meja sofa.


Catherine hanya bisa menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan, bersiap untuk melakukan aktivitas sebelum-sebelumnya yaitu, menjadi penguntit sang suami.


Saat berada di pintu ruangan ganti, langkahnya terhenti, saat mendengar penuturan suaminya itu.


"Tidak, lebih dari 1 jam. Kau, harus berada di sani. Dan … satu lagi, kau harus ditemani oleh beberapa, bodyguard," pungkas Jeffin sembari berjalan keluar dari kamar mewah mereka.


Ia juga tidak tenang, membiarkan istri kecilnya itu berkeliaran seorang diri. Istrinya terlalu cantik. Bukan, sangat cantik untuk berjalan kesana-kemari dengan seorang diri. Yang membuat — Jeffin melakukan aktivitas dengan tidak tenangnya.


Setiap satu detik ia akan menanyai istrinya itu, yang menurut laporan, istri kecilnya memasuki sebuah klinik kesehatan wanita.


"Apa, yang ia lakukan di sana?" Tanya pria arogan itu dengan wajah memerah. Saat mengingat setiap menyentuh istri kecilnya, ia akan lupa diri.


"Ternyata, aku begitu ganas," gumamnya lembut dan menginginkan istri kecilnya saat di bawah kuas, di atas tempat tidur.


Tiba-tiba, jiwa jantannya bangkit hanya karena mengingat kehangatan tubuh sang istri.


"Sial! Aku sudah gila," ucapnya frustasi sambil mengusap wajah tampannya kasar.


…..


Sedangkan, Catherine kini berada di sebuah klinik kesehatan kewanitaan yang juga berproses sebagai, klik kehamilan.


Catherine kini terbaring di sebuah tempat tidur ukuran kecil, dengan tubuh sudah dibasahi oleh keringat dingin. Ia ditemani oleh — Lusi di sisi samping.

__ADS_1


Tangan mungil itu bergetar gugup, saat sang dokter menempel sebuah alat yang akan memeriksa, keadaan rahimnya di dalam sana.


Catherine mendapatkan perubahan siklus haidnya yang tidak teratur dan bahkan ia tidak mendapatkannya dalam dua bulan.


"Tenanglah, nyonya," bisik, Lusi mencoba menenangkan — Catherine yang hanya menampilkan senyum terpaksa.


"Selamat, nyonya, anda hamil. Dan … usia kehamilan anda, memasuki 7 Minggu." Terang, dokter wanita itu dengan tersenyum manis.


Namun lain ekspresi yang ditunjuk — Catherine. Ia memasang ekspresi terkejut dan linglung.


"T-tidak, mungkin," gumamnya lirih.


Sang dokter cantik di depannya, mengkerut alisnya melihat ekspresi wajah — Catherine.


"Selamat nyonya," sela Lusi mengubah suasana tegang itu.


Catherine hanya melihat, Lusi dengan wajah tidak percaya. Hamil? Dirinya, hamil. Tidak. Catherine belum siap untuk itu semua, ia masih terbayang-bayang akan ucap suaminya, yang hanya menginginkan sebuah keturunan, setelah terkabul, ia akan dipisahkan oleh buah — hatinya sendiri.


"Tidak, a-aku ti-tidak ingin hamil," racaunya terbata.


"A-aku, akan menggugurkannya," gumamnya pelan. Dengan wajah terlihat frustasi sambil mengusap kasar perutnya sendiri.


"Aku, tidak boleh melahirkan anak darinya, ia pasti akan mengambilnya dariku," racau Catherine dengan wajah linglung. Penampilannya pun sudah berantakan.


"Nyonya, apa yang anda lakukan," pekik Lusi dan sang dokter.


"Aku, belum siap menerimanya," sahut Catherine dengan wajah sudah di basahi air mata.


Lusi segera, menenangkan nyonya mudanya itu dengan memberikan pelukan, dukungan, ia juga memberikan pengertian kepada — nyonya mudanya itu.


………..


Mereka, kini sudah berada di dalam mobil melaju kembali ke Mansion. Beberapa mobil hitam di belakang setia mengikutinya.


Catherine hanya bisa terdiam sejak tadi dengan tatapan kosong menatap keluar. Ia masih ragu, memberikan kabar gembira ini, kepada suaminya juga sang mommy — mertua.


Air mata itu terus mengalir membasahi wajahnya yang terlihat pucat. Catherine, masih terngiang-ngiang dengan ucapan sang suami dengan nyonya Soraya, yang ingin memanfaatkan, keadaan rahimnya yang masih sangat subur.


Lain halnya dengan istri pertama yang tidak akan pernah bisa memiliki keturunan, karena efek kecelakaan yang ia alami. Membuat rahimnya terluka parah dan segera melakukan pengangkatan rahim.


"Kita, sudah sampai, nyonya!" Seru sang bodyguard yang sudah membuka pintu mobil untuknya.

__ADS_1


Dengan tatapan kosong, Catherine turun dengan langkah lesu. Ia di tuntun oleh Lusi membawa, nyonya mudanya itu, memasuki kamar.


"Selamat siang, nyonya!" Sapa kepala pelayan dengan raut wajah khawatir.


"Aku, tidak mengapa, paman," sahut Catherine, memasang senyum terpaksa.


Gerak-gerik kepala pelayan itu terlihat aneh, di pandangan Catherine dan Lusi.


"Ada, apa?" Tanya Catherine penasaran. Melihat raut gelisah pria berusia setengah baya itu.


Sang kepala pelayan pun, masih diam dengan memandangi arah atas, di mana kamarnya, berada.


"Apa, dia sudah kembali?" Tanya Catherine menembak. Ia pun menghela nafas saat melihat anggukkan sang kepala pelayan.


"Kenapa, dia begitu cepat kembali?" Tanya, Catherine lirih.


Sang kepala pelayan pun, ingin mengatakan sesuatu kembali, namun — Catherine sudah memasuki lift menuju kamarnya.


Ia yakin, akan banyak rentetan pertanyaan dari pria arogan itu, yang langsung membuat — Catherine berjalan lesu.


Wanita bertubuh mungil itu pun melanjutkan langkahnya menuju kamar, melewati kamar perawatan sang istri pertama.


Saat berada tepat di pintu kamar yang tidak tertutup itu, Catherine bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri. Wanita yang selama … lima tahun terbaring koma itu, sudah terbangun.


Catherine, bisa melihat suaminya begitu terharu sambil memeluk istri pertama diiringi tangisan.


Seluruh tubuh, Catherine mendadak lemas, hampir saja ia akan merosot ke lantai, beruntung. Dengan gesit menahan bobot tubuhnya dengan berpegang di gagang pintu kamar.


Kenapa ini harus terjadi disaat ia memulai hubungan baru dengan suami arogannya. Dan … saat rahimnya sudah dibuahi oleh suaminya itu. Catherine pun bertambah ragu, untuk mengatakan tentang kehamilannya kepada — suaminya itu. Ia takut, mereka akan mengambil alih hak asuh calon bayinya. Dan, ia akan dilemparkan begitu saja.


"T-tidak!" Gumamnya lirih dengan wajah semakin pucat dan Panik.


…….


"Siapa, dia honey?"


"Bukan, siapa-siapa. Hanya seorang pelayan, yang selama ini merawatmu."


"Benarkah? Dia, terlalu cantik, menjadi seorang pelayan. Aku takut, kau akan tergoda dengan kecantikannya."


"Tidak akan! Hanya, kau wanita yang tercantik bagiku, dan aku tidak akan tertarik dengan pelayanan rendahan."

__ADS_1


__ADS_2