
"Daddy!" Teriakkan gadis kecil itu menggema di seluruh penjuru lobby perusahaan — Jeffin William Abraham.
Seluruh karyawan yang berada di lobby, terpaku, terkejut dan tersentak, mendengar teriakkan gadis cantik dengan rambut panjang pirangnya diikat tinggi keatas.
Tatapan mereka kini tertuju kepada sosok pria berkarisma yang kini berlutut di atas lantai dengan tampilan yang berantakan.
Wajah pria rupawan itu terlihat sembab oleh air mata dan keringat, baru kali ini, mereka melihat kondisi sang tuan muda seperti itu.
Seluruh karyawan hanya bisa menyaksikan suasana langka ini dalam diam. Apalagi melihat sang tuan muda berlutut di atas lantai yang bekas injakan kaki banyak orang.
……….
"Daddy!" Gadis kecil dengan gaun indah melekat di tubuh mungilnya, kini berlari ke arah sang daddy yang berlutut dia atas lantai dengan kedua tangan terbuka, siap untuk menyambut hangat dirinya.
Jeffin bahkan tidak mampu mengungkapkan kata-kata, atas apa yang ia lihat di hadapannya ini.
Kedua garis wajahnya terus di basihi oleh air mata dan seluruh tubuhnya terlihat bergetar. Ia merasakan ini hanyalah mimpi dan Jeffin berharap ia tidak lekas terbangun dari mimpi tersebut.
Tatapannya mengabur oleh genangan air mata yang menghalanginya, melihat sosok mungil itu lebih mendekat, ia menyapu genangan air di kelopak matanya, agar bisa melihat jelas wajah mengemaskan sang putri.
Tidak lama kemudian Jeffin merasakan pelukan hangat tubuh mungil itu berada di pelukannya dan suara bisikan yang seketika memecahkan tangis kerinduan seorang daddy kepada anak-anaknya.
"Daddy, i miss you," bisik si cantik Andrea. Suara gadis itu terdengar parau dan menahan isakan.
"I miss you, daddy," ungkapannya lagi, kali ini kedua tangan mungil itu memeluk erat leher Jeffin dan terdengar suara isakan di balik telinganya.
"Daddy lebih merindukanmu, nak," jawab Jeffin dengan suara lirih yang tercekat.
Jeffin segera membalas pelukan putrinya tidak kalah eratnya, pria itu bahkan enggan melepas tubuh mungil itu sedikitpun. Kedua ayah dan anak itu pun saling melepaskan kerinduan dengan tangisan mengharukan.
Seluruh pasang mata yang ada di sana ikut terhanyut dalam momen mengharukan di depan mereka. Termaksud, Catherine dan putranya yang kini bersembunyi di balik tubuh sang mommy.
Catherine menoleh ke belakang dan ia bisa melihat air mata putranya yang juga mengalir. Ia mengusap kepala Andrew dan mengangguk. Ia memberikan perintah kepada putranya agar tidak boleh berkecil hati dengan keadaannya.
…….
Daddy dan putrinya, masih saling melepas rindu. Suara isakan mereka masih terdengar samar-samar. Jeffin hanya mampu memejamkan kedua matanya dan merasakan pelukan hangat tubuh mungil itu.
Dan mendengar isakan lirih dan racauan putrinya yang membuat perasaan Jeffin menghangat.
Jeffin membuka kedua kelopak matanya saat merasakan pergerakan dari sang putri.
__ADS_1
Andrea melepaskan pelukan kedua tangannya di leher sang daddy dan memberikan jarak di antara keduanya. Gadis kecil itu, menatap dalam wajah sembab pria di depannya. Salah satu tangannya, terulur untuk menghapus jejak air mata di wajah sang daddy.
"Ternyata, daddy begitu sangat tampan," seloroh Andrea yang terus memandangi sang daddy yang masih memperlihatkan wajah — kesedihan.
"Berhentilah, menangis dad. Nanti wajah mu akan berubah," celetuk gadis cantik itu. Yang sukses membuat Jeffin terkekeh dengan derai air mata.
"Daddy, hanya bahagia nak. Bisa bertemu denganmu," sahut Jeffin yang menyentuh telapak mungil sang putri yang berada di wajahnya.
Tatapan pria itu terlihat begitu menyayangi dan penuh kerinduan, ia mengusap pipi putrinya yang terlihat tersenyum. Jeffin kembali memeluk putrinya itu dan sesekali menciumi kepala sang putri dengan perasaan sayang.
"Daddy sangat, sangat, menyayangi mu, nak. Terimakasih, kau mau menemui daddy. Terimakasih, nak," ungkap Jeffin yang kembali terisak sambil memeluk putrinya dan mencium seluruh wajah cantik Andrea.
Sang putri pun hanya diam, menikmati perlakuan hangat sang daddy, yang sudah lama ia inginkan. Mendapatkan Pelukan dan perlakuan hangat dari daddynya.
Semua karyawan yang berada di sana, suruhnya sudah kembali ke pekerjaan mereka masing-masing, saat mendapatkan tatapan ancaman dari asisten Alan dan sekretaris Jeffin.
"Daddy, tidak merindukan kakak?" Bisik Andrea dan menjauhkan tubuhnya dari sang daddy.
Menatap lekat wajah sembab sang daddy dan mengangkuk saat melihat wajah kebingungan daddynya itu.
"Aku, bersama kakak," ujarnya yang membalikkan badan mungilnya dan menunjuk ke arah sang mommy yang masih terpaku di sana, di sudut lobby.
Wajah Jeffin terlihat syok dan membeku menatap wajah sang istri yang begitu ia rindukan itu. Jantungnya pun berdetak kencang, saat tatapan mereka bertemu.
Namun tatapan mereka terputus, saat Catherine mengeser tubuhnya sedikit dan perhatian Jeffin kini terpaku kepada — sosok pria kecil yang sedang duduk di kursi roda. Kepalanya terus menunduk dan melirik ke arahnya dengan wajah takut bercampur malu.
"Dia, kakak," timpal Andrea. Sukses membuat sang daddy terkejut dan syok.
Tatapannya pun mulai kembali berkaca-kaca dan memandangi sang putra dengan nanar.
"Andrew?! Gumam Jeffin dengan suara tercekat yang begitu sesak. Saat melihat kondisi putranya.
"Hum! Kakak, tidak bisa berjalan sudah lama. Dan kata dokter, kakak akan terus menggunakan kursi roda," celetuk Andrea yang tidak menyadari raut wajah sang daddy yang semakin syok.
"Kakak, malu bertemu dengan daddy. Katanya, nanti daddy malu memiliki anak cacat sepertinya. Aku, selalu bilang, kalau daddy sangat menyayangi kita." Ungkapan putrinya, membuat Jeffin tidak tahan untuk segera mendatangi putranya itu.
Ia yang masih posisi berjongkok, segera berdiri dan meraih tubuh mungil putrinya, menggendongnya, lantas segera berjalan dengan tatapan kerinduan yang ditujukan kepada sang putra.
Catherine menggeser kembali tubuhnya dan memalingkan wajah, ketika suaminya itu sudah berada dekat dekat dirinya.
Jeffin menatap sejenak sang istri dan menampilkan senyum getir, saat Catherine memalingkan wajah.
__ADS_1
Kini ia beralih menatap putranya yang terus menundukkan kepala dengan kedua tangan mungil yang meremas kuat pegangan kursi rodanya.
Jeffin menurunkan putrinya, ia kini berjongkok di depan sang putra dengan senyum hangat.
Pria itu juga mencoba menyapa putranya yang terlihat gugup, saat Jeffin mengambil salah satu telapak tangan sang putra.
"Hey, boy!" Sapa Jeffin dengan nada getir tertahan.
Andrew mengalihkan pandangannya kepada sang mommy, ia pun memberanikan menatap kedua mata berkaca-kaca sang daddy, saat mendapatkan anggukkan kepala dari — mommy Catherine.
"Kau, tidak ingin memeluk daddy?" Ujar Jeffin yang kedua matanya masih berair dan senyum hangat yang terlihat di wajah rupawannya.
Sang putra pun ikut menitikkan air mata dan segera masuk kedalam pelukan sang daddy, yang kedua tangannya menyambut hangat dirinya.
"Daddy!" Panggilnya dengan isakan.
Jeffin hanya bisa menggakuk di balik punggung putranya dengan air mata yang tidak hentinya mengalir.
Jeffin melepaskan pelukannya, ia menatap dalam wajah sang putra dan ia pun memberikan ciuman kasih sayang di seluruh wajah tampan putra kecilnya itu.
"Maafkan, daddy nak. Maafkan, daddy." Jeffin kembali memeluk tubuh putranya dan terus mengucapkan kata-kata maaf.
"Daddy, sangat merindukanmu sangat menyayangi kalian," ungkapnya dengan suara parau oleh tangisan haru.
Catherine hanya bisa terisak dalam diam, melihat pertemuan kedua anaknya yang bertemu dengan sang daddy dengan penuh keharuan.
Ia tidak mampu melihat semua di hadapannya dan memilih tetap memunggungi momen mengharukan itu.
Di cantik Andrea pun ikut memeluk sang daddy dari belakang dengan senyum bahagia.
Akhirnya, harapan gadis kecil itu bisa terwujud dengan bertemu dengan sang daddy dan dapat memeluknya.
"Kami, menyayangimu dad," bisik si cantik Andrea.
Jeffin meraih tubuh mungil putrinya dan membawanya ke dalam pelukannya. Pria itu kini memeluk erat kedua buah hatinya yang selama ini sudah ia rindukan.
"Daddy, lebih menyayangi kalian. Maafkan, daddy."
__ADS_1