
"Nyonya muda!" Sapa seorang wanita setengah baya dari arah belakang, Catherine yang sedang berdiri di balkon kamarnya.
Wanita hamil besar itu, menoleh dan menerbitkan sebuah senyuman ramah dan menyahuti sapaan pelayan setianya itu. "Ada apa, bibi," balas Catherine.
"Nyonya besar, akan tiba nanti malam," pungkas pelayan itu.
Senyum di wajah Catherine semakin mengembang cerah dan indah, mendengar kabar yang begitu membahagiakan.
"Benarkah, bibi," sahut Catherine dengan wajah antusias.
"Iya, nyonya. Beliau akan menemani anda dalam proses kelahiran," tukas sang pelayan.
"Senangnya!" Sorak Catherine.
"Apalagi, aku begitu merindukan, mommy," lanjut dengan wajah semakin antusias.
"Bersabarlah, nak. Nyonya akan tiba malam. Sebaiknya, anda bersiap," ucap pelayan tersebut.
Catherine pun menurut dengan segera memasuki kamar dengan langkah tertatih, karena membawa bobot perutnya yang semakin membesar saja.
Wanita cantik itu, begitu bahagia mendengar kabar sang mommy akan berkunjung dan akan menemaninya dalam menghadapi kelahiran pertama, yang membuat Catherine dilanda perasaan was-was dan gugup. Membuatnya sedikit lega.
………….
Jeffin kini masih betah, berlama-lama di kamar bekas istri keduanya. Ia merebahkan tubuh tingginya atas ranjang yang masih menyisakan aroma tubuh istri yang selalu dirindukan.
Pria itu juga mengingatkan masa-masa, dirinya sering memeluk sang istri setiap malamnya, hingga ia dapat menikmati tidur lelap.
Jeffin mengusap, bagian sisi kiri ranjang yang biasa ditempati istrinya itu, ia membayangkan di sana sang istri kecil terlelap dengan wajah — mungilnya yang menggemaskan.
Sebuah senyum kepahitan ia terbitkan saat semua itu, hanya khayalannya saja.
Ia segera bangkit dengan berdecak pilu, merutuki nasibnya yang begitu menyedihkan dan kesepian, akibat ulahnya sendiri. Yang terlalu percaya kepada istrinya yang memiliki sifat — licik.
Jeffin melangkah keluar dari kamar, ia akan kembali ke perusahaan setelah mengambil sebuah dokumen penting di ruangan kerjanya.
Langkah panjangnya, terhenti saat ingin menuruni anak tangga, ia melihat sang mommy bersama orang kepercayaannya sedang berbincang-bincang.
Jeffin juga melihat para pelayan membawa sebuah koper dan beberapa perlengkapan bayi dengan warna berbeda.
Perasaan Jeffin tiba-tiba berdetak kencang, tubuhnya bahkan langsung berkeringat dingin dengan tubuh lemas.
Ada tersirat kebahagiaan, saat melihat bentuk dan warna dari perlengkapan bayi yang ada di tangan para pelayan.
"Mereka, sepasang?" Gumam Jeffin pelan.
Masih mengawasi pergerakan sang mommy, yang masih berbincang-bincang. Jeffin dapat mendengar samar-samar percakapan itu yang — membahas soal kelahiran kedua anak kembarnya di sebuah desa.
__ADS_1
Senyum bahagia terlihat jelas di wajah tampan pria itu, saat mengetahui titik keberadaan istri kecilnya.
"Akhirnya, aku bisa bertemu dengan kalian," gumam Jeffin kembali dan menghubungi asistennya agar mengurus semua pekerjaan.
Jeffin segera bergerak menuruni anak tangga di lantai dua, saat melihat sang mommy keluar dari pintu utama — Mansion.
Pria itu memasuki mobil lain yang terparkir di basement Mansion Abraham. Ia memilih mobil yang lebih awet dari bahan bakar, agar tidak menyusahkan dirinya.
Dengan perasaan bahagia, Jeffin melajukan kendaraan mewahnya menuju desa yang ia ketahui adalah — tempat persembunyian sang mommy.
"Terimakasih Tuhan, kau memberikan aku petunjuk," batinnya dengan senyum terus terbit di wajah rupawannya.
…………
"Kalian, serius?! Sentak seorang wanita yang sedang berkumpul dengan keluarga besarnya. Dan tiba-tiba mendapatkan informasi dari anak buahnya yang ia perintahkan untuk mengintai pergerakan sang suami dan ibu mertua.
"Iya, nyonya muda. Kami mendapatkan laporan, kalau tuan dan nyonya besar Abraham dalam perjalanan ke sebuah desa terpencil." Lapor sang anak buah dengan nada menyakinkan.
"Yes! Akhirnya kita akan segera menemukan wanita itu, dad," sela Samantha dengan wajah penuh puas dan kelicikan.
"Hm! Tapi sebaiknya kita segera bergerak, sebelum mereka mendahului kita," sahut tuan Brown.
"Kita, menggunakan helikopter saja, dad," timpal Clara.
"Mommy setuju, agar kita lebih dulu mengamankan wanita itu," potong nyonya Soraya.
"Kita tidak bisa menggunakan benda itu, karena daerah itu pasti dijaga ketat oleh, orang suruhan nyonya, Margaretha," jawab tuan Brown.
Ketiga wanita itu terdiam dengan wajah cemberut dan jengah. Sedangkan Samantha terlihat menyeringai.
"Ayo, dad!" Ajak Samantha tanpa menunggu waktu lama.
"Sekarang?! Tanya ibu dan kakak tirinya.
"Hum! Kita masih bisa merencanakan sesuatu untuk menculik wanita itu di sana. Atau kita mengambil kedua anaknya," sambung Samantha.
Tuan Brown menganggukkan kepalanya menyetujui rencana putrinya itu. Sedangkan nyonya Soraya dan putrinya hanya menampilkan wajah jengah.
Kini Samantha dan rombongannya pun bergerak cepat, menyusul rombongan nyonya Margaretha dan Jeffin.
Mereka akan mencegah rombongan nyonya Margaretha untuk lebih sampai ke tujuannya dan mengelabui Jeffin, agar menyita waktu pria itu.
Sepanjang perjalanan Samantha terus memperlihatkan senyum liciknya di balik wajahnya yang diolesi makeup dramatis itu dengan setelan hitam-hitam yang membungkus tubuhnya yang ramping.
"Selamat datang kembali, wanita murahan," batin Samantha dengan senyum sinis.
………
__ADS_1
"Selesai!" Seru Catherine.
Ketika wanita perut membesar itu, selesai menyiapkan menu makan malam, untuk menyambut kedatangan mommy — Margaretha.
Catherine dibantu oleh sang pelayan setia menyiapkan menu masakan kesukaan mertua kesayangannya.
"Bibi," panggilnya kepada sang pelayan.
"Iya, nyonya," sahut wanita berusia di atas Lima puluh tahun itu.
"Aku, ingin bersiap. Tolong lanjutkan!" Pintanya dengan lembut.
"Baik, nyonya," balas sang pelayan.
Setelah mendengar jawaban pelayan setianya, Catherine melangkah memasuki kamar yang ada di lantai dasar. Ia ingin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, akibat keringat membasahi seluruh tubuhnya.
"Kalian, pasti akan senang bertemu dengan, granny. Iya 'kan?" Sebelum membersihkan tubuh, Catherine mengajak si kembar berbincang sebentar.
……
Sedangkan mommy Margaretha kini sudah setengah perjalanan, menuju villa tersembunyi miliknya.
Ia sejak tadi terus menatap lurus ke depan, seolah berpikir keras. Entah ia menyadari kendaraan mewah di belakangnya yang sejak tadi mengikutinya.
"Apa, semuanya sudah kamu persiapkan?" Tanya mommy, kepada — orang kepercayaannya.
"Sudah, nyonya," sahut pria muda di depan kemudi.
"Hm! Semoga semuanya berjalan lancar dan berhasil," ucap sang mommy lirih.
Setelah itu, ia menatap ke arah samping. Memandangi pemandangan indah di luar sana yang diterpa cahaya matahari jingga di sore hari.
Entah apa yang sedang mommy Margaretha pikiran, hanya tarikan nafas berat yang terdengar keluar dari wanita — anggun itu.
Tanpa sadar, sang putra terus mengikutinya di belakang dengan wajah bahagia dan senyum terus tersungging.
Tanpa merasa curiga ada sedikitpun dengan kelengahan ini, Jeffin terus mengikuti jejak — kendaraan sang mommy.
Jeffin sudah tidak sabar untuk bertemu kembali dengan istri kecilnya dan kedua anak kembarnya yang sebentar lagi akan terlahir.
Pria itu melupakan sesuatu dengan kelicikan istri pertama, yang meletakkan sebuah GPS di jam tangannya. Waktu pria itu lengah di perusahaan tadi.
Pria itu meletakkan jam tangannya di meja kerjanya dan tanpa mengetahui, istrinya — Samantha mengambil dan diam-diam meletakkan sebuah GPS kecil di balik jam tangan mewahnya itu.
Kini rombongan mobil istri pertamanya sudah semakin dekat dengan kendaraan miliknya.
Mommy, Jeffin, dan Samantha, kini menampilkan ekspresi wajah mereka masing-masing. Sambil terus saling mengikuti untuk satu tujuan yaitu — Catherine.
__ADS_1
yang kini sudah siap menyambut kedatangan ibu mertuanya itu dengan senyum bahagia terus terpatri di wajahnya.