Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 79


__ADS_3

Suara kemeriahan pesta mewah terlihat di sebuah hotel ternama, terdengar sebuah nyanyian selamat ulangtahun yang ditujukan untuk sepasang anak kembar yang kini terus memamerkan senyum ceria mereka.


Jeffin yang menggendong sang putri dan Catherine yang berada di belakang kursi roda — putranya.


Keduanya tampak begitu bahagia, melihat keceriaan dan senyum indah kedua buah hati mereka.


Malam ini si kembar sedang, merayakan ulangtahun mereka yang ke tujuh tahun di hotel mewah milik sang daddy.


Tamu undangan begitu antusias dapat kesempatan menghadir pesta mewah seorang pengusaha paling sukses di negara Swiss.


Mereka juga mencoba mencari kesempatan untuk bisa mengambil perhatian sang pengusaha melalui si kembar.


Bahkan diantara mereka terang-terangan, ingin menjodohkan si kembar untuk anak-anak mereka kelak saat dewasa.


Jeffin hanya menanggapinya dingin, sedangkan Catherine hanya tersenyum kikuk.


Tidak sedikitpun mereka memikirkan kearah sana. Apalagi seorang Jeffin, yang hanya memikirkan kebahagiaan kedua anaknya dan tidak ingin sang buah hati berkaitan dengan bisnis.


Ia membebaskan kedua anaknya untuk menjadi dirinya sendiri tanpa harus memikirkan sang anak harus meneruskan semua bisnisnya.


Jeffin sudah berjanji akan selalu membuat kedua anaknya bahagia, dan kebahagiaan itu terletak dari kebebasan berekspresi dan berinteraksi kedua anaknya, tanpa embel-embel sebuah nama besar Abraham.


Yah, si kembar lebih memilih menjalini hari-hari mereka dengan bergaul dengan orang-orang sederhana. Keduanya lebih bahagia bersenang-senang di sebuah tempat di mana mereka tidak dikenal.


Dimana mereka memiliki teman-teman yang tulus kepada keduanya tanpa memandang dari derajat. Yang hanya menginginkan kedudukan dari sang daddy.


…….


"Selamat ulangtahun!" Ucap seorang wanita setengah baya yang terlihat begitu anggun.


Si kembar yang sedang duduk di kursi menoleh dan tersenyum bahagia, saat melihat sang granny.


"Granny!" Seru si cantik Andrea dengan wajah ceria.


"Selamat ulang tahun cucu granny yang, cantik." Sambil mengucapkan selamat ulang tahun, mommy Margaretha mencium bergantian kedua pipi sang cucu dengan penuh kasih sayang.


"Aku menyayangimu, granny. Apalagi, granny memberikan kami kado spesial." Senyum penuh arti si cantik Andrea terpatri menggemaskan.


Jeffin dan Catherine saling menatap dengan penuh curiga, kini keduanya menatap sang putra tampan mereka yang hanya mengangkat kedua bahu.


"Andrea!" Seru Catherine dengan tatapan lekatnya.


"Tenanglah, mom. Aku hanya meminta sebuah bangunan tinggi," sahut si mengemaskan Andrea.


"Bangunan?! Catherine dan Jeffin membeo.


"Hm! Bangunan tinggi sekali, lebih tinggi dari perusahaan, daddy," jawab Andrea dengan wajah antusias dengan gerakan tangan yang memperagakan sebuah bangunan tinggi.


"Hah? Buat apa?" Tanya Catherine penasaran.


"Buat, masa depan aku," celetuk Andrea sambil menikmati sebuah cake coklat kesukaannya.


"Mom!" Sentak Jeffin pelan kepada mommy Margaretha.


"Tenanglah, cucu granny yang cantik. Semua sudah beres dan sekarang kamu bisa menggunakannya." Tanpa menjawab pertanyaan sang putra, mommy Margaretha hanya fokus menciumi salah satu pipi cucu cantiknya.


"Terimakasih, granny," ucap Andrea dengan senyum bahagia.


"Mommy, tidak boleh terlalu memanjakannya dan berlebihan, nanti dia terbiasa," sela Jeffin protes.


"Mommy hanya ingin membahagiakan, cucu mommy, apa salahnya," ketus mommy Margaretha.


"Kami hanya mencoba mendidik keduanya dengan sederhana, mom!" Sahut Jeffin dengan menahan kesal.


"Mom …." Jeffin menghentikan ucapannya saat — Catherine memberikan sentuhan dan kode.

__ADS_1


"Aku, hanya menginginkan investasi untuk menambah pundi-pundi masa depanku, mom, dad." Sahut si cantik Andrea dengan senyum usilnya.


Jeffin dan Catherine hanya bisa melongo mendengar ungkapan sang putri. Andrew dan granny Margaretha hanya bisa memutar bola mata mereka malas.


……


Kemeriahan semakin menjadi, saat malam semakin larut. Kedua si kembar tampak begitu bahagia.


Tahun ini mereka mengadakan ulang tahun dengan penuh sukacita dan kebahagiaan berlimpah.


Apalagi, kini mereka berkumpul menjadi satu keluarga yang terlihat begitu harmonis dan bahagia.


Para tamu undangan secara bergantian, berhadapan dengan kedua putra-putri dari seorang pengusaha berpengaruh di kota tersebut.


Tidak banyak dari mengagumi ketampanan dan kecantikan, Andrew dan Andrea.


Banyak juga dari mereka menggunjing, putra pertama sang pengusaha yang terlihat tidak berdaya.


Mereka terang-terangan, mengejek keadaan — Andrew yang tidak sempurna seperti kembarnya — Andrea.


Si tampan Andrew hanya bisa mengulas senyum tipis. Ia jelas mendengar gunjingan mereka, membuat Andrew lebih menyukai hidup sederhana dan meminta kepada kedua orang tuanya untuk menyembunyikan statusnya.


Pria kecil itu menggunakan pikiran dewasanya, yang ingin nama baik sang daddy menjadi tercemar dengan kondisinya.


Sebagai seorang daddy, Jeffin berusaha memberikan pengertian kepada putranya itu, agar putra kecilnya itu tidak terlalu memikirkan perkataan kebanyakan orang di luar sana.


Jeffin juga terus melindungi putranya dengan memberikan pelajaran berharga — untuk orang-orang yang sudah berani menghina, putra tampannya yang akan mewarisi perusahaan Abraham group kelak.


……


"Tidak masalah, dad," ujar di tampan Andrew dengan senyum tulusnya yang terpatri di kedua sudut bibir mungilnya.


Jeffin dan Catherine menatap lekat penuh dalam, wajah sang putra yang terlihat kesedihan di balik kedua mata indahnya.


"Tidak! Daddy tidak akan terima atas gunjingan, mereka," ujar Jeffin dengan tatapan tajam ke arah para tamu yang melirik sinis, si tampan Andrew sambil berbisik-bisik.


Catherine menggeleng dan melirik putranya yang terlihat sedih. "Tidak! Jangan lakukan itu, kau akan membuat putramu semakin bersedih," bisik Catherine lembut.


Jeffin akhirnya mengurungkan niatnya, ia kini hanya bisa menahan rasa amarah. Pria itu meraih ponsel miliknya dan menekan nomor sang asisten.


Jeffin memberikan perintah kepada, asistennya untuk melakukan sesuatu kepada orang-orang yang sudah berani menghina putranya di depan mata.


Tanpa berpikir panjang, Jeffin membuat kehidupan mereka hancur. Pria itu ingin memberikan peringatan kepada orang lain, kalau semua itu akibat dari perbuatan menghina atau berani menggunjing hal buruk kepada sang putra.


………


"Ini buat kami!" Seru dengan suara halus seorang gadis mungil yang sekarang sedang berada di meja makan.


Pagi ini, Jeffin dan keluarga kecilnya sedang berkumpul di meja makan. Catherine menyerahkan sebuah bingkisan kecil kepada kedua anaknya.


Si kembar menatap bingkisan kecil itu dengan wajah mengkerut bingung dan penasaran. Si cantik Andrea bahkan membolak-balikkan bingkisan itu dan mencoba mengetahui isi di dalamnya dengan cara mengguncang hadiah dari kedua orang tuanya itu.


"Apa ini?" Tanya si Andrea penasaran.


Andrew pun mengangguk yang ikut penasaran dengan isi di dalam bingkisan tersebut.


"Bukalah!" Perintah Catherine dengan diikuti senyuman hangat.


Mommy Margaretha yang berada di sana pun ikut penasaran, ia menatap putranya dengan tatapan penuh arti yang — di balas dengan sebuah senyum miring.


Kedua tangan mungil Andrea membuka bungkusan itu dengan perasaan tidak sabar. Begitu juga wajah Andrew yang begitu tidak sabaran.


Wajah kedua bocah menggemaskan itu semakin, mengerut saat melihat isi bingkisan. Keduanya menatap, mommy dan sang daddy dengan wajah heran.


"Apa ini, mom, dad?" Tanya keduanya bersamaan.

__ADS_1


Mommy Margaretha yang semakin penasaran pun — segera mendekati kedua cucunya dan meraih kotak kecil di tangan cucu cantiknya.


Bola mata sang mommy Margaretha melotot terkejut. Mulutnya terbuka dengan raut wajah syok, atas apa yang ada di hadapannya sekarang.


"Really?! Tanya mommy Margaretha dengan wajah tidak yakin.


Catherine mengangguk dan menggenggam telapak tangan sang suami. Tiba-tiba kedua matanya berkaca-kaca dengan senyum mengembang.


"Benarkah, benarkah?! Racau mommy Margaretha dengan wajah syok.


"Hm! Sudah 6 Minggu," jawab Catherine dengan air mata mengalir.


Jeffin segara merangkul pundak sang istri dengan penuh — cinta dan kasih sayang.


"Really!" Pekik mommy Margaretha yang tiba-tiba beraksi mengejutkan.


"Iya mommy," jawab Jeffin.


Mommy Margaretha pun akhirnya bersorak bahagia sambil berloncatan ringan di sana. Ia begitu bahagia, saat mendapatkan kabar bahagia pagi ini.


"Apa yang terjadi, granny?" Tanya si kembar yang begitu penasaran.


"Kalian, akan menjadi seorang kakak," ujar mommy Margaretha segera memeluk kedua cucunya itu dengan wajah penuh kebahagiaan.


"Kakak?! Si kembar lagi berucap bersamaan.


"Iya kakak, sebentar lagi kita akan kehadiran seorang bayi kecil," lanjut granny dengan wajah antusias.


"Mommy, daddy," sentak si Andrea dengan wajah penasarannya yang meminta penjelasan kepada kedua orang tuanya.


"Yang dikatakan granny benar, sebentar lagi kalian akan menjadi seorang, kakak," jawab Jeffin.


"Mommy, hamil?" Timpal Andrew dengan penasaran.


"Iya," jawab Catherine dengan tersenyum dan air matanya pun terus mengalir.


"Benarkah? Mommy sedang hamil?" Teriak Andrea nyaring.


"Hm!" Gumam Catherine dengan anggukan kepala.


"Yes. Sebentar lagi aku akan memiliki adik bayi dan akan ada yang memanggilku, kakak," sorak Andrea gembira.


"Selamat, mom," ucap Andrew dengan wajah yang terlihat begitu bahagia atas kabar yang ia dengar.


"Selamat juga untuk mu, nak. Sebentar lagi kau akan memiliki adik lagi," sahut Catherine.


"Mommy berharap, kamu akan menjadi seorang kakak yang selalu menyayangi dan melindungi adik-adikmu," sambungnya dengan wajah penuh harap.


"Iya, mom. Tanpa diperintah pun, aku akan menjaga mereka dan menyayangi adik-adik ku," jawab Andrew dengan raut wajah serius yang penuh dengan kedewasaan.


"Kami percaya dan sangat yakin, nak," timpal Jeffin sambil mengecup kening putranya.


Mereka pun tampak menikmati suasana haru dan penuh kebahagiaan itu, dengan saling berpelukan.


Sebagai pria yang mempunyai banyak kesalahan kepada sang istri, Jeffin begitu bersyukur atas kesempatan yang masih ia dapatkan dan rasakan. Hingga kini ia bisa melihat wajah bahagia keluarga kecilnya yang sangat ia cintai.


🌹Tamat 🌹


Hay... maaf kalau baru up lagi. soalnya Uma lagi di sibukkan dengan acara keluarga ☺️.


akhirnya kita sudah berada di penghujung cerita receh Uma.


terimakasih atas dukungan kalian semua dan terimakasih sudah berkenan mampir di cerita receh Uma 🤭🤗.


jangan khawatir, akan ada cerita khusus untuk salah satu anak kembar, Jeffin dan Catherine. Uma sudah membuat kisah si Andrew yang penuh kesedihan dan perjuangan untuk mendapatkan seorang wanita yang tulus mencintainya dan menerima kekurangannya.

__ADS_1


tapi entah Uma harus menyimpan kisah Andrew si pria cacat di mana🤭


__ADS_2