
Jeffin lebih memilih, berada di sisi, istri pertamanya yang hanya mendapatkan luka ringan saja. Daripada, menemani istri keduanya yang sekarang masih dalam kondisi kritis bersama kedua — darah dagingnya.
Jeffin tidak tega meninggalkan istri pertama yang hanya seorang diri di ruangannya. Sementara istri kedua, memiliki banyak bodyguard sang mommy, juga Jeffin sudah menempatkan, dokter khusus untuk menyelamatkan — kedua darah dagingnya itu.
Apalagi, berulang kali Samantha, meminta Jeffin untuk kembali kepadanya, karena alasan — wanita itu kesepian.
Disini lah' Jeffin sekarang, menatap tubuh ringkih istrinya diatas ranjang pasien, yang wajahnya tampak pucat. Penyesalan pun datang menghampiri Jeffin, karena dengan tega meninggalkan sang istri yang sedang terluka.
Pria itu berjalan tertatih ke arah ranjang pasien, duduk di tepi ranjang dan menatap sendu wajah pucat — istrinya itu.
"Maaf!" Ucapnya lirih, sembari mencium kening sang istri dan ikut berbaring di sana.
Tanpa ia sadari, wanita itu hanya berpura-pura terlelap. Dan wajah pucat itu sebagian bantuan dari make up yang dilakukan oleh — Clara.
Samantha kini bisa tersenyum puas, saat sang suami lebih memilihnya dan mengabaikan istri kedua suaminya itu dan sekarang kini suaminya, memeluknya dengan erat.
Samantha berpura-pura terganggu dan bertanya kepada suaminya itu dengan wajah lugu. "Kau, baru datang? Kau darimana? Apa kau tahu, aku merindukanmu dan juga ketakutan," cerca Samantha dengan wajah sedih dan di barengi rengek manja.
Jeffin tersentak saat merasakan pergerakan tubuh yang ada di pelukannya dan begitu bersalah, saat mendengar uraian sang istri.
"Maaf! Aku, harus mengurus sesuatu," sahut Jeffin dengan wajah menyedihkan.
"Hey! Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Samantha, yang memperlihatkan wajah panik.
Wanita itu memegangi wajah berantakan suaminya dan menatap dengan tatapan berkaca-kaca.
"Aku, tidak apa-apa, honey. Percayalah," jawab Jeffin yang segera membawa istrinya itu kedalam pelukannya. Ia tidak ingin membuat istrinya itu menjadi khawatir.
Samantha hanya bisa memperlihatkan wajah benci di balik dada bidang suaminya, ia tidak terima, suaminya mengkhawatirkan wanita itu dan terus menyembunyikan status — sang suami dan juga Catherine.
"Kau, sudah mengusirnya?" Samantha tiba-tiba bertanya perihal — Catherine. Membuat jantung Jeffin pun berdetak kencang dan salah tingkah.
"Hm!" Hanya gumaman yang mampu Jeffin jawab, ia pun masih dilanda kekhawatiran atas kondisi kedua darah dagingnya.
__ADS_1
Samantha menahan amarah di balik pelukan suaminya itu, saat pria yang memeluknya tidak mau berterus-terang kepadanya.
"Seharusnya, dia dimasukkan kedalam penjara!" Ucapnya dengan nada geram tertahan.
"Karena dia sudah berani melukaiku, seorang istri dari keluarga, Abraham," lanjutnya dengan wajah semakin membenci.
Jeffin hanya membeku dan mencoba menenangkan istrinya itu, ia tidak akan mungkin mengatakan sebenarnya, ia terlalu takut, kondisi sang istri semakin memburuk. Dan kembali mengalami — koma.
"Sudahlah, yang terpenting, sekarang dia sudah menjauh dari kita," sahut Jeffin, semakin memeluk istrinya erat.
"Tapi tidak denganmu, kau pasti akan selalu menemuinya," batin Samantha sambil memejamkan mata.
"Istirahatlah, sayang," bisik Jeffin dan meninggalkan kecupan di pelipis sang istri.
Samantha pun menurut, ia pun tertidur setelahnya. Karena kondisi tubuhnya saja masih belum membaik. Ditambah dia harus berkorban menjatuhkan dirinya sendiri di atas tangga. Yang menambah rasa sakit di sekujur tubuhnya, meskipun tidak memiliki luka serius.
Jeffin masih terjaga dengan mata terus menerawang ke atas langit-langit kamar pasien. Memikirkan, salah satu darah dagingnya yang sudah tiada. Ia sangat berharap, seandainya, sang istri kedua jujur tentang kehamilan kembar tiga, betapa bahagianya dirinya, akan memiliki buah hati yang selama ini kita ia impikan. Dan tentu saja istri pertamanya pasti akan merasakan kebahagiaan, memiliki keturunannya dan bisa merasakan seorang ibu.
Namun semuanya telah terjadi, hanya kesalahan tentang ketidakjujuran sang istri kedua , membuatnya harus merasakan sakit kehilangan calon buah hatinya satu dan sekarang yang tersisa dalam kondisi kritis.
……………….
Seorang gadis kecil berwajah begitu cantik, berdiri di hadapan Jeffin. Ia menatap pria itu dengan tatapan sedih, seakan mengatakan, kenapa ia melakukan itu kepadanya.
Jeffin menatap sekitarnya yang dipenuhi awan hitam, ia terkejut saat melihat sosok gadis kecil di depannya. Ia pun membeku, saat menatap wajah gadis cantik itu yang sama persis dengan dirinya. Matanya pun mulai berkaca-kaca dan berniat untuk mendekati, gadis kecil itu.
Namun gadis cantik itu semakin menjauh darinya dengan wajah penuh kesedihan.
Jeffin pun semakin mendekat dan bahkan berlari, namun tiba-tiba gadis cantik itu pun menghilang di tengah bayang-bayangan hitam disana.
"NAK! Teriak Jeffin.
Ia terbangun dari tidurnya dengan wajah dipenuhi keringat dingin, nafasnya pun terdengar tersengal-sengal dan detak jantung berdebar-debar.
__ADS_1
Ia mengusap wajahnya kasar hingga naik mengusap rambutnya yang lembab oleh keringat dingin. Ia mencoba mengatur nafasnya dan menitikkan air mata penyesalan. "Maafkan, Daddy," ucapnya tulus dan menangis dalam diam.
Samantha pun tidak terganggu sedikitpun oleh, racauan mimpi buruk suaminya sejak tadi. Ia menulikan gumaman tidak jelas suaminya dan lebih memilih kembali tidur.
Sedangkan Jeffin kini, berjalan ke arah balkon dengan langkah pincang. Ia menghembuskan nafas berat di udara yang mengeluarkan gumpalan udara dari mulutnya.
Ia tidak memperdulikan cuaca di luar yang begitu dingin, hingga menusuk tulang dada, ia masih setia berdiri di sana, sambil memikirkan mimpi yang ia alami barusan.
Hingga langit malam itu, kini berubah terang. Jeffin masih setia di sana. Ia takut memejamkan matanya, bayang-bayang gadis kecil menyerupai wajahnya terus menghantui pikirannya saat ini.
Segera pria itu, memasuki kamar perawatan istrinya yang terlihat masih terlelap. Jeffin masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, setelah itu ia akan menemui — istri keduanya.
"Aku, tidak akan membiarkanmu menemuinya," batin Samantha dengan tatapan tajam ke arah pintu kamar mandi.
Sejak subuh ia sudah terbangun dan melihat suaminya masih berada di balkon dan hingga saat ini, barulah pria itu masuk.
Pikiran Samantha pun, dihantui rasa takut, apabila suaminya lebih mementingkan, istri kedua dan kembali meninggalkan dirinya.
Tidak! Samantha tidak akan membiarkan itu terjadi, ia pun berusaha bangkit dari ranjang dan sengaja menjatuhkan dirinya sendiri, seolah-olah ia ingin berusaha sendiri memindahkan tubuh ringkihnya ke kursi roda.
"Bugh"
Jeffin yang mendengar suara benda keras terjatuh, begitu terkejut. Ia segera menyelesaikan kegiatan di kamar mandi. Mengenakan baju mandi dan keluar dengan keadaan rambut tidak sempat di keringkan.
"SAYANG!" Pekik Jeffin, saat melihat istrinya tergeletak di atas lantai dengan kening berdarah.
Jeffin membalikkan tubuh ringkih istrinya itu, dan segera membawanya keatas ranjang. Menekan, tombol yang berada di atas ranjang pasien.
Jeffin menekannya dengan tidak sabarnya, wajahnya begitu panik dan khawatir, apalagi cairan merah itu, terus mengalir dari kening istrinya.
"Maaf, maafkan, aku yang lalai menjagamu," bisik Jeffin lirih di dekat telinga istrinya itu.
Sekarang posisi pria itu masih setia merangkul pundak istrinya, sambil mencegah, cairan itu keluar dari kening sang istri.
__ADS_1
"Maaf, maafkan aku, sayang," tidak henti-hentinya, Jeffin mengucapkan kata maaf. Sambil mencium telapak tangan istrinya yang lemas.