Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 27


__ADS_3

Suasana hening kini meliputi ruangan makan mewah di kediaman Abraham, dimana di atas meja makan tersaji berbagai menu sarapan.


Hanya ada dentingan alat makan yang saling berseru dan decakan mulut mereka yang sudah mengunyah makanan.


"Ehem!" Mommy Margaretha, tiba-tiba berdehem penuh maksud.


Semuanya mengalihkan pandangan ke arah mommy Margaretha dengan, raut bingung.


"Biarkan, Catherine yang melayani suaminya. Lebih, baik kamu menyibukkan diri dengan sarapanmu sendiri," tegur mommy Margaretha kepada — Clara. Yang mencoba mengambil perhatian Jeffin dengan menyiapkan sarapan untuk pria itu.


"Nak!" Serunya kepada Catherine yang hanya diam dengan wajah lesu-nya.


Catherine pun bangkit mencoba mengambil menu sarapan kesukaan suami buasnya itu, tapi … tiba-tiba Clara mencegahnya.


"Tidak, apa-apa nyonya. Aku, biasa melakukannya dulu dan adik Samantha tidak keberatan," sahut Clara yang menampilkan sikap feminimnya.


Nyonya Soraya hanya bisa tersenyum puas melihat acting sang anak yang sudah terbiasa melakukan drama yang penuh kepura-puraan.


Mommy Margaretha tersenyum simpel, sembari meletakkan kedua alat makannya dan mengucapkan kata-kata yang mampu membuat Clara terbungkam.


"Aku, rasa kamu adalah wanita cerdas dan peka. Ingat, Catherine siapa dan kamu siapa? Disini yang berhak melayani suaminya adalah seorang istri. Dan seharusnya seorang tamu bisa menempatkan diri dengan sopan." Tukas mommy Margaretha dengan tegas dan tenang.


"Nyo …."


"Beda manusia, beda karakter, beda perasaan dan beda niat," sambung mommy Margaretha yang memotong ucapan selaan nyonya Soraya. Ucapan mommy Margaretha, mampu membuat Clara terbakar rasa emosi.


Dengan kesal, wanita berwajah cantik itu berpindah duduk di samping sang mommy dengan wajah yang berusaha menahan gejolak emosi.


Sedangkan nyonya Soraya, melayangkan tatapan tidak suka kepada Catherine yang kini melayani suaminya.


Jeffin pun hanya bisa terdiam sejak tadi, wajah pria itu terlihat berbeda, pagi ini pria itu auratnya terlihat lebih bersinar. Seakan beban yang lama terpendam kini terpuaskan atau tersampaikan.


………….


"Kemana, kepala pelayan Beatrice?" Tanya nyonya Margaretha yang sejak tadi sibuk memperhatikan satu persatu pelayanan yang berada di sana.


"Aku, memecatnya," sahut Catherine santai.


"APA!" bentak nyonya Soraya dengan wajah berang.


Sukses membuat semuanya berada di sana terkejut. Jeffin bahkan mengeraskan rahangnya, terkejut hingga ia tersedak.


"Lancang, sekali kamu memecat pelayan setia putri saya," gertak nyonya Soraya sambil menunjuk wajah Catherine yang hanya menampilkan wajah datar.


"Karena, saya berhak memecatnya," jawab Catherine dengan ekspresi tenang.


"Hey! Kamu, hanya orang baru di sini dan kamu, hanya seorang wanita perbuat suami orang," bentak dan maki nyonya Soraya.

__ADS_1


Jeffin hanya bisa diam sambil melirik istri kecilnya yang hanya tetap menampilkan sikap tenang.


"Aku, juga berhak memerintahkan seseorang mengusir seorang tamu yang tidak memiliki attitude baik, seperti anda, nyonya terhormat," sahut Catherine dengan wajah tenang dan penuh penekanan.


"Kau!"


"Dia, pemilik sah kediaman ini dan pemegang saham terbesar di Abraham group,"


"A-apa?! Sentak, nyonya Soraya dan putrinya.


"A-apa, anda sedang bercanda?" Tanya nyonya Soraya yang tiba-tiba tergugup.


"Tidak!" Jawab mommy Margaretha dengan senyum puas penuh kejutan.


"Aku, sudah menyerahkan semua aset pribadiku kepadanya," lanjut mommy Margaretha dengan entengnya.


Yang lagi-lagi sukses membuat kedua wanita beda generasi itu terkejut bukan main. Mereka bahkan terlihat syok. Sampai-sampai nyonya Soraya lemas seketika dan Clara langsung memberikan tatapan tajam kearah Catherine yang tidak merasa takut sedikitpun.


Jeffin tetap diam sambil terus melirik istrinya, tidak. Fokus mata pria itu … lebih tepat ke arah bibir dan leher putih istri kecilnya.


"Ini sungguh tidak adil, nyonya!" Protes nyonya Soraya dengan nada bicara melankolis.


"Tidak, adil dari segi mana menurut anda?" Tanya mommy Margaretha sinis.


"Tentu, saja anakku, Samantha," sahut nyonya Soraya cepat.


"Tapi, sayangnya aku tidak ada niat menyerahkan hak ku kepadanya, dan … dia juga tidak berhak atas apa yang aku miliki," jawab mommy Margaretha yang sukses membuat ibu tiri istri pertama Jeffin bungkam dengan menahan segala emosi.


Clara hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan penuh benci ke arah — Catherine yang hanya cuek.


Nyonya Soraya ingin melayangkan protes kembali, namun terhenti saat mendengar suara berat Jeffin yang berpamitan kepada mommy — Margaretha.


"Mommy, aku berangkat dulu," pamit Jeffin yang sudah berada di samping sang mommy. Jeffin mencium kening mommy Margaretha.


"Hem!" Gumam mommy Margaretha dengan tersenyum penuh kasih sayang.


Catherine tidak menanggapi, ia masih duduk di kursinya sambil menikmati, roti isi kesukaannya.


Jeffin pun tanpa menghiraukan segera berlalu, ia tidak bisa menahan diri terlalu lama berada di dekat istri kecilnya itu. Menghirup aroma lembut sang istri, sudah membuat Jeffin gelisah.


"Kau mau, kemana?" Tanya nyonya Soraya terhadap putrinya yang juga bangkit dari duduknya.


"Tentu, saja berangkat bersama Jeffin," jawab Clara dengan suara yang sengaja ditekan ke arah Catherine.


"Oh, pergilah. Dia … pasti akan menunggumu," timpal nyonya Soraya.


Dengan wajah penuh cemoohan dan cibiran kepada — Catherine, Clara pun berlalu meninggalkan ruangan itu dan menyusul langkah panjang — Jeffin.

__ADS_1


Catherine tidak sama sekali terpengaruh. Ia terlalu lelah menanggapi sikap Clara. Catherine lelah menerima serangan buas suami predatornya itu. Tubuhnya pun seakan remuk redam dan area privasinya terasa begitu perih dan ngilu.


"Ada apa, nak?" Tanya mommy Margaretha tiba-tiba. Mengejutkan Catherine yang merenung.


Nyonya Soraya hanya bisa mendelik tidak suka, sikap lemah lembut besannya itu, kepada menantu barunya.


"Aku, tidak mengapa, mom. Hanya merasa bosan," jawab Catherine dengan senyum terpaksa.


"Benarkah? Tanya mommy Margaretha menyakinkan.


"Hum!" Balas Catherine dengan bergumam.


"Kalau, begitu bersiaplah!" Perintahnya kepada menantunya.


"Bersiap untuk apa, mom?" Tanya Catherine penasaran.


Mommy Margaretha menerbitkan senyum keibuannya dan melirik sejenak besannya itu.


"Kita, akan bersenang-senang hari ini. Kebetulan, hari ini pesanan perhiasan khusus untuk sudah datang," pungkas sang mommy.


"Perhiasan?" Pekik Catherine dengan wajah syok.


"Iya, sayang. Perhiasan yang hanya tersedia khusus untukmu," lanjut mommy Margaretha.


"Cepatlah, bersiap!" Suruhnya dengan lembut.


Catherine pun mengangguk dan segera berjalan ke arah lift khusus mengantarnya ke kamar pribadinya.


……


"Anda, sungguh tidak adil!" Seru nyonya Soraya protes.


Mommy Margaretha hanya mengedikkan kedua bahunya dan menampilkan wajah masa bodoh.


"Anda, tidak pernah bersikap seperti ini kepada putriku," ujarnya dengan wajah yang tidak terima.


"Meskipun, aku tidak memperlakukan putrimu seperti ini, dia juga akan bersenang-senang sendiri, hingga lupa akan status dan tanggung jawabnya," sahut mommy Margaretha.


"Apa, maksud anda," sentak nyonya Soraya tidak terima.


"Anda, pasti tahu betul sikap dan kepribadian anak anda," sela mommy dengan wajah sinis.


"Anda, benar-benar sudah …."


"OH, iya. Anda, pasti tahu batasan bertamu di kediaman seseorang," potong sang mommy yang sengaja menyindir besannya itu.


"Anda, mengusir saya,"

__ADS_1


"Yah, dengan tidak hormat. Karena, anda tamu yang tidak tahu aturan."


__ADS_2